Nasib Baik Kelinci Tak Bertuan

Sehari sebelum keberangkatan saya menuju Yogyakarta untuk suatu urusan *gaya*, Pak Udin – orang yang dipercayai ayah untuk bersih-bersih sekitar rumah – memberitahukan kepada saya, bahwa kangkung yang saya tanam sudah saatnya panen. Mendengar kata panen, membuat saya tak sabar untuk mencabutnya dan memasaknya untuk hidangan makan siang. Seru, kan, kalau makan siang lauknya dari tanaman yang ditanam dan dirawat sendiri?

Panen Panen

Kangkungnya tumbuh dengan sempurna. Kalau sudah seperti ini, makin hobi saja bercocok tanam.

Tapi semua itu tinggal rencana saja. Ketika saya hendak membersihkan kangkung-kangkung ini, tepat di taman depan rumah, ada mahluk unyu berbulu tebal dan berwarna putih yang hidup sebatangkara karena kabur dari rumah tuannya.

Mahluk unyu itu adala; kelinci.

Kelinci yang tidak jelas siapa pemiliknya, yang tiba-tiba saja suda berlarian di taman kavling tempat tinggal saya.

Kata Pak Ustadz, kalau kita ada rezeki walaupun sedikit, jangan lupa disedekahkan. Biar afdol dan berkah. Setelah saya fikir-fikir, ada benar juga kalau kangkung ini di-sedekah-kan kepada mahluk unyu ini aja. Toh, dia sama-sama mahluk hidup dan mahluk yang diciptakan Tuhan. Dosa kalau misalnya dia sampai mati karena kelaparan. *lebay*

Lahap bener dirimu !!
Semok

Sayang seribu sayang, kelinci ini bukan jenis yang dagingnya bisa di makan. Seandainya iya, sudah bisa dipastikan akan saya manja abis-abisan dan akan berakhir di panggangan. Haaha …

Apesnya, setelah kelinci ini kenyang, sang empunya sudah membawanya kembali ke kandang aslinya. Saya curiga, ini modus dari pemiliknya yang ngga sanggup beli makanan kelinci.

Lagian, kelinci kan hewan kelas tinggi, vegetarian boo’…

Oia, coming soon slada dan pakcoi saya akan panen, loh. Horeee

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

23 comments

  1. Gak apa2 dit, mungkin kali ini kangkung itu rezeky si Kelinci, panen sekali lagi bisa dapat lebih banyak nanti.

  2. Hai Adit kamu langsingan krn sering makan sayuran hasil kebun sendiri ya? :D.

    1. Ngga, Mbak. Sering jalan kaki dan banyak konsumsi air putih

  3. Wow, Adit udah langsing euy. Saya suka kelinci Dit. Itu kelinci tetangga sengaja dilepas di pekarangan Adit kalee. Abisnya… begitu kenyang, sang pemilik langsung tahu dan jemput dia ke kandang….

    1. Alhamdulillah langsingan. Suka melihara kelinci atau suka daging kelinci? 😀

  4. maaf mas, saat ke jogja kemarin aku belum bisa menemani. maklum sedang top peak kerjaan 🙂

    1. Owala, gpp Mas, santai aja. Jogja membuat saya ogah pulang 😀

  5. adit kurusan yaahhh, wooww
    mungkin rejeki kamu selada dan pakcoi dit 🙂

  6. Kapan saya dijadwalkan bertamu ke rumah?

    😆

  7. Kelinci siapa itu melarikan diri, tahu aja dia dimana ada makanan…
    Jadi inget waktu kecil dulu di Biak juga memelihara kelinci… tapi yang bisa dimakan…. 🙂

    1. Kalau bisa dimakan, sih, lumayan banget. Dagignya itu kan empuk sedep gitu. Jadi pengen.

  8. Modus yang sama bisa diterapkan oleh anak-anak kost. 🙂

  9. Kelinci adalah hewan favorit saya. Dulu pernah punya. tapi terus sakit.

  10. ahahaha emang doyan kelinci, tegaaaaaaaaaaaaa

  11. Wah, ternyata… Andaikan kelinci itu bisa dimakan, apakah kelinci itu akan Mas makan tanpa menghiraukan ke-unyu-annya?

    1. Makanya, beli daging kelincinya pas sudah di potong-potong 😀

  12. waaah itu kelinci mahal kayanya….

Tinggalkan Balasan