Mimpi yang Tak ‘Kan Pernah Terwujud

Tempo hari saya berkunjung ke kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menpora), yang terletak di sekitaran Senayan untuk mewawancarai para anggota paskibraka, yang akan bertugas di Istana Negara hari ini. Sayang, hari itu mereka tidak dapat ditemui, karena sedang berlatih di Cibubur, dan tidak dapat diganggu.

Di sepanjang perjalan pulang, tiba-tiba saja saya teringat tentangย  apa yang pernah saya impikan dulu, yaitu menjadi anggota paskibra/paskibraka. Sayang, sampai hari ini, cita-cita itu tidak pernah menjadi kenyataan.

Keren, ‘kan (sumber: Paski’s blogspot)

Sedari kecil, saya (Insya Allah) tidak pernah absen untuk menonton upacara kemerdekaan di Istana Negara melalui saluran televisi. Tiap kali melihat para anggota paskibraka memasuki lapangan, saya selalu kagum melihat aksi mereka. Ketika mereka beraksi, saya selalu bilang ke mama atau papa, “Keren ya, mereka. Kalau Adit yang seperti itu, mama papa senang, nggak?”. Mendengar pertanyaan saya itu, mama hanya menjawab, “Senang senang saja. Tapi, apa iya, abang bisa seperti mereka? Mereka badannya bagus, tegap. Sedangkan apa, gendut, pendek pula.”

Saya sempat bilang ke mama, “Ish, mama ini. Malah ngejatuhin anaknya,”. Tapi ya, kalau saya ingat-ingat itu sekarang, saya hanya bisa tertawa. Karena memang, apa yang mama katakan itu tidak ada yang salah. Saya dulu pendek, gendut, hitam, bagaimana mau jadi anggota paskibra? Disuruh olahraga pun, saya nggak pernah mau. Sampai di SMA, saya pernah iseng mendaftar jadi anggota paskibra sekolah. Tapi, apa yang terjadi? Itu gagal sama sekali. Belum apa-apa, saya sudah ditolak.

Gendut

Lihat deh, foto di atas. Bagaimana mau menjadi anggota paskibraka, kalau sampai kuliah tingkat 3 masih buntal begitu? Hahaha ๐Ÿ˜€

Dari cara mereka berbaris, jalan, bawa baki, geret bendera, nurunin bendera, semuanya saya rasa keren. Apalagi, waktu salah seorang pembawa baki menerima dan menyerahkan bendera merah putih ke Presiden RI, itu saya merasakan ada keangkuhan yang terpancar dari mereka. Tapi, angkuhnya itu elegan. Mereka sah-sah saja angkuh. Karena memang, tidak semua orang bisa begitu.

Apalagi nih, ketika mereka berkumpul bersama saudara atau teman-teman sebaya, atau teman-teman kedua orangtuanya. Ya Tuhan, pasti bangga banget deh orangtuanya memamerkan anaknya yang telah berhasil menjadi salah satu anggota paskibraka di Istana Negara.

Meskipun sekarang saya rutin berolahraga, dan mengubah pola hidup menjadi lebih baik, ditambah tinggi saya yang menambah 14 cm, saya rasa tidak akan mewujudkan mimpi saya menjadi anggota paskibraka. Saya jadi mikir, bagaimana kalau paskibraka sesekali jangan melulu anak sekolahan yang diseleksi. Pekerja kantoran gitu, yang diseleksi. Ya, siapa tahu, keberuntungan buat saya masih ada. Kalau pun misalnya itu ada, dan saya tetap tidak terpilih, berarti memang itu belum rezeki saya (sampai kapan pun). Jika keterima, alhamdulillah ! Tapi kalau dilihat dari ukuran, ukuran tinggi saya offsite!

Saya lantas berpikir, apa baiknya mimpi saya ini, saya tularkan ke anak kelak? Jadi, anak saya nanti yang akan saya gembleng untuk belajar sungguh-sungguh, berprestasi, rajin olahraga, tidak obesitas, dan nggak malas untuk makan sayuran dan buah-buahan. Sewaktu memilih ekstrakulikuler, saya memintanya untuk mengambil paskibra sekolah. Sewaktu-waktu ada seleksi untuk paskibraka kelurahan, kecamatan, DKI, dan Nasional, anak saya bisa keterima.

Tapi ya, saya juga nggak mau memaksa banget. Katanya kan, nggak baik memaksakan apa yang orangtua inginkan tapi tak tercapai ke anak-anaknya. Takutnya, itu jadi beban buat mereka.

Mbuhlah… Yang terpenting sekarang, saya tidak pernah bosan menyaksikan upacara bendera di Istana Negara hanya untuk melihat adik-adik anggota paskibraka beraksi.

Oia, selamat Hari Ulang Tahun yang ke-68 bangsaku, Indonesia! Kamu sama seperti aku, masih banyak kekurangan. Tapi, aku tetap banggamu! Harapanku, semoga ke depannya kamu semakin jaya selalu. Dan aku berharap, semoga anak bangsa ini cepat MERDEKA dari asap rokok, ya ๐Ÿ™‚

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

7 comments

  1. Jadi, apa mimpimu yang kira-kiranya tidak akan pernah terwujud?

  2. Semua mimpiku kliatannya masih mungkin terwujud kok, cuman masih belum tahu kapan ๐Ÿ˜€

    Merdeka kang,
    Diet dan olahraga biar sixpax tubuhnya… ๐Ÿ˜€

  3. heheh sabar ya gan ,

  4. Menjadi paskibra sepertinya jadi impian banyak remaja ya, seperti aku juga dulu. Tapi aku memang pendek, jadi gak memenuhi syarat. Terima nasib sajalah.

  5. Ini merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, beliau melibatkan putra daerah yang ada di jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas Pengibaran Bendera Pusaka.

  6. Hihihihi … ngakak waktu mama nya bilang “gendut dll” tega banget tuch hahaha #kaburrrrr

  7. Ketika SMA, saya terpilih menjadi anggota paskibra sekolah. Entah apa pertimbangan senior-senior saya itu. Bagi saya, saya tidak cukup berpenampilan menarik, postur tubuh saya juga cenderung mungil (baca: pendek). Tapi saya dipilih jadi anggota paskibra dan orang tua mendesak untuk ikut terlibat, pasrah saja. Bukan bangga yang saya rasakan saat itu, namun keterpaksaan. Gelora cinta Indonesia, tidak terlampau mengalir dalam darah saat saya derapkan langkah menuju tiang bendera. Hingga saya ditunjuk untuk ikut seleksi calon pasukan pengibar bendera pusaka di Istana Negara, saya menolak ikut. Padahal, konon, menjadi anggota paskibraka adalah cita-cita anggota paskibra sekolah. Tapi saya tidak, Cape. Saya tidak malu jadi putra Indonesia, tapi tidak juga bangga, kala itu.

Tinggalkan Balasan