Selasa (pagi) Kelabu Untuk Mahasiswi Berbaju Biru

Nggak tahu kenapa, 3 hari belakangan ini saya selalu menemukan orang tua (orang yang umurnya diatas kedua orang tua kita) yang rasa sensitif nya sungguh luar biasa tingginya.

Saya hanya bisa mengelus dada kalau sudah bertemu sama orang seperti ini. Diajak berdebat, percuma. Ujung-ujungnya malah ribut dan terkesan tidak sopan. Padahal, belum tentu yang muda yang salah.

Salah satu contohnya adalah kejadian yang saya temui 2 hari yang lalu.

Kejadian ituΒ  saya dapatin di dalam bus yang biasa saya pergunakan jika hendak ke kampus untuk mencari rezeki, Deborah, nama bus itu. Β±4 tahun saya menggunakan bus ber-cat ungu itu, baru beberapa hari lalu, lah, saya dan seisi bus dibikin terkaget-kaget sampai bengong oleh suatu peristiwa yang “dibuat” oleh seorang laki-laki paruh baya.

Kejadian itu, lebih parah dari pelecahan seksual, menurut saya.

Dari awal bus masih ngetem, si bapak paruh baya ini sudah mulai menampakan rasa tidak sukanya terhadap bus itu. Pasalnya, si bapak tidak suka kalau bus ngetem terlalu lama. Tapi, bus itu sendiri baru akan jalan kalau penumpangnya sudah ramai. Maklumlah, bus yang saya gunakan adalah bus sejuta umat yang hanya ada 1 macam. Si bapak ini sudah ngedumel yang membuat saya sebagai penumpang yang duduk disebelahnya merasa terganggu. Sebenarnya saya juga ngedumel, tapi bukan ke bus itu, melainkan ke bapak ini. Itu, pun, saya ucapkan hanya di dalam hati saja, tidak saya keluarkan.

Tak lama kemudian, 2 mahasiswi naik dan berdiri tepat didepan saya dan seketika itu pula, supir menjalankan busnya.

Apakah si bapak paruh baya itu berhenti ngedumel ketika bus nya jalan? Tidak, jawabnya!!

Kali ini si bapak marah sama kernet busnya. Padahal niat si kernet itu baik, hanya memindahkan tas si bapak supaya penumpang lain dapat masuk ke dalam, biar ga mentok sampai di pintu bus. Padahal bukan di pindahkan ke tempat yang jauh, hanya ke bawah tempat duduk. Tapi tetap saja si bapak tidak terima, malah dia ngedumel lagi.

“Sudah ngetemnya lama, ini tas pun pakai dipindahin segala. Resiko, siapa suruh naik bus yang penuh!”

Oke, bus pun sudah meninggalkan terminal. Si bapak paru baya yang mukanya sekilas mirip pembawa acara Jare-Jare ini, pun, tertidur. Saya fikir, dengan dia tertidur, dunia saya bakal aman, ternyata tidak. Si bapak berasa tidur di kamar sendiri kali, ya, mendengkurnya sungguh luar biasa.Β  Jelas saya terganggu, tapi ya begitu lah, saya takut digeplak sama si bapak yang roman-romannya galak.

2 mahasiswi yang tepat di depan saya, mungkin tidak ada bahan pembicaraan lain. Ketika si bapak yang tertidur itu tiba-tiba mendengkur, 2 mahasiswi ini ketawa geli. Saya sebenarnya juga, cuma, saya tahan–kalau 2 mahasiswi ini, tidak. Mereka sepertinya membicarakan bapak ini. Tapi masa bodo, lah, bukan urusan saya.

Tak terasa, bus sudah melaju selama 30 menit. Melihat keluar, bus sudah keluar dari TOL dan sudah berada di daerah Lenteng Agung.

Nah, di sinilah kami seisi bus di bikin terkaget-kaget sampai bengong.

Pada saat bus melintas di depan stasiun kereta Lenteng Agung yang terkenal macet karena banyak angkot ngetem, si kernet yang sedang bergelantungan tiba-tiba nyeletuk dengan logat Medan nya:

woi bodat, misi kelen, bus ku mau lewat..”

Dan, 2 mahasiswi yang berdiri di depan saya, pun, ikutan nyeletuk ..

“apa-apaan, sih, tuh kernet.. Masa muka kayak bodat ngomong bodat..”

Dan kalian tahu apa yang terjadi? Si bapak yang dari tadi sudah bangun, mendadak berdiri dan melayangkan tangan kanannya ke pipi kanan mahasiswi berbaju biru yang nyeletuk itu …

“PLAK!!” suara tamparan itu membuat satu bus kaget dan hanya bisa bengong melihat kejadian itu.

“Kalian, ya, jangan kalian fikir saya tidak tahu apa yang dari tadi kalian bicarakan. Aku tidur, kalian tertawakan.. Ini kernet ngomong kayak gitu, kalian omongin juga. Jangan kalian fikir muka kalian bagus, ngga sopan. Di Sumatera kau buat seperti itu, abis kalian” ucap si bapak dengan emosi dan nada yang tinggi.

Gila, ternyata si bapak dari tadi walaupun tidur tapi dia mendengarkan apa yang terjadi. Untung saya ngedumel nggak kedengaran dia, bisa-bisa saya ikutan ditampar.

Mahasiswi itu, pun, hanya bisa menangis sambil mengelus pipinya yang (tidak) mulus itu. Warna merah bekas tamparan itu tampak jelas. Seperti warna blush-on.

Teman satu nya hanya bisa mengelus pundak sang kawan untuk memberi kekuatan.

Kami, pun, para penumpang tidak berani ikut campur. Soalnya, tidak tahu menahu perkara sebenarnya. Dan bingung juga siapa yang benar dan salah.

Saya fikir mahasiswi itu memutuskan untuk tidak masuk kuliah dan pulang kerumah pagi itu juga, ternyata tidak. Sore harinya, ketika saya hendak mencoba salah satu resto sushi yang baru buka tak jauh dari kampus saya, saya bertemu lagi dengan 2 mahasiswi ini yang tampaknya sudah lupa dengan kejadian tadi pagi.

Pesan saya, lebih baik ngedumel di dalam hati, biar Tuhan saja yang tahu apa isi dumelan kita.

Buat si bapak, semoga bapak tidak mempunyai anak cewek, ya. Fatal, lho. Kabarnya, kalau seorang bapak kasar terhadap wanita, akan berimbas ke anak perempuannya. Bisa jadi dia bakal dapat lebih tamparan dari pasangannya (jika dia sudah menikah)


 

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

18 comments

  1. Astaga… itu bapak… sama orang lain yg ga ada hubungan darah aja bisa segitu kasar, kok bisa sih nampar wanita tanpa tedeng aling2!? Apa-apaan tuh… *kesal*
    Orang semacam itu menurut saya patut dikasihani. Kasihan. Saya membayangkan, kejadian apa di masa lalu pak tua itu yang membuat sifatnya seperti sekarang ini. πŸ™ Mungkinkah beliau dulu waktu masih kecil dikasari oleh orang yg lebih tua? Atau… kenapa? *bertanya-tanya*

    1. Sebenarnya saya sendiri pun kesal sama si bapak. Ga ada hubungannya kok malah marah2 dan parahnya sampai nampar. Tapi, 2 mahasiswi itu pun sedikit kurang ajar juga.
      Kalau diluar berani menampar orang lain, berarti dirumah sendiri??

  2. mungkin bapaknya sedang dilanda masalah, jd kbawa emosi

    1. Apa memang faktor umur? Jadi rasa sensitifnya bertambah? Salam kenal, Rieka:)

  3. Ahh parah bener tuh ya orang2, ga malu apa di tonton se bus, tp klo di bus yg penush, ditambah udara panas, makin cepat emosi tingkat tinggi deh orang2.

    1. Mungkin maksud si bapak baik, cuma, caranya yang salah. Tapi, gimana pun juga si bapak tidak punya hak menampar orang lain di depan umum. Apalagi ini wanita.

  4. Luar biasa bapak itu, ya…
    Saya senang lihat bapak-bapak begitu. Bapak saya seperti itu juga (kalau sama saya)… Hmmm…
    (bahasa terbalik)

  5. Miris rasanya, semoga kita dijauhkan dari sifat bapak seperti itu..

    1. Aminnn .. Semoga calon bapak tidak seperti itu ya, mas. Selamat ya, mas πŸ˜€

  6. Tu mahasiswi dua orang cerdas banget… si bapaknya lebih cerdas lagi…
    Tidak satupun dari mereka yang terlihat oke di mata orang lain. ckckck

  7. Jahat banget -_-
    Jahaaaaaaaaaaaaaaat banget
    Speechless

  8. untungnya si bapak dan mahasiswi gak masuk koran bisa heboh lagi ini cerita πŸ˜€

    1. Kalau si cewek nya pada saat itu merasa terganggu dan langsung melaporkan, mungkin akan masuk koran. Sayangnya, enggak

  9. Memang kita sering menemukan banyak orang tua yang super sensitifnya tidak hanya di rumah (biasanya malah sering bertengkar dengan istrinya), juga emosinya muncul di tempat umum. Umur bertambah tidak menjadi lebih arif, akhirnya orang tua yang harus dimaklumi mereka yang masih muda.

    1. begitulah Pak Aki. Kasihan juga ngeliatnya.
      Anw, terimakasih banyak pak sudah mampir πŸ™‚

Tinggalkan Balasan