Mirip Gejala Demam Berdarah Tapi Bukan DBD

Pusing di Sabtu siang itu sungguh tidak mengenakkan. Tidak tahu kenapa kepala mendadak pusing hebat dan tubuh mendadak loyo setelah mampir sebentar ke Brightspot Market 2016. Beruntung ada Nadya, teman dari kanal Lifestyle, yang bisa dimintai tolong memijat kepala saya supaya pusing yang terasa di bagian belakang kepala mereda.

Saya ingat banget di acara ini saya ketemu kak Eno, Dwika Putra, dan Rahne Putri. Masih baik-baik saja. Eh, pas naik lift mau ke kantor, pusing, dong!
Saya ingat banget di acara ini saya ketemu kak Eno, Dwika Putra, dan Rahne Putri. Masih baik-baik saja. Eh, pas naik lift mau ke kantor, pusing, dong!

Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Tahu-tahu begitu sadar, saya sudah di dalam mobil kantor, dibawa pulang ke rumah yang ternyata sia-sia. Saya segera dilarikan ke IGD Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, Ciputat, untuk mendapat pertolongan medis.

Dokter mengatakan saya harus dirawat. Dari hasil pengambilan darah, pengecekkan tensi, dan melihat kadar cairan di dalam tubuh, kemungkinan mengarah ke demam berdarah dengue (DBD).

Sekalinya dirawat di Rumah Sakit malah bingung sakitnya apaan. DBD, bukan, DBD, bukan, DBD? Penyakit saja bingung apalagi jodoh
Sekalinya dirawat di Rumah Sakit malah bingung sakitnya apaan. DBD, bukan, DBD, bukan, DBD? Penyakit saja bingung apalagi jodoh

Saya baru benar-benar bisa melek setelah cairan infus pertama habis. Satu atau dua jam setelah dilarikan ke IGD rumah sakit langganan papa dan adik saya. Saya menyebut “langganan” karena memang yang paling sering dirawat di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah adalah papa atau adik. Terakhir kali papa masuk rumah sakit karena ternyata terjadi penyumbatan batu empedu di akhir bulan tahun 2015.

DBD atau Bukan?

Dokter IGD berani mendiagnosa saya terkena DBD setelah melihat trombosit saya yang anjlok di angka 120.000, tensi di 80/60, Hb yang juga drop, dan jumlah cairan di dalam tubuh yang ternyata terbilang sangat sedikit. Padahal sehari-hari sudah mirip sapi gelonggongan.

Namun dokter tidak bisa memvonis seorang pasien terkena DBD hanya dari hasil laboratorium saja. Tentu ada faktor-faktor lain yang harus dilihat. Hanya saja ciri-ciri orang kena DBD seperti mengalami demam dengan suhu tinggi mencapai 40 derajat celcius, menggigil, sakit pinggang, rasa nyeri pada kaki dan sendi, dan ruam kemerahan pada kulit, tidak saya rasakan.

Dua infus pertama trombosit belum naik juga meski tekanan darah terbilang normal. Diagnosa awal demam berdarah dengue (DBD) tapi sesudahnya malah bingung
Dua infus pertama trombosit belum naik juga meski tekanan darah terbilang normal. Diagnosa awal demam berdarah dengue (DBD) tapi sesudahnya malah bingung

Perawat sendiri yang menyatakan bahwa suhu saya normal banget. Menggigil juga tidak. Bahkan yang kata orang demam tinggi di malam hari lalu mereda di pagi hari kemudian demam lagi di malam hari tidak pernah saya alami.

Kecuali ciri-ciri orang yang kena demam berdarah seperti sakit kepala parah dan nyeri di belakang bola mata. Itu juga akibat tekanan darah saya yang rendah. Sakit kepala itu mereda setelah infus kedua habis dan dokter mengecek tekanan darah saya yang perlahan naik.

Perawat di Rumah Sakit ini lucu. Karena adik sama papa sering dirawat, saya sering ke sini juga, mereka jadi memanggil saya
Perawat di Rumah Sakit ini lucu. Karena adik sama papa sering dirawat, saya sering ke sini juga, mereka jadi memanggil saya “Abang” seperti panggilan orang rumah

Bahkan untuk memastikan bahwa saya tidak terkena DBD, perawat pria sampai mengeluarkan pertanyaan yang bikin papa saya geli karena kesalahpahaman yang biasa terjadi pada saya.

“Menstruasinya lancar?,” tanya perawat pria tersebut. Mendengar pertanyaan itu, sambil tersenyum kecut, papa menjawab,”Wah, untungnya anak ini masih rutin Jumatan, mas. Gimana tuh kira-kira?.”

Orang kena DBD kok kayak begini?

Setiap pagi, selama lima hari di rumah sakit, dokter secara rutin mengambil darah dari pembuluh vena tangan sebelah kiri. Perawat juga tak pernah absen mengecek tekanan darah. Sementara kantong infus harus diganti terus setiap enam atau delapan jam sekali.

Di hari kedua sudah mulai kebakaran jenggot lantaran trombosit saya berada di angka 75.000 dengan tekanan darah yang naik hanya sedikit. Yang dokter takutkan kalau saya benar-benar positif DBD tapi dokter sendiri bingung karena melihat dari gelagat saya tidak mungkin terkena penyakit yang biasa disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Gelagat yang seperti apa? Begini, rata-rata orang yang positif DBD tidak memiliki nafsu makan, badan lemas banget, dan berdiri saja rasanya sudah tidak kuat. Sementara saya tidak mengalami semua itu.

Dokter Denny cuma bilang andai semua pasien yang sakit mau makan kayak saya, bisa meringankan kerja dokter. Tapi dokternya masih bingung dan penasaran, saya DBD atau apa?
Dokter Denny cuma bilang andai semua pasien yang sakit mau makan kayak saya, bisa meringankan kerja dokter. Tapi dokternya masih bingung dan penasaran, saya DBD atau apa?

Semua makanan yang diberikan pihak rumah sakit saya habiskan. Mau camilan pagi, siang, dan sore, saya lahap tanpa sisa. Makanan rumah sakit yang kata orang-orang tidak enak, habis-habis saja, tuh! Mungkin karena makanan itu mirip sama makanan-makanan katering sehat zaman sekarang kali, jadi lidah dan lambung saya menerima dengan senang hati.

Saya sebagai pasien yang baik harus menuruti semua saran dari dokter. Dokter bilang makan saja semua makanan yang ada karena membantu menaikkan trombosit dan lain sebagainya. Jangan takut gemuk. Lupakan sementara waktu diet-dietan. “OKE, Dok!,” jawab saya.

Makanan kayak begini mana mungkin tidak habis. Kayak katering sehat yang biasa saya cicipin kok. Wajar dong kalau saya lahap?
Makanan kayak begini mana mungkin tidak habis. Kayak katering sehat yang biasa saya cicipin kok. Wajar dong kalau saya lahap?

Waktu itu teman-teman dari Edelman datang menjenguk dengan membawa dua bungkus nasi Padang ditambah ayam lima atau enam ayam pop, entah berapa potong rendang, lengkap dengan sayur dan sambal hijau. Semua ludes saya makan.

Pernah beberapa kali saking suntuknya di kamar melulu, saya keluar dari kamar, berjalan ke bagian tempat suster jaga lagi pada nongkrong, ngobrol sebentar, baru balik lagi ke kamar. Satu suster mengikuti dari belakang karena tahu bakal saya panggil untuk memperbaiki letak jarum infus yang bergeser lantaran saya bergerak.

Terbukti, di hari-hari berikutnya trombosit perlahan naik, tekanan juga mulai stabil, Hb ikutan naik, dan mengarah kesembuhan.

Mama menandatangi surat persetujuan pengambilan darah tepi untuk memastikan apakah saya positif DBD atau tidak?
Mama menandatangi surat persetujuan pengambilan darah tepi untuk memastikan apakah saya positif DBD atau tidak?

“Jadi, saya sakit apa, Dok?,” tanya saya pada Dr Denny. Dia adalah dokter spesialis penyakit dalam yang sedari awal mengecek kesehatan saya.

“Dengan kejadian seperti kemarin, seharusnya demam berdarah. Tapi kayaknya tidak mungkin kamu kena DBD,” jawab Dr Denny.

“Lho, kalau dokter saja tidak tahu harus mendiagnosa apa, apalagi saya?,”

“Soalnya, kamu ini suhunya selalu normal (dari hasil pengecekkan setiap pagi, siang, dan sore), tekanan darah juga selalu stabil meski tidak signifikan, dan yang saya aneh, dari semua pasien di lantai 2 ini, cuma piring makan kamu yang kata perawat di sini selalu habis. Mana ada orang sakit makannya lahap kayak kamu,” kata Dr Denny lagi.

Yang bilang orang sakit nggak nafsu makan itu salah. Buktinya menu sebanyak ini ludes. Mana tahan melihat makanan ini
Yang bilang orang sakit nggak nafsu makan itu salah. Buktinya menu sebanyak ini ludes. Mana tahan melihat makanan ini

Kebetulan mama sedang menjaga saya sewaktu percakapan itu terjadi. Dokter Denny mengambil langkah pengecekkan darah tepi. Guna pengecekkan darah tepi untuk melihat sel-sel yang bisa dijadikan acuan apakah saya positif kena DBD atau justru penyakit yang lain. Ternyata hasilnya negatif. Semua sel dari pemeriksaan darah tepi tidak memperlihatkan bahwa saya pantas disebut pasien DBD.

Pertolongan pada orang-orang yang kena DBD

Pemeriksaan darah terakhir memperlihatkan hasil yang sangat bagus. Trombosit tembus 16.000, tekanan darah 110/90, Hb juga demikian, dan cairan di tubuh dikatakan sangat bagus. Dokter akhirnya mempersilakan saya untuk pulang ke rumah. Namun harus kontrol di hari ke-7 sesudah malam itu.

Dulu saya takut banget yang namanya disuntik. Karena selama dirawat harus disuntik, sudah pasrah saja begitu waktu dokter pagi-pagi datang untuk menyuntik.
Dulu saya takut banget yang namanya disuntik. Karena selama dirawat harus disuntik, sudah pasrah saja begitu waktu dokter pagi-pagi datang untuk menyuntik.

Menaikkan trombosit pada pasien demam berdarah dengue (DBD) ternyata cukup “melelahkan” dan bikin eneg. Mama langsung mencekokin saya dengan makanan-makanan penambah trombosit supaya trombosit cepat naik dan saya cepat pulang. Mahal, bo, biaya rumah sakit.

Selama ini yang saya tahu kalau ada orang kena DBD pasti dikasih jambu merah. Mau dimakan dalam bentuk buah asli atau sudah dijadikan jus. Karena sistem kekebalan tubuh melemah selama trombosit drop sehingga sulit melawan penyakit yang menyerang tubuh, jambu biji merah yang kaya vitamin C dapat membantu pasien DBD mempertahankan daya tahan tubuhnya.

Kemarin, selain banyak minum air putih dan minum jus jambu merah, mama memberikan saya Angkak. Angkak ini berupa campuran madu dan sari kurma. Dari sejumlah jurnal kesehatan yang pernah saya baca, Angkak ini tepat diberikan ke orang-orang yang terkena demam berdarah karena membantu sekali menaikkan trombosit.

Dengan kata lain Angkak dapat digunakan sebagai obat demam berdarah. Selain menaikkan trombosit pasien DBD, Angkak juga dipercaya dapat menurunkan kolesterol.

Jadi, setiap dua jam selama empat hari yang tersisa, saya harus minum dua sendok Angkak. Tanpa bantuan mama atau siapa saja karena saya tidak mengizinkan orang rumah menunggu saya di rumah sakit. Lumayan capai juga setiap dua jam sekali harus bangun untuk minum dua sendok Angkak dan minum air putih. Belum lagi harus terbangun karena kebelit pipis.

Tapi Angkak ini memang ampuh banget. Stamina saya semakin oke dan trombosit naik dengan cepat. Sayang selama pemulihan belum minum Angkak. Sekadar madu dan sari kurma biasa. Barangkali ada yang mau membelikan saya Angkak, saya tentu berterimakasih sekali.

Hore sudah boleh pulang. Meski masih bertanya-tanya, jadi kalau bukan demam berdarah atau DBD, saya sakit apa?
Hore sudah boleh pulang. Meski masih bertanya-tanya, jadi kalau bukan demam berdarah atau DBD, saya sakit apa?

Kalian jangan terlalu capai. Lagi musim demam berdarah dengue (DBD) soalnya. Diet boleh saja tapi jangan sampai bikin kalian drop. Biaya rumah sakit sekarang mahal. Mending duitnya disimpan buat keperluan yang lain saja.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

20 comments

  1. Kak Adit, get well soon ya! Semoga recoverynya cepat dan pulih kembali. Kalau aku pas dirawat kena DB beberapa tahun lalu, disuruh minum madu kurma kak. Hope it helps ya

    1. Yes, terimakasih Put. Ini lagi eneg-enegnya minum madu kurma

  2. Cepet sehat bugar kembali ka.

    Wah Bapak bisa juga njawabnya :))

    1. Terimakasih, kak. Hahaha… Bokap gitu, lho!

  3. itu kenapa di setiap dito kelar olahraga, aku selalu bisa jangan lupa makan… mungkin badannya protes karena asupan yang masuk tidak sesuai keinginan badan (((BADANNYA PROTES)))

    get well soon yaaa :*

    1. Iya, mbak Nunik. Sama badan sendiri saja kurang peka apalagi sama pasangan. Hahaha 😆

      Terimakasih banyak, Mbak.. Ke depan agak lebih peka aja akunya. Karena ternyata asupan segitu saja tidak cukup untuk badanku yang bongsor

  4. sekarang udah sehat kan Dit ? Jangan diet dulu yaaah

    1. Insha Allah menuju sehat 100 persen, bang. Siappppp! Dietnya nanti-nati saja

  5. Kok bisa sih salah sangka disangka cewe? (menstruasi)? Emang ada ciri-ciri sampai bisa disalahsangkain? Wkwkwkwk..

    1. Buahaha… Buanyak, Mbak 😆

  6. Kamu mungkin kelaianan yaaa jadi dokter nya galau mau vonis apaan hehehe
    Semoga mestruasi tetep lancar dan jumatan juga lancar 🙂

    1. Kak, masa aku dibilang kelainan. Jehong kamu, kak! *buang muka*

  7. Adit cepat pulih ya Dit, supaya bisa beraktivitas lagi.

    1. Sudah lebih mendingan, kak. Terimakasih banyak. Kak Ani juga jangan capek-capek

  8. Kasihan kamu Dit.
    Jaga kesehatan yang benar, jangan kebanyakan begadang juga. Makan aja sampai dua bungkus sendirian gitu, kan kelihatan kalau kerja jarang makan enak… LOL.

    Semoga sekarang sudah pulih ya.

    1. Sudah, dong. Maka itu aku pengin ketemu kakak :p

  9. Itu elo dit. Y ampn. Gws ya

Tinggalkan Balasan