Tentang Ketetapan Hati

Pernikahan merupakan momen yang paling ditunggu oleh pasangan yang sudah berumur saling mengenal satu sama lain. Walau baru menjalin hubungan pacaran beberapa bulan, tapi jika hati sudah merasa mantap dan yakin, maka keputusan untuk menikah tak perlu ditunda lagi. *alah pembukaan yang ribet*

Biasanya, hasil dari melihat sekitar, menjelang momen bahagia ini ada saja hal-hal tak terduga muncul, yang membuat hati mendadak labil dan goyah. Goyah akan pilihan yang pada awalnya sudah merasa mantap dan yakin, mendadak kembali mempertanyakan pilihannya sendiri, “Apa sebenarnya saya siap untuk itu? Apa memang dia jodoh terbaik saya?”

Saya selalu percaya akan kalimat ‘Manusia Boleh Berencana, Tapi Tuhanlah yang Pada Akhirnya Jadi Penentu’.

Sekiranya dua tahun lalu, seorang sahabat datang membawa kabar bahagia, kalau dia sudah dilamar oleh sang pujaan hati, dan akan menikah empat bulan lagi. Dia senang bukan kepalang. Masa pacaran selama 10 tahun (dimulai dari SMP) akhirnya berujung pada pelaminan. Tapi apa yang terjadi, impiannya untuk menikah dengan pria tersebut tidak terjadi. Bahkan, sang prialah yang justru datang ke hari pernikahan sang wanita sebagai seorang sahabat dan dengan sukarela, menjadi Pagar Bagus.

Empat bulan menuju momen spesial tersebut, sahabat ini dihadapkan oleh suatu kenyataan pahit (awalnya), tapi menjadi manis (ujungnya). Murid cowok yang ditaksirnya di kala SMP dulu, tiba-tiba kembali muncul setelah beberapa tahun hilang tanpa kabar. Menurut sahabat ini, pria itu pindah ke negara tetangga, Singapura, karena sang ayah bekerja di sana. Sayang, keduanya tidak pernah berkomunikasi.

Sebenarnya, ‘cobaan’ ini bukan baru pertama kali terjadi. Beberapa tahun sebelumnya, berkat jejaring sosial ciptaan Mark Zuckerberg, kedua mahluk ciptaan Tuhan tersebut dipertemukan.

Itu pun tak sengaja. Hanya dari sebuah foto milik seorang teman yang berasal pihak pria, diketahuilah keberadaan si wanita ini. Iya, si wanita adalah teman dari teman dekatnya si pria. *alah, ribet lagi menjelaskannya*

Sahabat cerita pada saya, dia awalnya bingung siapa orang yang mengirimkan pesan sewaktu meminta konfirmasi menjadi teman di Facebook.

“Hai, masih ingat sama gw. Gw si ini, teman lo di SMP ini” kurang lebih, itulah isi pesan tersebut.

Karena penasaran, dibukalah halaman pribadinya dan mengecek satu per satu foto yang ada, serta biodatanya. Ternyata, si pria ini cukup rajin untuk mengupload foto di kala sekolah dulu. Tanpa pikir panjang, diketahuilah identitas sebenarnya pria tersebut.

Galau? Enggak usah ditanya! Keringat dingin malah, dan susah tidur. Tapi waktu itu, sahabat ini kekeuh akan pendiriannya dan penuh percaya diri mengatakan, “Dia hanya masa lalu. Masa depan gw, ada pada pria yang saat ini menjalin hubungan sama gw”. Sekali lagi, manusia boleh berencana habis-habisan, tapi kalau Tuhan sudah punya mau, siapa yang berani nolak?

Di empat bulan waktu untuk menunggu, si pria (mari kita sebut saja namanya Andrew) mengirimkan chat berupa, “Wah, sudah tunangan, ya? Selamat. Ngomong-ngomong, boleh ketemu? Terserah, sih, mau berdua saja, ayok.. Mau bertiga dengan tunanganmu juga, ayok. Toh, gw juga kayaknya kenal sama tunangan lo.”

Tanpa basa basi, entah kesambet syaitan mana, si sahabat (yang mari kita sebut saja namanya Icha) menerima tawaran itu, tawaran pertama malah, berdua saja.

Waktu pertemuan sudah diatur dan izin dari si pacar sudah didapat. Hari yang dinanti pun tiba.

Pangling, keduanya pangling akan penampilan mereka kini. Menurut Icha, Andrew dulu kurus, tapi cute dan ganteng. Kini, semua itu berubah. Bukan menjadi buruk, tapi melebihi Andrew yang dulu. Rambut pendek rapi, rada berotot, dan pipi tirus, serta berewokan, dengan suara yang ngebass. Badannya pun tinggi, layaknya pria yang gemar bermain basket.

Pertemuan itu berjalan biasa saja. Hanya obrolan untuk saling mengingatkan akan diri keduanya di masa lalu, dan tanpa disadari oleh keduanya, terucaplah sebuah kalimat, “Dulu elo kan sempat gw taksir, tapi elo malah sama cowok lain dari SMP lain (yang tak lain adalah tunangan Icha).”

Mendengar ucapan itu, Icha hanya bisa diam, tak bergeming. Senyumnya mendadak kecut dan terkesan dipaksa. Dari bibir mungilnya hanya terucap, “Ooh!”

Lalu, dia kembali melanjutkan, “Salah sendiri diam-diam saja. Berarti kita memang bukan jodoh. Mungkin jodoh elo yang lain, bukan gw.”

Setelah pertemuan itu, komunikasi keduanya semakin intens, pun komunikasi Icha dengan tunangannya. Hanya saja, apa yang ‘diberikan’ Andrew pada Icha, tak pernah didapatkan Icha dari tunangannya.

Icha kaget waktu Andrew tahu siapa yang menjadi idolanya. Di tiap percakapan melalui telepon, Andrew selalu membawa nama sang idola sebagai bahan percakapan. Dan Andrew juga hapal kebiasaan ICha yang tak pernah berubah sejak SMP dulu, yaitu pakai jepit rambut selalu berbentuk bintang.

Sedangkan tunangan Icha, tak pernah tahu akan hal itu.

Hati Icha mendadak goyah segoyah-goyahnya waktu Andrew mengatakan “Andai saja elo tidak berencana nikah dengan tunangan lo, gw siap menikahi elo, walau kita baru bertemu lagi. Tapi kayaknya enggak ya, Cha? Benar kata elo, mungkin jodoh gw ada di tempat lain” sewaktu keduanya bertemu lagi untuk kesekian kali.

Tapi, kata Icha, Andrew langsung tertawa sesudah berbicara seperti itu, dan menganggap omongannya ngawur dan tak perlu didengar. Andrew boleh saja anggap itu ngawur, tapi Icha?

Icha berusaha mencari tahu apakah Andrew serius dengan omongannya itu.

“Kalau misalnya gw lebih memilih elo ketimbang tunangan gw saat ini, apa elo bakal tetap dengan ucapan yang barusan?,” kata Icha bertanya pada Andrew.

“Iya. Tapi, mana mungkin ‘kan, Cha? Elo juga tinggal hitungan hari bakal jadi istrinya dia. Masa iya elo mau ngerusaknya gitu saja?,” kata Andrew.

“Kalau memang elo sungguh-sungguh dengan ucapan elo. Oke, gw tunggu buktinya,” kata Icha menantang pria keturunan Padang, Kalimantan, dan Cina itu.

Ternyata, selama 10 tahun Icha berusaha untuk yakin dengan pilihannya yang dijalaninya. Padahal, beberapa tahun usia pacarannya, ada niatan Icha untuk putus dari tunangannya. Hanya saja, Icha tak mampu, karena beberapa hal.

Pun dengan gosip yang selama ini menghampiri Icha, kalau tunangannya itu sering ketahuan lagi jalan berdua wanita lain. Tapi, lagi, lagi, Icha berusaha untuk tetap percaya bahwa tunangannya tak seperti itu.

Di 7 tahun usia pacarannya, pernah terlontar dari mulut si pria, kalau dia baru akan menikah saat menginjak usia 30 tahun. Alasannya, dia ingin lebih matang dalam segala hal. Untuk itu, Icha diminta untuk bersabar bila ingin tetap dengannya.

Icha kembali mencoba mempertahankan hubungannya. Berharap kalau itu tidak benar, dan sewaktu-waktu bisa berubah. Di 9 tahun usia pacaran mereka, orangtua dari pria meminta anaknya untuk segera menikahi Icha, kalau si anak mau meneruskan usaha milik keluarganya yang ada di Singapura.

Karena itu, yang akhirnya membuat si pria berani melamar Icha dan berencana segera menikahi Icha. Awalnya Icha ragu, dan sadar terkesan dipaksakan. Tapi, Icha berusaha untuk berpikir yang baik-baik saja.

Entah mengapa, keraguan Icha semakin bertambah, dan keseriusan si pria kembali dipertanyakan saat dia bertemu Andrew. Terlebih Andrew mengucapkan itu.

Tak ingin ada yang tersakiti, akhirnya Icha berani untuk ngomong empat mata pada calon tuangannya itu. Jawaban yang diinginkan Icha terwujud, kalau sebenarnya si pria tak siap dan tak yakin untuk melangkah ke depan. Dia masih ingin mengerjakan apa yang menjadi pilihannya, dan mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya.

Di tempat keduanya sering menghabiskan waktu ketika malam minggu tiba, Icha dan tunangannya resmi putus. Sang pria mendoakan yang terbaik untuk Icha, pun Icha akan melakukan hal yang sama.

Sekembalinya Icha ke rumah, dia langsung menghubungi Andrew dan mengatakan semuanya. Malam itu, Icha kembali mempertanyakan keseriusan Andrew.

“Kalau memang apa yang kamu omongin itu benar, besok pagi kamu harus bertemu orangtuaku. Dan mengatakan apa yang menjadi inginmu,”

“Orangtuaku pasti terkejut, tapi aku akan coba ngomong ke mereka. Tapi, kalau misalnya besok pagi tidak terjadi apa-apa, berarti memang benar, kamu bukanlah jodohku yang sebenarnya, dan sebaliknya, aku ternyata bukan jodohmu. Mungkin jodohku bukan mantan tunanganku dan juga bukan kamu,” kata Icha.

Sidney, Kamis, 20 Februari 2013, Icha mengabarkan anak Pertamanya telah lahir, dengan jenis kelamin perempuan. Dan Andrew resmi jadi seorang bapak.

πŸ™‚

Β Kalian yang sudah menikah, apa pernah mengalami hal-hal serupa?

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

19 comments

  1. Alah, tulisannya berat! πŸ˜†

  2. ga sedramatis itu juga sih Dit kalo gw, tapi ga butuh waktu lama untuk tahu orang itu adalah orang yang gw pengen menghabiskan sisa umur bareng dia. πŸ˜€

  3. Emang bener kata orang, kalo udah mau deket momen pernikahan, biasanya ‘angin’-nya semakin kencang bertiup.

    1. Hooh, Mike. Lo juga harus siap-siap ya, Mike

  4. Gue pikir cerita icha-andrew ini cuma ada di ftv. Ternyata temen lo sendiri yang ngalamin. πŸ˜€

    1. Ada yang lebih drama itu, Mas. Seperti yang aku katakan, saat balas mensyenmu

  5. sweet bangeet.. emang jodoh ditangan Tuhan.. gak ada yang pernah bisa menduga prosesnya..

    jadiiii.. adit udah ketemu dengan jodohnya? #Eh

    *lari diam-diam*

    1. Sudah, kak. Cuma belum dipertemukan Tuhan. *urikurik tanah*

  6. cerita ini masih jauh kalah drama dibanding kisah menjelang pernikahanku dulu… melibatkan darah dan air mata, literally.

  7. ceritanya 17 tahun ke atas *melipir pergi*

  8. hahahahahhahahahahahahahaha

    *elap keringet*
    *banting laptop*

    1. Waduh, kenapa, kak?

  9. Ga sedramatis cerita icha sih,
    cuma udah merasakan jodoh memang cuma bisa diusahakan, hasil akhirnya menurut persetujuan Dia.

  10. hahaha.. jodoh emang ga da yg tau. mengalaminya sekitar 3,5thn yg lalu πŸ™‚

  11. dramatis..!!! memang begitu, saya juga dulu ada momen-momen dramatis saat ingin menikah. tapi memang jodoh gak kemana πŸ™‚

  12. HAHAHAHAHAHAAHAHA
    Drama drama…
    *ditendang*

Tinggalkan Balasan