Drama di Awal Rencana Peliputan Paskibraka Nasional 2016

Saya bukan tidak mau meliput Paskibraka Nasional 2016. Karena saya sendiri pernah bercita-cita ingin seperti mereka…

Sejumlah teman dari kanal seberang tiba-tiba saja memberi ucapan selamat ke saya. Saya pikir mereka sedang bercanda kayak biasanya. Apalagi salah satu dari mereka baru selesai mengikuti sidang redaksi mingguan. Bisa jadi bercanda “model” beginian merupakan dampak dari stres yang bercampur lapar akibat belum makan siang.

“Sudah siap belum, Dit?” tanya manusia Pomade yang sering kami panggil dengan sebutan bos. Manusia satu ini selalu bisa bikin orang penasaran. Saya yang tidak tahu maksud dari pertanyaan dan ucapan selamat itu, merespons dengan cara berlalu meninggalkan mereka sambil cengengesan.

Si bos kemudian cerita, salah satu topik yang dibahas di sidang redaksi pada hari itu adalah kemunculan satu sub kanal baru, berisi semua informasi mengenai rangkaian kegiatan Paskibraka Nasional 2016.

Dan saya yang ditunjuk sebagai penanggungjawab. Tugas saya meliput semua kegiatan Paskibraka Nasional 2016 selama satu bulan. Dari mereka tiba di Cibubur untuk registrasi, tes urine, tes kesehatan, pembukaan, sampai seluruh anggota Paskibraka Nasional 2016 pulang ke provinsi masing-masing.

Mulai minggu depan, terhitung hari itu, lima bulan yang lalu, untuk sementara waktu saya tidak berurusan dulu dengan segala hal berbau kesehatan.

“Demi apa? Tukang kibul! Bos gue sendiri belum ngomong apa-apa. Sok tahu lu,” kata saya masa bodoh. Saya masih tidak percaya karena belum dapat konfirmasi langsung dari Bos besar. Namun, masa bodohnya Aquarius tetap saja memikirkan omongan tersebut. Sambil sesekali bertanya ke diri sendiri,“Masa iya, gue? Memang nggak ada orang lain? Gue kan mau cuti panjang.”

Saya tahu kalau kantor saya sudah “langganan” meliput kegiatan Paskibraka Nasional dari dua tahun yang lalu. Hanya yang saya tahu, liputannya hanya sesekali, itu juga berbentuk video yang kemudian diunggah ke Vidio.com, bukan berupa tulisan.

Lagipula, kenapa tidak dari satu bulan yang lalu memberitahu ke saya akan penugasan ini? Bukannya saya tidak mau, bukan juga saya pengin menolak, tapi saya sudah lama punya rencana mau cuti panjang.

Kebetulan di bulan yang sama, papa mengajak saya, mama, dan adik liburan ke Medan. Mumpung lagi di Medan, saya pengin menggunakan cuti panjang buat jalan-jalan ke Aceh atau ke mana gitu.

“Dit, kamu selama satu bulan tolong pegang Diary Paskibraka dulu, ya. Jadi, selama satu bulan, kamu meliput semua kegiatan Paskibraka Nasional 2016,” omongan ini keluar dari mulut Bos besar.

Cuti harus saya batalkan karena ternyata omongan teman saya itu bukan isapan jempol. Saya pun membuang jauh-jauh mimpi sedang leyeh-leyeh di Sabang sambil menyaksikan matahari terbenam, makan Mi Aceh langsung di daerah asalnya, dan mengunjungi museum Tsunami yang dirancang oleh Ridwan Kamil.

Foto Ini Sewaktu Calon Paskibraka Nasional Jalani Tes Kesemaptaan. Nanti Akan Saya Bahas Juga di Blog Ini. Sementara Dipakai Dulu Buat Artikel Ini

Paskibraka Nasional 2016 Tak Perlu Diliput

“Dit, besok sore ikut aku meeting sama orang Kemenpora, ya,” kata Bos besar. Saya mengiyakan karena saya pikir pertemuan itu untuk membahas mengenai prosedur selama penugasan yang harus saya penuhi. Ternyata bukan. Meeting yang dimaksud Bos besar adalah menemui salah seorang petinggi di Kemenpora yang mengurus Paskibraka Nasional 2016, untuk mendapat surat izin resmi peliputan.

APA? IZIN PELIPUTAN BELUM ADA? SERIUS? KZL!

Singkat cerita, bertemulah saya dengan petinggi yang dimaksud. Sebut saja Bapak A. Bapak A ini orangnya sungguh baik. Ramah juga terbuka. Beliau mengaku senang ada media yang mau meliput seluruh kegiatan Paskibraka Nasional 2016 dari awal sampai akhir. Selama ini, sejumlah media hanya meliput menjelang hari H saja. Tidak ada yang seserius ini.

“Tenang, Dit, kamu jadi tanggung jawab saya. Kamu boleh meliput kegiatan ini. Nanti, kamu dapat ID dan bendera merah putih kecil supaya bisa masuk ke Istana,” kata Bapak A. “Nanti, surat penugasan dari kantormu, kamu serahkan sama Bapak B atau Bapak C. Bilang, saya sudah memberi izin,” lanjutnya.

Siapa coba yang tidak senang mendapat sambutan hangat seperti yang diberikan Bapak A. Itu pertanda bahwa tugas saya untuk meliput tidak akan menemukan kendala sama sekali.

Ternyata, semesta meminta saya untuk tidak terlalu cepat senang. Keesokan harinya, sesuai perintah Bapak A, saya harus menemui Bapak B dan Bapak C untuk menyerahkan surat penugasan dan menyampaikan amanah Bapak A.

Bapak B yang duduk di balik meja sebelah kiri dari pintu masuk sebuah ruangan yang ada di salah satu lantai di Gedung Kemenpora, menyambut hangat kehadiran saya. Cara beliau menghargai setiap tamu yang datang menemuinya persis dengan yang dilakukan Bapak A. Respons beliau juga sama, sama-sama mengaku senang karena tidak pusing lagi memikirkan publikasi anak-anak Paskibraka Nasional 2016.

Namun, tidak demikian dengan Bapak C, yang omongannya ketus banget. Saya ingat satu celetukan yang keluar dari mulutnya, yang bikin saya gondok dan tidak bisa menampakkan wajah yang manis setiap kali bertemu dengannya.

“Oh, media. Buat apa anak-anak ini diliput? Nanti juga terkenal dengan sendirinya.” Bapak B yang tahu saya kesal mendengar perkataan dari Bapak C, langsung berbisik,“Jangan didengar, Dit. Biarin aja. Kalau dia bilang nggak butuh, saya yang butuh kamu, karena tanggung jawabnya ada di saya.”

Setelah mengobrol cukup lama dengan Bapak B, yang ternyata sama-sama orang Medan, saya jadi tidak sabar untuk meliput kegiatan Paskibraka Nasional 2016.

Sebelum pamit pulang, saya semacam mendapat angin segar dari B yang sudah memasukkan nama saya dan tim ke dalam proposal resmi. Artinya, saya bebas untuk meliput apa saja. Ya, tanpa saya sadari kalau ternyata ada pihak-pihak yang bakal mempersulit kerja saya.