Panasnya Surabaya dan Monumen Kapal Selam

“Hae Surabaya, Hae Bu Risma, Hae Dolly,” tulis saya di Path setiba di Airport Djuanda Surabaya, Jawa Timur.

Sabtu kemarin saya berhasil menginjakan kaki di Surabaya. Kota Pahlawan ini menjadi kota kedua di Pulau Jawa setelah Yogyakarta, yang berhasil saya singgahi. Dalam lawatan saya kali ini bersama Helmi, bukan untuk jalan-jalan, melainkan untuk liputan Simposium Kedokteran, yang tak lain adalah acara Michael dan Bu Mike dari SOHO (Yes! nyebut merek, bakal diajak lagi nih, ke Raja Ampat).

Setelah melewati drama pagi karena si Helmi susah dibangunin, terbang pukul 09:10 dan dia baru tiba di Bandara pukul 08:30, dan duduk manis di dalam pesawat selama 1 jam 5 menit, akhirnya kami berempat tiba di Bandar Udara Djuanda, Surabaya.

“Panas amat, ya, Mi? Gerah, deh. Asli! Panasnya Surabaya 11-12 kayak di Batam,” kata saya.

“Masih mendinglah, ada angin-anginnya. Cuma memang panas banget, pengen lepas jaket jadinya,” kata Helmi sembari mengetik BBM untuk mengabarkan seseorang bahwa dia telah tiba di Surabaya (sepertinya begitu).

Mich, yang kala itu hanya mengenakan kemeja santai, celana pendek, dan sandal, begitu masa bodoh menghadapi panasnya Surabaya. Dia malah ke sana ke mari, untuk mencari mobil yang telah disewanya.

“Bu, Yuk,” kata Mich memanggil Bu Mike, pertanda mobil yang disewa telah menjemput kami.

Asli, saya yang cukup lama menetap di Riau dan tahu bagaimana kondisi di sana, tampak melihat adanya persamaan antara Surabaya dan Batam. Sama-sama panas, dan sama-sama sepi di kawasan Bandaranya.

Berhubung kami tiba di Surabaya sudah agak siang, sekitar pukul 11:30 WIB, Mich memutuskan untuk membawa kami ke penginapan, agar dapat berbenah dan mandi, terutama si Helmi yang tidak mandi sewaktu pergi karena bangun kesiangan. *kebayang dong, bagaimana baunya? He he he, enggak, deng. Enggak kecium juga baunya*

Sepanjang perjalanan dari Bandara ke penginapan, Helmi bilang wilayah itu mirip di Tangerang dan Kalideres, karena di beberapa bagian jalan terdapat banyak pabrik gitu. Berhubung saya belum pernah ke daerah itu, cuma bisa manggut-manggut saja sambil berkata ‘OH’.

Ternyata, sebelum kami benar-benar ke penginapan, Mich mengajak untuk makan siang dulu, di-mana-itu-tempatnya-saya-malah-lupa. Barulah setelah kenyang, kami cus ke hotel.

Setiba di Artotel, tempat kami menginap, Mich membagikan kunci kamar, kami berdua pun bergegas untuk masuk ke kamar. Si Helmi mandi, saya bobo-bobo-centil. Memang dasar, ya, kalau sudah ketemu bantal dan kasur, untuk memisahkan diri sebentar saja, susah banget kayaknya. Bawaannya pengen goleran doang.

Singgah ke Monumen Kapal Selam KRI Pasopati 410

“Habis naruh barang, kita ke Monumen Kapal Selam, ya,” kata Mich memberikan instruksi.

Wew, mendengar kata Monumen Kapal Selam, yang terbayang di benak saya, kami akan masuk ke dalam kapal selam yang berada di bawah laut. Secara, ya, Surabaya kan kota Maritim. “Oke, Mich,” kata saya menjawab ajakan Mich dengan semangat.

Menurut supir yang ternyata adalah fans militan Prabowo-Hatta, jarak antara Artotel dan Monumen Kapal Selam ini tidak terlampau jauh. Cuma 30 menit. Jalannya pun lurus doang. Ya, Monumen ini bersebelahan dengan Grand City Mall, tempat konser JKT48 hari itu.

Apa yang ada di bayangan saya pudar begitu saja, tatkala melihat kapal selam yang dimaksud tidak berada di bawah air, melainkan di daratan yang di sampingnya ada kolam renang. Hvhft!

Tampak bagian depan

Menurut supir yang membawa kita, Monumen Kapal Selam KRI Pasopati 410 adalah monumen skala penuh, bukan replika. Asli 100 persen. Katanya, kalau Monumen Kapal Selam ini gabungan dari tiga kapal selam gitu. Pembuatan Monumen ini dimulai pada Juli 1995. Waktu itu sebagai peletak batu pertama kali adalah Basofi Soedirman yang tak lain adalah Gubernur Jawa Timur.

Kalau situs ini mengatakan, KRI Pasopati 410 telah diiris menjadi 16 bagian di PT. PAL Indonesia. (Jadi sebenarnya, 3 bagian apa 16 bagian, sih? Yah, supir juga manusia. Mungkin dia khilaf). Kemudian, bagian per bagian diciptakan kembali dan diletakkan di atas pondasi monumen. Setahun kemudian, tepat pada 15 Juli 1998, Monumen Kapal Selam dibuka untuk pertama kali dan telah beroperasi sebagai salah satu objek wisata di Surabaya.

Monumen Kapal Selam

Nih, spesifikasi yang ada di dalam Monumen Kapal Selam;

  1. Panjang: 76,6 m
  2. Lebar: 6,30 m
  3. Kecepatan: 18.3 knot di atas permukaan, 13,6 knot di bawah permukaan
  4. Berat penuh: 1.300 tons
  5. Berat kosong: 1.050 tons
  6. Kemampuan penemuan: 8.500 mil laut
  7. Baterai: 224 unit
  8. Bahan Bakar: Diesel
  9. Persenjataan: 12 Torpedo Uap Gas
  10. Panjang: 7 m
  11. Baling-baling: 6 lubang
  12. Awak kapal: 63 termasuk Komandan
  13. KRI Pasopati memiliki jumlah 7 ruangan:
  14. Ruang untuk haluan Torpedo, dipersenjatai dengan 4 torpedo propeller, juga bertindak sebagai penyimpanan untuk torpedo
  15. Ruang Komandan, Ruang Makan, dan Ruang Kerja. Di bawah dek adalah Ruang untuk Baterai I
  16. Jembatan utama dan Pusat Komando. Penyimpanan Makanan di bawah dek
  17. Ruangan Awak Kapal, Dapur, dan penyimpanan untuk Baterai II di bawah dek
  18. Ruangan Mesin Diesel dan Terminal Mesin
  19. Kamar Mesin Listrik
  20. Ruangan Torpedo untuk bagian buritan. Berisi dengan 2 buah Torpedo.

Layaknya tempat kreasi pada umumnya, untuk melihat bagian dalam dari Monumen Kapal Selam ini, pengunjung harus merogoh kocek tidak terlalu dalam, hanya Rp 8 ribu. Sebab, kita tidak hanya melihat dalaman dari kapal selam, melainkan juga akan melihat dokumenter mengenai sejarah kapal selam dan Monumen itu sendiri. Selain itu, kita juga dapat berenang, karena ada kolam renangnya.

 

Bagian Monumen Kapal Selam 1
Bagian Dalam Monumen Kapal Selam 2
Bagian Dalam Monumen Kapal Selam 3

Plus:

  1. Harganya cukup murah, mengingat yang bakal dikunjungin adalah Kapal Selam.
  2. Kita jadi banyak tahu, kalau ternyata kapal selam isinya seperti itu. Terlebih untuk anak-anak. Sepengelihatan saya, anak-anak yang berkunjung ke Monumen Kapal Selam ini cukup menikmati dan seru sendiri.
  3. Monumen Kapal Selam tidak engap, melainkan dingin banget, karena sudah dipasangin banyak pendingin.

Minus:

  1. Ini pendapat personal, sih. Buat yang tingginya melebih 180 cm, pikir dua kali deh untuk masuk ke Monumen Kapal Selam. Ditambah lagi, kalau situ memiliki tubuh yang sedikit gemuk. Susah, bok! Mentok! Apalagi kalau mau berpindah, dari ruang satu ke ruang lainnya, kudu sedikit tiarap. Ditambah spacenya yang tidak begitu luas.
  2. Menurut saya, Monumen ini kurang terawat di sekitarnya. Kurang sedap dipandang.
  3. Dokumenternya ngebosenin. Si Helmi saja hampir nyenyak, sepanjang menikmatinya. Andai dibikin yang agak kekinian, pasti enggak ngebosenin. Mungkin bisa dibikin 3D atau 4D gitu?
Surabaya Submarine Monument (MONKASEL)
Jalan Pemuda 39 Surabaya, Indonesia
Jam buka: Setiap hari, dari pukul 08:00 sampai 22:00 WIB.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

10 comments

  1. Waaa… Pengen deh syuting pakai set kapal selam gitu. Boleh dipakai nggak ya. 😀

    1. Bikin dong, Mas Goen!

  2. Bah, fans militan Prabowo-Hatta.. :))
    Anyway, tempat makan siang yang-gak-tau-namanya itu Bon Ami. Sodaraan sama Bon Cabe. (yes, sebut merek! Bisa diajak ke Raja Ampat! Ahak ahak)

    1. Nah, iya Bon Ami. Eh, yang bilang itu adekannya Bon Cabe kan gue! Ish.

  3. sby emang panas bingit dit
    apalagi deket pesisir gitu.

    ah udah lama kali saya pergi ke tempat ini.
    dan sekarang jadi pengin kesini meskipun cuma buat moto-moto doang sih

    hehehe

    1. Iya, Ga. Seru, sih. Cuma engap

  4. kalo saya tidak terlalu tinggi dan tidak juga gemuk (agak gemuk) boleh lah ya masuk ke monumen kapal selam ? Lengkap sekali ulasannya, makasih 🙂

    1. sama-sama, Mas. Semoga bisa, ya 😉

  5. Wah aku baru lewat sana aja, gak sampe masuk. Hmmmm… jadi penasaran…

  6. Mampir dong, kak. Seru, kok

Tinggalkan Balasan