Pikir-pikir Lagi Sebelum Mencoba Markobar

Rasa martabak 8 topping di Markobar biasa saja. Tidak seenak wajah salah seorang pembuat martabak yang ramah itu. Meski kedua tangan sibuk mencampuri adonan martabak dengan taburan oreo, toblerone, silverqueen, kitkat green tea, nutella, kacang, keju, dan cadburry, dia masih mau meladeni pertanyaan pengunjung yang duduk menunggu pesanan.

Ibarat komplotan penjahat, markobar atau martabak kota barat masuk ke dalam DPO warga Jakarta. Tidak lain karena ulah duo putra Jokowi di Twitter. Perang kicauan di antara mereka membuat saya dan teman-teman redaksi penasaran seperti apa rasa martabak itu. Namun, saya hanya bisa mingkem sambil memasukan uang ke dalam dompet, lalu kembali bekerja, dan pulang ke rumah setelah mendapat informasi lengkap mengenai markobar.

Markobar yang terletak di halam Puri Inn Hotel tidak pernah sepi pengunjung

Tak lama setelah hari itu, rasa penasaran saya terjawab. Kebetulan, lokasi liputan pada Jumat sore tidak jauh dari tempat usaha anak pertama Jokowi bernama Gibran. Sore itu saya tidak sendirian, tidak juga sama si Kawan yang lagi sulit diganggu. Tapi bareng tujuh orang sahabat saya.

Nah, setelah merasakan martabak yang katanya ada juga di resepsi Gibran, saya hanya bisa bilang, lebih baik pikir-pikir lagi sebelum membeli dan mencoba markobar ini.

1. Rasa tidak sebanding dengan waktu menunggu dan wajah salah seorang pembuat martabaknya. Mau datang jam berapa saja tetap harus menunggu lama. Datang satu jam sebelum jam buka pada pukul 05:00 sore bukan jaminan bakal dapat antrean nomor-nomor awal. Rendra, sahabat saya, yang datang dari jam 04:00 sore dapat antrean nomor 16. Pesanan baru datang tiga menit sebelum adzan Maghrib berkumandang. Selama menunggu saya juga dapat menyelesaikan dua artikel hasil liputan.

2. Lokasi tidak strategis. Berada di Jalan Raden Saleh Nomor 39, persis di depan Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat. Dari Teater Taman Ismail Marzuki belok kiri. Jika keterusan harus putar balik atau hajar terus lewat RSCM. Sekadar informasi, terjadi penyempitan jalan akibat perluasan trotoar dari depan RSCM gedung baru sampai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Meski begitu, markobar merupakan tempat menunggu alternatif bagi seseorang yang mungkin sedang menemani orang lain aborsi. Tapi harus diketahui, bisa jadi waktu aborsi bisa lebih cepat dari waktu pembuatan martabak yang dipesan itu.

Markobar ini ramai pengemudi Gojek. Sepertinya markas sendiri.

3. Harga seloyang martabak 8 topping cukup mahal, yaitu Rp 100 ribu. Lebih baik jangan makan sendirian. Apalagi di pertengahan bulan seperti saat ini, pikir ulang untuk membelinya.

4. Minim persediaan kursi. Enak bagi yang mengendarai kendaraan sendiri. Bisa menunggu di dalam mobil atau duduk santai di atas motor. Kalau kayak saya dan teman-teman yang ke sana naik kendaraan umum, mau tidak mau harus masuk ke dalam kafe Sere Manis. Setidaknya harus mengeluarkan uang Rp 20 ribu untuk memesan minuman demi WiFi yang kencang. Belum lagi di Sere Manis ini ada tempe mendoan bakar yang enak banget, tambah lagi deh Rp 16 ribu. Memang paling benar pesan via Gojek. Antrean sepuluh nomor pertama didominasi pengemudi Gojek. Meski kudu mengeluarkan uang Rp 25 ribu juga untuk biaya pengiriman, setidaknya masih lebih untung.

5. Seperti mau menyaksikan film hasil adaptasi buku best seller, jangan berekspetasi berlebihan ketika akan mencoba markobar!

Tempe mendoan bakar di Sere Manis ini enak banget. Seporsi isi 3 hanya Rp 16 ribu
Teh sere peneman seporsi tempe mendoan bakar di Sere Manis. Lumayan buat menunggu pesanan Markobar yang lama banget

Itu poin minusnya. Karena takut bakal dikira haters Jokowi, saya cantumkan juga poin-poin positifnya.

1. Rasanya memang biasa saja. Dalam artian, jika dibanding martabak Bangka atau martabak dengan jenis yang sama, rasa manis martabak 8 topping markobar tidak selebai harganya. Tidak bikin gigi senut-senut. Ukuran dan ketebalannya juga pas. Kalau dimakan ramai-ramai tidak akan merusak diet yang sedang dijalani. Juga tidak perlu mengangak lebar-lebar demi melahap sepotong martabak.

2. Tidak berminyak karena tidak meninggalkan sisa-sisa olesan mentega di tangan.

Porsi sebesar ini tidak bakal bikin gendut kok. Dijamin deh!

3. Sangat memperhatikan kebersihan, kecepatan, dan kerapian. Saya mengintip area dapur markobar dari dalam Sere Manis saat akan sholat. Bersih banget. Semua alat masak dan makan yang sudah dipakai langsung dicuci dengan air mengalir. Para pekerja juga mengenakan pakaian yang membuat sebagian dari mereka terlihat lebih kece.

Proses pembuatan martabak 8 topping markobar
Packaging markobarnya bolehlah

Terlepas dari itu semuanya, apalagi jika melihat kondisi warungnya yang sempit (selevel anak Presiden seharusnya bisa menyewa tempat yang lebih besar dan lebih kekinian di lokasi yang strategis), usaha Gibran membangun markobar atau martabak kota barat patut diapresiasi. Dan tentu patut dicoba. Sebulan atau dua bulan sekali nggak bakal bikin kalian gendut dan bangkrut kok 🙂

Apa perlu kita kopdar di markobar?

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

26 comments

  1. Hahahah… aduh aku ngakak dengan poin 1 untuk yang kontranya itu. Yang kayak gini sih banyak ya sekarang, heboh semua jual martabak. Peminat menggila, lalu lupa dengan kesehatan….

    1. Begitu deh kak, semakin banyak jenisnya, semakin banyak pula yang tetap setia dengan martabak jenis lama

  2. great review hehehe. nambahin. ukuran juga kurang gede hehehe, ekspektasinya ukurannya gede kayak pecenongan. trus tambah poin plusnya, kalo abis beli foto barbuk terus tweet pasti di-RT sama kaesang himself hehe.

    1. Dan aku jadi pengen pesan martabak pecenongan. 😆

  3. Njrit, isinya GoJek thok :))

    1. Hooh. Memang paling pas pesan via Gojek deh.

  4. Jangan liatin mas-mas tukang martabaknya terus, awas naksir! :))

    1. Daripada aku naksir kamu, Mich? Mau? Tapi trauma, ah. Entar ada yang cemburu lagi.

      1. Ya ampun, kisah dua tahun yang lalu. :))

        1. Membekas banget tidur seranjang gw

  5. aku pernah nyoba di kottabarat sebelum joinan sama gibran… mayan enak sih. dan waktu itu belum mahal. jadi penasaran apa sekarang masih seenak dulu

    1. Aku baca reviewan markobar versi aslinya, kebanyakan ngomongnya enak. Aku pikir bakal sama. Hihihi..

      Cobain sana, kak. Atau bawa pas kita piknik

  6. Hahahaha itu kebanyakan tukan gojek. :))
    Udah saking gak sabarnya kali ya. Jadi daripada nunggu dua ja mending nyewa gojek sambil main PS di rumah.

    1. Betul sekali, Mas. Atau leyeh-leyeh sama pasangan, yes 😆

  7. Harga martabak boss juga segituan. Dan masalah rasa itu relatif sih ya IMO.

    Yg mengganggu dari review ini menurut aku cuma kata2 “selevel anak presiden”

    1. Maafkan saya Anita, jika kata-kata itu mengganggu kamu 🙂

  8. wah banyak juga poin minusnya…hmmm jadi mikir2 lagi dah 🙂

  9. Wah azak aku ke sini, Masss …

    Penasaran nih sama martabaknya … apalagi less oily dengan martabak reguler yang emang juga udah enak sih … Tp lbh ke penasaran, apakah bisa ngabisin sendiri ga ke-8 rasa itu *kabuuur*

    1. Yuks. Kapan kita bikin kopdar gitu. Kayaknya bisa menghabiskan 8 martabak itu. Asal tidak makan dari pagi alias puasa 😆

  10. Wah, jadi batal deh niat nyobain Markobar… Kecuali lagi ramean sama teman2 dan sepakat beli via Gojek, mungkin mau. Tapi kalau harus antre sendiri selama itu demi martabak manis, BHAY!!!

  11. Markobar asal solo (martabak kota barat) dulu punya anak muda, terus diajak kerjasama dengan anaknya jokowi, sekarang jadi gede dan buka cabang dimana mana :), saya dulu waktu sma ini markobar masih biasa-biasa saja, sekarang booming..mantap habis.. dan disolo sekarang banyak yang bikin martabak dengan beberapa rasa 🙂 mantap pokoknya, apalagi yang keju ane suka bang

  12. Namanya juga makanan penasaran…., kenapa ikut2an.. Klo dah dicoba ya udah… Tak lebih seperti org pribumi yg blm pernah ngerasain pizza ori.. Pasti nyesel…… Mendingan makan ketoprakketoprak…

  13. Mending beli di denpasar bali saja om. Disini sepi.

    1. sekali2 kalo ke jkt bawain ya bunk bunk…pan gak antri..hehehehe

  14. Kalo menurut saya, kenapa harus pake pikir2 lagi kalo cuma mau coba markobar…sama dengan martabak2 yg lain beli,antri, dapet lalu makan, jika suka lanjut langganan kalo gak suka ya udah gak usah dibeli lagi…gitu aja koq repot.

Tinggalkan Balasan