Mengisi Waktu Dengan Bercocok Tanam

Terhitung tanggal 6 Agustus 2011, ± 4 bulan sudah saya menyandang status pengangguran. Sebenarnya, sih, ngga nganggur-nganggur banget. Toh, nama saya masih tercantum di lembaga kampus tempat saya mencari rezeki. Cuma saja, saya butuh pekerjaan yang baru dan gajinya yang sesuai. Namun, beberapa perusahaan yang memanggil saya test, belum memanggil saya kembali untuk tanda tangan kontrak kerja. Tapi, yasudahlah (malah curhat)

Lalu, sekarang sibuk apa, Dit? Pertanyaan seperti ini kerap kali muncul setiap teman yang mengobrol ke saya via BBM.

Kegiatan sekarang? Banyak, pastinya!

Saya masih sering mondar-mandir lembaga kampus untuk sekedar menjadi assisten atau pun mengawas ujian. Selain itu, saya juga masih sering dapat panggilan interview, walaupun belum dipanggil lagi untuk tanda tangan kontrak kerja (lagi-lagi curhat. Sorry! ). Kalau berdagang, sih, dari jaman kuliah masih tetap jalan. Ada, sih, satu kegiatan baru saya yang baru saya tekunin sejak bulan Ramadhan kemarin, yaitu, bercocok tanam. Yeah, saya bercocok tanam. Walaupun baru skala kecil.

Sebenarnya, nggak kepikiran sama sekali untuk bercocok tanam. Bingung, mau nanem dimana. Semua area disekitar rumah, sudah terpakai. Ada, sih, 1 lahan kosong milik ayah tepat di depan rumah. Hanya saja, belum dipagarin. Tapi, ada 1 hal yang membuat saya menggebu-gebu untuk bercocok tanam.

Tanaman Jeruk

Nah, ini dia. Tanaman inilah yang membuat saya ingin sekali ber cocok tanam. Seingat saya, tanaman ini dibeli ayah ketika kami pindah rumah di daerah Ciputat. Dulu, pohonnya masih kecil banget dan belum berbuah seperti sekarang. Karena ayah rajin nyiram dan merawat, tanpa disadari tanaman ini tumbuh subur. Maka daripada itu, saya ingin sekali menanam beberapa tanaman yang saya urus sendiri dan melihat hasilnya nanti.

Nah, bulan Agustus yang lalu, tanaman pertama saya adalah buah Melon. Baru saja saya mau menikmati hasilnya, malah dirusak sama kucing yang berkeliaran disekitar rumah.

Baru memulai lagi sekitar 1 minggu yang lalu. Saya menanam 5 jenis tanaman. Ada kangkung, bayam, lottuse, sawi dan jeruk.  4 lainnya selain jeruk, bibitnya saya dapatkan dari seorang Ibu teman saya dari komunitas tumblr, Tazy. Iseng saya tulis keinginan untuk bercocok tanam di tumblr, direspon baik oleh Ibu nya Tazy dan berniat mengirimkan saya 4 jenis bibit. Alhamdulillah …

Sawi , Lottuse dan Kangkung
Sawi
Kangkung

Dari ke-5 tanaman tersebut, baru 3 yang menampakan hasilnya. Padahal baru seminggu. Bibit itu saya taburkan diatas tanah bekas pembakaran sampah yang saya masukan ke dalam pot, lalu, saya siram menggunakan air bekas cucian beras. Saya siram 2x sehari, pagi dan sore. Kalau pagi menggunakan air cucian beras, kalau sore, menggunakan air biasa. Lalu, saya letakkan di garasa mobil yang selalu disinari lampu. Jadi, tanamannya selalu terkena cahanya. Hasilnya? Bisa dilihat sendiri. Semoga, sih, hasil akhirnya memuaskan. Bibit-bibitnya, tidak semua saya sebarkan. Saya coba dulu 🙂

Seru juga, sih, bercocok tanam ini. Hitung-hitung ikut menjaga bumi, lah. Salah satu cara untuk menjaga bumi untuk tetap bertahan, kan, dengan penghijauan. Lagian, nih, kalau misalnya kita mengkonsumsi sayuran hasil tananaman sendiri, sehat, bukan?

Apalagi, nih, buat yang tinggal di kota-kota besar seperti, Jakarta. Sudah jarang sekali kita mendapati satu lahan khusus tempat penghijauan. Kasihan, kalau saban hari yang dihirup hanya asap knalpot. Solusinya, ber-cocok-tanam-lah di rumah sendiri, walaupun di dalam pot kecil.

 

 

 

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

28 comments

  1. Mas, design blognya cantik sekali 🙂
    Membaca tulisanmu saya kepikiran, sepertinya ada sesuatu tentang cara berpikir kita, bahwa bekerja berarti jadi pegawai. Bercocok tanam kan sebenarnya kerja Mas. Emang sih belum menghasilkan uang. Tapi kalau dilakoni secara tekun, banyak lho pengusaha sayur sukses yang hanya mengandalkan pot dalam bercocok tanam. Tapi apapun lah, sukses untuk semuanya ya. Entah bercocok tanam, entah wawancara dan habis itu tanda tangan kontrak kerja 🙂

    1. Kalau boleh jujur, sebenarnya saya malas kerja kantoran. Niat saya, sih, berwirausaha. Cuma, modalnya itu tidak ada. Jd memutuskan untuk kerja dulu. Dr kerja itulah nantinya saya jadikan modal.

      Sudah kepikiran juga mau menghasilkan uang dari bercocok tanam, cuma sepertinya harus beradu argument dulu ke orang tua.

      Oia, terimakasih sudah singgah ke blog saya. salam kenal 🙂

    1. Wah, keren bang. Saya juga mau gabung di Jakarta Berkebun atau ga Indonesia Berkebun. Kalau nanti ada waktu kosong, pengen juga ikut kegiatan mereka.

      Kalau saya pulang kampung ke Medan, ajak saya ke kegiatan Medan Berkebun ya, bang.

      1. Boleh boleh, silahkan dengan senang hati 😀

  2. wah rajin ya bercocok tanam. kalo gua paling gak minat bercocok tanam. hehehe.

    moga2 segera dapet kerjaan yang sesuai minat dan gaji ya… 🙂

  3. ini jauh lebih keren daripada mengisi waktu dengan facebook, hehe

  4. wah saya juga seneng bercocok tanam, byk tanaman di rumah mulai dr tanaman obat, buah2an, sampai sayuran, bercocok tanam bikin tentram hati 😀

    oh btw perihal travel wishlist silahkan saja kalo memang terinspirasi, it’s ok 🙂

    1. makanya itu, mas. Saya mau mulai menekuni bercocok tanam. Sharing dong mas tanaman obat2 annya 🙂

      Wah, terimakasih banyak mas 🙂

  5. Mas, tulisannya bikin saya ‘begetar’… soalnya waktu kecil saya juga punya hobi nanam. Tapi karena kesibukan yang terus menekan saya, akhirnya lama-kelamaan saya jadi kelupaan sama hobi ini. Berkat tulisan Mas Adit, saya jadi pengin nanam lagi nih… 🙂

    Thanks 🙂

    1. Alhamdulillah. Saya senang kalau tulisan saya ada yang bikin hati pembacanya “begetar”. Ayo, dimulai lagi ber-cocok-tanam-nya. Bagus, lho, buat anak-cucu kita nanti. 🙂

  6. ntar kalo dah terbiasa, coba bikin usaha tanaman hias aja. kan lumayan tuh hehehe

  7. Tahukah Anda, satu2nya kegiatan bercocok tanam saya yang paling dekat dengan tumbuhan hanya menyiram tanaman aja. 😆

  8. salut sama hobinya 🙂

    kalau orang sini (jerman) bercocok tanam sdh jadi trend , gaya hidup, jadi ya hampir separo dr penduduknya suka berkebun, kegiatan yg bener2 ramah lingkungan dan menyehatkan , aku jd ikut ketularan hobi ini 🙂

    1. asik dong, mbak?
      Andai aku di Jerman, pasti seru banget.
      Iya, nih, lagi memulai hobi baru. Semoga bertahan lama 🙂

  9. Waah sama!
    Baru 3 bulan ini punya taman alias kebun di rumah.
    kalau aku pakai pakai air bekas cucian beras atau pakai vetsin mass..
    😀

    tiap hari disiram jam 4 pagi sama jam4 sore 😀

    1. Keren!! Asik saya ada temennya juga.
      Oia, vetsin itu semacam micin bukan, ya? Katanya ga baik. Lebih bagus air bekas cucian beras.. Itu pun, jangan2 sering.
      Kira2, kalau sudah diberi pupuk, masih bisa disiram pakai air bekas cucian beras ga, ya?

  10. Bercocok tanam jg bisa jd peluang usaha loh, tekuni aja walau cuma kecil2 saat ini. Saya jg sejak disini jd rajin bercocok tanam, nanam macem2 bunga, kebun sayur spt wortel, bawang bombay, bawang putih, peterseli, seledri dll, senang klo liat bibit yg kta tanam numbuh. Oh ya saya join http://www.facebook.com/organichomegardening?ref=ts atau web mrk http://www.famorganic.com buat referensi klo mau serius bercocok tanam dirumah ;-).

    1. wah, keren, mbak. Terimakasih banyak infonya. Akan saya baca-baca.
      Bener banget, itu tanaman saya baru tumbuh segitu aja saya seneng banget.. Gimana kalau tumbuh mekar, saya tambah galian sepertinya 😉

  11. hoooo..
    Iya ga boleh sering2
    kata mama seminggu sekali 😀

    kalo di rumah yasalah satu, kalo pupuk ya pupuk, kalo yg lain ya yg lain…

    Nanam lombok itu lumayan,, hehe harga cabe mahal soanya 😀

    1. iya, nih.. Niatnya juga mau nanem cabe. Lumayan buat penghematan. Haha 😀

  12. saya juga gunai air cucian beras untuk anggrek 🙂 sebenernya nenek saya sih yang menanam saya ikut mendoakan saja.

Tinggalkan Balasan