Trauma Tragedi 8 Jam

Sepanjang bulan Januari 2012, beberapa kawasan di Indonesia – khususnya DKI Jakarta – sedang mengalami musim penghujan yang teramat sangat. Sepanjang itu pula, beragam peristiwa yang diakibatkan oleh hujan, menjadi pemberitaan di seluruh media elektronik. Kemacetan di mana-mana, banjir yang selalu muncul kerap kali hujan turun, mau pun tumbangnya pohon-pohon besar di beberapa ruas jalan di Ibu Kota yang tidak sedikit menelan korban jiwa.

Via: vivanews

Maka daripada itu, selama bulan Januari ini, saya hanya berani mengambil sedikit jam untuk menjadi pengawas UAS di kampus yang kebetulanΒ  terletak di kawasan Depok, Jawa Barat. Pasalnya, musim hujan ini membuat saya trauma untuk melakukan segala kegiatan yang mengharuskan saya ke Depok. Kecuali waktu saya Kopdar bersama teman-teman DeBlogger beberapa waktu silam. Untungnya hari itu cuaca di sekitar Jakarta hingga Depok sedang bersahabat, kalau tidak, saya nggak tau deh gimana jadinya.

Kerap kali musim penghujan tiba, seketika itu pula memori di otak saya ini memutar kembali kejadian 1 tahun lalu – sekitar Desember 2010 atau Januari 2011 – yang membuat saya ketakutan setengah mati. Yaitu; kejebak di jalan selama 8 jam. Uwooo.. Mungkin diantara narablog sekalian pernah mengalami hal yang sama tahun lalu?

Hari itu saya sedang berada di kampus, saya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena saya takut kejebak macet lebih dari 2 jam. Kalau biasanya saya menggunakan bus, hari itu saya memilih untuk naik kereta api. Pasalnya, baru jam 4 sore jalanan di sekitar Depok sudah tergenang dan arus lalu lintas nya pun sudah mulai tersendat.

Saya fikir, dengan menggunakan kereta api hidup saya hari itu akan ‘aman’. Ternyata, tidak sama sekali. Tak lama keretanya bergerak dari Stasiun Pondok Cina – stasiun yang berada tepat di belakang kampus saya – tiba-tiba saja kereta yang saya tumpangi harus berhenti di salah satu daerah yang entah dimana itu tempatnya. Di tengah keheningan, pengeras suara yang berada di gerbong itu pun berbunyi dan terdengar sebuah pengumuman; ‘Maaf kereta harus berhenti dan menunggu giliran jalan. Dikarenakan stasiun Tanah AbangΒ  kebanjiran, maka kereta belum diperbolehkan masuk’. #nyesek

Suara kumandang adzan maghrib terdengar sayup-sayup dari luar, hampir 1 jam kereta belum juga bergerak menuju Tanah Abang. Baru setengah jam kemudian kereta bergerak perlahan menuju stasiun Tanah Abang. Sesampainya saya disana, pemandangan yang tak biasa – bagi saya – pun terlihat. Stasiun Tanah Abang menjadi lautan manusia. Muka-muka penuh rasa kecewa terpancar dari para penumpang. Pasalnya, semua kereta mengalami keterlambatan dan kemungkinan akan normal lagi di atas jam 9.

Tanpa fikir panjang, saya pun menelepon ayah yang saya tahu pasti beliau masih berada di kantor. Dia tau, kalau musim hujan begini pasti kereta tak jarang mengalami keterlambatan. Yess, tebakan saya benar. Beliau masih di kantor dan mengajak saya untuk pulang menggunakan taksi.

Janjian disalah satu tempat kawasan Sarinah, saya dan ayah pun menunggu taksi yang kosong dan berkenan mengangkut kami hingga ke rumah. Lagi lagi hasilnya nol besar. Malam itu taksi laris manis. Jam ditangan sudah menunjukan pukul 20.30 WIB, tak satu pun taksi kosong lewat depan kami, semuanya berpenumpang. Tak ada pilihan lain, kami harus menggunakan bis Trans Jakarta untuk bisa sampai di Blok M dan mencari taksi di kisaran mall tempat berkumpulnya anak-anak gaul 17an itu.

Bener-bener, deh, halte busway di kawasan Sarinah malam itu penuh sesak. Tak sedikit bus Trans Jakarta tidak berhenti di halte Sarinah dikarenakan penumang di dalam bus sendiri sudah penuh. Setelah menunggu cukup lama, kami berdua pun dapat masuk ke dalam bus Trans Jakarta yang masih penuh sesak. Dimana-mana banjir, lalu lintas pun ikut berantakan. Tepat pukul 22.45 WIB, kami berdua sampai di halte Trans Jakarta Blok M.

Perasaan ini sedikit lega, jalanan di kawasan itu tampak lenggang dan kami pun mendapatkan taksi yang berkenan mengangkut kami sampai ke Ciputat. Ingin rasanya saya joget-joget begitu mengetahui jalanan sekitar Kebayoran Baru sampai masuk ke dalam TOL lenggang. Ternyata kesenangan itu tidak berlangsung lama. Begitu keluar TOL Pondok Ranji, kemacetan kembali menghadang kami. Padahal, kalau jalanan itu dalam keadaan normal, jarak tempuh dari Exit TOL menuju rumah saya hanya 15 menit. Dan malam itu, perjalanan itu menempuh waktu 1 jam 30 menit. Tepat pukul 00:45 WIB, kami berdua pun sampai di rumah dalam keadaan setengah gila.

Makanya itu, sekarang agak wanti-wanti kalau sudah hujan.


Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

22 comments

  1. waaalaah, kenyamanan sprtnya masih mnjadi mimpi bgi para pengguna kereta api ya?

      1. Benar sekali. Naik kereta AC nya sudah seperti kayak naik kereta ekonomi. Padet dan sesak

  2. Kalau tidak penting-penting amat mending memang langsung pulang sesegera mungkin, soalnya kalau ditunda dikit pasti macetnya parah..

  3. untungnya jalur pulang pergi ke kantorku bukan jalur banjir… cuma pernah kejadian sekali doang, tapi bisa diantisipasi dengan pindah jalur lewat pasr minggu.. hohoho

  4. aku masih inget kejadian yang sulit dilupakan itu
    sepertinya hari itu Jakarta lumpuh total, habis berapa itu Dit bayar taxi sampai rumah?
    temenku ada yg maksain naik taxi sampe Bogor dan argo menunjukkan angka yang WOW BANGET

    1. hampir sepadan dengan all you can eat di Hanamasa untuk 3 orang. Nyes lah..

      1. pantas begitu sampe jd setengah gila, kenyang engga, stres iya hihihi

  5. semoga nggak terulangf kembali ach……………………..bosan soalnya kena cet macetnya………..
    salam hangat dari blue

  6. your post is nice.. πŸ™‚
    keep share yaa, ^^
    di tunggu postingan-postingan yang lainnya..

    jangan lupa juga kunjungi website dunia bola kami..
    terima kasih.. πŸ™‚

  7. ckckck… saya belum pernah merasakan sih… Soalnya nggak separah itu di sini. Dan lagi nggak ada kereta di sini… πŸ™‚

  8. Adit, kalau ditarik garis lurus dari rumah Adit ke kampus berapa km? Terus bagi 8 jam. Lihat hasilnya…. Mungkin kecepatan yg didapat setara dengan perjalanan kura-kura, he he he πŸ˜€

    Dulu saya masih tinggal ke Jakarta (1995). Mau tes ke komdak harus bangun jam 4, jam 5 berangkat. Kalau nggak gitu pasti terlambat. Pas pulangnya yang males banget, bisa 2 jam lebih.

    1. Rumah saya – kampus, jaraknya 30KM lebih lah. Kl naik mobil pribadi cepet, karna masuk TOL. Kl naik bis, kudu 3x pindah bis+perjalanannya banyak hambatan πŸ˜€

  9. Kalau misalnya keesokan harinya ada kuliah pagi, pasti lebih gila lagi ya Mas? hehe… πŸ˜›

    1. Kejadian itu, besoknya saya ada kuliah loh, tapi absen.
      Ga kuat.. Dan benar, banyak yang ngga masuk juga

  10. Walah saya kira trauma apaan.. hehe. Ternyata.. πŸ˜€

  11. Kalau gerimis sedikit saja para pengendara langsung tidak patuh aturan lalu lintas atau pak polisi, lampu merah di langgar. Semua orang ingin paling cepat, alhasil macett bikin pusing deh.

  12. Ck ck ck…. beginilah potret transportasi Jakarta… πŸ˜₯

    Saya hanya bisa bilang, “bersabarlah kalian, warga jabodetabek.” πŸ™

  13. lari aja sambil jogging, kalo gak ada payung ya pake tumpeng.. πŸ˜†

Tinggalkan Balasan