Semalam di Kota Palembang, Kuliner Saja

Meski kabut asap tidak sepekat hari-hari lain, kualitas udara kota Palembang yang buruk terasa sekali begitu rombongan keluar pintu Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II pukul 09:30 pagi. Sumok kali, kata orang Sumatera. Beruntung di antara kami tidak ada yang punya riwayat asma.

Nasib, pertama kali ke Palembang situasi kota terbesar nomor dua di Sumatera itu malah tidak memungkinkan saya mengunjungi sejumlah tempat. Dinas dua hari satu malam, Jumat hingga Sabtu kemarin, diisi dengan kulineran saja. Isi perut dari satu tempat makan ke tempat makan yang lain.

Langit kota Palembang tertutup kabut asap yang sangat tebal. Dari jarak jauh, Jembatan Ampera seperti hilang.

Situasi seperti itu bikin kami bingung, waktu ditanya pak supir, mau ke mana? Mau ke penginapan, baru check-in pukul 02:00 siang. Mau ke Jembatan Ampera, jauh dan lagipula ketutupan asap. Bahkan cenderung samar. Semakin bingung karena ada yang harus Jumatan. Yang penting ke kota dulu, lalu mampir ke kedai es kacang Mamat di Lapangan Hatta, saran saya. Namun, pak supir malah membawa kami ke pempek VICO dengan alasan di tempat itu bisa ngobrol, nonton teve, cocok buat menunggu waktu sholat Jumat.

…da aku mah bisa apa atuh, bukan orang sana. Manggut wae!

Karena dua hari itu kebanyakan makan ini itu ketimbang mampir ke sana ke mari, inilah tempat makan di Palembang rekomendasi teman-teman yang kami kunjungi;

1. Pempek VICO

Niat awal pengen ke Lapangan Hatta, nongkrong-nongkrong cantik menikmati segelas es kacang Mamat yang tersohor itu. Sebagai tamu yang baik dan percaya akan kualitas lidah masyarakat setempat, pasrah saja dibawa ke pempek VICO.

Tempat makan yang terletak persis di seberang Palembang Indah Mall (PIM) ini ramai sekali. Masih pagi saja sudah ramai seperti itu, apalagi di sore hari? Tidak bisa dibayangkan. hanya bisa membayangkan sosok Mas VICO.

Pelayan menghampiri kami lalu menyerahkan selembar kertas berisi menu. Belum sempat melihat apa saja makanan dan minuman yang ada di pempek VICO, kami sudah tahu harus pesan apa; tiga es kacang marah, satu jus avokad, dan dua porsi pempek berisi pempek telor, lenjer, adaan, keriting, pistel, tahu, dan pempek kulit berukuran kecil.

Pempek beraneka jenis berukuran kecil disuguhkan jika mampir ke Pempek VICO, depan Palembang Indah Mall (PIM)

 

Memang paling enak kalau makan pempek di Pempek VICO minumnya es kacang merah ini

 

Saya tidak lupa kok kalau lagi diet. Tapi, siapa coba yang bisa menolak kenikmatan seporsi pempek langsung dari asalnya? Disajikan dalam keadaan baru selesai digoreng, cuko yang hitam pekat, ditemani segelas es kacang merah yang ada susu kental manisnya.

Rasa jelas berbeda dari pempek yang ada di Jakarta. Apalagi yang dijual abang-abang di depan SD. Jauh banget. Kayak dari Ciputat ke Bekasi, karena dari Jakarta ke Palembang cuma sejam.

Pempek VICO
Jl. Letkol Iskandar No. 541-542
Depan Palembang Indah Mall
Telp. 0711- 316066

2. Brengkes di Rumah Makan Pondok Kelapa

Dari VICO kami menuju masjid terlebih dahulu untuk Jumatan, sebelum ke Benteng Kuto Besak melihat Jempatan Ampera yang tertutup kabut asap, lalu check-in, dan pilih tidur siang karena capai sekali. Begitu kena pendingin ruangan, malah malas keluar kamar.

Barulah malam harinya rombongan dibawa ke Rumah Makan Pondok Kelapa, yang hanya selemparan kolor dari tempat kami menginap di Hotel Amaris.

Makanan yang tersaji malam itu standar, seperti makan malam pada umumnya di restoran mana saja. Ayam saus tiram, udang goreng tepung, sayur kangkung, ikan bakar, dan sambal mangga.

Nama campuran ikan dan tempoyak durian yang mirip pepes ini adalah Brengkes, bukan brengsek.

Pas ngobrol sama jurnalis setempat yang ikut makan malam bersabarulah kami mengenai makanan khas Palembang, salah satu dari mereka bilang kalau di tempat makan itu menyediakan brengkes juga.

Brengkes mirip dengan pepes ikan. Beda bumbu saja. Kalau bumbu pepes ikan ketumbar, kemiri, bawang putih, bawang merah tumbuk, sedangkan brengkes tempoyak durian. Rasanya endeus banget! Lebih enak dari menu yang lain. Ludes dalam kurun waktu tak sampai tiga menit.

Hati-hati kepleset lidah saat memesan brengkes ini. Nanti yang keucap malah brengsek.

Pondok Kelapo
Jl. Demang Lebar Daun No. 184, Palembang Sumatera Selatan, 30151.
Telp. 0711- 412011

3. Martabak HAR Simpang Sekip

Martabak HAR yang sekilas mirip roti canai khas Aceh atau India ini bisa dinikmati di Simpang Sekip, Palembang

Di samping hotel kami ada juga resto martabak HAR tapi sepi banget. Bang Goiq merekomendasikan martabak HAR yang di Simpang Sekip. Dia juga bilang kalau resto martabak HAR samping hotel kami itu abal-abal, yang asli cuma Simpang Sekip.

Dari Rumah Makan Pondok Kelapa, kami meluncur ke resto martabak HAR yang direkomendasikan itu. Suasanya beda sekali sama yang di samping hotel. Di sini ramai sekali. Kami datang belum malam banget saja sebagian menu sudah habis.

Hae, kak!

Sudah pernah makan martabak HAR sebelumnya tapi yang ini kuahnya enak banget. Saya memang suka yang kental-kental. Eh, ini ngomongin makanan, lho. Rekomendasi Bang Goiq tidak salah. Jadi, jika ada yang merekomendasikan tempat lain, berarti itu simpang siur.

Di tempat ini saya bertemu member Kopdar Jakarta, kak Oelpha. Kopdar di Jakarta saja susah, malah ketemu di sini. Eh, kak Ira alias itik kecil malah sedang di Jakarta.

Abdullah HAR Martabak & Resto
Jalan Jenderal Sudirman Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia.

4. Mie Celor 26 Ilir milik H. M. Syafei Z

Sama seperti mie lendir yang ada di Riau, mie celor khas Palembang memang paling enak disantap di pagi hari. Tampilan kedua mie ini sama persis, mie yang panjang, telur, dan kuah kentel seperti-namanya-yang-tidak-usah-disebut-lagi.

Saat makan mie celor jangan ngebayangin sesuatu.

Kalau orang bule paling menganggap ini spageti karbonara yang disausin. Porsi yang tersaji terlihat sedikit, tapi ternyata buanyak aja. Kenyang gila. Karena masih pagi, mie celor itu tidak saya campur dengan sambal, yang saya duga enaknya bakal nampol. Jangan lupa celupin kerupuk ikan.

Tak cuma bang Goiq, rekan-rekan jurnalis di sana juga merekomendasikan Mie Celor 26 Ilir milik HM Syafei Z ini. Lagi-lagi tidak salah, mie celor ini rasanya enak banget. Pengen lagi!

Mie Celor 26 Ilir milik HM Syafei Z
Jl. KH. Ahmad Dahlan Nomor 2, Palembang, Sumatera Selatan, 30135, Indonesia

5. Baung Patin RM Pindang Simpang Bandara

 

Pindang ikan baung di RM Pindang Simpang Bandara. Kuah yang gurih, pedas, dan menyegarkan, poin untuk pindang ikan baung ini 9,5 dari 10

 

Dari sekian banyak makanan khas Palembang yang harus dicoba, cuma pindang yang belum kesampaian sampai beberapa jam sebelum pulang ke Jakarta.

Supir kami memberitahu kalau di simpang bandara ada rumah makan yang jual pindang enak. Meluncurlah kami ke sana, pesan pindang ikan baung.

Saya baru tahu pindang tak selalu harus ikan patin. Dan saya juga baru tahu ada yang namanya ikan baung. Waktu makan di RM Pindang Simpang Bandara, pelayannya juga menyajikan lalapan bersama sambal mangga yang pedasnya nanggung. Rasa pindang ikan baung ini enak, pedas, gurih, dan aroma rempah-rempahnya tercium sekali. Saya nambah cuma dua kali, itu pun nasi saja.

RM Pindang Simpang Bandara
Jl Tanjung Siapi-Api Nomor.1
Palembang, Sumatera Selatan

Menyantap makanan khas Palembang sudah, melintas di atas Jembatan Ampera juga sudah, sudah bisa dibilang sah pernah ke Palembang, belum? Kalau kalian punya rekomendasi tempat makan di Palembang beda dari yang saya sebut di atas, boleh lho dishare!

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

9 comments

  1. Horai, sudah pernah ke Palembang

  2. hai Dit, semoga kamu masih ingat aku. hahaha

    aku ke Palembang udah 2 atau 3 kali kalo gak salah inget. alhamdulillah udah pernah ngerasain makanan2 yg kamu sebut di atas, kecuali brengkes-nya.
    martabak Har bikin eneg, gak suka aku rasa begituan. pempek lain2 yang gak seterkenal Vico juga enak, kayak pempek Candy, pempek Beringin, dll.

    dan ah… kabut asap ya -_- beberapa bulan lalu udara masih bersih disana.

    1. Hai, Pet, kamu apa kabar? Masih ingat dong.

      Buatku, semua pempek enak kok. Mau itu yang Candy, Beringin, VICO, Nonny atau apalah. Cuma bedanya rasa di cuko kali ya.

      Iya Pet, kabut asap. Niat extend dibatalkan, karena bingung mau ke mana juga

  3. Aku lebih suka pempek Candy 😛

    1. Candy menurutku rasa cukonya aneh 😆

  4. jadi pulang dari Palembang naik berapa kilo? =))

    1. Nggak naik, Makchic. Tanda kudu balik lagi buat kulineran.

  5. kelihatan enak-enak banget dit 😀

    1. Enak banget, Ecky

Tinggalkan Balasan