Sarapan Masakan Mama: Dari Kepiting Telur Sampai Gulai Kepala Ikan

Menu sarapan di rumah kami bisa dibilang berat dan tidak normal. Mama yang memegang kendali penuh di dapur selalu masak menu sarapan berupa makanan laut untuk kami santap di pagi hari. Mama yang berusaha memenuhi pedoman 4 sehat 5 sempurna juga tidak lupa memasak sayur.

Sarapan nasi uduk, sarapan bubur ayam, atau sarapan roti bakar dan teh manis hanya terjadi kalau mama sakit. Selama mama merasa sehat, kuat berdiri lama, dan bahan-bahan yang diperlukan sudah tersedia di dalam kulkas, memasak menu sarapan berupa makanan laut akan dia lakukan. Radio kecil dia letakkan persis di samping tempat cuci piring agar aktivitas memasak lebih menyenangkan. Radio Rodja yang berisi ceramah mengenai kehidupan sehari-hari dari sudut pandangan Islam dipilih mama supaya ada bahan untuk dibicarakan bersama papa di atas meja makan.

Aroma sambal digoreng dan telah dicampurkan ini membawa kami ingin segera sarapan. Perut sudah tak tahan untuk segera menyantapnya
Aroma sambal digoreng dan telah dicampurkan ini membawa kami ingin segera sarapan. Perut sudah tak tahan untuk segera menyantapnya

Memasak sarapan sudah menjadi kebiasaan mama sejak lama. Mbah Kung pernah bilang, dari tiga anak perempuannya, hanya mama yang sering turun ke dapur membantu mendiang Mbah perempuan memasak sarapan yang akan dimakan kakak dan adik-adiknya sebelum berangkat sekolah. Mbah Kung juga tidak heran kalau cucu-cucunya lebih lahap ketika makan di rumah kami dibanding saat makan di rumah saudara yang lain karena mama lebih punya banyak variasi dan berani bermain bumbu.

Masakan laut seperti kepiting, udang, kerang, cumi, dan ikan merupakan menu sarapan favorit di rumah ini. Selain kami memang lebih suka makanan berbahan hewan laut ketimbang ayam atau sapi, mama juga mengemban tanggung jawab berat karena sudah diberi uang belanja bulanan sama papa.

Saya, adik, dan papa makan di rumah hanya pagi saja saat sarapan. Saya dan papa makan siang di kantor, sementara adik di kampus. Sedangkan malam harinya, saya makan di kantor, papa dan adik lebih senang makan buah atau sereal. Biar perut ringan agar tidur malam lebih nyenyak. Mama tidak mau uang yang sudah diberikan papa untuk membeli bahan-bahan makanan justru dipakai untuk hal lain karena kondisi tersebut.

Menu sarapan sederhana masakan mama yang kayak begini bikin kangen rumah kalau lagi di Dinas Luar Kota. Ikan selar dan sayur tauge tahu kesukaan
Menu sarapan sederhana masakan mama yang kayak begini bikin kangen rumah kalau lagi di Dinas Luar Kota. Ikan selar dan sayur tauge tahu kesukaan

Satu tahun yang lalu saya pernah menulis mengenai konsumsi makanan laut, terutama ikan, penduduk Indonesia yang masih rendah. Hanya 35 kilogram/kapita/tahun atau sekitar 60 sampai 70 gram per hari. Data resmi dari survei diet total (SDT) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Indonesia seharusnya tidak boleh kalah dari Malaysia (56,2 kilogram) dan Singapura (48,9 kilogram). Dari letak geografis saja Indonesia dikelilingi laut.

Hasil survei ini dirilis saat harga daging merah melambung tinggi. Dengan harapan banyak orang yang beralih makan ikan. Namun, kebanyakan orang malah mati-matian meminta agar harga daging diturunkan. Padahal, kalau kita bicara masalah kandungan protein, ikan memiliki komposisi dan kadar asam amino esensial yang cukup lengkap. Ikan dari harga yang murah sampai yang harga selangit kayak salmon mengandung asam lemak omega-3 yang memiliki keunggulan khusus dibandi pangan hewani yang lain.

Percaya tidak kalau saya bisa menggerogoti ikan ini sampai bersih? Sarapan yang menyenangkan
Percaya tidak kalau saya bisa menggerogoti ikan ini sampai bersih? Sarapan yang menyenangkan

Saya jadi ingat sewaktu merayakan hari lebaran di Singapura 13 tahun yang lalu. Di rumah kerabat mama dan papa, menu yang tersaji bukan rendang, bukan juga ayam goreng, melainkan ikan dan lobster. Ikan dimasak bumbu Thailand dan lobster rebus biasa. Kami yang mencari rendang atau opor ayam hanya bisa gigit jari melihat menu makanan khas hari raya yang tidak sesuai harapan. Namun, kami tetap semangat menyantap makanan yang telah disiapkan karena kapan lagi bisa bebas makan lobster.

Kemudian kerabat mama dan papa mengajak kami silaturahmi ke rumah adiknya. Ternyata makanan yang ada di atas meja apartemennya sama, ikan dan kali ini ada opor, jengkol sambal, dan gulai otak. Masakan favorit sang suami yang berdarah Minang. Lahir sampai kuliah di Sumatera Barat, dari awal berkarier sampai punya tiga anak dan empat cucu, memilih tinggal di Singapura.

Serunya sarapan makanan laut

Kami menyukai keseruan yang tercipta selama makan ikan, kepiting, cumi, atau hewan laut lainnya saat sarapan. Keseruan itu tidak jarang membuka memori lama mama dan papa yang membuat saya dan adik geleng-geleng kepala.

Keseruan makan ikan saat harus menggerogoti bagian kepala sampai ke duri-durinya. Papa yang paling lahap menggerogoti kepala ikan selalu diingatkan mama kalau dulu, saat mereka masih sebatas teman dan tetangga belum pacaran, papa pernah menjerit kesakitan gara-gara duri tersangkut di kerongkongannya.

Seisi rumah heboh mencari cara agar duri itu terlepas. Tangan nenek dimasukkan untuk merogoh ternyata tidak berhasil. Disuruh minum air putih yang banyak juga tidak berhasil. Baru berhasil ketika diberi air garam yang ternyata terlalu asin. Seharusnya satu sendok kecil, nenek malah mencampurkan satu sendok teh ke dalam air panas di cangkir kecil.

Sarapan dengan seporsi kepiting dan telur serta sayur sungguh rahmat Tuhan yang tak layak untuk kau dustakan
Sarapan dengan seporsi kepiting dan telur serta sayur sungguh rahmat Tuhan yang tak layak untuk kau dustakan

Sedangkan serunya makan kepiting saat memecah cangkang. Memecah cangkang seharusnya menggunakan penjepit. Kalau kami, tidak. Menggigit cangkang sampai terbelah dua menjadi keseruan tersendiri di saat sarapan. Papa pernah nggak tahu malu, cuek, makan kepiting berantakan saat makan malam sama bos dan temannya si bos. Semula temannya bos yang makannya jaim, malah mengikuti cara makan papa.

Papa bilang semula agak nggak enak juga melakukan itu, tetapi yang namanya makan kepiting mana enak jaim-jaiman. Eh, temannya si bos papa itu, sekarang malah jadi rekan relasinya papa. Setiap kali papa ke Riau, orang tersebut pasti akan menemui papa untuk makan bareng.

Tongkol dan Sayur Bayam adalah menu sarapan yang menggugah selera. Diet 4 sehat 5 sempurna dari mama
Tongkol dan Sayur Bayam adalah menu sarapan yang menggugah selera. Diet 4 sehat 5 sempurna dari mama

Momen-momen saat sarapan seperti ini yang bakal sulit saya dan adik lupakan. Pasti bakal kangen banget kalau satu hari nanti saya dan adik tinggal bersama pasangan masing-masing. Sarapan bagi kami adalah quality time terbaik. Saat sarapanlah kami bisa mengobrol banyak, tukar pikiran, sampai membicarakan hal-hal yang bagi mama dan papa tidak perlu tetapi bagi saya dan adik perlu untuk dibahas.

Kolesterol tidak pernah rendah gara-gara sarapan ikan dan makanan laut lainnya

Salah satu konsekuensi yang harus kami terima akibat lebih senang makan ikan dan makanan laut lainnya adalah kolesterol tidak pernah rendah, kecuali mama. Makanan laut memang merupakan makanan yang mengandung protein yang baik bagi tubuh. Kandungan mineral dari makanan laut juga lebih tinggi dari makanan jenis yang lain. Namun, kami seperti menutup mata bahwa ikan, kepiting, udang, cumi yang menjadi menu sarapan favorit di rumah mengandung kolesterol yang tidak kalah tinggi.

Memang kolesterol ini tidak akan berubah ganas selama tidak berlebihan, tetapi kami memakannya setiap hari di saat sarapan. Bahkan di kantor atau di lokasi liputan, kalau makan siang disuruh memilih ayam atau ikan, pilihnya pasti ikan. Kolesterol saya sampai hari ini masih tinggi. Menurunkannya cukup susah meski sudah rajin makan sayur dan buah.

Yang kolesterolnya rendah, sejauh ini, adalah mama. Nggak tahu kenapa, mama jarang sekali makan makanan yang dia masak untuk sarapan. Melihat kami makan dengan lahap saja mama sudah senang, katanya.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

13 comments

  1. Ibu ku juga pinter banget masak, pinter ngeracik bumbu, ngeliat ikan sambel di atas persis banget dengan masakan ibu…ahhh jadi ngiler. Btw sejak kecil ibu sangat rajin buat sarapan biar anak-anak nya nggak kelaparan di sekolah dan nggak lemas katanya 🙂

    1. Ibuku juga. Dari aku dan adikku kecil, kami dibiasakan sarapan dan bawa bekal ke sekolah. Selain karena dulu belum dapat uang jajan.

  2. Ya Allah kaaaaaak laper berattt liat foto2nya. Hahahaha sama banget sama keluargaku. Gak bisa gak makan seafood. ikan mah wajib sunnah muakad ada di meja saban hari. Kepiting.. Masya Allah.. susah bukanya tapi kalo udah nikmat benerrr.. pernah tuh aku bedarah2 gara buka kpiting. Tapi ttp hajaar :))

    1. Tosh. Kapan kita hunting seafood? *tsah* *gaya lu Le*

  3. AKU KAPAN NUMPANG MAKAN MASAKAN INI? Buhuhuhuhuhuhu

    1. Yuk, tapi kalau alergi, aku nggak tanggung, kakak. 😆

  4. Di Makassar, daerah pesisir yang kaya akan hasil laut. Sehari-harinya makan ikan laut dan teman-temannya. Nasi di rice cooker cepet ludeees hehehe..

    1. Betul sekali. Tempo hari ke Makassar, makannya banyak banget. Ikannya besar-besar.

  5. Masakan mama, dari yang sederhana sampai yang mewah, selalu jadi point plus buat selalu pulang; setelah pelukan hangatnya yang tak tergantikan. #PecintaMama

    Salam,
    Syanu.

    1. *langsung peluk mama sendiri*

  6. Ibuknya pinter banget deh masaknya. Semuanya kelihatan enaaaaaak~~~~

Tinggalkan Balasan