SALAMAN. UMUR. TUTUR

Salaman dan menempalkan hidung di telapak tangan orang yang disalam adalah salah satu kebiasaan yang sedari kecil dulu sudah diajarkan oleh kedua orang tua saya. Sedari dulu orang tua saya — terutama ibu — selalu menyarankan anak-anaknya untuk memberi salam kepada yang lebih tua dengan menempelkan batang hidung di telapak tangan orang tersebut. Katanya, sih, biar lebih sopan aja dan tidak membuat orang tersebut tersinggung.

Sampai hari ini, pun kebiasaan tersebut masih saya lakukan. Terlebih kepada mereka yang masih masuk kategori “saudara”. Tapi, gaya bersalaman seperti ini sempat membuat saya kikuk dan risih, lho.

Kikuk dan risih kalau saya dihadapkan oleh situasi seperti ini:

“Mempunyai om atau tante tapi umurnya lebih muda dari kita”. Jeng.. jeng!!

Diantara narablog sekalian, ada ga sih yang mempunyai om atau tante yang ternyata umur mereka jauh dibawah kita? Saya sih, punya!

Jangan kan salam, mau manggil dia dengan sebutan “om” atau “tante” aja, kayaknya bibir ini berat banget.

Klik Gambar Untuk Mengetahui Sumbernya

Seperti yang baru-baru ini saya alami bersama “om” saya, Muhammad Raihan. Saya sama Raihan ini jarang sekali bertemu. Sekalinya bertemu pun di arisan keluarga yang diadakan tiap 3 bulan sekali. Itu pun kalau saya ikut, dan Raihan juga ikut. Kalau diantara kami ada yang ngga ikut, yaudah, berarti ketemunya entah kapan lagi.

Nah,  sekalinya bertemu kita berdua sama-sama diem. Bingung mau memulai obrolan dari mana. Dan, bingung MAU MANGGIL APA!?!?

Dari segi umur, memang, Raihan ini jauh dibawah saya. Enggak jauh-jauh banget, sih.. cuma 5 tahun *biar tidak terkesan tua*. Tapi, kalau secara tutur, Raihan ini anak dari bukde nya Ibu, yang secara otomatis, Raihan ini jatuhnya adalah sepupu ibu.

Raihan saja memanggil ibu saya dengan sebutan “ayuk (k halus)”.

Makanya, disituasi seperti ini suka membuat saya bingung. Dan, pastinya dia ikutan bingung. *iya kan, Han? Eh, om Raihan maksudnya. Hehehe 🙂 “

Pernah satu ketika pas mau salaman, kita berdua sama-sama nunduk yang pada akhirnya kepala kami berdua saling beradu. Sama-sama mau bersalaman dengan gaya cium telapak tangan gitu. Tapi berakibat fatal.

Dan, pada saat memanggil, pun kami berdua masih suka bingung. Pada akhirnya, dia memilih memanggil saya dengan panggilan “abang”, dan saya memanggil dia dengan nama “Han”.

Sudahlah, apa pun panggilannya, dan bagaimana pun situasi serta kondisinya, kita tetap bersaudara ya, om??

 

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

8 comments

  1. hahaha
    saya manggil om saya (adik ibu saya nomor 6,7, dan 8) dengan sebutan “MAS”, dan bukan “OM”.
    karena dulu waktu ponakan2nya lahir (kami2 ini), umur beliau semua masih muda, masih SMA gitu, jadi manggilnya “mas” semua 🙂

  2. Hehehe..Jadi dilema ya Dit. Tapi ada baiknya bertanya pada orang tua langsung, sebaiknya bersikap bagaimana menghadapi Om yg lebih muda itu..:)

  3. hehehehe… kisah kita hampir sama, tapi aku ada diposisi oom mu… Aku juga manggil ibu keponakanku dengan sebutan ayuk… jd keponakanku manggil aku dengan sebutan oom kecuali yang sulung yang manggil aku scooby… hahahaha

  4. saya sangat suka dengan salam tempel hidung ini… sangat hormat kesannya… jadi skrg ngajarin anak salam tempel juga… walaupun tidak punya tradisi seperti itu..

  5. Saya malah punya 2 keponakan yang lebih tua dari saya, tapi ngga pake om-om-an 😀

  6. wah saya kebetulan ndak punya Om atau Tante yg lebih muda

  7. Hhhaaa, saya enggak ada sih yang lebih muda gitu, jadi jelas manggilnya..

  8. Saya malah punya keponakan yang 15 tahun lebih tua dari saya hehehe…

Tinggalkan Balasan