Yess! Saya Bisa!

(via: GOOGLE)

Yess, saya bisa melawannya !!

Itulah yang saya rasakan ketika Idul Adha beberapa waktu yang lalu. Ya, Idul Adha kemarin, saya berhasil melawan salah satu fobia yang saya alami sejak belasan tahun lalu. Akhirnya, setelah saya memberanikan diri untuk mencoba, rasa takut yang selama ini singgah di diri saya, pelan-pelan mulai bisa saya atasi.

Bagi kalian, apa fobia yang selama ini ada di diri kalian?

Menurut survey sederhana saya, kebanyakan orang memiliki fobia ketinggian, gelap dan keramaian.

Saya heran, kok bisa, orang-orang takut akan ketinggian, gelap dan keramaian? Kenapa mereka? Apa yang terjadi sama mereka sampai mereka takut seperti itu?

Tapi, kalau dibandingkan dengan fobia yang saya alami, fobia mereka jauh lebih keren daripada saya.

Fobia ini, ada di saya ketika saya menginjak kelas 4 SD. Saya fobia sama binatang yang dagingnya menjadi makanan favorit masyarakat Sumatera Barat yang biasa dijadikan rendang, sapi. Ya, saya fobia sama SAPI. Binatang yang memiliki tetek berjumlah 6 ini, menjadi musuh saya selama belasan tahun.

Menurut artikel yang saya baca di myhypnotherapyeft(dot)com :

Penderita penyakit phobia ini biasanya menjadi tidak produktif. Mereka biasanya tidak dapat beraktivitas secara normal karena faktor yang ia takuti tersebut.

Penyebab fobia bermacam-macam. Ada yang karena suatu peritiwa yang sangat dahsyat sehingga penderita terkena dampak yang luar biasa. Misalnya, karena suatu kejahatan tertentu, disekap dalam ruangan tertutup dan gelap beberapa hari. Atau karena pernah mengalami kecelakaan pesawat terbang, sehingga bahkan naik tangga pendek pun tidak berani sama sekali. Begitulah dampak besar fobia.

Bener banget, semenjak kejadian tempo dulu, saya hampir tidak pernah mau bertatapan langsung dengan binatang satu ini. Kerap kali diajak menjadi panitia Idul Adha, pun, saya menolak mentah-mentah. Pokoknya, yang ada difikiran saya Aku Benci COW (baca: KAU)

Dari dulu, pun, orang tua saya sudah berusaha untuk menghilangkan fobia saya ini. Tapi ga pernah berhasil. Karena memang yang ada difikiran saya, SAPI itu sungguh menakutkan. Sangat menakutkan ketimbang banci-banci yang ada di lampu merah.

Lantas, apa yang membuat saya berhasil melawan ketakutan itu?

Lagi dan lagi, ayah mengajak saya menjadi panitia Idul Adha di perumahan tempat kami tinggal sekarang. Kalau dulu saya menolak, ayah ga pernah marah karena dia tahu penyebabnya. Kali ini, ayah benar-benar meminta saya untuk melawan rasa takut ini. Karena menurut ayah, mau sampai kapan saya takut sama binatang ini.Β  Yaudah deh, dicoba dulu. Toh, kalau tidak dicoba tidak akan pernah tau hasilnya.

Terapi pertama a la ayah saya adalah. Sapi keluarga kami yang akan disembelih, sengaja ditaruh di tanah kosong sebelah rumah kami 3 hari sebelum Idul Adha tiba. Dan, setiap kali parkir mobil, harus di depan sapi ini. Jadi, kalau mau turun atau naik, selalu melintas di depan sapi ini. Beneran, merinding parah, tatapan mata sapi ini lebih kejam ketimbang peran antagonis yang ada di sinetron-sinetron Indonesia. Maksud ayah melakukan ini, supaya saya sama sapi ada chemistry. Biar saya ga takut sama sapi dan sapi ga menakuti saya.

Terapi keduanya, saya harus selalu meriksa tali yang mengingatkan si sapi ini. Harus sering-sering di cek. Eh busyet, ini lebih menakutkan. Kalau talinya tiba-tiba putus dan sapinya ngamuk, gimana? Bukannya sembuh, malah semakin menjadi. Yaudahlah, pasrah. Coba dan terus mencoba. Hasilnya, si sapi anteng dan tidak menunjukan gerak gerik menakutkan. Yes, aman. Saya ajak foto aja dia jual mahal. Lihat aja ekspresi sok cool -nya ini, melebihi Nicholas Saputra di film AADC, bukan?

Bersama Sapi Keluarga Kami

Β Terapi ketiga. Biasanya, kan, sebelum dipotong, pemiliknya harus mengelus dan membacakan surat Al-Fateha–jadinya, saya deh yang harus mewakili kakek saya menemi ayah mengelus-ngelus sapi yang akan di qurbankan ini. Dan kali ini, saya berhasil mengelus bulu-bulunya, lho. Horeeee. Tapi, kok jadi sedih yah pada saat sapi ini tidak bernyawa lagi. Apa chemistry kami berdua sudah benar-benar timbul. Makanya saya menjadi tidak tega melihat dia potong? Entahlah! Biarkan itu menjadi rahasia kami berdua. (*idih, kayak iya aja. Lagian ogah deh)

Sapinya Sudah Tewas

Horeeee, tahun ini saya resmi menjadi panitia qurban. Yes yes, saya bisa. Dan saya, sudah tidak takut lagi sama hewan yang memiliki susu yang bagus bagi manusia ini. Asik asik asik, seru juga bisa terlibat untuk hari besar ini. Senang bukan main, deh. Kayaknya udah plong aja gitu. Udah ga ada beban lagi. Semoga saja, fobia saya ini benar-benar hilang sampai kapan pun.

Bersama Domba

Akhirnya, fobia kedua saya, hilang dari diri saya. Ucapkan selamat tinggal untuk fobia ke-dua. Bye bye!

 

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

14 comments

  1. hihihi,, selamat yah,,
    kalo saya fobia sama bokek,
    maksudnya gak bisa kalo gak punya duit..
    heheh πŸ™‚

    1. Edan euy. Fobia sama bokek. Bagus itu, jadi motivasi buat kerja keras ada. Mau gitu juga ah. Hahaha πŸ™‚

  2. heeeeh???? jadi gak makan daging sapi dong??? enak looh dagingnya haha
    betewe emang dulu pernah diseruduk sapi yakk???

    1. Makan daging atau minum susunya masih, mas. Sayang kalau ga makan. Hehehe..

      Dulu diinjek sapi, pas SD kelas 4an. πŸ™

  3. Alhamdulillah yah, sesuatu… πŸ˜€
    selamat mas udah gak fobia sama sapi lagi.

  4. makasih ceritanya…menarik juga…jadi cara untuk menghilangkan pobia adalah harus dilawan …

  5. selamat ya mas.. smoga beneran gak kambuh lg fobianya.. fobia memang paling cpt diatasi kalau kita berani melawannya

  6. Saya Phobia apa ya??? Kalau geli (bukan takut) sama serangga, iya. Apa itu termasuk phobia?

  7. Quality posts is the crucial to be a focus for the visitors to pay a
    quick visit the web site, that’s what this website is providing.

    my web site :: best antivirus 2013

Tinggalkan Balasan