The Raid 2: Berandal

Selepas liputan di Rumah Sakit Bintaro Sabtu kemarin, saya, Rendra, dan Qalbi memutuskan untuk nonton film The Raid 2: Berandal, di XXI Lotte Mart.

Film besutan Gareth Evans ini merupakan lanjutan dari The Raid pertama. Bila di seri pertama Andi (Donny Alamsyah) memisahkan diri dari Rama (Iko Uwais), yang tak lain adalah adik kandungnya, di seri kedua diceritakan kalau Andi menjadi `korban` keganasan Bejo (Alex Abbad). Kisah lalu berlanjut pada Rama yang akhirnya menemui Bunawar (Cok Simbara) atas saran kakaknya. Saat bertemu Bunawarlah, kisah-kisah sadis nan menegangkan dimulai!

Selanjutnya, nonton sendiri saja, ya.

Bila di seri pertama penonton dibuat terkesima oleh penampilan Iko Uwais dan Joe Taslim (mungkin), di The Raid 2: Berandal penonton akan dibuat terkesima oleh hampir keseluruhan pemain.

Sebut saja Tio Pakusadewo yang berperan sebagai Bangun. Om satu ini tak usah diragukan lagi kepiawaiannya dalam berakting. Pun dengan Oka Antara (Eka) dan Arifin Putra (Uco), yang menurut saya berhasil mengimbangi akting Tio.

Bagi saya, melihat Arifin yang mampu mengimbangi akting Tio, Iko, dan Oka Antara, terlebih dalam film The Raid 2: Berandal ia juga harus melakukan adegan fighting, usahanya patut diapresiasi. Siapa sangka, Arifin yang biasa berperan di sinetron remaja, mampu melakukan adegan per adegan yang ada di film ini dengan sangat baik.

Untuk Oka Antara, saya tak dapat berkata apa-apa, selain mengatakan keren gila! Meskipun di film ini Oka bukanlah pemeran utama, tapi aktingnya sungguh sangatlah hidup. Tanpa Oka, The Raid 2: Berandal hanyalah butiran debu.

Film ini tampaknya sengaja digarap untuk membuat penontonnya bertanya-tanya selama menyaksikannya. Saya sendiri, di sepanjang film sering melontarkan kalimat ‘Dia siapa, ya?’, ‘Lho, kok ada ini?’, ‘Lah, dia nikah toh, dan istrinya Marsha Timothy’, ‘Ih, kok ada salju?’, atau ‘HARI GINI MASIH PAKAI PAGER?’. Ha ha ha.

Selain itu, penonton juga diajak untuk menjadi `pintar` ketika menyaksikan film ini. Sebab, kalau kita ngeuh adegan tiap adegannya, pasti akan terlontar kalimat penuh tanda tanya.

Misalnya saja tiba-tiba ada sosok Julie Estele dengan dua palunya dan pria yang doyan bawa tongkat dan senang mengucapkan ‘Lempar sini bolanya`.

Kalau kamu ingin menonton film ini hanya untuk mencari di mana letak mendidiknya, maka kamu tak akan menemukannya. Kalaulah ada, barangkali hanya 1 persen. Tapi, kalau kamu ingin menonton film ini hanya untuk hiburan, maka kamu akan mendapatkannya 99 persen.

Bagi saya, film The Raid 2: Berandal merupakan hiburan mahal yang membuat penontonnya tak menyesal untuk merogoh kocek demi dapat menyaksikan film keren seperti ini.

Percayalah, kalau kamu enjoy dan tak banyak bertanya tentang apa yang terjadi pada film ini, maka hiburan yang dicari akan sangat mudah kamu dapatkan.

Intinya, menonton film ini seperti naik rollelcoaster. Dan membuat pipis lancar usai menyaksikan. Soalnya, ada rasa sayang untuk beranjak dari kursi hanya untuk kencing. Adegan tiap adegannya, saya untuk dilewatkan.

Adegan favorit saya adalah `Threesome`, `Kitchen`, dan `Bar`.

Foto by: Rendra hanggara

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

4 comments

  1. Pengen nonton lagi

  2. Yang menyisakan tanda tanya besar di film ini bukan salju atau kenapa Yayan Ruhiyan bisa dapat istrik secantik Marsha Timothy (hey, di dunia nyata banyak kok!) tapi gimana syuting kebut-kebutan di daerah Blok M yang sellau rame itu XD

  3. Hmmm…

    aku belum nonton ini…. ga tertarik laahhh…

Tinggalkan Balasan