Tidak Mau Mati di Tangan Praja Senior STIP Jakarta

Penganiayaan di STIP Jakarta sontak membawa saya ke tahun 2000. Di mana saya pernah berencana masuk ke sana setelah tamat dari SMA. Kala itu saya berpikir, dengan menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, mimpi saya jadi pelaut akan terwujud.

Semasa kanak-kanak saya sering berkhayal menjadi seorang pelaut. Efek dari menonton kartun Popeye setiap sore. Ditambah kebiasaan papa yang sering mengajak berwisata menggunakan kapal laut.

Tiap ditanya mau jadi apa, jawaban saya tidak pernah berubah, mau jadi nakhoda. Papa kemudian berjanji akan memasukkan saya ke STIP. Sebagai alumni, beliau punya peluang menjadikan saya Taruna jurusan Nautika.

Waktu bergulir dengan sangat cepat. Belum sempat menurunkan berat badan, tahu-tahu sudah jadi anak SMA. Sisa waktu untuk “berubah” pun tinggal tiga tahun.

Dua syarat paling  sulit untuk saya penuhi adalah, tinggi dan berat badan harus ideal. Sementara saya jauh dari kata ideal. Setelah menghitung body mass index, saya dinyatakan obesitas kelas II.

sekolah tinggi ilmu pelayaran (STIP) Jakarta
Ini foto saya dan teman-teman. Kira-kira, model begituan bisa masuk STIP Jakarta?

Saya yang sekarang memang mirip Kimmy Jayanti. Ada juga yang bilang kayak Dominique Diyose. Cocok memeragakan kebaya karya Anne Avantie, atau gaun malam khas Dewi Fashion Knight milik Didi Budiardjo dan Saptodjojokartiko.

Namun, semasa kanak-kanak sampai kuliah tingkat akhir, tidak banyak yang tahu kalau saya mirip ikan buntel. Sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai Taruna di STIP. Gendut, pendek, hitam, punya tetek, suara kecil, dan wajah penuh jerawat.

Boro-boro mau olahraga, melakukan gerak sehari-hari saja susah. Jongkok pun saya sulit. Saat mau buang air besar, saya selalu mencari kursi makan rusak di bagian tengah untuk saya letakkan di atas kloset jongkok.

Baru mau memulai untuk diet dan menjalani pola hidup sehat, muncul satu berita yang bikin saya berpikir seribu kali untuk masuk STIP. Telah terjadi tindak penyiksaan di Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri. Satu Praja asal Sulawesi Utara, Wahyu Hidayat, tewas akibat dianiaya para praja senior.

Hanya gara-gara saya takut mati dianiaya senior, rencana menempuh pendidikan selama empat tahun di STIP batal.

Upaya papa supaya saya masuk STIP Jakarta

Sebelum ujian akhir sekolah (UAN) papa mengajak saya ke STIP. Sekadar jalan-jalan, bertemu dengan temannya, dan mencari informasi mengenai pendaftaran calon Taruna baru. Saat itu saya sudah berubah pikiran.

Saya beneran gamang. Khas Aquarius sebelum memutuskan sesuatu. Selalu memikirkan segala kemungkinan jika beneran jadi masuk STIP.

Ini sebagian kecil dari usaha papa. Beliau berkali-kali mengatakan, tidak akan ada senior yang berani macam-macam. Supaya saya yakin, papa coba “menitipkan” saya ke temannya.

Sejujurnya saya tidak enak hati. Saya sudah mengecewakan papa, yang begitu semringah saat mengetahui saya mau masuk STIP. Saya bingung musti bagaimana lagi.

Salah satu perguruan tinggi di bawah Kementerian Perhubungan Indonesia, yang sehari-hari dibina oleh BPSDM Perhubungan, memang tidak pernah bikin masalah. Tidak seperti IPDN yang sudah masuk ke dalam buku hitam.

Saya terus mencari akal supaya papa menerima keputusan itu. Saya bilang, kayaknya tidak mungkin bakal keterima di STIP, karena bentuk dan tinggi badan tidak memenuhi syarat. Beliau malah menjawab, tidak usah memusingkan dua hal itu, karena papa yakin saya tetap bisa masuk.

Di mana letak STIP Jakarta?
Foto ini saat saya masih SMA. Sisa waktu untuk menurunkan berat badan tinggal tiga tahun lagi. nggak bakal bisa.

Ketika junior papa mengetahui akan hal itu, dia pun mengatakan hal yang serupa. Keamanan saya dijamin. Selama saya tidak berbuat macam-macam, tidak bakal ada senior yang mengganggu, apalagi sampai “jahil”.

Entah mengapa, omongan dari Taruna yang sebenarnya tulus, malah saya anggap sebagai tindakan cari muka. Hati kecil saya semacam berkata, jangan mau dibohongin, itu cuma pancingan agar saya tetap memilih STIP.

STIP baru bermasalah lima tahun terakhir ini. Andai saya mengikuti perkataan papa, saya pun menjadi salah satu dari 450 calon perwira kapal dan kepelabuhan yang siap meraih sukses. Apakah saya menyesal tidak masuk STIP? Iya, tapi sedikit.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

7 comments

  1. Kalau kamu masuk STIP ntar jadi kayak Genta keluar-keluar mulu…

    1. Genta siapa, kak Chik?

  2. diriku malah pas SMA dulu kalo lulus taunya cuma 2 pilihannya:
    1. masuk akmil, jadi tentara sesuai cita-cita waktu masih kecil
    2. kuliah — no matter what, termasuk kalo harus sambil kerja

    kalo tau ada sekolah kedinasan (selain STAN), mungkin bakal daftar. konon kan katanya kalo sekolah di kedinasan, masa depan terjamin.

    1. Nah, itu dia alasan orangtuaku dulu mau memasukkan aku ke sekolah model beginian, biar gampang cari kerja dan masa depan (Insha Allah) terjamin. STAN aku gagal ih 🙁

  3. tahun pertengahan 2000 kayaknya saya malah baru lulus TK lalu masuk SD kelas satu… (.___.)

    1. Demi apa, Ma? Anjir, tua banget gw 🙁

      1. Kak Adito lupa sama aku ya .__. Aku kan dipanggilnya “Zi” huhuhu

Tinggalkan Balasan