Mimpi Itu Masih Terus Ada

Penghujung Januari dan awal Februari kemarin merupakan waktu terberat bagi saya untuk memantapkan hati; kali ini saya siap. Kali ini harus jadi. Kalau nggak jadi karena saya tidak siap, mau kapan siapnya?

Bahkan, untuk meyakinkan perasaan ini, seorang teman dekat saya ganggu jadwal tidur malamnya untuk berbagi kondisi ini. Dengan harapan, semangat yang dia berikan mampu meyakinkan untuk saya melangkah pasti tanpa memperdulikan apa yang pernah terjadi tahun kemarin.

Sebagai modus untuk mendengarkan suaranya, sebelum berjauhan selama beberapa hari.

“In Sha Allah kali ini beneran berangkat. Nggak bakal kejadian lagi peristiwa tempo hari. Sudah, kalau kamu nggak yakin, ntar kesempatan itu ditarik lagi lho sama Tuhan,” kata dia.

Sampai pada Jumat (6/2/2015) dini hari, saya tidak lagi meneleponnya, hanya mengirimkan pesan singkat yang dia balas dengan emoticon 🙂 .

“Aku siap! Doakan aku..”

Matahari mulai terlihat di Qatar sekitar pukul 06:30 pagi.

Suhu di Qatar, Doha, sewaktu tiba di Hamad International Airport sekitar 19 derajat Celcius. Udara dingin ditambah air yang nggak kalah dinginnya saat berwudhu, membuat tubuh yang masih dipenuhi lemak dengan kadar yang cukup banyak menggigil kedinginan. Alhasil jaket dan perintilan yang sekiranya mampu memberikan kehangatan menutupi tubuh bongsor ini.

Matahari memang belum muncul, tapi aktivitas di bandar udara yang dulu dikenal dengan Bandara Internasional New Doha (NDIA) cukup padat. Namun kepadatan yang terjadi sangat membantu saya menghilangkan jetlag. Pagi itu, banyak pemandangan ‘memukau’ yang benar-benar memanjakan mata ini.

Berhubung selama di udara mata ini tidak dapat dipejamkan, begitu tiba di Qatar, maunya cepat-cepat tukar pesawat agar bisa tidur walaupun sebentar.

Selain posisi kursi yang sudah ditukar berkali-kali oleh rombongan yang merasa kurang nyaman kalau tidak bersebelahan dengan keluarganya, plus pilihan film bagus yang cukup banyak, faktor lain yang membuat saya sulit melakukan itu karena terlalu dalam memikirkan segala omongan orang tentang kondisi yang akan terjadi saat kita umrah.

Misalnya seperti ini;

“Coba dipikir-pikir, selama hidup pernah melakukan hal apa yang sekiranya bakal `dibalas` di sana?.”

“Katanya, ya, kalau di sini kita suka jahilin orang, di sana bakal dijahilin balik sama orang Arab. Ih, orang Arab, ‘kan gede-gede. Nggak kebayang kalau dijahilin sama mereka.”

“Elo pernah bikin ibu elo nangis? Semoga enggak, ya. Soalnya, kalau sampai itu terjadi, elo bakal dibikin nangis sejadi-jadinya di sana. Serem, geila!.”

atau yang paling epic, yang paling bikin saya sulit melupakan omongan itu adalah “DI SANA JUGA BANYAK KASUS PERKOSAAN YANG MENIMPA PRIA DAN DILAKUKAN OLEH PRIA JUGA.”. Mampus nggak lo?

Padahal, selama teleponan itu si teman berapa kali menasehati supaya saya jangan diambil pusing dengan perkataan itu. Kalau pergi karena niat ibadah, In Sha Allah semua yang ditakutkan itu tidak akan terjadi sama sekali.

Madinah dari atas

Meski perjalanan umrah pertama ini tanpa ditemani papa, mama, dan adik, tapi terasa spesial karena dilakukan menjelang pergantian umur memasuki usia yang lebih matang.

Hari demi hari saya lalui dengan penuh suka cita di kota Madinah, kota yang bersuhu 20 derajat Celcius kala itu dan minim sekali pepohonan.

Selama tiga hari di Madinah, ibadah yang dilakukan sama seperti yang dilakukan di sini. Bedanya, lebih on-time, lebih banyak ibadah sunnah, dan sejumlah lainnya yang dapat dilakukan. Termasuk perjalanan singkat mengunjungi beberapa tempat bersejarah di sana.

Memasuki hari ke-4, di saat hati dan perasaan ini mulai nyaman berada di Madinah, mau tak mau saya dan rombongan harus `angkat kaki` dan bergegas menuju Makkah Al-Mukarramah untuk melaksanakan ibadah umrah.

Mekkah tak berbeda jauh dari Madinah. Minim pohon, kota yang padat, macet, dan bersuhu cukup tinggi padahal matahari sendiri cukup terik.

Hari Terakhir di Madinah

Setelah menempuh perjalanan selama enam jam berbalutkan ikhram dengan penuh kewanti-wantian, dilanjutkan dengan Tawaf, sa’i, dan pemotongan beberapa helai rambut, maka ibadah umrah selesai dilakukan.

“Selamat, Abang sudah jadi Haji kecil!,” jawab mama singkat setelah diberi kabar kalau umrah berjalan lancar. Alhamdulillah!

“Cie, botak! Berarti sudah sah. Pulang-pulang jangan berhijab, nanti aku pangling,” jawab si teman.

Laudya Chintya Bella kali, ah!

Tentunya, selama di sana banyak hikmah dan pelajaran yang dapat saya petik;

1. Berbagi itu tak harus yang besar

Di kehidupan sehari-hari, ketika kita akan berbagi apa saja dengan orang lain, hal pertama yang selalu kita pikirkan adalah tentang ukuran atau jumlah.

Misalnya, mau ngasih roti ke teman saja, kayaknya kurang afdol kalau hanya sepotek, lebih enak kalau seporsi. Karena pikiran semacam ini, tidak jarang niatan untuk berbagi berujung pada entar-aja-deh-kalau-beli-lagi-si-anu-dibeliin.

Di sana, nggak ada tuh istilahnya nggak enak kalau ngasih hanya sepotek. Kalau adanya segitu, mau gimana lagi? Yang penting `kan kebersamaan.

Si A merasakan kenikmatan makanan yang dimilikinya, kalau bisa si B sampai si Z harus merasakan kenikmatan makanan itu juga, walau tak jarang baru sampai di si E makanan itu sudah habis.

2. Sama

Apa pun jabatan kamu, ketika berada di sana jabatan itu tak akan ada artinya. Semuanya sama.

Elo akan nangis mewek ketika berada di Ka’bah, elo juga akan dorong-dorongan untuk dapat mencium Hajar Aswad, bahkan elo yang jabatannya bos sekali pun bisa jadi terlihat `kampungan` ketika akan memegang Ka’bah.

Asli, pertama kali lihat Ka’bah, saya seperti–maaf–orang desa yang nggak pernah ke kota, sekalinya ke Jakarta ngelihat Monas yang menjulang tinggi. Kalau nggak nangis, bohong. Udah ditahan untuk nggak nangis, ujung-ujungnya pipi akan basah.

Termasuk dalam hal berbagi, kamu yang jabatannya bos sekali pun, bisa saja ketika di sana akan mendapatkan kurma atau apa saja dari seseorang yang mungkin jabatannya di pekerjaan jauh di bawah kamu.

3. Ibadah nomor 1, pekerjaan nomor sekian!

Shock pertama kali lihat ada toko dari ujung ke ujung tutup ketika adzan akan berkumandang.

Apalagi saat melihat langsung seorang pemilik restoran makanan cepat saji menutup tokonya di saat adzan akan berkumandang, padahal pembeli lagi ramai-ramainya.

Saya jadi ingat perkataan ini, ‘Mau sampai kapan kita terus berkata sholat, sebentar, ya, pekerjaan ini sedikit lagi kelar? Coba, deh, segera diganti jadi pekerjaan, maaf, Adzan sudah berkumandang, saya harus sholat dulu. Toh, sholat tidak akan mengurangi rezekimu dan menghambat pekerjaanmu, justru yang akan terjadi sebaliknya.

4. Saling mengingati

Beberapa kali saya melihat ada orang yang menasehati atau mengingatkan tentang satu hal ke orang lain yang dia lakukan itu salah. Dan orang yang dinasehati atau diingatkan itu tidak marah sama sekali, dan mau menerima masukan dari orang lain.

Nggak tahu deh, ya, apakah dalam hatinya dia ngedumel `yaelah, kayak situ udah benar aja!`. Allahuwa’alam.

Misalnya waktu di Masjid Nabawi ada seorang pria Arab menegur pria asal Singapura yang berada persis di depannya, yang baru saja selesai melaksanakan sholat sunnah Tahyatul Masjid.

Menurut si Arab, posisi telapak kaki kanan si pria Singapura saat duduk dua sujud adalah salah. Kala itu posisinya tertidur, di mana kata si Arab posisi yang benar adalah tegak, karena sesuai ajaran Rasullah.

Meski kedua-duanya butuh usaha untuk dapat menjelaskan dan memahaminya karena perbedaan bahasa.

(Saya tahu arti obrolan itu dari seorang teman yang mengerti bahasa Arab)

5. Bersyukurlah yang meninggal dunia di sana

Usai sholat wajib, baik di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram, akan ada seruan atau ajakan untuk melaksanakan sholat janazah.

Subhanallah. Bayangin, deh, yang ikut sholat jenazah barangkali lebih dari 1.000 orang. Bukannya itu mimpi kita, ketika meninggal dunia banyak yang menyolatkan dan mendoakan agar diterima dan dilapangkan kuburnya?

Norak. Bisa-bisanya saya iri dengan jenazah yang disholatkan itu. Lah, kita nggak tahu bagaimana riwayatnya dia di semasa hidupnya, tapi kita mau ikut menyolatkannya.

Ya Allah, semoga ketika saya meninggal dunia kelak, banyak orang yang mendoakan saya, menyolatkan saya, dan ikut menguburkan saya sambil mengumandangkan takbir kepada-Mu. Aminnn!

6. Berpikir positif, maka akan baik-baik saja

Saya ini parnoan, jadi kepikiran terus saat diberitahu mengenai hal-hal yang (katanya) umum terjadi saat kita berada di Tanah Suci.

“Jangan ngomong dan berpikir yang macam-macam, nanti kejadian, lho!”

“nanti di sana gini-gini, lho! Hati-hati aja!”

“Baek-baek, nyasar baru tahu rasa!”

Syukur alhamdulillah semua itu tidak terjadi. Beneran! In Sha Allah, kalau kita berpikir yang baik-baik, ketakutan semacam itu akan menjauh sendirinya.

Misalnya saja ada yang takut diinjak ketika sholat di Izril Ismail, dan memilih ketika sepi saja. Saya yakin saya bisa dan akan baik-baik saja, alhamdulillah itu terjadi. Ketika sholat, ada jamaah dari negara lain yang `menjaga` saya, sehingga orang lain tidak sembarangan melangkah.

Begitu sebaliknya. Ketika yang lain sholat, lakukanlah hal yang sama.

Intinya, kalau ketakutan seperti ini menjadi penghambat bagi kamu yang ingin melaksanakan Ibadah Umrah atau Haji, plis percaya, kalau semua akan baik-baik saja. Jangan jadikan ini penghalang bagi kamu.

Kalau kamu juga takut nyasar dan sulit berkomunikasi dengan orang Arab, tenang itu tidak akan terjadi selama kamu orang Indonesia.

Kalau di sini Bahasa Inggris begitu `didewakan`, di sana Bahasa Indonesialah yang mendapatkan posisi itu.

Kamu pasti bakal ketawa geli dengar orang Arab teriak menggunakan Bahasa Indonesia;

“Indonesia… Indonesia… Mari singgah! Halal.. Halal..”

“Kalau kamu nggak punya uang riyal, bisa bayar pakai Rupiah,”

“Wanita Indonesia cantik.. Cantik.. Cantik sekali.. Mari lihat-lihat. Masuk, sini,”

By the way, salah satu dari kalimat di atas akan saya jadikan postingan sendiri di blog ini :p

Puji syukur saya panjatkan kepada-Nya dan Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW. Atas seizin-Nya, atas rezeki yang diberikan-Nya, dan atas kepercayaan-Nya, saya dapat melaksanakan ibadah umrah pada tahun ini.

Dengan tekad yang bulat, kepercayaan diri bahwa tidak akan terjadi apa-apa, dan segala doa yang sudah saya siapkan untuk dipanjatkan di sana, membuat saya dengan tenang melangkahkan kaki di Madinah dan Mekkah.

Bermodalkan koper berukuran sedang, tas jinjing berukuran serupa, dan tas selempang, semua keperluan tanpa ada yang kurang secuil pun menjadi faktor kecil yang membuat seluruh rangkaian ibadah saya berjalan lancar.

Di setiap doa yang saya panjatkan, saya selalu berucap,

“Ya Allah, semoga kunjungan ini bukanlah yang pertama dan terakhir bagi saya. Semoga Engkau masih memberikan kesempatan yang sama kepada Hamba untuk kembali lagi ke sini bersama mama, papa, dan adik hamba. Atau mungkin bersama istri dan anak hamba kelak. Aminn..”

Mimpi ini masih akan terus ada. Dan saya yakin, mimpi itu akan diwujudkan lagi oleh-Nya

Ka’bah, saya akan kembali lagi

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

14 comments

  1. Perjalanan spiritual yang banyak didambakan orang nih, termasuk saya 🙂
    Alhamdulillah Adit sudah menjalankannya dan sudah kembali dengan selamat ke Tanah Air.
    Moment yang pas ya Adit, pergi di saat pergantian usia ke yang lebih matang.
    Semoga ibadahnya diridhoi Allah SWT. Dan hikmah yang dijabarkan di atas terus menempel selamanya, amin.

    1. Amiin Ya Allah, amiiinnn. Semoga Kak Ani pun bisa mewujudkan mimpinya itu. Atau kita bareng-bareng ke sana?

  2. Iya sih waktu aku umroh tahun 2006 juga setiap hari ada saja yang meninggal…

    Alhamdulillah lancar ibadanya ya Dit…

    1. Iya, kak, alhamdulillah banget

  3. Message*
    yay!
    Selamat haji kecil!

    1. Terimakasih, Cicih Lionda, tempatku curhat mengenai masalah tempo hari 😀

  4. Barakallah ya Dit, semoga saia bisa kesana juga kelak. Aamiiin

    1. In Sha Allah, kak. Jangan berhenti bermimpi, kelak itu akan terwujud

  5. Kalau udah sampe sana ya balik-balik harus lebih kuat iman dit, jangan gampang takut sama hal-hal mistis =))))

    1. Nggak kok, aku nggak takut. *sugestiin diri sendiri*

  6. Yaa ampun kak …kalo di perkosa pria arab gimana rasa nya yaaa ??? hua hua hua #MakjlebBanget

Tinggalkan Balasan