Misteri Buku Tahunan Sekolah

April, 2006.

3 hari lagi, seluruh kelas 3 SMA Budi Asih akan melaksanaan pemotretan untuk buku tahunan sekolah (BTS). Dari seluruh kelas 3, hanya IPA 2 yang masih bingung memikirkan tema BTS kelasnya.


“Woi IPA 2, tema kelas kita apaan, ni?” 
teriak Gugun, ketua kelas kami.

“Iya, ni. Cuma IPA 2 yang belum punya tema. IPA 1 perkampungan, IPS 1 jaman dulu, IPS 2 a la – a la Hollywood dan IPS 3 anak rumahan. Masa IPA 2 ngga pakai tema juga”. cetus Nadine geram.

Ngga biasanya nih, IPA 2 mandek akan tema-tema. Biasanya, IPA 2 terkenal akan ide-ide gilanya. Buktinya, PENSI tahun ini, tema IPA 2 yang di terima panitia OSIS SMA Budi Asih.

Hampir 1 jam anak-anak IPA 2 menentukan tema untuk buku tahunan sekolahnya. Semua ide yang tercetus, rata-rata semuanya basi. Ada yang bilang a la India, lah .. A la-a la peternakan, lah. Semuanya ngga ada yang setuju.

Sampai pada akhirnya …

“Yaudah yaudah, kalau memang semua ide yang ada dibilang basi, bagaimana kalau tema BTS kelas kita, HOROR!!” kata Rendy dengan PeDenya.

“Horor, Ren? Hmmm.. Boleh juga, tuh. Gue setuju!” sahut Gugun menyetujui.

“Wah boleh boleh boleh .. Ngikutttttt. Tapi, fotonya dimana?” teriak 1 kelas sambil mempertanyakan lokasi yang pas dimana. Secara, kalau disekolah, mah, biasa.

“Tanah Kusir .. Horornya dapat banget, tuh. Masalah izin, serahin ke gue”.Jawab Deni yakin.

“Oke, Den.. Lo yang ngurus, ya? Kita percayain semuanya ke elo. Bokap lo, kan, Lurah di Tanah Kusir”.

—-

Hari itu, pun, tiba. Kami semua sudah berkumpul di parkiran TPU Tanah Kusir tepat setelah adzan maghrib.

Semua sibuk berdandan. Anjir, malam itu belum lagi pemotretan dimulai, suasana menyeramkan sudah tampak. Gimana enggak, semuanya berdandan a la – a la setan.

Di saat semuanya asik berdandan, dari kejauhan gue melihat sosok Dinda berjalan menunduk ke arah kami.

“Woi, Din .. Gokil lo. Lo make up di rumah? Pucetnya dapat banget. Yang lain make up disini, lo make up dirumah” tanya gue ke Dinda.

Dinda hanya mengangguk dan tidak menjawab apa-apa.

“Din, ngga usah berlagak sok misterius gitu, deh. Eh, lo fotonya habis Deny, ya. Lo mau dimana fotonya? Kuburan dalam apa di pohon-pohon sini?” tanya gue lagi sambil terheran-heran melihat kelakuan Dinda.

Bukannya menjawab pertanyaan gue, Dinda hanya menunjuk ke sebuah kuburan yang disebelahnya ada sisa tanah kosong.

“Oh disitu.. Oke oke.. Yaudah, dandan lagi sono biar lebih menyeramkan..”


Tepat pukul 19.00, suara Gugun yang terkenal seperti toak, pun, terdengar seantero TPU. Pertanda pemotretan akan dimulai.

“IPAAAAA 2.. Buruan kesini.. Tunggu giliran, ya, jangan kemana-mana, biar gampang manggilnya” teriak Gugun ke anak-anak.

Lagi dan lagi, gue melihat Dinda hanya berdiri dan selalu menunduk dengan make up yang super pucat. Heran, ngga biasanya Dinda seperti ini, apalagi diam seribu bahasa kayak gitu. Orang super konyol dan biang ribut di kelas hanya diam dan menunduk.

Gw dan sebagian anak-anak sudah di foto, dan kami yang sudah selesai siap-siap membersihkan make up yang menempel diwajah kami. Setelah hampir 45 menit melakukan pemotretan, urutan sudah sampai di huruf “D”.

“Deny, habis ini giliran lo!! Siap-siap sono di tempat, biar fotografernya langsung ke sana..”. lagi lagi terdengar teriak Gugun sebagai pengingat.

“Dinda!! Lo siap-siapa juga, ya. Awas, injek kuburan pake permisi. Lo milih tempat foto kok jauh amat sih, Din..” teriak Gugun lagi.

Pada saat temen gue, Fadil, melakukan pemotretannya, gue kehilangan sosok Dinda yang sehabis pemotretan sudah tak terlihat batang hidungnya.

Baru juga pemotretan sampai di huruf “S” dan sebagian anak-anak masih menghapus dandanannya, tiba-tiba kami semua dikejutkan oleh suara teriakan Gugun.

“Anak-anak!! Semuanya kesini buruan. Anjingggg.. Shock gue!”

“Kenapa, Gun, kenapa?”

“Baca SMS ini dari Astri anak IPA 1”

Jleb, semuanya kaget ketika membaca SMS itu. Isinya ..


“Gun, lo sekarang dimana? Masih di Tanah Kusir? Dari tadi lo gue telpon ga diangkat-angkat. Buruan ke Fatmawati. Dinda udah ngga ada, Gun. Tadi waktu mau ke lokasi, motornya ditabrak truk dari arah berlawanan. Waktu dilarikan ke RS nyawanya ga tertolong..”

Semuanya kaget, semua saling bertatapan.

“Jadi, tadi yang foto itu siapa? Itu, kan, Dinda!” kata gue yang mendadak keringat dingin.

Semuanya keringat dingin, semuanya pucat. Ngga ada satu pun yang sanggup berbicara. Semuanya lemas. Pemotretan kali itu pun harus disudahi dan dilanjuti ke-esokan harinya.

Semuanya bergegas menuju RS untuk membuktikan isi SMS Astri. Rasa tak percaya masih hinggap di diri kami masing. Begitu sampai di parkiran, semua keluarga Dinda masuk menuju UGD. Dan semuanya tampak menangis.

Betapa kagetnya kami, ketika kami masuk ke UGD, kami melihat tubuh Dinda sudah kaku penuh darah. Baju yang digunakan sama persis sama Dinda yang kami temui tadi di TPU.

Keesokan harinya, setelah adzan Dzuhur, jenazah Dinda siap-siap di makamkan. Betapa kagetnya lagi kami, ketika kami mengetahui kuburan Dinda persis ditanah kosong yang Dinda tunjuk kemarin sore.

Setelah pemakaman, kami memutuskan untuk memindahkan lokasi pemetrotan BTS di lingkungan sekolah.

Akhirnya semua anak-anak selesai melakukan pemotretannya. Kami pun melihat hasilnya satu-per-satu. Betapa terkejutnya kami. Setelah kami melihat fotonya Deny, kami tak menemukan 1 pun fotonya Dinda. Setelah Deny, hanya ada foto tanah kosong yang seharusnya itu adalah foto Dinda.

END..

image

Ini foto BTS saya dan teman-teman ketika SMA kemarin. Hehehe.. Cerita diatas beneran atau tidak? Adaaaaa deh, rahasia :p

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

14 comments

  1. ini seriusan apa cuma fiksi?
    btw itu fotonya yang paling bawah kok ada rhoma irama kw>
    :))

    *kabur ke pamekasan

  2. Adiiiiiiiitt.. Hanjrrri****
    Malem-malem gini cerita gitu mana dipasangin poto lagi.
    Udah ah. Tutup halaman ini habis komen.
    *lah trus mau ngapain lagi?*
    Huahahahaha

  3. Ini cerita serem ya?
    *skip baca*

  4. Gw dapet banget titik serem dan sedihnya pas tau kalo dinda ternyata kecelakaan 🙁

    Btw, kok gw merinding ye..

  5. dari awal sebenarnya sdh ketahuan mau cerita horor nih.. kirain beneran juga.. .. semoga tidak deh.. sedih banget pasti..

  6. terlepas ini beneran atau ngga, jujur gw merinding!!!! hah!

  7. kisah nyata ato fiksi nih mas Adi?

  8. uwoooow…. paling keinginan Dinda utk difoto buat buku tahunan terlaksana. Salam buat Dinda ya!

  9. Pas lagi malam-malam, sendirian pula dirumah, didepan komputer, baca tulisanmu Dit seremmmm ahhh :(.. btw km yg mana ya di foto diatas?.

  10. Kisahnya unik juga mas.. Saya sering menemukan kisah unik di pembuatan buku tahunan. Kisah unik tersebut bisa jadi kenangan para siswa nantinya.

  11. terlepas ceritamu ini fiksi atau nyata,kamu sukses bikin gue bergidik baca tulisan ini 😀
    BTW,gue jadi dapat ide bikin kisah horror nyata yang pernah menimpa gue 😀

  12. Duhhh sedih membaca ini Dittt. Salam buat Dinda ya, semoga damai di sana 🙁

  13. Rada-rada horror ya ceritanya mas.. :/

Tinggalkan Balasan