rumah pengasingan bung hatta di banda neira

Kisah Perempuan Tua si Penjaga Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira

Kediaman Bung Hatta selama diasingkan di Banda Neira amat terawat. Bangunan yang menjadi tempat wisata itu jauh dari kata seram. Debu yang nyaris tak ada adalah tanda rumah Wakil Presiden Indonesia pertama ini dibersihkan setiap hari.

Sosok di balik itu semua adalah Emi Baadila. Patut bila kemudian kita berterimakasih kepada Emi, karena perempuan kurus dan keriput yang sudah berumur lebih dari 70 tahun itu setia menjaga, merawat, dan membersihkan Rumah Pengasingan Bung Hatta.

Karena rasa cinta yang teramat dalam pada sosok Bung Hatta, Emi berjanji akan menjadikan rumah itu harta paling berharga. Yang akan dijaga sungguh-sungguh, sampai nanti dia mati.

Baca juga : Muncul Keinginan Mengajak Haters Ahok Liwetan

Semua itu Emi ceritakan saat memandu saya. Perempuan yang biasa disapa Oma Emi ini tampak antusias menceritakan semua kenangan dari setiap sudut rumah yang terbagi dua bagian itu. Dari wajah Oma Emi saya bisa melihat bahwa dia akan merasa happy jika bisa berbagi semua hal mengenai bangunan yang dia jaga selama 30 tahun.

tempat wisata Banda Neira
Konon, inilah kamar tidur Bung Hatta selama diasingkan di Banda Neira. Letaknya ada di bagian belakang rumah utama

“Bung Hatta kalau tidur di sini,” kata Oma Emi. Dia mengajak saya ke sebuah ruangan di bagian belakang, berisi tempat tidur berkelambu, meja dan kursi yang ditaruh dekat pintu, ada rak tingkat empat di bagian pojok, dan sejumlah foto menempel di dinding.

Di saat ingin mengetik sesuatu, Bung Hatta akan ke ruangan bagian depan, dan bisa berlama-lama duduk di sana. “Tapi begitu adzan berkumandang, ia hentikan semua kegiatan yang sedang dikerjakan, dan bergegas untuk salat,” ujar Oma berdasarkan cerita yang dia dapat dari mendiang sang kakak, Decky Baadila.

rumah pengasingan bung hatta di banda neira
Tempat kerja Bung Hatta di Banda Neira ini sungguh cozy. (Dokumen: Mas Dadan)

Dulu rumah ini Decky yang jaga. Setelah Decky meninggal dunia pada 1984, tanggung jawab menjaga Rumah Pengasingan Bung Hatta jatuh ke Oma Emi.

Dalam hati saya berseru, omongan Oma barusan semacam sebuah tamparan buat saya, yang seringkali acuh sama seruan untuk beribadah ketika sedang asyik berkutat di depan perangkat gawai maupun ponsel.

Ada Sekolah Sore di Rumah Pengasingan Bung Hatta

Oma Ema kemudian membawa saya ke ruangan belakang. Bila di bagian depan para pengunjung bisa melihat dan menyentuh kursi santai, mesin tik, meja kerja, dan lemari berisi sepatu dan pakaian yang biasa dikenakan Bung Hatta, di belakang tamu-tamu bisa merasakan jadi guru dan murid Sekolah Sore untuk beberapa saat.

rumah pengasingan bung hatta di banda neira
Ini Halaman Belakang Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira yang Dijadikan Sekolah Sore

Sekolah sore yang dikhususkan untuk warga pribumi dibangun Bung Hatta dan Bung Sjahrir kala mereka diasingkan pada 1936 sampai 1942. Salah seorang yang menjadi murid mereka adalah Des Alwi. Tokoh masyarakat terpandang di Banda sekaligus pemilik The Maulana, hotel yang berada persis di dekat dermaga. Tempat saya dan rombongan menginap.

Wujud dari sekolah sore itu masih ada. Tujuh pasang meja dan bangku tersusun rapi, dan papan tulis di mana tulisan Hatta “Sedjarah Perdjoengan Indonesia Setelah Soempa Pemoeda di Batavia pada Tahun 1928” masih terbaca.

“Itu sejarah, mana mungkin dihapus,” saat saya tanya apa pernah tulisan itu dihapus?

rumah pengasingan bung hatta di banda neira
Meja belajar murid Sekolah Sore Bung Hatta di Banda Neira

Saya jadi membayangkan sekecil apa kira-kira badan mendiang Des Alwi. Apa bisa masuk kaki dia ke bawah meja itu. Kenapa saya sulit untuk meletakkan kaki di bawah meja? Sungguh sempit meja belajar itu. Pasti anak-anak pada zaman itu punya badan yang kecil. Tidak besar kayak saya ini.

Saya kemudian membayangkan, bagaimana rasanya diajar oleh seorang Bapak Proklamator? Apa Bung Hatta galak? Atau jangan-jangan Bung Hatta dan Bung Sjahrir adalah guru yang tak pernah marah?

rumah pengasingan bung hatta di banda neira
Ceritanya, saya yang menjadi guru, dan Mas Dadan yang menjadi muridnya. Bukan apa-apa, kursinya enggak muat (Dokumen: Mas Dadan)

Bagaimana pula perasaan Des Alwi sewaktu diangkat anak oleh dua orang tokoh nasional itu? Dari cerita Oma, bagaimana dulu Des Alwi memanggil Bung Hatta dengan sebutan om kacamata, pasti hubungan yang terjalin antara bapak dan anak angkat itu sungguh dekat.

rumah pengasingan bung hatta banda neira
Kaki Mas Dadan Bisa Masuk ke Dalam Kolong Meja. Sementara saya, nyangkut di bagian paha. (Dokumen: Mas Dadan)

Beruntung sekali Des Alwi diangkat anak, bahkan disekolahkan sampai ke luar negeri. Pasti teman-teman semasa kecil Des Alwi pada iri. Hanya saja rasa iri itu tidak mereka perlihatkan.

Duh! Saya berkhayal terlalu jauh.

Oma Dibayar Murah untuk Merawat Rumah Pengasingan Bung Hatta

Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira bersebelahan dengan lembaga pemasyarakatan (LP). Kendati demikian tak membuat Oma Ema menjadi paranoid. Oma tidak takut sama sekali, karena ia percaya para tahanan itu pada dasarnya adalah manusia baik, manusia yang punya hati, dan mereka bisa sampai berbuat “jahat” karena kepepet.

“Beta juga bukan orang berduit. Apa yang mau mereka ambil?”, kata Oma sembari tertawa.

Oma Ema justru sangat bersyukur memiliki “tetangga” mereka. Sebab, Oma bisa meminta bantuan para tahanan membersihkan rumput di halaman belakang Rumah Pengasingan Bung Hatta. “Kalau Oma sehat, Oma ikut memotong rumput bersama mereka,” kata Oma lagi.

rumah pengasingan bung hatta di banda neira
Itu Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira bagian depan. Di sisi sebelah kiri, ada semacam tong besar tempat air wudhu, dan ada juga tempat salat Wakil Presiden Republik Indonesia yang Pertama.

Saking sayangnya pada rumah peninggalan Bung Hatta, Oma Ema yang seorang janda ini rela menggelontorkan uang dari kocek sendiri untuk membayar upah para tahanan. Oma menyiapkan upah Rp30 ribu untuk satu orang. Padahal, Oma sendiri bergantung pada uang pensiun yang ia dapat setiap bulan sebesar Rp1,2 juta untuk kehidupan sehari-hari.

Baca juga : Pantai Lagoi Bay, Wisata Murah di Kawasan Elite Pulau Bintan

Oma memang menerima upah dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Ternate. Hanya saja, kalau boleh saya bilang, terlalu kecil. Bayangkan, upah menjaga tempat bersejarah seperti Rumah Pengasingan Bung Hatta dibayar hanya Rp1 juta setiap bulan.

rumah pengasingan bung hatta di banda neira
Ruang Tamu dari Rumah Pengasingan Bung Hatta. Bayangkan, Rumah Sebesar Ini Hanya Dijaga dan Dirawat oleh Satu Orang yang Berdedikasi Sangat Tinggi, yaitu Oma Ema.

Yang membuat saya ingin menangis, saat Oma cerita perjuangan dia mengambil upah yang tak seberapa itu di Ternate. Yaps, upah itu harus diambil sendiri. Miris. Tiket kapal dari Banda Neira ke Ternate itu tidak murah. Satu kali jalan bisa Rp300 ribu. Belum lagi Oma harus mengeluarkan uang lebih untuk bermalam di Ternate, karena kata Oma, kapal laut itu belum tentu ada setiap hari. Sama kayak jadwal kapal laut dari Banda Neira ke Maluku, adanya empat sampai lima hari sekali.

Guna menghemat pengeluaran, Oma Ema putuskan mengambil upah itu empat atau lima bulan sekali. “Kalau saja Oma masih sehat, Oma maunya pulang-pergi, tapi…” kata Oma yang masih bisa tersenyum menceritakan perjuangan dia agar tetap bisa hidup demi menjaga dan merawat rumah Bung Hatta itu. Sementara saya yang mendengarkan kisah miris itu, ingin langsung memeluk dan menguatkan Oma Ema.

rumah pengasingan bung hatta di banda neira
Sosok Oma Ema, si Penjaga Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira, yang berada di sampingku dan aku rangkul. Di usia yang sudah renta, dia serahkan hidupnya untuk mengabdi pada Bung Hatta (Dokumen: Bang Herman Lubis)

Nasib nahas seperti Oma Ema juga dialami Opa Hanim Wiro, penjaga Benteng Belgica yang sudah mengabdi selama 26 tahun. Padahal, kedua orang ini sepenuh hati dan segenap jiwa raga menjaga “harta karun” kepunyaan Pulau Banda Neira itu.

Terlebih Oma Ema yang tak jarang mesti mengganti dan memperbaiki bagian dari Rumah Pengasingan Bung Hatta yang rusak. Pernah atap rumah itu bocor. Oma kemudian mengadu ke Balai Pelestarian Cagar Budaya Ternate. Bukan pertolongan yang dia dapat, Oma malah disarankan untuk memindahkan barang-barang berharga supaya tak terkena air hujan.

Dari situ Oma jarang minta tolong lagi. Selama Oma sanggup, dia menggunakan uangnya untuk membeli seng, paku, dan sejumlah alat yang diperlukan.

Baca juga: Pernah Ditipu Travel Umrah

“Oma sayang sama rumah ini. Ini amanah (dari Des Alwi), yang harus Oma jaga. Ketika diberi amanah, itu berarti orang tersebut percaya sama Oma,” kata Oma lagi.

Belajar Banyak dari Sosok Orang Berjasa di Banda Neira

Satu jam sudah saya berada di tempat itu. Dalam kurun waktu enam puluh menit banyak pelajaran yang bisa saya petik, kemudian akan saya terapkan di kehidupan sehari-hari, dari seorang Oma Ema.

Oma adalah sosok yang amanah. Ia menjalankan semua tanggung jawab itu tanpa perhitungan. Sementara saya, yang sudah jelas mendapatkan gaji setiap bulan, terkadang masih main hitung-hitungan untuk sebuah pekerjaan yang sebenarnya berguna juga buat saya.

Oma juga mengajarkan bahwa yang terlihat beringas belum tentu jauh lebih buruk dari kita. Hargai dia sebagai sesama manusia. Yakin pada kuasa Tuhan, dan yakin pada diri sendiri, kalau kita berbuat baik dengan “orang jahat” itu, percaya bahwa hal serupa akan kita terima dari orang tersebut.

rumah pengasingan bung hatta di banda neira
Buat teman-teman yang akan berkunjung ke Banda Neira, jangan lupa mampir ke Rumah Pengasingan Bung Hatta, dan berikan sedikit rezeki yang kamu punya untuk Oma Ema. Mari kita bantu beliau!

Oma, terimakasih untuk pertemuan yang singkat itu. Kami titipkan Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira ke Oma. Kalau nanti ada lagi pengunjung yang iseng menggunakan barang-barang milik Bung Hatta, suruh para tahanan membawa orang itu ke Pulau Rhun. Biar dia enggak bisa pulang sekalian.

Oma Ema harus sehat terus. Insha Allah akan ada rezeki buat Oma. Mungkin bukan dunia, tapi nanti di hari penentuan. Oma orang baik. Tuhan akan selalu bersama Oma, menjaga Oma dari orang-orang yang berniat jahat.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

12 comments

  1. Kemudian aku rindu Oma Ema

  2. tiba2 aku bacanya makin geram.. negeri ini, seolah vampire kepada sejarah dan rakyatnya sendiri!

    1. Itulah, bang. Akupun sedih mendengar cerita si Oma, tapi si Omanya sendiri kayak nerimo aja gitu.

  3. terimakasih telah menjaga sejarah negeri ini, oma. Btw, apakah ada hubungan kekerabatan antara oma dan Fauzi Baadila? Hehe

    1. Nah, kemarin mau tanya itu, kelupaan saya 😆

  4. Wah masih terawat banget, nostalgia sejarah Indonesia 🙂

    1. Iya. Syukur banget masih terawat. Beruntung sekali ada beliau yang bersedia menjaga dan merawat tempat bersejarah ini

  5. Duh kok jadi sedih gini bacanya. Kayaknya negeri ini benar-benar melupakan jasa-jasa para pahlawan dan terkesan mengabaikannya. Untung aja ada sosok-sosok berhati malaikat seperti oma Ema. Semoga akan lahir oma Ema yang lainnya dari kalangan generasi kids jaman now ya, aamiin…

    1. Amiiin, Mas.

      Semoga beliau sehat-sehat terus, supaya Rumah Bersejarah ini tetap ada yang jaga dan merawatnya.

      Dan semoga juga ada yang mau membantu Oma, bekerja dengan ikhlas.

  6. Waduh, baca ini bikin saya terharu. Tapi sekaligus bangga, karena di dunia ini masih juga ada orang baik. Semoga kita bisa jadi satu di antaranya juga. Orang-orang yang mengabdi tanpa pamrih di tengah keterbatasan. Entah apa yang terjadi dengan negara sampai kadang agak terbatas dalam membantu para juru pelihara seperti Oma Ema ini. Padahal mungkin jika beliau tidak ada, bangsa ini bisa jadi kehilangan satu komponen besar yang menjadikannya seperti hari ini. Semoga beliau memaafkan, hehe…
    Btw, salam kenal.

    1. Hai, Gara, salam kenal.

      Maka itu, semoga Oma selalu sehat, agar rumah ini tetap terawat dan ada yang menjaganya. Semoga kalau kelak Oma sakit, orang yang menjaga rumah ini punya hati yang ikhlas seperti Oma

  7. One of my wishlist banget nih Banda Neira, kapan ya aku bisa kesana hehehe

Tinggalkan Balasan