Original
Modified

Pertanyaan Kapan Mau Menikah itu Belum Seberapa

Ada hal yang lebih menakutkan dari sekadar pertanyaan ‘Kapan mau menikah?’ di hari jadi.

Kamis, 18 Februari 2016, umur saya berkurang menjadi 28 tahun. Banyak doa terselip dari ucapan ‘Selamat Ulang Tahun’ yang saya terima di hari itu.

Sejak dini hari pesan berantai masuk ke gawai saya. Si Kawan adalah orang pertama yang memberi ucapan selamat. Tidak ada kalimat puitis, hanya doa supaya Tuhan mewujudkan semua mimpi dan keinginan saya. Tak lama para sahabat melakukan hal serupa. Sedangkan papa dan mama baru menyadari anak pertamanya bertambah tua saat saya pamit bekerja. 🙁

Tidak ada perayaan khusus di hari itu. Sekotak camilan dari OT Group, otak-otak bakar dari R&R Public Relation, dan asinan Rawamangun favorit saya pemberian Image Dynamic ludes diserbu teman-teman redaksi bersama martabak langganan yang sudah saya pesan.

Konon, kuping pemilik usia 28 harus kebal dan mulai dibiasakan mendengar pertanyaan-pertanyaan menyebalkan yang bikin kuping penging saja. Si Kawan sudah mengingatkan, agar saya jangan sebal dan BT jika ujung dari ucapan orang-orang adalah pertanyaan kapan saya menikah.

Dih, itu belum seberapa. Ada yang lebih menyebalkan dari pertanyaan ‘kapan menikah? Mau tunggu sampai kaya? Justru menikah bikin elo tambah kaya’, ucapan dari tante teman saya yang tidak tahu kalau saya ini cowok.

“Usia 28 itu usia terbaik untuk dibuahi, lho. Tante saja hamil anak ketiga waktu seusia kamu ini. Tiga anak tante cowok semua, lho,” kata si tante begitu semangat. Tahu telur yang keburu masuk ke dalam mulut muncrat mendengar omongan itu.

Hati ini terasa lega kala menerima pesan singkat dari ahli Feng Shui yang pernah menjadi narasumber saya. Dia bilang, 28 itu memiliki arti mudah makmur, mudah subur, dan mudah berkembang. Angka 8 dipercaya masyarakat Tionghoa sebagai pembawa hoki. Rezeki tidak mudah putus karena angka 8 tidak ada yang putus-putus.

Untuk yang satu ini, tolong di-aaminkan. Tolong, gaes. Tolong! Aaminkan doa ini.

Dapat kado otak-otak bakar dan pijat gratis dari Go-Massage

Saya dulu pernah obesitas. Angka di timbangan hampir atau pernah menyentuh 130 kilogram. Kini berat saya sudah turun banyak. Pernah di 79 kilogram, naik lagi menjadi 105 kilogram, setelah diet kembali per November 2014, berat badan saya berada di angka 82 kilogram.

Menurunkan berat badan itu mudah kalau kita tahu caranya. Tentu harus ada niat juga. Paling susah itu ketika harus menurunkan kadar lemak. Untuk mencapai angka normal (16 persen) susahnya bukan main.

Rupanya ada yang lebih sulit dari melupakan mantan yang menikah dengan orang lain. Iya, membuang lemak tidak semudah memangkas kalori sehari-hari, apalagi segampang membalikkan telapak tangan. Belum lagi umur yang sudah berkurang, semakin banyak usaha yang harus saya lakukan supaya kadar lemak berada di angka normal.

Saya insecure jika kalori yang masuk ke tubuh melebihi kebutuhan sehari-hari. Jadi ingat omongan Samuel Oetoro, Spesialis Gizi Klinis Siloam Hospitals bahwa kebutuhan kalori terus berubah seiring usia yang juga berubah.

Jika biasanya tubuh saya hanya membutuhkan asupan 2.000 kalori setiap hari, mungkin sekarang kebutuhan itu jadi berkurang. Dua hari lalu saya periksa ke dokter, kebutuhan kalori saya sudah tidak sebanyak itu, cuma 1.897. Mau makan banyak silakan saja. Tapi harus segera dibakar biar tidak menumpuk jadi lemak, yang tidak menutup kemungkinan bisa mengembalikan bobot saya seperti semula.

Ini berat badan saya dulu. Gemuk banget

Dokter Samuel tahu saya sedang menjalani program hidup sehat. Dia tahu saya pernah obesitas. Dia mengingatkan agar tidak menjadi takut untuk makan makanan yang saya inginkan.

Usahakan makan sehatnya diperbanyak. Olahraganya juga ditambah lagi. Jika biasanya seminggu tiga kali selama satu jam, mulai sekarang harus empat sampai lima kali dalam seminggu dengan waktu yang sama.

Jangan hiraukan omongan orang yang bilang kita ini sok sehat. Kalau memang sudah hidup sehat tapi meninggal juga, itu namanya takdir.

Sebab, tubuh juga semakin mudah menyimpan lemak dan kehilangan massa otot seiring bertambahnya usia saya. Tentu ini menyedihkan. Tubuh belum sepenuhnya berisi otot, malah hilang secara perlahan jika tidak dijaga.

Samuel juga sempat menakut-nakuti saya. Dia bilang, orang yang pernah gemuk lalu langsing dengan cara apa pun, berisiko besar gemuk lagi kalau tubuhnya terlalu dimanja.

Jangan pernah bangga jika berat badan turun karena bantuan obat-obatan. Juga jangan senang dulu jika bobot mendadak turun banyak karena diare, tidak makan, atau menjalani diet yang ekstrem. Idealnya, berat badan turun sebanyak empat sampai lima kilogram dalam sebulan. Lebih dari itu, yakin diet yang dijalani sehat?

Tembam amat itu pipi

Justru diet-diet ekstrem itu lebih berbahaya. Ketika berhenti, mungkin karena sakit atau bosan, kita akan kembali seperti dulu. Menyantap segala macam makanan. Tidak peduli apakah itu sehat atau tidak. Eh, malah jadi lemak.

Karena metabolisme juga mengalami banyak perubahan, saya disarankan tidak melupakan olahraga. Bergerak aktif adalah kunci metabolisme tidak melambat.

“Usia boleh tua, tapi usia sel harus tetap berusia remaja,” prinsip yang saya anut saat ini.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

10 comments

  1. Menunggu kado saja

  2. semoga usianya makin berkah 😀
    aku 29 dan belum nikah 😀

  3. Wooww baru tau lho foto pas jaman dulu. Beda jauh banget ama sekarang ya!

    * maap ga ada kado *

  4. saya juga menikah termasuk telat usia 30, baru sekarang mengerti menikahlah dibawah usia 30….sekarang usia 40 anak pertama baru kelas 2 sd, berarti saat usia saya 50…anak pertama baru masuk kuliah 🙁

  5. Layanan Go Massage sudah jadi langganan nih. Setiap bulan pasti panggil mereka. Kadang dua minggu sekali kalau lagi pengen banget pijet.

  6. Menikah diusia muda bagus tapi diusia tua demi belajar dan usaha juga tidak kalah bagusnya gan

  7. Sya juga blum nikah gan sesama jomblo harus saling hibur hehe

  8. Hahahaaaa…………………….
    ………
    ………
    ………
    ………
    ………
    Senasib…

Tinggalkan Balasan