surat cinta untuk starla

Review Film Surat Cinta Untuk Starla The Movie : No Comment, ah!

Tidak ada yang salah dengan film Surat Cinta Untuk Starla. Kalau ada yang bilang jelek, coba tanyakan berapa umurnya. Apabila mendekati kepala tiga kayak saya atau lebih, anggap penilaian tersebut dilandasi rasa iri tidak bisa kayak Hema Chandra (Jefri Nichol), di masa-masa pacaran dulu.

Kecuali, jika suara sengau tentang film besutan Rudi Aryanto terdengar dari bibir penonton belia. Baru deh pikir-pikir lagi menonton film Surat Cinta Untuk Starla.

Baca juga: [Review Film Susah Sinyal] Susah Menentukan Abe atau Aji

Film yang diangkat dari lagu Virgoun dengan judul yang sama, hadir dengan premis yang sangat amat sederhana. Di saat anak-anak usia tanggung bisa menikmati film ini sampai akhir, yang tua malah dibuat mikir.

Di zaman netizen punya pengaruh besar terhadap keberlangsungan hidup seseorang, rasa-rasanya sulit menemukan sosok seperti Hema. Hema selalu menenteng mesin tik ke mana pun dia pergi. Dia cuek saat menggunakan mesin penyusun huruf itu di coffee shop, seolah ingin menggambarkan berani beda itu keren, cui!

Hema tak mengindahkan pandangan orang-orang fakir kuota yang melirik sinis ke arahnya. Bagi Hema, mesin tik adalah dunianya, nyawanya, sekaligus harta tak ternilai harganya.

review film surat cinta untuk starla the movie
Salah Satu Adegan di Film Surat Cinta untuk Starla the Movie yang Bakal Bikin Penonton Remaja Histeris Baper (Dok: Saluran Youtube Screenplay)

Berkat mesin tik itu jugalah Hema bisa mengembalikan pasokan energi setelah kejar-kejaran sama polisi. Hema ini ceritanya anak street art gitu. Kerjaannya setiap malam, mencoret-coret dinding kolong fly over atau jembatan, tapi nasibnya selalu sial.

Hema seperti tidak butuh minum untuk mengganti cairan yang hilang dari dalam tubuhnya. Cukup dengan memainkan papan tuts mesin tiknya, staminanya ada lagi. Air kemasan yang ada di dalam mobil tuanya, Hema pergunakan hanya untuk kumur-kumur setelah gosok gigi sambil menyetir.

Pernah sekali beli air putih dalam kemasan di swalayan. Bukannya habis karena diminum, malah terbuang sia-sia oleh perempuan yang mengaku sebagai pacarnya, yang tak terima diputusin sepihak. Baru diminum sedikit, air itu sudah keburu disiram ke wajah Hema.

Surat Cinta Untuk Starla, Cinta yang Terbentuk Setelah Enam Jam

Berkat mesin tik jadul warisan kakeknya yang seorang jurnalis politik, Hema jadi kenal dengan Starla (Caitlin Halderman). Dari perkenalan dan pertemuan selama enam jam di malam nahas bagi Hema, juga buat Starla yang akhirnya putus sama tunangannya, membuat kedua cucu Adam dan Hawa ini semakin dekat dan akhirnya aku-kamuan. Walaupun jadian mereka tanpa proses penembakan.

Mungkin bagi Starla, dengan Hema mau mengantarkan dia ke mana saja, itu sudah cukup untuk menguatkan status hubungan mereka.

Starla tak butuh waktu lama untuk move on dari mantannya. Starla merasa bersyukur, kejadian yang dia alami bersama Hema pada malam hari itu, bisa membuatnya terbebas dari kungkungan pacar yang super posesif. Starla lelah menghadapi cowok yang begitu cepat mempercayai sebuah gosip, hanya lewat sebuah foto yang disebar oleh teman terdekat mereka.

Secara perlahan tapi pasti, Hema mulai membawa Starla ke dalam dunianya yang seru dan berwarna. Hema juga mulai memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Seorang pecinta alam, yang beranggapan bahwa orang-orang yang suka buang sampah sembaranganlah yang layak untuk dikejar-kejar aparat, kemudian dijebloskan ke penjara. Bukan malah dia.

Bagi Hema, melukis mural berupa gambar maupun quote-quote yang bikin baper, bukan perilaku merugikan. Justru tindakan itu adalah sebuah upaya dari anak muda, ikut “membantu” pemerintah memperindah Ibu Kota yang carut-marut ini.

Di saat hati sudah saling berlabuh, Starla masih mempertanyakan, apakah benar seseorang bisa jatuh cinta padahal baru mengenal selama enam jam?

Starla, sini kakak beritahu. Dulu ada seorang laki-laki yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Kurang dari enam jam, dia berani bilang telah jatuh cinta dengan sosok yang dia lihat itu. Mereka berkecimpung di dunia yang sama.

Keduanya berkenalan, berteman, dan akhirnya dekat. Laki-laki ini merasa nyaman dengan sosok tersebut. Hari-hari yang laki-laki itu lalui terasa sangat indah. Ya, walaupun pada ujungnya, harus mengalami hal yang sama kayak kamu. Harus siap menerima kenyataan bahwa orang yang dia percaya, dia sayang, dan dia cinta yang justru merobek-robek perasaannya. Perih.

Kamu mesti bersyukur, Starla. Kamu mudah melampiaskan amarah kamu. Sedangkan laki-laki itu, hanya memendam amarah di dalam dirinya, yang membuatnya jadi mengalami Psikosomatis.

Surat Cinta Untuk Starla, Film yang Terpaksa Dibuat?

Film Surat Cinta Untuk Starla sengaja dibuat bukan untuk menjaring penonton usia tua. Ini terlihat dari alur cerita yang dibuat loncat-loncat.

Buat mereka yang sudah menonton versi web series, kemungkinan besar tidak akan sulit mengikuti seluruh rangkaian cerita di film. Namun, buat yang belum nonton, pasti akan bingung di beberapa bagian.

Semisal adegan pendekatan antara Hema dan Starla di malam itu. Adegan tersebut tidak diperlihatkan secara gamblang, hanya sepotong-sepotong saja. Padahal, adegan itu perlu ada supaya kisah di film Surat Cinta Untuk Starla terasa lebih utuh.

review surat cinta untuk starla
Ngapain Hema dan Starla Pelukan di Atas Gedung Begitu. Tonton Surat Cinta Untuk Starla Supaya Tahu Jawabannya

Meskipun setelah saya tonton sampai habis, ada baiknya memang Surat Cinta Untuk Starla ini berhenti sampai di web series saja. Bukan apa-apa. Sayang aja, sinematografi yang bagus dan departemen akting yang menjanjikan, tidak didukung dengan penggambaran cerita yang baik. Malah terkesan “asal jadi”.

Pembuat cerita seperti kebingungan mau membawa film Surat Cinta Untuk Starla ini ke arah mana. Masih bermain di zona nyaman seperti film-film terdahulu, atau mau tampil beda.

Munculnya konflik antara Hema dan Starla yang secara tiba-tiba, malah membuat penonton, dalam hal ini saya sendiri, geleng-geleng kepala.

“Fix, film ini terinspirasi Ayat Ayat Cinta 2 digabungin dengan Dear Nathan!,” kata saya dalam hati.

Kesan “asal jadi” itu juga terlihat dari sejumlah karakter yang dipaksa ada. Mau ada mereka atau tidak, film ini akan tetap monoton. Mereka yang dipaksa ada itu, sengaja dimunculkan untuk memberikan nuansa komedi, yang sayangnya gagal dieksekusi. Bukannya lucu, malah segaring kerupuk yang dimakan Hema bersama seporsi nasi goreng saat sarapan bersama Starla.

Dari awal, karakter pacar Starla tak pernah diperlihatkan. Dalam bayangan saya, laki-laki yang berani menyebut pacarnya sebagai ABG alay dan murah itu adalah sosok yang gahar. Andai saja sosok itu muncul dan ribut dan Hema sampai berdarah-darah, saya jamin film ini jadi sedikit baik.

Namun, setelah pemuda beler itu muncul di depan rumah Starla untuk meminta maaf, saya jadi semangat mendukung agar Starla cepat-cepat baikan sama Hema. Masa “digertak” pakai stick softball langsung ciut, njir!

Film Surat Cinta Untuk Starla Tidak Sepenuhnya Buruk

Banyak hal mengganjal di film Surat Cinta Untuk Starla yang saya jamin tidak terlalu diperhatikan penonton muda. Koreksi saya jika salah. Hema digambarkan sebagai sosok pecinta alam, tapi di sisi lain, Hema tak bisa hidup tanpa mesin tik kesayangannya itu.

Saat kuliah dulu, saya harus membuat laporan akhir setiap praktikum menggunakan mesin tik selama delapan semester. Untuk mengetik teks dan sedikit coding saja, banyak kertas yang saya buang lantaran banyak yang salah.

Nah, Hema ini, kemampuannya memainkan mesin tik mengalahkan abang-abang rental di dekat kampus saya dulu. Bukan sekadar teks yang dia buat, melainkan sketsa wajah. Bayangkan jika Hema menggambar itu dalam keadaan tidak stabil. Berapa banyak kertas yang akan terbuang?

Apa ini ada kaitannya dengan sakit hati Hema terhadap kakeknya (dari ibu) yang dulu pernah terlibat dalam pembelalakan hutan? Entahlah.

Yang buat saya penasaran, berapa kali Hema membersihkan rumahnya? Sampai-sampai dia tak tahu ada barang yang berada di dekatnya, yang ternyata kunci untuknya menemukan ibu kandungnya yang selama ini menghilang.

review film surat cinta untuk starla
Adegan di Film Surat Cinta Untuk Starla yang Memperlihatkan Kepiawaian Hema Membuat Mural (Dok: Screenplay Production)

Setidaknya saat kita membersihkan perabotan rumah, kita angkat perabotan itu untuk membersihkan bagian bawah dan iseng membuka tutupnya. Sekadar lihat-lihat saja, siapa tahu ada hartu karun, kan?

Saya pribadi baru bisa menikmati film Surat Cinta Untuk Starla ini begitu mendekati akhir. Saat Mathias Muchus beradu peran dengan Yayu Unru dan Rizky Hanggono. Itu pun tak lebih dari tiga menit. Setelah itu, kembali lagi kayak semula, dialog terkesan maksa, dan penyelesaian konflik yang sengaja dibuat cepat.

surat cinta untuk starla
Banyak Tempat-Tempat Menarik Diperlihatkan di Sepanjang Film Surat Cinta Untuk Starla. Gambarnya Bagus-bagus Banget.

Meriam Bellina, berperan sebagai mamanya Starla, melakoni perannya sebagai perempuan campuran Sunda-Belanda dengan sangat baik.

Sementara Jefri Nichol, tidak bisa dibilang sepenuhnya buruk. Aktingnya oke. Di film Surat Cinta Untuk Starla ini Nichol kembali membuktikan, dia adalah seorang chemistry maker. Hanya saja, aktingnya bersama Caitlin Halderman mudah dilupakan. Tidak seperti saat dia berperan sebagai Nathan (Dear Nathan, 2017) dan Alvaro (A: Aku, Benci, Cinta, 2017).

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

22

7 comments

  1. Aku udah di posisi umur 2 dan 5, gak direkomendasiin dong ya. Hahahha
    Pernah nonton web serinya tapi gak sampai selesai. Aku suruh adekku nonton aja deh, penasaran dari sudut pandang remaja macam apa๐Ÿ˜‚.
    Terima kasih banyak reviewnya๐Ÿ™

  2. Wah, reviewnya membantu kak.
    Jangan lupa review film” yg lain ya kak ๐Ÿ˜‚

  3. Sesuai bgt sm yg aku rasain pas nonton film itu

  4. Nggak kebayang gimana rempongnya bawa mesin tik ke mana-mana… bawa laptop aja udah berat dan ribet (tapi masih bisa versatile karena bisa dipakai nonton film juga kalau mati gaya), lah gimana mesin tik yang… well, cuma bisa dipakai ngetik (sama nimpuk copet di Metromini)?

  5. Waahh asik kak Dito udah bikin ulasannya. Aku suka baca spoiler film soalnya biar tahu bagus apa gak filmnya ๐Ÿ˜€

  6. Saya belum pernah menonton filmnya tapi memang suka dengan lagunya. Meskipun belum pernah nonton filmnya, tapi sudah bisa memyangkan karakter Merriam Belina. Karakter Sunda campur Belanda memang dari dulu paling pas kalau diperankan oleh Meriam Bellina ๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan