bacakan atau liwetan suwe ora jamu

Muncul Keinginan Mengajak Haters Ahok Liwetan

Sempat terlintas di benak saya untuk mengajak orang-orang yang pro dan kontra terhadap Ahok buat liwetan. Saya merasa yakin, seribu persen bahkan, tidak akan ada adu mulut maupun saling serang, melainkan suasana keakraban, cair, dan mungkin bisa saling menyampaikan pendapat tanpa perlu takut dijuluki kafir atau kaum bumi datar.

Saya pun tidak tahu mengapa bisa seyakin itu, tapi itu benar-benar saya rasakan sewaktu liwetan di Suwe Ora Jamu, awal bulan Juni yang lalu. Suasana serupa juga pernah saya rasakan sendiri sewaktu menyantap nasi kebuli bersama-sama jamaah lain pada saat melaksanakan Umrah dua tahun yang lalu.

Meski makan nasi kebuli bersama-sama tidak beralaskan daun pisang, tetap laik disebut liwetan karena tradisi lama yang mendadak menjadi trend kekinian itu adalah sebuah istilah buat menggambarkan kebiasaan dalam menyantap makanan yang dilakukan bersama-sama. Mau nasi dan lauknya diletakkan di atas meja panjang, lesehan di lantai, beralaskan daun pisang maupun plastik, tetap saja disebut liwetan atau bancakan.

Bahkan, sebelum generasi milenials mengenal istilah liwetan, anak-anak 90’an yang ikut pramuka sudah lebih dulu merasakan sensasi makan dengan tata cara yang sama.

menu liwetan
Kalau kata anak sekarang, ini adalah kenikmatan yang HQQ!

Saya sempat jengah melihat keributan antara penggemar garis keras dan pembenci Ahok. Jengah tapi ikut meramaikan suasana sampai akhirnya ribut sama sahabat sendiri. Puncak dari rasa sebal itu sewaktu para pecinta Ahok berkumpul di Balai Kota untuk bernyanyi dan berdoa bersama, berharap Ahok diberikan kekuatan, kesehatan, dan tegar menghadapi semua cercaan sampai harus dijebloskan ke balik jeruji besi.

Ahokers itu kalau nggak joget, nyanyi adalah komentar (mungkin) dari banyak orang yang kontra dengan sosok Ahok. Waktu itu saya bertanya pada diri sendiri, apa salah kalau Ahokers menari, bernyanyi, atau mengirimkan bunga untuk sosok yang mereka cintai? Jika memang salah, lantas yang benar harus bagaimana?

Salat berjamaah? Baca Al-Quran? Kan, mereka sendiri yang mengatakan kalau Ahok kafir, bahkan julukan yang sama tak segan disematkan kepada orang-orang muslim yang mendukungnya karena memang kinerja dia sebagai Gubernur pada waktu itu benar-benar bagus.

Menurut saya, biarlah Ahokers menyampaikan uneg-unegnya dengan cara seperti itu. Cara yang setidaknya tidak membuat orang lain jadi jiper, takut, dan tertekan saat melihat sebuah aksi yang dilakukan satu kelompok tertentu. Masing-masing orang punya cara sendiri buat mengapresiasi, bukan?

menu liwetan suwe ora jamu
Saya jamin, kalau Ahokers dan haters Ahok duduk bareng dan di depannya ada beginian, topik yang dibahas bukan lagi soal politik dan agama

Saya bingung harus bagaimana untuk mengembalikan semuanya. Sampai pada akhirnya, ide itu muncul setelah pulang dari memenuhi ajakan berbuka puasa sambil ngeliwet di Suwe Ora Jamu yang datang dari Mbak Terry, perempuan tangguh yang berani resign sepulang dari berlibur, dan kerap berbagi tulisan ciamik di http://blog.negerisendiri.com

Lumayan kaget mengetahui Suwe Ora Jam menyajikan “makanan besar”. Nggak tanggung-tanggung, makanan besar yang ingin mereka perkenalkan adalah bacakan. Sebab, hal paling berkesan yang pada akhirnya bikin saya jatuh hati saat pertama kali diajak ke tempat ini pada medio 2014 adalah pisang goreng dan singkong gorengnya yang enak parah, dan ditambah kunyit asam yang super segar.

Sebuah tempat dengan konsep dan dekorasi yang unik, properti jadul yang menambah kesan antik, dan camilan yang enak-enak adalah perpaduan yang sangat oke, serta patut diacungi banyak jempol. Sehingga saya sempat berpendapat bahwa Suwe Ora Jamu tak perlu menambah menu makanan besar, karena memang tempat ini sudah paling cocok dijadikan tempat nongkrong cantik dan menyehatkan.

suwe ora jamu
Ada yang tahu tulisan ini artinya apa?

 

dekorasi suwe ora jamu
Ada sepeda ontel
Pulang dari acara ini dibekali jamu enak. Hand made

 

suwe ora jamu lagi
Suwe Ora Jamu Memang Tempat yang Instagramable

Sore itu saya berkenalan dengan banyak teman baru. Dari belasan orang yang datang pada hari itu, hanya mbak Terry dan mbak Nunik yang saya kenal dan sudah temanan di offline juga. Di antara sisa itu, beberapanya saya tahu karena cukup sering “mengikuti” gerak-gerik mereka di media sosial.

Seru. Banyak cerita saya dapatkan dari mereka. Ya, semua itu gara-gara makanan enak yang tersaji rapi di atas daun pisang. Mungkin karena nggak ada pakai jaim-jaim-an, jadinya melebur begitu saja. Satu sama lain saling membaur, sehingga tak sungkan untuk berbagi cerita dan pengalaman.

Ada mas Sutiknyo, sang pemilik http://lostpacker.com yang berbagi resep langsing menggunakan metode diet yang tidak semua orang sanggup menjalankannya; ada paman Gery, pendongeng lucu yang hari itu membagi tutorial cara berswafoto yang baik dan benar; Uda Val, selebritis Instagram yang doyan jalan-jalan; dan yang paling gregetan sewaktu mendengarkan Anye, presenter acara teve yang doyan mancing ikan yang kerap dibully karena memiliki kulit yang hitam.

suwe ora jamu di jakarta selatan
Kami yang memenuhi undangan dari Suwe Ora Jamu

Di saat kubu sebelah kiri mendengarkan cerita dan ilmu baru yang disampaikan paman Gery, karena ditodong mbak Nunik, kubu sebelah kanan khusyuk mendengarkan cerita dari Anye dan cerita liburannya Mumun Indohoy, mbak Terry, dan mbak Dessy (makeup artist) ke Banda Neira yang super seru.

Anye bercerita, entah berapa kali dia mendapat penolakan dari orang sekitar karena “berbeda”. Bahkan, penolakan itu datang dari orang-orang yang seharusnya merangkul dia, bukan malah ikut memojokkan dia. Gara-gara kulit yang berbeda itu, dia pernah dikira bukan anak kandung kedua orangtuanya. Anye kecil yang berharap menjadi murid kesayangan guru, karena tidak pernah tak juara, malah tak pernah mendapatkannya. Dia sendiri sampai bingung, mengapa orang-orang sebegitu “membencinya”.

Obrolan yang terjadi selama satu jam lebih itu ditutup dengan topik gibahan yang nggah pernah tukar, soal HRS yang lagi di Arab, Gubernur DKI baru yang akan menggantikan Ahok dan Djarot, dan gosip perselingkuhan ATT dan RA.

Menu Liwetan atau Bancakan di Suwe Ora Jamu

Biar menurut saya Suwe Ora Jamu sebenarnya kurang cocok buat menyajikan makanan besar seperti liwetan, karena konsep mereka sudah sejak lama enak buat santai, tapi rasa dari semua menu yang tersaji di atas daun pisang itu enak-enak banget.

Paket makan liwetan di Suwe Ora Jamu terdiri dari nasi, kentang balado, tahu goreng, tempe goreng, ayam goreng, telor rebus, sayur asem, sayur urap, sambal ulek, sambal goreng, ikan asin, kerupuk putih, dan lalapan. Minumannya terdiri dari infused water dan cinnamon citrus. Dan, camilan lain yang tersaji sore itu ada wedang ronde.

nasi liwet suwe ora jamu
Urap dan bakwan jagung yang ada di nasi liwet ini favorit saya banget. suka banget.

 

menu sajian suwe ora jamu
Cocok banget untuk yang sedang menjalani #DietWarteg seperti saya. Oh, ya, sambal merahnya juara kelas, bikin ketagihan

 

kafe suwe ora jamu
Disajikan juga buah semangka dan lemon yang segar banget

 

wedang ronde suwe ora jamu
Ada wedang ronde juga

 

wedang ronde
Isian wedang ronde

 

cinnamon citrus suwe ora jamu
Minuman menyegarkan lainnya ada infused water dan cinnamon citrus

Rasa nasi liwetnya tak perlu diragukan lagi kenikmatannya. Sedangkan menu favorit saya adalah bakwan jagung dan sayur urapnya. Enak, asinnya pas, kelapa yang digunakan pun segar sekali.

Bila kamu mencari tempat untuk berkumpul bareng keluarga atau sahabat sambil menikmati sajian lezat kekinian, paket liwetan Suwe Ora Jamu ini bisa jadi pilihan. Harga Rp100 ribu per pax dengan minimal order 10 pax. Silakan pesan minimal 3 hari sebelumnya ke nomor berikut; 08983446008 (Ayu Safitri) dan 021 727 90 590 (Suwe Ora Jamu)

Siapa coba yang bisa menolak kelezatan dari menu liwetan ini? Dari situ saya yakin bahwa fans maupun haters Ahok tidak akan mampu berkata apa-apa, selain bakal rebutan untuk menghabiskan nasi liwet tersebut, dan sesudah makan akan saling ngobrol hal-hal yang seru.

Suwe Ora Jamu
Kedai Jamu dan Kopi

Jalan Petogogan I Nomor 28B
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Buka:
Senin sampai Kamis : 15.00 sampai 00.00 WIB
Jumat sampai Minggu : 11 sampai 00 WIB

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

3 comments

  1. Liwetan di mana lagi enaknya?

  2. Liwetan meets politics. An interesting point of view..

    1. terimakasih, kak Vira.

Tinggalkan Balasan