Selamat Hari Ibu, Ma

Sebenarnya postingan ini sudah saya siapkan sejak kemarin. Berhubung beberapa hari ini diare saya kumat dan deadline akhir tahun yang menumpuk, membuat saya baru sempat memostingnya hari ini. Memang telat sih, tapi saya berharap postingan ini tidak mengurangi makna dari Hari Ibu itu sendiri.

Berbicara soal ibu, mama saya bukanlah tipikal orangtua yang terlalu senang mendapatkan ucapan `Selamat hari ibu ya, Ma..`. Bukan baru-baru ini saja, melainkan sudah sejak lama. Setidaknya, dari saya SMP. Soalnya, dari zaman saya masih bercelanakan biru pendek itu, saya seringkali mengirimkan ucapan seperti itu.

Waktu saya SMA dan memilih tinggal di Jakarta bersama kakek dan bukde, saya kerap mengirimkan pesan singkat di hari ibu ini ke mama yang setia menemani papa dinas di Riau. Ucapannya cukup panjang, puitis banget, dan butuh tenaga untuk mengirimkannya. Setelah pesan itu terkirim, satu yang ada di benak saya bahwa mama langsung menghubungi saya dan terharu mendapatkan pesan singkat dari anaknya yang hidup merana di ibu kota.

Selfie versi si adik dan mama

Enggak tahunya, balasan dari mama amatlah singkat. Dan membuat saya hanya bisa garuk-garuk kasur. `Mama capek bacanya! panjang banget. Intinya apa? Ngucapin hari ibu? Enggak pake buat mama. Yang penting abang belajar saja di sana`.

Sejak saat itu, saya tak pernah lagi mengirimkan pesan atau apalah ke mama di Hari Ibu ini.

Satu kali, ketika mama, papa, adik, dan saya sedang makan malam di luar, si adik nyeletuk dan menanyakan mengapa mama enggak mau anaknya mengirimkan ucapan seperti itu? Jawaban mama cukup pendek `Ucapan seperti itu enggak perlu. Karena bagi mama, anak-anaknya ingat sama Tuhan dan tak pernah putus mendoakannya orangtuanya di setiap sehabis sholat, itu saja sudah cukup`.

Kemarin, saya coba untuk mengetes si mama lagi. Bagaimana responsnya ketika anaknya ini mengucapkan selamat hari ibu. Dan respons dari mama cuma `Ehmmmm…`

Bicara soal mama, entahlah, saya bingung harus memulainya dari mana. Sepengatahuan saya, mama ini tipikal wanita yang pekerja keras dan enggak manja. Sewaktu kami masih tinggal di Medan, mama memilih untuk bekerja sebagai pegawai wartel (warung telepon) di salah satu mall terbesar yang ada di Medan, saat itu. Mungkin ada yang tahu Deli Plaza? Nah, di situ mama pernah bekerja.

Selepas dari situ, seingat saya juga, mama pernah bekerja di perusahaan asuransi. Letaknya, tak jauh-jauh dari mal tersebut.

Kata mbah kong (panggilan saya untuk kakek, ayah dari mama) dari sekian banyak anak-anaknya, cuma mama yang sedari kecil sudah terlihat sekali sifat mandirinya. Enggak mau nyusahin orang. Buktinya, selepas mama menikah dengan papa, mama enggak mau numpang tinggal di rumah mbah.

Kata mbah lagi, tak peduli seberapa besar ukuran rumah itu, yang penting didapat dari hasil kerja keras sendiri.

Yang paling menyedihkan, kata mbah, ketika mama melahirkan saya. Sebab, tak ada papa di samping mama. Kala itu papa sedang berada di pelosok Aceh untuk berdinas. Butuh waktu 1 harian agar bisa menemui mama yang ada di Medan.

Mama itu memiliki sifat yang enggak bisa diam. Beliau berusaha mencari beragam kegiatan agar terhindar dari stres dan kesendirian. Terlebih beberapa tahun ini, ketika saya dan papa sibuk bekerja, dan si adik dengan pendidikannya.

Agar lebih produktif, mama nekat mengendarai sepeda motor seorang diri untuk belajar membuat tas, bunga, dan prakarya yang terbuat dari manik-manik di Asemka. Mama betah berlama-lama di sana hanya untuk memperdalam ilmu ini. Setelah ilmu itu didapat, mama praktikin di rumah. Alhasil, jadilah beberapa model tas dan prakarya lainnya. Tak sampai di situ, mama pun iseng untuk menjual karyanya sendiri ke orang lain.

3 Dari Sekian Banyak Prakarya Mama

Duh, kalau ngomongin soal ibu itu sepertinya enggak akan selesai, ya?

Namun satu yang saya garisbawahi dari sifat mama yang belum dapat saya terapkan di diri saya sendiri, yaitu memiliki sifat pemaaf.

Saya ingat betul, bagaimana mama disakiti dan difitnah oleh temannya sendiri ketika kami masih tinggal di Riau. Padahal, mama penuh keikhlasan dan penuh kasih sayang ketika merawat anak-anak dari temannya itu.

Pernah satu ketika, anaknya teman mama itu sakit parah. Demam berdarah tapi enggak sadarin diri gitu. Karena anak itu sudah dekat banget sama mama, mama menyodorkan diri untuk menjaga anak temannya. Anehnya, ketika mama di situ dan memegang tangan bocah kecil tersebut, eh dia sadar dong. Tapi, ketika mama izin pulang sebentar di pagi harinya, anaknya itu enggak sadarin diri lagi.

Tanpa disuruh sama temannya, mama pun inisiatif untuk merawat anak temannya itu. Hasilnya, si anak sembuh total karena dijaga dan diasuh sama mama.

Mama senang, dong. Karena anaknya temannya pulih kembali.

Enggak tahunya, 2 atau 3 tahun berselang dari peristiwa nahas tersebut, mama difitnah habis-habisan sama temannya itu. Selama difitnah, mama enggak pernah sama sekali. Karena menurut mama, kalau memang kita enggak salah buat apa marah. Biarkan saja, nanti dia sendiri yang mendapatkan karmanya.

Dan itu benar-benar terjadi. Temannya mama ini, akhirnya harus menerima kenyataan kalau suaminya dimutasi ke daerah terpencil dan ditempatkan dengan posisi tak setinggi di tempat semula. Sedangkan mama, pindah ke Jakarta karena papa ditempatkan di kantor pusat.

Nah, setahun lalu, si mama coba untuk eksis di Facebook. Dia bikin akun, dan menambahkan beberapa temannya ke dalam Facebook. Empat bulan setelah punya Facebook, si mama di-add sama temannya itu. Mama enggak marah sama sekali, dan malah mama meng-aprove temannya itu.

Chatinglah dan bertukar pin BB. Keduanya kini akrab lagi. Tapi, mama agak-agak membatasi dengan temannya ini, takut-takut hal yang sama terulang. Sebab, mama enggak mau menjauh dari orang-orang yang telah menyakitinya. Karena memang, itu tak diajarkan di dalam agama.

Pokoknya, itulah sekilas tentang mama saya. Mama yang selalu mendoakan anaknya dan mengerti banget anak-anaknya, bagaimana pun kondisinya saat itu. Tak peduli capek, lelah, dan lemah, selagi si anak dalam kesusahan pasti ia dengan cepat turun tangan untuk membantu.

Ma, terimakasih untuk semua yang telah mama berikan, ya. Mungkin saat ini baru pulsa dan voucher yang bisa abang berikan ke mama. Jangan nanya soal jodoh dulu ya, Ma 😉

Love U..

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

8 comments

  1. Adit jodohnya mana???

    selamat hari Ibu, mamanya Adit 🙂
    mama, Adit tinggi banget itu nurun dari mama atau papanya sih? 🙂

    1. Kak.. Pertanyaannya itu. :'(

  2. Mama adalah wanita nomor satu buat anak-anak nya…

  3. biar telat, tapi mu ngucapin selamat hari ibu juga deh :))

  4. Baca tulisan nya jadi kangen EMAK di kampung 🙂

    1. Wah, hidup menjauh, ya? *pukpuk*

Tinggalkan Balasan