Uang Rupiah Baru dan Benteng Belgica

Misteri Lain dari Uang Rupiah Baru Selain Cut Meutia yang Tak Berhijab

Bank Indonesia belum lama ini mengeluarkan uang rupiah baru. Teman-teman saya yang mungkin kurang piknik menyebut tampilan uang kertas tahun emisi 2016 mirip dengan Yuan, mata uang Cina. Kemudian, ada juga yang mempermasalahkan gambar Cut Meutia di uang rupiah baru yang tidak mengenakan kerudung atau jilbab.

Saya tidak akan menulis soal gambar Cut Meutia. Saya pengin menulis tentang pemandangan alam di Banda Neira yang ada di bagian belakang pecahan uang seribu rupiah baru.

Pemandangan alam itu berupa Benteng Belgica dan Gunung Api di Kepulauan Gunung Api. Karena Bank Indonesia mengeluarkan uang rupiah baru di akhir Desember, bukan Oktober atau awal November, saya jadi tidak dapat memfoto uang seribu rupiah baru dengan latar dua tempat wisata yang harus dikunjungi di Banda Neira.

Uang Rupiah Baru dan Banda Neira
Inilah Penampakan Lembaran Rp 1.000 Uang Rupiah Baru yang Sedang Heboh Itu. Coba Cek Bagian Belakang, Ada Hal Lain yang Patut Kalian Tahu

Keberadaan Benteng Belgica tidak jauh dari tempat mengingap rombongan Bintang Nutricia. Dengan berjalan kaki selama tiga sampai enam menit, saya bisa melihat sebuah benteng megah yang dibangun oleh bangsa Portugis pada abad ke-16. Namun, benteng yang entah berapa kali muncul di acara My Trip My Adventure ini didirikan lagi atas perintah Gubernur Jendral Pieter Both kira-kira pada 1611.

Kami, saya dan teman-teman rombongan Bintang Nutricia, mengunjungi Benteng Belgica dua jam sebelum matahari terbenam. Sebelum aktivitas di Banda Neira menjadi “mati”. Setelah menapaki jalan yang menanjak, melintasi taman yang dipenuhi bunga dan tampak terawat, dan diakhiri dengan menaiki beberapa anak tangga, sampailah kami di dalam Benteng Belgica.

Seorang pria yang sedang duduk di bangku sebelah kiri dekat pintu masuk kedua langsung berdiri meninggalkan teman-temannya untuk menyambut kedatangan kami. Kami pun berkenalan. “Panggil saja Hanim Wiro,” kata bapak tua yang sudah mengabdikan dirinya untuk menjaga Benteng Belgica selama 26 tahun.

Benteng Belgica di Banda Neira Merupakan Pemandangan Alam yang Ada di Uang Rupiah Baru. Tepatnya di Uang Lembar Seribu Rupiah.

Pak Hanim Wiro mulai bercerita tentang Benteng Belgica yang pada 1995 dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Dimulai dengan menjelaskan setiap fungsi dari setiap ruangan yang berada di lantai satu.

“Kamar-kamar perwira sebelah kanan. Tempat meeting itu. Paling ujung yang ada pintu kecilnya adalah sel tahanan. Itu tempat meriam. Kalau itu, tempat gantungan,” kata Hanim Wiro dengan logat Maluku. Jari telunjuk Hanim mengarah ke sebuah ruangan gelap yang berada di bawah tiang menara. Tempat gantung yang dimaksud oleh pria yang pada tahun ini berumur 54 tahun bukan ruangan khusus untuk menggantung baju dinas para perwira perang. Melainkan tempat menggantung para tawanan yang terlebih dulu mereka siksa. “OH!,” jawab saya.

Pak Hanim terus melangkah ke tengah Benteng Belgica. Langkah kakinya terhenti di sebuah lubang berukuran besar yang saya bilang lebih mirip sumur. “Kedalaman lubang ini delapan meter. Biasa digunakan oleh mereka untuk menuju Benteng Nasau,” ujar Hanim. Benteng Nasau berada persis di depan Benteng Belgica dan di sebelah kanan Hotel Cilu Bintang.

Saya pikir pertanyaan untuk Pak Hanim Wiro sudah cukup. Tidak ada hal lain yang membuat saya penasaran karena saya tahu tempat kayak Benteng Belgica menyimpan “rahasia” yang sudah sepatutnya tidak usah saya cari tahu.

Butuh Perjuangan Sih Buat Masuk ek Benteng Belgica. Kudu Nanjak Bo!

Namun, tidak dengan Bang Hamdi yang malah melempar pertanyaan,”Sering dengar suara-suara aneh, Pak?”

Dang! Pak Hanim menyambut baik umpan yang diberikan Bang Hamdi. Pria yang sore itu mengenakan kaos hitam, celana pendek dengan warna yang sama seperti topi yang berfungsi menghalangi kedua matanya dari paparan sinar matahari, tanpa basa-basi memberitahu ruangan yang mana saja yang bisa digunakan buat melihat “begituan”.

“Brengsek,” kata saya di dalam hati. Mendengar omongan Pak Hanim yang sulit sekali direm membuat saya jadi takut untuk naik ke lantai dua seorang diri. Bagaimana mungkin saya berani. Anak tangga yang menghubungkan lantai dasar dan lantai dua berada di dalam sebuah ruangan gelap yang baru saja disebut oleh Pak Hamim sebagai tempat untuk melihat begituan.

Kan kampret! Doi pikir, kami ini segerombolan orang-orang kota pemberani yang akan dengan mudah melupakan semua omongannya sesampainya kami di hotel. Tidak, bapak, tidak! Saya tidak bisa tidur malam itu. Sial, teman sekamar saya sudah tepar duluan. Sementara saya masih berusaha untuk menghapus semua omongan yang direkam oleh otak saya.

Uang Rupiah Baru dan Banda Neira
Kurang Lebih Beginilah Penampakan Dalam Benteng Belgica. Salah Satu Pemandangan yang Ada di Uang Rupiah Baru

Sosok yang kerap menampakkan diri di tempat wisata yang ada di uang rupiah baru

Satu sosok yang sering menampakkan “diri” di Benteng dengan bentuk persegi lima yang berhadapan langsung dengan laut lepas sekitar Banda Neira dan mempunyai lima menara adalah none Belanda yang postur tubuhnya mirip dengan Dyah, teman jurnalis yang juga rombongan Bintang Nutricia.

Belum lama ini, ada seorang turis dari Jakarta yang penasaran ingin melihat langsung penampakan yang ada di Benteng Belgica. Pak Hanim menyanggupi permintaan itu dan ikut menemani orang tersebut tapi menunggu di dekat pintu masuk kedua. Belum 15 menit melakukan “uji nyali” di tengah Benteng yang sudah mengalami pemugaran sebanyak dua kali, pada 1935 dan 1991, turis yang disebut Pak Hanim merupakan seorang ajudan langsung teriak tanda menyerah. Ketika ditanya apa yang dia lihat, hanya wajah yang mendadak pucat yang didapat Pak Hanim.

Singkat cerita Pak Hanim menyudahi semua cerita yang hanya membuat bulu kuduk kami berdiri. Setelah itu dia menjelaskan bahwa menara di Benteng Belgica, kalau dilihat dari luar, seperti hanya memiliki dua menara saja. Konon, itu merupakan siasat bangsa Portugis untuk mengelabui para musuh yang akan masuk ke Banda Neira. Musuh tidak akan tahu kalau Portugis mempunyai jumlah pasukan yang sangat banyak.

Kurang lebih seperti itu misteri dari balik sebuah gambar yang ada di uang rupiah baru.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

5 comments

  1. Zzzzzz… Dia bilang posturnya mirip gw Dit.. (Postur tubuh) ceedihh deh dibilang mirip penampakan. (Nangis dipojokan)

  2. Yaaah kok kak adito uda ke Banda Neira huvt, aku kan iri belum pernah ke sono 🙁

  3. Banda Neira kan baru bubar… *digetok*

  4. Aku pikir kamu akan cerita banda neira yang bubar itu hahaha, aku semoga ada rejeki untuk bisa kesana tahun depan amiennnn

Tinggalkan Balasan