Muhammad Rival Hidayat : Bukan Cowok Matre dan Mata Duitan

Teman-teman yang sudah lama mengikuti akun Instagram Arjuna Bima 2016 pasti familiar dengan ledekan yang menyebut Muhammad Rival Hidayat tidak bisa jauh dari duit, uang, dan duit. Apa pun yang diomongin Paskibraka Nasional 2016 dari Yogyakarta pasti UUD. Ujung-ujungnya duit. Muncul kesan kalau Rival adalah cowok mata duitan atau cowok matre.

Rival, laki-laki Jawa yang tergabung di tim Arjuna, menepis pernyataan itu. Rival memang tidak marah, tapi ada baiknya untuk diluruskan. Demi kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Jangan sampai para gadis yang pengin mendekati Rival jadi menjauh gara-gara cap mata duitan dan matre yang diberikan secara sepihak oleh penghuni Desa Bahagia.

Semula saya sempat ragu. Saya takut Muhammad Rival tidak mau menjawab sejumlah pertanyaan yang saya lemparkan ke dia. Beruntung itu tidak terjadi.

Rival Hidayat, yang Duduk di Belakang Alldy Padlyama, dan Teman-teman Paskibraka Nasional 2016 yang Lain Menuju Istana Negara

Kalian mesti tahu. Tanya-tanya intim antara saya dan Rival berlangsung selama 12 jam. Oleh karena itu, saya mohon dengan sangat, untuk tidak menutup layar ini dan silakan baca sampai paragraf terakhir.

Tidak hanya soal uang. Rival juga membahas hubungannya dengan keluarga, teman, dan penilaiannya terhadap empat orang Paskibraka Nasional 2016 putri. Selamat membaca.

Rival, lagi sekolah? Apa sudah ambil raport? Aku ganggu nggak?
Nggak, kak. Raport sudah diambil. Baru saja kemarin.

Bagaimana hasil raportmu?
Alhamdulillah, kak, tapi masih perlu belajar lagi.

Susah ya Val untuk mengejar ketertinggalan semua mata pelajaran?
Ya, begitu, kak. Aku juga masih kurang greget sama pelajarannya.

Kok bisa? Sesulit itu untuk kembali beradaptasi? Atau kaku susah move on? Capricorn kok susah move on.
Wkwkwk! Mau bagaimana lagi?

Val, sewaktu kamu dinyatakan lolos sebagai Paskibraka Nasional 2016, kamu merasa “beruntung” karena sedikit rada tidak percaya diri atau kamu merasa itulah hasil yang pantas kamu dapatkan?
Tidak dua-duanya, kak. Rasanya, malah berat dapat amanah sebesar itu. Ya, namanya amah harus dijalani dengan maksimal saja.

Amanah? Maksudnya?
Amanah menjaga nama baik Jogja. Termasuk mewakili orang-orangnya dan citra baik Yogyakarta.

Tapi sebenarnya kamu niat untuk ikut seleksi? Kenapa ujung-ujungnya tidak percaya diri? Buktinya, kamu lolos, dek.
Niat, kak. Lagi pula, kalau kita anggap itu amanah, pasti kita bisa latihan tanggung jawab terhadap tugas, kak. Terutama tugas mengibarkan bendera. Ini bukan masalah pedenya, kak, tapi tanggung jawab saya sebagai perwakilan daerah.

Intinya, saya pengin dapat pengalaman lebih, kak.

Apa hal terberat yang harus kamu tahan selama mengikuti Diklat Paskibraka Nasional 2016? Pacar apa orangtua?
Orangtua mestinya. Namanya juga anak tunggal. Saya tahu ibu pasti menangis terus di rumah. (Terbukti. Sewaktu kedua orangtua menjenguk Rival di Hotel Sriwijaya, H-1 penugasan, Rival tak kuasa menahan air matanya. Air mata Rival membahasi pundak sang ibu)

Arti ibu bagi Rival? Kalau disuruh memilih ibu atau ayah, kamu pilih?
Orangtua itu segalanya. Nggak ibu, nggak ayah, semuanya sama.

Kemudian. Rival merasa ada yang berubah tidak begitu balik ke kehidupan semula? Teman-teman bagaimana responsnya?
Nggak ada yang berubah. Teman-teman masih sama responsnya.

Namanya Juga Paskibraka Nasional 2016, Selama di Asrama Harus Mandiri. Rival Hidayat Cuci Baj Sendiri

Nah, di sini gongnya!

Val, kenapa teman-teman Paskibraka Nasional bisa bilang “Kalau dekat sama Rival yang diobrolin duit melulu”?
Gloria! Tahu sendiri, kak, kalau lagi kumpul bareng teman-teman kayak bagaimana. Semuanya dibahas. Uang salah satunya. Giliran habis membahas itu malah aku yang dicap matre.

Ha ha ha! Kocak! Jadi, jadi, awal mulanya bagaimana kok jadi bahas begituan? Klarifikasi, dong!
Sama teman-teman membahas kalau kita pulang mau ngapain? Ada yang pengin itu itu, pengin beli ini itu, dan akhirnya terjerumus membahas duit, deh.

Ha ha ha! Jadi, kamu ini semacam “korban” mereka? Ha ha ha.. Jahat!
Wkwkwk.. Ya begitu kenyataannya.

Sudah siap jadi pelatih belum?
Siap. Sudah, kak.

Kamu bakal menerapkan pola yang sama dengan yang pernah kamu terima atau kamu punya pola lain agar “anak murid” bisa mengikuti jejakmu?
Kalau aku lebih suka metode pelatihan fleksibel, kak. Menyesuaikan anak-anaknya saja. Sebenarnya, aku lebih suka serius santai. Kalau sudah ada nyeleneh, baru agak dikerasin sedikit. Kalau memberi hukuman, tidak boleh lebih dari hukuman yang saya terima dulu.

Dulunya itu waktu kamu di Paskibraka Nasional 2016 atau Yogyakarta?
Jogja, kak.

Memangnya, hukuman seperti apa yang Rival terima?
Ya, biasa. Push up sama dimarahin.

Seandainya Arjuna dan Bima bentrok, kemudian terpisah-pisah, dan tidak ada lagi komunikasi. Tindakan apa yang bakal Rival lakukan untuk menyatukan semuanya lagi?
Aku yakin nggak akan ada bentrok antara kami. Kalau pun itu terjadi, tinggal ingatkan mereka kalau dulu pernah susah dan bareng sama-sama. Disetelin video pengibaran saja, aku yakin mereka pasti langsung sadar.

Satu lagi boleh, ya. Kamu menilai empat sosok ini sebagai teman yang? Dinda Awliya, Fiona, Cece, dan Aura.

  1. Dinda itu teman yang beda. Satu-satunya perempuan yang paling unik. Juteknya, alaynya, cuma ada di Dinda doang. Namun terkadang dia bisa jadi orang yang ramah dan humble.
  2. Fionna termasuk teman dekat selama di asrama Paskibraka Nasional 2016. Sering ejek-ejekan karena pipinya bulat. Untungnya dia tidak pernah marah, malah tambah akrab.
  3. Cece itu orangnya cukup dewasa. Itu kesan pertama pas bicara sama Cece saat pemilihan lurah.
  4. Aura? Aura bagaimana, ya. Mukanya paling terlihat awet muda dibanding teman yang lain. Dia perempuan yang anggun dilihat.

Oke, deh. Terimakasih, Rival. Jadi, kamu beneran tidak matre, ya? Aku menekankan saja.

Oke, kak. Tidak, Ya Allah.

Muhammad Rival Hidayat
Paskibraka Nasional 2016 dari Yogyakarta

Tempat dan Tanggal Lahir : Kulonprogo, 1 Januari 2000
Asal sekolah : SMA Negeri 1 Wates
Hobi : Mendengarkan musik
Motivasi : Membanggakan orangtua
Nama Orangtua : Samsuri dan Endang Sri Nyalawati