martabak 65a pecenongan yang legendaris

Enakan Mana Sama Martabak 65A Pecenongan?

Martabak Bandung Asli Pecenongan Nomor 65A sering kali dijadikan indikator “martabak enak” oleh segelintir penikmat camilan yang terbuat dari campuran tepung terigu, telur, gula pasir, susu kental manis, dan mentega.

Kalimat “enakan mana sama martabak Pecenongan?” yang acap kali saya terima saat mengunggah foto seporsi martabak di media sosial, seolah-olah menggambarkan bahwa belum ditemukan martabak yang memiliki rasa sangat enak di Jakarta, melebihi martabak 65A yang sudah ada sejak 1970.

Saya yang waktu itu belum pernah mencicipi martabak ini membalasnya dengan “Meneketehe enakan mana. Belum pernah coba!”.

Namun, kalau sekarang ada yang bertanya seperti itu lagi, dengan tegas dan lugas akan saya jawab “Enakan martabak Sinar Bulan!”. Titik.

martabak pecenongan 65A
Kalau tak salah, ini penampakan martabak Nutella, andalan di martabak 65A Pecenongan. Harga yang biasa sekitar Rp115 ribu sampai Rp140 ribu

Satu tahun yang lalu untuk pertama kalinya saya mencoba martabak 65A Pecenongan ini. Di luar rencana, yang sebenarnya hanya mau mengambil uang di ATM.

Malam itu si Kawan mengajak makan malam di tenda pinggir jalan tak jauh dari hotel Sriwijaya, Jakarta Pusat. Tempat saya menginap selama meliput Paskibraka Nasional 2016 bertugas pada upacara Kemerdekaan RI di Istana Negara.

Dikarenakan warung tenda yang akan kami datangi hanya menerima pembayaran tunai, sementara uang si Kawan tinggal selembar di dompet, kami terlebih dulu mencari ATM untuk ambil uang.

Si Kawan merupakan nasabah dari bank yang jumlah anjungan tunai mandirinya amat terbatas. Yang kalau mau ambil duit, mesti tanya Om Google mengenai keberadaan mesin ATM guna menghemat bensin. Secara kebetulan ATM yang dia cari ada di jalan Pecenongan.

martabak 65a pecenongan di go food
Semakin malam semakin ramai pula pembelinya. Termasuk pengemudi Gojek yang mengantre demi layanan Go-Foodnya

Begitu duit sudah di tangan, bukannya bergegas keluar dari wilayah situ ke tempat yang memang pengin didatangi, dia malah membelokkan mobilnya ke martabak 65A yang warungnya tak jauh dari gapura (selamat datang) Pecenongan.

“Gue itu penasaran. Harga martabak di sini mahalnya amit-amit, tapi yang antre banyak banget. Seenak apa sih rasanya?,” katanya seraya mematikan mesin mobil, cabut kunci, dan keluar dari mobil menuju kasir terlebih dulu.

Rasa martabak 65A Pecenongan biasa saja

Kami tidak bisa langsung masuk ke dalam. Harus antre untuk memesan martabak yang diinginkan. Setelah menerima bon dari seorang bapak bertubuh gemuk yang bertugas mencatat pesanan, kami menuju kasir untuk bayar, juga untuk mendapatkan nomor antrean.

martabak legendaris pecenongan
Adonan martabak legendaris ini

Malam itu martabak 65A sedang ramai pembeli. Kami tidak kebagian kursi dan meja di dalam, sehingga harus menunggu dan makan di dalam mobil. Setelah menunggu hampir 30 menit, bagian kasir meneriakkan nomor antrean kami sebagai tanda pesanan kami sudah jadi.

Kami sudah tidak sabar ingin segera melahap seporsi martabak seharga kuota 8GB IM3 Ooredoo yang saya aktifkan setiap bulannya.

martabak manis pecenongan
Topping untuk martabak manis di martabak 65A ini tidak ke seluruh penjuru martabak, hanya di satu bagian saja

Menurut saya, harga segitu tidak jadi soal apabila cokelat, keju, dan kacang ditaburkan di semua sisi martabak. Memang, dari segi ketebalan, martabak 65A Pecenongan lebih tebal dari martabak lainnya. Namun, dalam hal memberikan toping masih dirasa pelit. Malah kebanyakan menteganya.

Saya kemudian menyimpulkan bahwa rasa martabak 65A Pecenongan tidak seenak yang digembar-gemborkan selama ini. Benar-benar biasa saja. Nggak beda jauh dari martabak lainnya.

review martabak pecenongan manis
Mentega yang dioleskan ke atas martabaknya banyak sekali

Bahkan, jika dibandingkan dengan martabak 8 rasa Markobar, saya masih lebih rela mengeluarkan uang yang lumayan banyak untuk martabak model beginian ketimbang Pecenongan ini.

martabak daerah pecenongan
Seru melihat pekerja meracik martabak yang dipesan oleh pelanggan

Sama satu lagi. Dengan harga martabak yang lumayan mahal, pemilik martabak 65A tidak berniat memperlebar warungnya tersebut? Sempit banget. Atau mungkin ini strategi mereka agar pembeli mengantre di luar, yang dapat memancing pengendara lain yang kebetulan melintas di situ untuk singgah dan beli?

Martabak telur sapi dan mozarela Pecenongan agak lumayan

Malam minggu kemarin saya kembali ke tempat ini. Kali ini bersama adik dan sepupu saya. Kami sedang membawa jalan-jalan seorang sepupu (cucu dari adik almarhum nenek) yang datang dari Medan, dan keesokan harinya harus segera pulang lagi ke Medan.

Situasinya pun masih sama, datang tanpa ada rencana sebelumnya. Dia penginnya makan makanan khas Jakarta, tapi mau cari di mana malam-malam buta? Saya memang suka makan. Namun, saya tidak pernah tahu tempat-tempat makan yang menjual makanan khas seperti yang dia mau.

martabak telur 65A
Lihat! Surga tampak di pelupuk mata. Kalian sudah makan martabak hari ini?

Dipilihnya martabak Pecenongan karena sekalian melewati wilayah Monas. Sepupu dari Medan ini, katanya, terakhir kali ke Jakarta dan melihat Monas itu 13 tahun yang lalu. Sekalian pamer ke dia, kalau sebentar lagi Jakarta bakal punya MRT dan LRT, hasil kerja keras Pak Joko Widodo sewaktu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, yang kemudian dilanjutkan oleh Ahok.

Malam itu tidak terlalu ramai. Setelah memesan martabak telur sapi spesial ditambah mozarela, kami bisa menunggu di dalam sambil bercerita.

martabak telur daging mozarela pecenongan
Martabak itu tidak baik untuk kesehatan? Setuju? Tentu, tidak. Martabak ini sungguh aduhai

Seporsi martabak yang kami pesan pun jadi. Saya pikir mereka, terutama sepupu yang dari Medan, tidak bakal suka. Nggak tahunya lahap banget. Sekitar 16 potongan masuk ke dalam perut tujuh orang anak muda Ciputat yang sudah sangat kelaparan.

Dibanding martabak cokelatnya, saya lebih suka sama martabak telur daging ditambah mozarela ini. Ya, meski di luar ekspetasi kami. Cuma agak lumayanlah.

harga martabak telur pecenongan 65A
Martabak ini dalam hitungan detik akan berubah menjadi tinja yang diproses di perut kami

Setelah mencoba martabak 65A Pecenongan sebanyak dua kali, saya rasa cukup dan tampaknya kecil kemungkinan untuk kembali ke sini. Kalau saya boleh tahu, martabak favorit kalian apa? Dan apa alasan kalian menjadikan martabak itu favorit banget?

 

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

6 comments

  1. *kemudian lihat lingkar pinggang*

  2. Aku malah eneg liat foto martabak manis. Kebayang ngebanjur badan pake gula 💆🏻💆🏻💆🏻
    Tapi begitu liat martabak teluuurr… WUIIIIHHHH!!!! Sluuurpsss!!!

    1. Aku itu ngebayanginnya mentegahnya. Aduh, geli-geli gimana gitu. Hahaha…

      Aku pun tak kuasa menahan martabak telur

    1. Martabak Ayung? *googling*

      Enak, Mbok?

  3. Salah nih, datang pagi-pagi baca postingan ini pas bulan puasa pula.
    Sudah lamaaaa gak makan martabak, agak worry dengan manisnya..

Tinggalkan Balasan ke Simbok Batalkan balasan