Untung Masih Hidup Turun dari Puncak Gunung Prau

“Satu-satunya cara paling mudah turun dari Puncak Gunung Prau adalah tinggal nama doang,” kata porter dan pemandu selama pendakian ke Gunung Prau, Dieng, bernama Salim.

Selalu ada drama dan cerita setiap kali pergi bareng mereka. Lima dari sembilan orang sahabat yang telah mengisi hari-hari saya selama tiga tahun ini. Kayak saat mendaki Gunung Prau yang terletak di kawasan dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, empat hari lalu.

Mendaki Gunung Prau sudah kami rencanakan satu bulan yang lalu. Liburan random ini kami buat setelah saya diberi kepercayaan oleh kantor mengurus Diary Paskibraka selama 30 hari. Fokus, pikiran, dan tubuh saya hanya untuk sub kanal yang berisi keseharian 68 orang anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka Nasional 2016 selama menjalankan pendidikan dan latihan sampai mereka pulang ke daerah masing-masing.

Kamis, 25 Agustus 2016, satu per satu anggota Paskibraka meninggalkan asrama Desa Bahagia di PP-PON Menpora, Cibubur, Jakarta Timur. Itu berarti tugas saya selesai. Belum sempat istirahat yang cukup di rumah, saya sudah harus rapi-rapi, memasukkan pakaian ke dalam tas, dan bergegas menemui para sahabat untuk sama-sama berangkat menuju pool bus yang akan membawa kami sampai ke Dieng. Kami tiba di kampung halaman Ana, sahabat yang ikut dalam rombongan, pukul 03.30 WIB. Udara sejuk khas daerah dataran tinggi berhasil membuat saya menggigil, gigi cenat-cenut, dan ingin buru-buru kemulan di balik selimut.

Kami putuskan naik ke Puncak Gunung Prau atau Prahu pada Sabtu dini hari dan pulang ke Jakarta sore harinya. Biar ada waktu istirahat yang cukup sebelum kembali bekerja di hari Senin. Sementara kegiatan kami di hari Jumat adalah mengunjungi desa terpencil di seputar Waduk Wadaslintang. Pintu masuk wisatawan yang akan berkunjung ke Desa Kemejing. Waduk itu dibuat dengan mengubur 10 desa. Memiliki kedalaman mencapai 50 sampai 100 meter.

Salah satu tempat yang kami singgahi selama di Desa Kemejing adalah Bukit Pagerjelarang. Muda-mudi di sana biasa menamai tempat ini dengan Bukit Cinta. Saya lupa mengenai semua informasi tentang tempat ini. Yang jelas, mendaki sampai ke puncak Bukit Cinta sama susahnya saat mendaki salah satu pulau dekat Pulau Pagang, Sumatera Barat, yang pernah saya datangi dua tahun lalu.

Foto kiriman Aditya Eka Prawira (@adiitoo18) pada

Foto kiriman Aditya Eka Prawira (@adiitoo18) pada

Kami keluar dari Desa Kemejing sesudah adzan Ashar. Biar ada waktu cukup lama untuk istirahat atau tidur sebelum pendakian ke Puncak Gunung Prau dimulai. Hanya saja saya tidak bisa tidur. Di saat yang lain tertidur pulas, kerjaan saya cuma bolak-balikin badan, cek gawai, balas pesan yang masuk di WhatsApp. Badan saya memang aneh. Harus benar-benar lelah dulu baru bisa tidur lelap di tempat yang asing.

Dari sini drama selama pendakian Gunung Prau dimulai. Bisa berdiri di pos satu dalam keadaan masih bernyawa setelah menempuh perjalanan hampir lima jam naik dan turun adalah sebuah karunia yang amat besar. Meski sesudah itu saya lebih memilih tidur di mobil ketimbang ikut mereka melihat pemandangan yang tak kalah indah dari puncak Gunung Prau, yaitu Batu Ratapan Angin.

 

Mendadak mual sebelum pendakian ke Gunung Prau dimulai

 

Nggak tahu kenapa tiba-tiba saja saya muntah saat masih dalam perjalanan menuju base camp Gunung Prau untuk registrasi terlebih dulu. Saya merasa kondisi tubuh ini dalam keadaan sehat. Makan juga nggak sembarangan. Hanya memang saya tidak tidur. Apa mungkin kondisi itu yang memengaruhi stamina menjadi drop?

Sia-sia semua persiapan yang telah saya lakukan selama satu bulan. Buat apa selalu menyempatkan latihan kardio khusus untuk mendaki kalau ujung-ujungnya malah timbul keraguan untuk melanjutkan pendakian sampai ke puncak Gunung Prau. Semangat saya menurun drastis setelah muntah-muntah, mual, dan kepala yang pusing sekali.

Kami sepakat mendaki Gunung Prau lewat Pathak Banteng karena jalur satu ini merupakan rute tersingkat meski agak lumayan terjal. Kami tiba di base camp pukul 01.00 dini hari dan mulai menanjak 30 menit kemudian. Saya berusaha menyugesti diri sendiri bahwa saya baik-baik saja. Bahwa saya bisa mendaki gunung dengan ketinggian 2.565 Mdpl bersama para sahabat yang siap mengulurkan tangan mereka kapan saja. Perjalanan pun kami mulai dengan menaiki 100 anak tangga untuk sampai di pos satu.

“Anggap saat ini elu lagi latihan jadi pembawa baki, Nyet. Fokus dan naiknya pelan-pelan,” kata Qalbi, satu-satunya cowok di rombongan yang bisa diandalkan hari itu. Selain harus menolong saya, Qalbi juga bertugas membantu salah satu rombongan yang juga memiliki masalah kesehatan. Sengaja tidak saya sebut namanya. Katanya, tolong dirahasiakan.

Base Camp Gunung Prau. Tempat Pertama yang Harus Didatangi Calon Pendaki Sebelum Mendaki Gunung Prau
Base Camp Gunung Prau. Tempat Pertama yang Harus Didatangi Calon Pendaki Sebelum Mendaki Gunung Prau

Rombongan sampai juga di pos satu setelah menaiki ratusan anak tangga dan jalanan yang menanjak. Sejauh itu saya masih kuat. Sementara waktu, mual dan kepala yang pusing tidak terlalu saya rasakan. Sudah ditangani dengan minyak angin dan obat mag pemberian Qalbi.

Permasalahan justru terjadi saat akan melanjutkan ke pos-pos berikutnya. Salim bilang tanjakannya akan lebih parah. Bukan lagi jalan yang lurus melainkan undukan tanah mirip anak tangga gitu. Nah, di situ mulai saya merasakan kelelahan yang hebat. Nafas jadi nggak beraturan. Supaya aman, bikin lagi kesepakatan bahwa setiap “lima langkah” harus istirahat untuk bernafas dengan benar supaya oksigen di otak bekerja dengan maksimal.

Muka-muka Bahagia Sebelum Mengetahui Trek Apa yang Bakal Dilalui untuk Sampai ke Puncak Gunung Prau
Muka-muka Bahagia Sebelum Mengetahui Trek Apa yang Bakal Dilalui untuk Sampai ke Puncak Gunung Prau

Keraguan untuk melanjutkan pendakian sampai ke puncak muncul kembali. Saat kami berada di pos dua mau ke pos tiga. Jarak yang lebih jauh dan didominasi trek yang tidak cocok dilintasi orang-orang dengan kondisi kurang sehat kayak saya ini. Di situasi semacam inilah sosok sahabat berperan. Mereka tak bosan untuk meyakini saya dan sahabat lain yang mulai kelelahan bahwa di atas nanti akan ditemui pemandangan super keren yang sayang apabila tidak dilihat. Perjuangan nggak akan sia-sia begitu melihat pemandangan dari puncak.

Begitulah yang kami lakukan selama pendakian di Gunung Prau. Sedikit-sedikit tanya ke Salim tinggal beberapa meter lagi? Puncaknya masih jauh? Kira-kira bisa nggak sebelum matahari terbit kami semua sudah berada di Puncak Gunung Prau? Sampai pada akhirnya kami semua sudah berada di Puncak Gunung Prau sebelum matahari terbit. Bahkan sebelum adzan Subuh berkumandang. Ya, kami semua sampai di atas tepat pukul 04.00 dini hari.

Untung masih hidup pas turun dari Puncak Gunung Prau

 

Pendakian ke puncak Gunung Prau umumnya dicapai dalam waktu normal dua jam. Porter di base camp menyarankan kami mulai pendakian pada pukul 02.30 agar tidak terlalu lama berada di puncak mengingat kami tidak memilih untuk kamping di atas. Kami tentu sadar diri dan merasa tidak mungkin bisa mendaki sesingkat itu. Yang satu mendadak mual-mual dan yang satu lagi punya masalah persendian, sudah jelas nggak mungkin sampai dalam waktu secepat itu. Namun, siapa yang mengira kalau kami bisa sampai di puncak Gunung Prau pukul 04.00 dini hari.

Kami semua berusaha menahan kantuk dengan tidak tidur selama di puncak. Takut tidak ketahuan kalau ternyata salah satu dari kami ada yang pingsan karena mengalami hipotermia. Kami memilih duduk saling menyandarkan punggung agar terasa lebih hangat. Sayang, cara itu tidak membuat kesehatan saya membaik.

Kamping di Puncak Gunung Prau Enak Juga Kayaknya. Nanti Dua atau Tiga Tahun Lagi Balik ke Sini Mau Kamping
Kamping di Puncak Gunung Prau Enak Juga Kayaknya. Nanti Dua atau Tiga Tahun Lagi Balik ke Sini Mau Kamping

Perut saya mendadak seperti orang ingin pup. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuh saya. Saya coba tahan karena sebentar lagi kami akan turun. Kami memang tidak lama-lama berada di Puncak Gunung Prau karena tampaknya situasi saat itu tidak bersahabat buat semua pendaki. Fenomena Negeri di Atas Awan tidak kami jumpai. Matahari terbit juga tak tampak. Daripada lama-lama di puncak dalam keadaan menggigil kedinginan mendingan turun. Waktu turun itu tidak sebentar, lho!

Bukan maksud untuk egois dengan turun duluan meninggalkan teman-teman di atas. Saat itu perut saya melilit parah dan pusingnya kepala sudah nggak bisa ditahan. Bawaannya ingin cepat-cepat istirahat, sanderan, kalau bisa tiduran. Laju kaki menuju toilet di pos dua saya percepat. Begitu sampai di pos dua, saya lepas semua jaket, sepatu, dan cepat-cepat menuju toilet untuk pembuangan. Nggak tahunya pembuangan juga keluar dari mulut. Selesai pup dan muntah-muntah, badan saya jadi lemas, dan nggak kuat untuk turun. Teman-teman lalu menyarankan saya untuk tidur sebentar sebelum lanjut turun.

Muka Menahan Boker. Mau Buru-buru Turun dari Puncak Gunung Prau Agar Cepat Mengeluarkan Semua yang Ada di Perut
Muka Menahan Boker. Mau Buru-buru Turun dari Puncak Gunung Prau Agar Cepat Mengeluarkan Semua yang Ada di Perut

Yang ditakutkan dari kondisi tidak mengenakkan yang menimpa saya adalah terjadinya mountain sickness atau hipotermia. Dua penyakit yang rentan dialami pendaki gunung. Situs ini menjelaskan bahwa apa yang saya alami merupakan gejala dan tanda-tanda dari mountain sickness. Sakit kepala, pusing, mual dan muntah. Baru setelah itu kelelahan. Jika kondisi ini dibiarkan terlalu lama bisa berlanjut pada kondisi edema otak dan edema paru. Terjadi penumpukan cairan yang membuat fungsi dari organ tersebut terganggu. Sudah tepat saran yang diberikan para sahabat agar saya jangan tidur begitu sampai di puncak Gunung Prau. Mending duduk sambil luruskan kaki. Ini untuk meringankan kondisi orang-orang yang merasa sesak atau sulit bernapas selama mendaki.

Di situ juga dijelaskan bahwa menghentikan sementara pendakian dan bernapas dengan teratur adalah salah satu cara penanganan dari mountain sickness ini. Berarti kesepakatan yang kami buat untuk perbanyak istirahat sudah benar. Karena ini kami bisa sampai di puncak Gunung Prau dan turun dalam keadaan selamat dan masih hidup.

Tumbang Juga. Setelah Diare dan Muntah-muntah, Badan Jadi Lemas. Setelah Tidur Baru Rada Enakan. Itu juga TIdak 100 Persen
Tumbang Juga. Setelah Diare dan Muntah-muntah, Badan Jadi Lemas. Setelah Tidur Baru Rada Enakan. Itu juga TIdak 100 Persen

Keputusan kami untuk cepat turun juga tepat. Takut dari gejala mountain sickness ini berkembang menjadi gejala-gejala hipotermia. Mengacu pada situs ini, gejala hipotermia berkembang secara perlahan dan sering tidak disadari pengidapnya. Orang yang mengalami hipotermia ringan akan menunjukkan gejala menggigil yang disertai rasa lelah, pusing, lapar, mual, napas yang cepat, dan kulit yang pucat. Gejala semacam ini baru saya rasakan sesudah turun sampai ke pos dua.

Setelah enakan, sarapan, dikasih obat lagi sama teman-teman, baru enak buat turun. Tapi belum lagi benar-benar sampai bawah, tubuh saya malah ambrug, jatuh. Untung saat itu ada Uno berdiri di belakang saya. Begitu sampai di base camp, bawannya mau buru-buru masuk ke dalam mobil, dan tidur. Semangat untuk melanjutkan perjalanan dan singgah ke banyak tempat sudah tidak ada. Hawanya mau tidur saja. Rasanya enak banget kalau bisa tidur rada lamaan.

Mendaki ke Puncak Gunung Prau jadi pengalaman yang sulit dilupakan

Kami tidak peduli lagi dengan hilangnya momen Golden Sunrise dan lautan awan yang menjadi ciri keindahan dari Gunung Prau. Bisa mendaki sampai ke Puncak Gunung Prau bersama sahabat-sahabat ini menjadi pengalaman yang akan sulit saya lupakan. Belum tentu bisa diulang momen-momen seperti ini. Kami kira, pengalaman mendaki hanya sampai di Bromo saja, ternyata bisa sampai ke Gunung Prau juga.

 

Saya bersyukur memiliki sahabat seperti mereka yang mau saling dukung dan mengulurkan tangan untuk membantu sahabat yang mengalami kesusahan dan lemah kayak saya ini. Beragam cara kami lakukan agar lupa dengan medan yang berat. Melontarkan joke-joke nggak jelas padahal bernapas saja sudah susah.

Mungkin dalam waktu dekat ini kami tidak liburan yang berat dulu. Yang ringan-ringan saja. Ke pantai atau piknik di taman, kebun binatang, atau mana saja yang penting bisa kumpul dan ketawa-ketawa bareng lagi.

Saran buat pendaki pemula yang ingin ke Puncak Gunung Prau

 

Buat kalian para pendaki pemula yang ingin ke Puncak Gunung Prau dimohon untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh sendiri. Makan yang benar, latihan kardio satu bulan sebelum pendakian, jaga kesehatan, perbanyak makan buah, istirahat yang cukup, dan asupan air putih yang cukup juga.  Pastikan istirahat cukup dan tidur sebelum memulai pendakian.

Si Kawan dan mama sempat menyuruh saya untuk tidak pergi mendaki Gunung Prau dulu. Kalau masih mau pergi disarankan bulan depan saja. Sebab, satu bulan meliput anggota Paskibraka, saya memang kurang tidur dan tekanan darah sempat turun drastis. Dan suara sempat hilang seminggu sebelum pendakian ke Gunung Prau dilakukan. Tapi saya merasa baik-baik saja. Bagi saya, kalau mau capai, capai sekalian. Mau ambrug ya ambrug sekalian. Toh selama sebulan bersama putra dan putri terbaik dari 34 provinsi di Indonesia itu saya merasa happy-happy saja. Saya dapat keluarga baru, kenalan baru, pengalaman baru, dan hal-hal yang belum pernah saya temukan selama berkarier menjadi seorang jurnalis.

“…Dan kita belum ngobrol lama selama sebulan ini. Itu sih alasannya tidak mengizinkan kamu naik gunung,” kata si Kawan.

Sampai di rumah langsung ke dokter. Dokter cuma bilang kalau saya kelelahan doang. Seharusnya kasih jedah paling sebentar dua minggu setelah aktivitas cukup padat selama satu bulan full. Dokter menyarankan untuk istirahat di rumah selama dua hari. Jangan melakukan aktivitas apa-apa. Pergunakan waktu dua hari itu untuk tidur yang benar dan hanya boleh melakukan aktivitas yang ringan. Memang dasar bandel, tadi sudah keluyuran lagi memenuhi janji menjumpai beberapa orang untuk satu urusan. He he he 😀

Terimakasih untuk pengalaman berharga ini, Gunung Prau! Kalian, sini, aku peluk dulu!

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

24 comments

  1. Liburan selanjutnya enaknya ke mana?

  2. Kita wisata kuliner ke Bogor atau main ke taman Mekar Sari, Kak… Piye?

  3. wohoo, salam kenal. Mual2nya bersambung mulu yah..Dulu, waktu mau naek ke Semeru dan Ciremai, pas awal sesudah registrasi, biasanya juga muntah gitu, minum bentar, dan langsung fit 🙂

    Katanya, ga boleh nanya2, “masih jauh ya?”, dll, krn itu tandanya stres, hihihi..Lanjutkan yuk naek gunungnya next..hehe

    1. Hai, kak, salam kenal dari saya.

      Nah, kayaknya kemarin itu memang aku salah makan. Habis muntah, sudah minum, masih nggak enak badan. Bawannya udah males buat melanjutkan perjalanan tapi tetap naik juga.

      Kalau saja saya nggak drop, nggak bakal nanya “masih jauh ya?” ini karena perutnya labil aja

  4. Wah, baru tau ada mountain sickness 😮

    1. Hai, Ecky, apa kabar dirimu?

  5. saya udah 2x ke prau bang,

    viewnya keren dan medan yang tidak terlalu sulit juga menjadi pilihan hehe

    tapi sayangnya lokasi campnya di alam terbuka jadi banyak tenda yang tewas diterjang angin malam yang kencang

    btw

    tenda abang roboh ga?

  6. HAHAHAH
    iya aku ketawa dulu ya.
    *pukpuk*
    Jadi ingat waktu ndaki gunung Sindoro, kira-kira sejam menjelang puncak, aku mencret cret! HAHA
    Bukan, ini bukan gejala mountain sickness. Tetapi karena bangun pagi pas mau summit attack aku minum sebotol Gatorade yang rasa jeruk, padahal perut kosong dan badan capek.
    Ya sudahlah, akhirnya melipir di semak-semak buat naruh penanda lokasi, kayak kucing. HEHE

    1. Medan Gunung Sindoro cukup manusiawi buat pemula?

      Om Dolly dodol. Masih pagi minum begituan wajar aja kalau moncor-moncor.

      Gw kemarin mau melipir ke semak-semak malah takut, Om. Takut ketahuan secara badan gedak

  7. Wah asyiknya mendaki gunung, seru – seruan bareng teman – taman dalam pendakian menikmati alam yang indah…
    foto – fotonya keren juga…

    1. Terimakasih, Tata.

  8. Cieee adito naik gununggg. KECEEEE

    1. Biar waras kayak Ifan. Hahaha

  9. Gw malah solo traveling ke Prau. Alhamdulilah selamat sambil deg deg An jg takut diculik eh tp malah nambah temen jalan. Gradien Prau emng lumayan.. tp di atas indah banget bisa liat Sumbing dan Sindoro

  10. Mungkin pas cuaca lagi dingin2nya ya jadi rada2 ada hipotermia? teman saya pas mendaki prau juga mengalami hal tersebut gara2 suhu badan sama lingkungan lagi susah sinkron

    salam kenal

    1. Hai, Lare Prau

      Bisa jadi demikian. Seperti yang kutulis di atas, memang agak sedikit memaksakan kehendak untuk pergi ke sana dalam keadaan belum istirahat total. jadi pembelajaran buat saya juga untuk lebih hati-hati dan cek kondisi sendiri sebelum naik gunung

  11. sorry gan… mau nanya nih, kira kira berapa biaya yang harus dibawa?

    1. Total sama bus, makan, dan menginap (menginap lebih ke patungan karena numpang hidup di rumah teman), nggak sampai 1,5 juta kok

  12. Ada rencana ke prau, surfing2 liat pengalaman orang, ketemu blog lu mas bro?, anw apa kabar?.

    Pengalaman luar biasa ya mendaki kesana. Gw ada rencana kesana solo travelling tapi masih gugup krn terakhir naik gunung (yg gak tinggi2 bgt di bogor) mau pingsan kelelahan 😂😂😂

    Dimata lu sendiri dr lubuk hati yang paling dalam, ini tracknya susah atau parah bgt ga?

    1. Sampai komen ini saya jawab, kondisi alhamdulillah baik-baik saja.

      Luar biasa banget karena kondisi saya juga yang sebenarnya tidak memungkinkan tapi harus dipaksa.

      Solo travelling? Kalau kata teman yang sudah pernah mendaki ke Prau sendirian, nggak masalah kok karena bakal banyak teman-teman baru. Lebih mawas aja kali ya.

      Dari lubuk hati saya terdalam, jalurnya nggak parah kok. Saya malam itu bersama seorang teman yang usianya sudah mau 45 dengan kondisi sendi yang nggak sehat, tapi aman, nyaman sampai di puncaknya

Tinggalkan Balasan