Tentang Kehilangan

Seminggu lalu saya kembali ke Bandung. Seperti biasa, kunjungan saya ke Kota Kembang ini untuk liputan, bukan liburan. Kali ini lebih kepada seminar, dan berjalan selama 2 jam. Iya, cuma dua jam!

Kalau biasanya saya pergi bersama teman kantor atau reporter yang belum pernah kenal, liputan kali ini saya pergi bersama Helmi, Rendra, Mbak Lilis, dan Mbak Ana. Yang mana keempat orang ini adalah teman ‘menggila’ saya. Dan voila, sampai di sana, hanya kami reporter yang hadir.

Awalnya merasa senang, karena media online hanya saya dan Helmi (Okezone). Jadi bikin beritanya bisa barengan, enggak ada yang naik duluan atau belakangan. Tapi hari itu, tampaknya saya harus rela kehilangan salah satu barang kesayangan, yang membuat saya rada keteteran bikin berita liputannya.

Iya, iPod kesayangan yang telah menemani saya berdinas satu setengah tahun belakangan, raib di depan mata. Padahal, seminar kali itu didatangi dokter dan pasiennya. Syok, enggak usah ditanya. Lah hilangnya hanya dalam hitungan detik (kali ya)

Seperti biasa, di saat narasumber lagi `ngoceh`, iPod saya letakkan di bagian depan, sedangkan saya fokus mencatat serta mendengarkan kalimat per kalimat yang keluar dari mulutnya. Siapa tahu, ada yang bisa Higlight.

Tiba-tiba saja, begitu saya ingin mendengar hasil rekaman di Ipod, apakah jernih atau tidak, tiba-tiba saja barang kecil itu tidak ada. Saya panik, saya coba cari di kolong kursi, barangkali terjatuh. Ternyata, tidak ada.

Uh, padahal di Ipod itu ada wawancara khusus bebeberapa narasumber yang belum saya tulis. Kan wawancara khusus, naiknya bisa kapan saja. Hitung-hitung kalau saya kehabisan berita, wansus itulah yang saya pakai. Tapi ternyata, semuanya hilang tanpa jejak.

Saya coba menerima kehilangan barang kesayangan itu. Syukurlah, ada Helmi dan Mbak Ana yang rela membantu. Terlebih Helmi, yang mau mengirimkan rekaman kotor dari BB-nya.

YA, untunglah hari itu saya pergi bersama empat orang gila ini. Saya enggak bakal tahu apa jadinya kalau kehilangan kali itu saya liputan seorang diri. Bisa stres tingkat internasional kali, ya!

Mereka berhasil membuat saya melupakan apa yang terjadi. Sepanjang perjalanan, gelak tawa selalu hadir dari mereka-mereka ini. Di saat makan juga seperti itu. Ha ha ha…

Tapi tetap saja, selepas satu per satu dari kami berpisah sesampainya di Jakarta, galau dan rasa kehilangan masih terasa.

Yah, semoga maling yang mengambil iPod saya dapat memanfaatkan itu dengan sebaik-baiknya. Kalau memang berbaik hati, bisalah mengirimkan rekaman kotor yang ada di sana. Lumayankan, mengurangi dosa mereka. Ternyata, apa yang saya harapkan tak terjadi.

Sudahlah. Hari itu saya belajar untuk menerima kehilangan. Yang kayak begini saja sudah galau, bagaimana kalau kehilangan yang lebih besar. Iya, kan?

Thank you, teman-teman! 12 jam bersama-sama, melatih kita untuk ke Denmark atau Umroh bersama-sama? Insya Allah.

Rame-rame

 

 

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

2 comments

  1. Bete! Fotonya enggak bisa dimasukin 🙁

  2. Innalillahi, semoga dapat pengganti yang lebih baik asal ikhlaskan ya

Tinggalkan Balasan