Pekerja di Bitung Juga Mau Kaya

“So tutup, Nona. Kalau nona mau melihat lelang ikang di sini, datanglah lebih pagi lagi. Nona juga bisa melihat pengangkat ikang, pria asli Manado,” kata seorang ibu. Dia lalu menunjuk ke arah lima orang pemuda yang tengah menghitung pendapatan hari itu. Peluh bercucuran, sesekali handuk putih di leher diusap ke wajah, kaos singlet yang tak lagi putih, dan berotot kekar, tanda merekalah yang dimaksud si ibu.

Teriakan dia membuat saya kaget. Macam dipergoki ibu sendiri saat coba-coba keluar rumah tengah malam. Lagi-lagi saya dikira perempuan. Ingin rasanya kencing di depan mukanya, agar dia tahu kalau saya lebih cocok dipanggil Nyong.

Tapi tak apalah. Kalau memang salah panggil bisa mendekatkan kami, kenapa harus diambil pusing? Seperti abang Gojek, yang seringnya curhat manakala mengira saya ini pere. “Panggil saya Arina,” kata dia. Wait! Saya lupa. Karina apa Arina, ya?

Tampak para nelayan tidak berada di dalam kapal. Sebagian istirahat sejenak di darat. Indah sekali langit Manado siang itu. Awanya juga tebal

Suasana Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung, Sulawesi Utara, Rabu (3/2/2016) tampak sepi. Tak ada lagi transaksi jual-beli. Padahal saya dan rombongan tiba di tempat itu sekitar pukul 10.30 WITA. Ternyata jam segitu terhitung ‘siang’. Hanya terlihat puluhan kapal berbagai ukuran pakir di tempat masing-masing. “Nona lihat saja. Ada yang tidur. Ada yang lagi menghitung pendapatan. Dan kayak saya ini sebentar lagi pulang ke rumah mengurus anak dan suami,” ujar ibu Arina. “Saya tidak tahu kalau jam segini sudah sepi,” kataku.

Saya suka semua olahan ikan khas Manado. Tidak jauh dari kantor, ada rumah makan Manado yang biasa saya kunjungi kalau bosan makan siang dengan menu yang itu-itu saja; nasi Padang atau makanan khas Warung Tegal. Saya jadi tidak sabar. Maunya buru-buru sampai di sana. Biar waktu melihat ikan-ikan segar yang jarang atau tidak pernah saya lihat bila menemani ibu berbelanja ikan di pasar lebih lama.

Saya jadi kangen masa-masa tinggal di Kepulauan Riau. Empat tahun di sana, makan ayam atau daging sapi dan daging kambing, bisa dihitung jari. Setiap hari yang tersaji di atas meja adalah ikan, udang, kepiting, sotong, dan lobster. Jangan kaget. Lobster di sana jauh lebih murah dari harga 1 kilo daging sapi.

Meski tidak macet, perjalanan dari Manado ke Bitung terbilang lama, 1 jam 30 menit. Andai Manado sama semrautnya dengan Ibu Kota, mungkin perjalan bisa sama kayak dari Jakarta menuju Manado menggunakan Garuda Indonesia atau Citilink, 3 jam 25 menit.

Adanya Dompetku Nusantara diharapkan dipergunakan dengan sebaik-baiknya

“Nona pasti dari Kota. Wajahnya mulus kali. Beda sama kita di sini, kusam,” kata dia. “Lihat saja ini. Telapak tanganku kasar. Mukaku setiap hari dibanjiri keringat. Tak pernah kena AC,” ujarnya, lalu menempelkan kedua telapak tangan ke telapak tanganku. Dia ingin membuktikan dirinya adalah tipe wanita pekerja.

“Ibu cantik juga,” kataku. “Buktinya sudah laku,” sambil mencubit pipi tembam anak perempuannya.

Dia tertawa mendengar ucapan itu. Dia bilang, itu karena sudah tidak ada lagi perempuan cantik yang mau sama suaminya. Ibu Arina hanya pasrah dan menerima takdir. “Untung suamiku tidak ada di sini. Kalau dia melihat nona, bisa digodanya nona ini.”

Ibu Arina juga bilang, dia hampir tidak pernah masuk salon. Padahal, jumlah salon di sana tidak bisa dibilang sedikit. Hanya saja, buat apa ke salon kalau pekerjaan sehari-hari berurusan dengan bau amisnya ikan? Kalaulah ada uang lebih baik ditabung. “Biaya sekolah di sini mahal. Anak dua. Masih kecil-kecil pula. Lebih baik uangnya aku tabung saja,” katanya.

Baginya, mustahil bila mau kaya tapi tidak mau menabung. Dia percaya, menabung Rp 10 ribu saja sehari tapi rutin, bisa membiayai sekolah anak-anaknya sampai ke jenjang yang lebih tinggi.

“Namanya juga menabung di rumah. Terkadang suka kepakai. Sulit sekali menahan diri tidak mengambil uang itu,” kata dia menjawab pertanyaan saya, apakah tidak takut jika uangnya kepakai hal-hal yang tidak perlu?

Nelayan dan pekerja di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung rata-rata menabung dengan cara tradisional. Memasukan uang ke kaleng kerupuk atau celengan khusus. Tak jarang menaruhnya di bawah bantal. Mereka sadar itu berisiko. Mereka juga bukan tidak mau menabung langsung di bank. Mereka malu dan takut ditolak jika masuk ke bank mengenakan kaos lusuh bekas bekerja. Uang yang ingin ditabung juga tidak banyak. Tidak pernah lebih dari Rp 1 juta. Bahkan, Rp 500 ribu saja baru bisa terkumpul 7 sampai 12 hari. Itu juga kalau tangkapan mereka selalu banyak. Kalau tidak, bisa sebulan. Maka, ketika akan menabung di bank, mereka terlebih dulu memastikan apakah jumlah uangnya memang ‘layak dibawa ke bank’.

Rambut ikal tebal, pakaian ala-ala ibu pasar kaos gombrong dan celana pendek, belum lagi peluh membanjiri tubuh mereka, bisa dipastikan mereka jadi bahan nyinyiran nasabah lain.

Omongan ibu Arina dibenarkan tuan pemilik warung berukuran kecil, di pojok kanan dari pintu masuk pelabuhan, Harry Mahmud, salah seorang agen resmi Dompetku Nusantara milik Indosat Ooredoo di kawasan itu. “Mereka cenderung malu ke bank kalau jumlahnya belum Rp 500 ribu. Jadi, mereka kumpulin dulu tuh duitnya sampai sebanyak itu, baru ke bank.” ujarnya.

Menurut dia Dompetku Nusantara adalah produk kerjasama antara Indosat Ooredoo dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD). Khusus di Sulawesi Utara, menjalin kerjasama dengan bank SulutGo. Tidak peduli berapa nominal uang yang dimiliki para nelayan dan pekerja di pelabuhan itu, mereka tetap bisa menabung. “Mereka sebenarnya sadar kalau menabung itu berguna untuk masa depan,” kata Pak Harry

Meski uang yang didapat tidak terlalu besar, semangat mereka untuk menabung itu ada. Karena sungkan dan tak enak hati kalau ke bank dalam keadaan lusuh, mereka memilih menabung di rumah saja. Dan itu adalah pekerjaan sia-sia. Setiap kali tidak punya uang, uang yang semula untuk ditabung malah digunakan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.

Randy Pangalila, Group Head Mobile Financial Service (MFS) Indosat Ooredoo menerangkan, ada empat hal yang bisa pelanggan lakukan dengan Dompetku Nusantara ini. Tabungan, asuransi, pinjaman/pembiayaan, dan investasi. Masing-masing layanan disediakan oleh mitra, Indosaat Ooredoo berperan sebagai penyedia sistem dan teknologi.

“Dua fitur yang bisa langsung dimanfaatkan adalah asuransi dan pinjaman,” kata pria yang namanya mirip pemain FTV :p

Sedangkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung, Pak Harry mengutamakan para nelayan dan pekerjanya untuk menabung. ‘Kan sayang jika uang hasil tangkap ikan tidak ditabung. Apalagi pas musim ramai ikan, uang yang mereka dapat bisa berlipat-lipat. Bolehlah kalau mau foya-foya tapi jangan lupa sisihkan beberapa persen lebih banyak untuk ditabung.

Prashant Gokarn, Randy Pangalila, dan tamu lainnya menjajal Dompetku Nusantara yang rencananya diluncurkan akhir Februari ini

 

“Seperti kata Pak Randy, untuk tabungan sedang menunggu Bank SulutGo mendapat izin branchless banking dari OJK terlebih dulu,” ujar Pak Harry. “Kalau yang saya utamakan adalah pinjaman tapi mereka sendiri tidak mau menabung, bagaimana mereka membayarnya? Saya mau masyarakat di sini makmur tidak banyak hutang.” .

Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Sebab, empat fitur yang ada di Dompetku Nusantara memudahkan para nasabah. Salah satunya tabungan mikro, memungkinkan para nelayan atau pekerja seperti ibu Arina menabung dengan nominal sangat kecil, Rp 10 ribu. Selain itu ada juga pinjaman mikro, asuransi mikro, dan investasi mikro.

Pak Harry yang siang itu menerima penghargaan secara simbolis dari Chief New Business and Innovation Officer Indosat Ooredoo, Prashant Gokarn, tidak akan pernah bosan mengingatkan mereka untuk menabung. Mereka kini tidak perlu malu dan minder meski mengenakan pakaian melaut yang kucel, serta nominal yang akan ditabung kecil. Bila ingin mengecek berapa nominal uang di tabungan, mereka cukup menekan  *141*20# melalui nomor seluler, meski gawai yang dimiliki bisa untuk melempar anjing. Untuk registrasi, calon nasabah cukup menunjukkan KTP dan mengisi formulir yang tersedia di kedainya.

Penyerahan secara simbolis untuk Pak Harry dan teman-temannya

Kata Ketua OJK Sulawesi Utara, Elyanus Pongsoda dan Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kebijakan Penerimaan Negara, Asteraprimanto Bhakti, 78 sampai 80 persen penduduk Indonesia tidak memiliki akses ke layanan keuangan.

Harapan saya dan Pak Harry sama, semoga masyarakat di sana benar-benar memanfaatkan layanan Dompetku Nusantara. Sehingga mimpi untuk hidup lebih layak dapat terwujud. Ini sekaligus cambuk supaya saya tidak boros. Menyentil saya untuk menabung lagi. Tidak pantas seorang anak yang sudah menerima gaji bulanan masih minta sama ayahnya ketika uangnya ludes.

Mobile Financial Service (MFS) Indosat Ooredoo

Tiba di Bandar Udara Sam Ratulangi, rombongan disambut hangat perempuan manis bernama Lidia yang akan menjadi tour guide selama tiga hari di sana. Siang itu, aku dan rombongan diantar ke Swiss-Belhotel Maleosan Manado. Sebelum check-in, kami sholat dulu, makan siang, dan mendengar paparan dari Pak Randy.

Pak Randy bilang, pertumbuhan layanan Mobile Financial Service (MFS) Indosat Ooredoo meningkat signifikan selama satu tahun terakhir. Selain Dompetku Nusantara, masih banyak layanan lain yang akan segera mereka luncurkan.

 

Randy Pangalila melakukan kunjungan ke agen resmi yang ditunjuk langsung Indosat Ooredoo

Biasa membahas masalah kesehatan, sekalinya diajak diskusi membahas uang, investasi, dan teknologi, otak langsung blank. Yang saya ingat dari omongan Pak Randy hari itu, jika pada Desember 2014 transaksi value mencapai Rp 20 miliar, Desember 2015 menjadi Rp 2,5 triliun.

Beruntung, teman di sebelah bisa diajak menghayal, bakal diapakan seandainya uang sebanyak itu ada di hadapan kita? Mimpi boleh, dong?

Nah, ini 11 layanan baru Mobile Financial Service Indosat Ooredoo. Ada Dompetku Plus, Dompetku Nusantara, Dompetku QR Codes, Dompetku NCF D’Tap, Dompetku One Bill Payment, Dompetku International Remittance, Dompetku Pay Up, Dompetku VCN (virtual card number), Dompetku Co Brand visa Debit Card, Dompetku Co Brand Master Credit Card, dan Dompetku Pinjaman Kilat.

Dompetku Nusantara menurut rencana diluncurkan pada akhir Februari 2016. Di Sulawesi Utara ini hanya perkenalan guna memupuk semangat pekerja di sana untuk menerapkan Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keungan Inklusif (Laku Pandai). Selain Bank Sulut, layanan ini juga menggandeng Adira Insurance, WOM Finance, dan BNP Paribas Asset Management.

Saya dapat banyak informasi mengenai layanan dan program yang dimiliki Indosat Ooredoo selama Blogger Gathering #FreedomCombo di Manado. Bagi mereka yang berteman dengan saya di Path, sudah membaca beberapa cerita yang saya unggah bersama foto-foto selama di sana. Nanti akan saya post di sini juga.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

9 comments

  1. melihat respons yang tinggi di Bitung, membuat masyarakat di belahan provinsi lainnya juga pengen Indosat Ooredoo meluncurkan Dompetku Nusantara di wilayah mereka.

    semoga saja hingga akhir tahun ini bisa menyebar ke berbagai provinsi lain seperti yang dikatakan Randy dalam diskusi dengan kita ya mas. Termasuk untuk pedalaman yang menargetkan petani, masyarakat desa, dan sebagainya.

  2. Bayangkan kalau suami ibu itu benar-benar ada, dan dia sor sama Adit…

  3. Wow, keren ya ada Dompetku Nusantara, jadi kalau mau nabung bisa via si agent-nya ya. Pastinya ke depan, makin banyak orang yang mau nabung, dan bisa mensejahterakan masyarakat 🙂

    Jadi sekalian mau jawab kuisnya dong huehe … Melalui Dompetku Nusantara, masyarakat bisa menabung, meminjam uang, membeli produk asuransi, dan memulai investasi 🙂

  4. Jawaban untuk kuisnya, Tabungan, Asuransi, pembiayaan/ pinjaman dan investasi.

  5. Nama : Hendi Setiyanto
    fb : hendi.setiyanto
    twitter : @hendisetiyanto
    Sebelumnya salam kenal karena saya baru pertama kali singgah di blog ini karena beberapa hari kemarin ikut gabung dalam grup fb, KOBEL (Komunitas Blogger Laki). Selain itu karena ada quiz jadi coba ikutan heheh.
    Dengan layanan Dompetku Nusantara, kita bisa menabung, mengikuti program asuransi, pinjaman kredit, maupun layanan finansial lainnya di sekitar wilayah Indonesia.
    Selain itu juga ada beberapa keunggulan seperti proses pendaftaran dan tarik tunai yang mudah, lengkap karena satu-satunya transaksi keuangan dalam satu nomor seluler dengan empat layanan keuangan terpadu yaitu tabungan mikro, asuransi mikro, kredit mikro, dan investasi mikro.
    Plus yang lebih menarik lagi adalah biaya administrasi yang terjangkau serta dapat dilakukan di agen yang bertanda Dompetku Nusantara di sekitar Anda.

  6. Kenapa foto kamu malah gak ada? :)))

    1. Karena tidak ada yang fotoin aku. semuanya sibuk kegiatan masing-masing 🙁

  7. Mantaaap. Semoga dengan layanan Dompetku Nusantara makin memudahkan wong cilik dan wong ndeso untuk menabung. Orang kecil itu kalau mau menabung ke bank yang kinyis2 dan sejuk itu rada malu, 🙂

Tinggalkan Balasan