ditipu First Travel

Menunda Tak Selalu Buruk

Jam di gawai menunjukkan pukul 09:45 setibanya saya di Stasiun Manggarai. Niat melanjutkan perjalanan ke Rawamangun menggunakan moda transportasi yang sama dibatalkan begitu tahu Commuterline arah Bekasi baru tiba di stasiun itu sekitar pukul 10:00. Mana mungkin terkejar, diskusi kesehatan mengenai dampak asap terhadap paru-paru di Rumah Sakit Persahabatan dimulai pukul 10:30. Salah satu cara supaya sampai di sana lebih cepat menggunakan moda transportasi lain. Aha, Gojek!

Untuk kali pertama saya meminta si Abang melajukan motornya dengan sangat cepat. “Jangan kencang-kencang juga, bang. Sedang-sedang saja,” jawab saya ketika ditanya mau dibawa sekencang apa? Namun, perjalanan yang hampir sampai itu harus dibatalkan kala Redaktur Pelaksana memerintahkan balik ke kantor, menyerahkan passport, kartu keluarga, rekening koran, dan syarat lain guna memenuhi undangan produsen laptop ternama di Taiwan.

“Oke, Mbak.. Karena harus balik ke rumah dulu, mohon kasih waktu sampai sesudah sholat Jumat,” pinta saya mengingat perintah itu diberikan di jam-jam nanggung. Pas sampai rumah, pas adzan Jumat berkumandang.

Passport dan kartu keluarga aman. Tanpa cek ulang, saya masukkan dua dokumen penting itu ke dalam tas. Lepas sholat Jumat, saya bergegas ke kantor sambil berdoa agar semuanya lancar. “Bismillah. Semoga semuanya lancar. Ini bakal menjadi perjalanan jauh kedua di tahun ini. Terimakasih, ya Allah,” ucap saya dalam hati selama duduk di atas motor Gojek

Tapi …..

“Ini, Mbak. Tinggal rekening koran dan foto saja. Nanti saya foto di bawah,” kata saya dengan mimik sedikit cemas.

“Ya sudah,” jawab si Mbak Redpel.

“Mbak… Nganu… Mbak cek dulu deh passportnya. Sepertinya masa berlaku passportku sudah mau habis, deh,”

Iya. Di tengah perjalanan menuju kantor barulah teringat kalau masa berlaku passport saya sudah mau habis. Jauh-jauh bulan, bahkan sebelum saya Umrah, ibu sudah mengingatkan segera diperpanjang. Perintah beliau saya jawab,”Tar.. Sok.. Tar.. Sok.”. Beginilah kalau sukanya menunda sesuatu.

Kecewa? Pasti! Andai saja jadi, sekujur tubuh yang lelahnya minta diinjak-injak tak terasa sama sekali. Tapi mau bagaimana lagi?

“Jangan ngomong belum rezeki. Itu salahmu. Itu seharusnya menjadi rezekimu. Karena kebiasaan burukmu, ya tidak menjadi rezekimu. Jangan pernah juga ngomong soal takdir, kalau kegagalan itu karena ulahmu sendiri,” ceramah si Kawan saat saya menceritakan semuanya.

Njir, menohok banget!

Ilmu psikologi menyebut sifat buruk saya ini dengan Prokrastinasi. Perilaku manusia yang doyan menunda apa pun pekerjaan yang diberikan kepadanya. Masalah utamanya adalah manajemen waktu dan masalah penetapan prioritas.

Saya cenderung menunda pekerjaan kalau dirasa itu menyulitkan. Sulit, karena tempat perpanjang passport jauh dari rumah, dan memakan waktu yang tidak sebentar. Setidaknya dengan waktu selama itu dapat saya pergunakan menyelesaikan lima atau enam stok tulisan untuk hari itu. Maunya cuti, fokus untuk satu urusan saja. Tapi setelah dipikir lagi, sayang banget sisa cuti saya pergunakan untuk urusan yang seharusnya tak perlu sampai cuti. Mohon pengertiannya, Aquarius itu ribet, yes?

Joseph Ferrari, salah seorang profesor psikologi dari De Paul University di Chicago mengatakan, Prokrastinasi menyebabkan seseorang kehilangan peluang dan kesempatan yang datang. Benar sekali, prof!

Jangankan ilmu psikologi, ilmu agama pun menyebut menunda pekerjaan adalah pekerjaan yang paling dibenci Allah SWT. Abu Ishaq berucap, “Janglah engkau menunda amalan hari ini hingga besok. Seandainya besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan.”

Lantas, apakah menunda selalu berdampak buruk sehingga sudah patutnya dihindari? Belum tentu. Menunda tak selalu mendatangkan malapetaka. Setidaknya, untuk papa dan mama saya.

 

Satu peristiwa telah dialami papa dan mama saya, di mana karena menunda telah menyelamatkan hidup mereka. Kondisi ini dialami papa dan mama saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah.

“Yasudah, Bang. Ambil hikmahnya saja. Tak selamanya menunda itu buruk. Tapi jangan dibiasakan. Kalau ada banyak waktu, ngapain juga harus ditunda-tunda. Allah SWT punya caranya sendiri. Mungkin kalau kemarin mama dan papa tidak menunda lontar jumrah, mungkin mama sama papa juga menjadi korban tragedi Mina di Jalan 204,” kata papa yang membuat kaki saya lemas.

Tragedi Mina yang terjadi di Jalan 204 tepat di Hari Raya Idul Adha sempat membuat saya ketar-ketir. Saya berusaha menghubungi mama atau papa selama menonton berita di televisi. Berkali-kali saya telepon tidak diangkat. Sampai pada akhirnya, mama dan papa sendiri yang menghubungi saya.

“Alhamdulillah, mama sama papa sudah melontar jumrah. Sekarang lagi istirahat. Besok lontar jumrah lagi. Mama sama papa baik-baik saja. Abang sama adek juga akur-akur, ya,” pesan dari papa sungguh melegakan.

Karena menunda sesuatu saat sedang menunaikan lontar jumrah tempo hari, mama dan papa terhindar dari tragedi mina yang kembali terulang.

Rupanya, mama dan papa ada di barisan yang sama dengan rombongan calon jamaah haji yang menjadi korban tragedi Mina di Jalan 204 itu. Karena mama mendadak krop mungkin kelelahan, niat untuk melontarkan jumrah di waktu yang dianggap baik diurungkan. Mama dan papa pilih balik ke tenda dan beristirahat. Tak lama kemudian, peristiwa mengerikan itu sampai ke telinga mereka berdua.

Siapa yang tidak lemas mendengar kabar seperti itu. Papa tidak mau menceritakannya karena takut pencernaan saya kumat. Papa bilang, cukup banyak jamaah Indonesia yang menunda melontar jumrah karena beragam alasan. Paling banyak karena kelelahan. Maklum, jarang jalan kaki di Indonesia, selama di sana mereka harus menggunakan kedua kakinya setiap hari.

“Seandainya mama kemarin tidak berhenti, mungkin papa sama mama menjadi korban tragedi Mina. Karena papa sama mama berada persis di belakang jamaah Iran (yang banyak menjadi korban),” kata papa.

Terimakasih, ya Allah. Engkau telah menyelamatkan mama dan papa dari tragedi Mina di Jalan 204 yang menelan korban lebih banyak daripada tragedi terowongan Mina pada 1990.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

6 comments

  1. wah cerita yang tragedi mina melegakan sekali #huft

    1. Sangat melegakan, MAs

  2. tapi sebenarnya lokasi kejadian bukan jalur orang indonesia sih, orang indonesia kan udah diatur punya jalur dan waktu sendiri. Kemaren itu kayaknya missing ketika ada orang indonesia yang nyasar masuk ke jalur 204 itu. Alhamdulillah untuk segala hal buruk yang tidak menimpa kita dan keluarga ya. Semoga mama dan papa Kita pulang selamat sampai Indonesia lagi. (((kita))). Bokap nyokap aku juga lagi di sana 😀

    1. semoga bokap nyokap kita kembali lagi ke Indonesia dalam keadaan sehat ya, Kak

  3. Prokrastinasi! Ah itu musuhku juga. Mari perangi bersama.

    1. Yuk, kita perangi sifat buruk itu

Tinggalkan Balasan