Melihat Sejenak Ke Dalam Museum Bank Mandiri

Menunggu adalah salah satu kegiatan yang menurut saya amat menyebalkan. Tapi, menjadi manusia yang super ngaret itu lebih menyebalkan. Makanya itu, tiap kali saya janjian oleh seorang teman, dan ternyata saya sampai terlebih dahulu, mending saya mencari kegiatan lain, deh. Entah itu jalan-jalan disekitaran tempat janjian, atau melipir makan.

Seperti yang saya rasakan sekitar 3 minggu lalu. Seorang teman minta diantarkan ke daerah Ancol, dan janjian di stasiun Kota. Janjian pukul 09.00 WIB, saya sudah terlebih dulu sampai 30 menit sebelum waktu janjian. Setelah menunggu 5 menit, tiba-tiba hape saya berbunyi. Ketika saya menatap layar hape, ternyata itu merupakan SMS. Lalu, saya buka dan membaca isi pesan yang menurut saya menyebalkan itu.

“Dit, sorryyy .. Gw baru bangun. Sekarang masih di stasiun Depok”

Kesal? Jelas. Tapi, malaslah kalau selama menunggu dia harus ngedumel ga karuan. Akhirnya, saya putuskan keluar dari stasiun Kota. Niatan awalnya sih, mau ngisi perut. Tapi, tiba-tiba mata ini melihat 1 gedung yang kala itu ramai pengunjung. Saya dekatin gedung itu, ternyata itu Museum Bank Mandiri.

Museum Bank Mandiri (sumber: klik gambar)

Tiba-tiba fikiran jahat melintas di kepala saya. “Mending gue kesini, deh.. Ga usah makan. Makannya nunggu si kunyuk aja. Minta bayarin dia. Siapa suruh ngaret”.

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk masuk ke Museum yang terletak di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Barat. Ketika saya berkunjung ke Museum itu, pengunjung yang datang kebanyakan dari kalangan abege labil dan kelihatan alay karena banyak diantara mereka yang memakai kacamata hitam yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.

Ketika saya ingin membeli karcis sebagai tiket masuk, saya melihat ada 1 panggung kecil yang berisikan 1 sinden dan 1 pemain alat musik kecapi (eh, benar kan itu namanya kecapi? Kalau salah, mohon diralat). Si sinden yang menurut saya dandanannya terlalu menor, membawakan lagu-lagu Jawa yang apik tenan. Suaranya bagus. Dan, ini benar-benar sinden tidak seperti sinden di OVJ yang menurut saya maksa yang patut diacungi jempol.

Sinden & Pemain Kecapi (foto koleksi pribadi)

Oia, masuk ke dalam Museum Mandiri ini free, lho. Eh, free nya untuk Siswa sekolahan dan Mahasiswa. Kalau sudah tidak kuliah, harus banyar Rp. 2000. Berhubung tampang saya babyface, saya bilang kalau saya masih mahasiswa. Dan, petugasnya percaya. Malah, mereka mengiranya saya masih SMA. 😆

Tidak hanya sinden dan rekannya yang membuat saya berdecak kagum. Masih ada “penampakan” lain yang akan menyambut para pengunjung. Yaitu, 1 patung yang sepertinya merupakan satpam jaman dulu dan 1 patung lagi merupakan siswi SD dengan slogan “Rajin Pangkal Pandai … Hemat Pangkal Kaya”. Kalau mau kaya, nabungnya di Mandiri saja.

Lucu, ya

Setelah isi buku tamu, saya pun masuk dari pintu sebelah kanan. Jujur, awalnya saya bingung masuknya dari mana. Tak ada petunjuk, dan tak ada satpam kala itu. Begitu masuk, saya melihat manekin cash china atau apalah itu namanya.

Lalu, saya memutuskan untuk berkeliling Museum yang konon kabarnya memiliki luas lahan 10.039 m² dan luas bangunan 21.509m². Sayang, halaman belakang Museum Mandiri ini tampak tak terurus. Memang sih, ada pepohonan. Cuma menurut saya, kurang asri saja untuk ukuran taman yang berada di dalam Museum.

Mutar-mutar museum. Masuk dari ruangan satu ke ruangan lain. Agak serem sih, soalnya saya sendirian. Memang pas masuk banyak sekali abege-abege kentang. Tapi, mereka ramainya di halaman Museum sambil foto-foto, bukan masuk dari ruangan satu ke ruangan lain sambil mencatat apa saja yang ada didalamnya 🙁

Untuk koleksi di Museum Mandiri ini bisa saya katakan cukup banyak. Yah, semua koleksinya itu masih berkaitan erat dengan yang namanya BANK. Entah itu mesin hitung berupa sempoa & kalkulator jaman baheula. Lalu, ada mesin ATM kuno. Mesin ketik dari berbagai macam bentuk. Mesin cetak juga ada. Mesin materai tak ketinggalan juga terpajang rapi. Oia, ada jugalho,baju satpam tempo doloe. Sampai prestasi para karyawan bank Mandiri dulu banget pun, terpampang di Museum ini

Tebak. Mesin apakah ini?
Deposito
Koleksi Mesin Tik

Ayo, siapa diantara narablog yang tidak pernah merasakan mengetik pakai mesin tik? Nah, kalau belum pernah mengetik pakai mesin tik, cobain deh, seru.

Buat yang pernah dan mungkin sampai sekarang masih memakainya, tau tidak, siapa penemu mesin tik?

Oke, saya ceritakan sedikit ya. Penemu mesin tik itu namanya Christopher L Sholes dan ditemukan pada tahun 1714. Kemudian Sholes bekerja sama dengan 2 orang temannya yang bernama Carlos Cliden dan Samuel W. Soule untuk membuat mesin tik lebih sempurna. Setelah sempurna, baru disekitar tahun 1868 didapatlah “hak patent” mesin tik ini.

Tahun 1890, mesin tik ciptaan Christopher L Sholes ini dipergunakan di kantor-kantor. Termasuk, di bank Mandiri ini.

Untuk koleksi mesin tik yang ada di bank Mandiri ini terdiri dari yang manual sampai elektrik yang pernah digunakan oleh karyawan bank Mandiri tempo dulu banget.

Ini Mesin Tik, bukan?
Masih bisa dipergunakan ga, ya?

Selain mesin tik, terdapat mesin materai juga. Ini penampakannya

Keren !

Tidak hanya mesin. Ada juga penampakan menekin-menekin orang yang berupa china cash.

 

Chinese Cash

 

Chinese Cash

Belum lagi semua ruangan saya masukin dan saya lihat-lihat koleksinya, teman yang saya tunggu itu pun sudah sampai di stasiun Kota. Yah, mau ga mau penjelajahan singkat ke dalam Museum Bank Mandiri harus disudahi.

Secara keseluruhan, Museum Bank Mandiri sangat pas untuk narablog kunjungi. Mungkin, diantara narablog sudah ada yang memiliki anak yang kini duduk dibangku sekolah? Nah, bawa saja ke Museum Bank Mandiri ini.

Dari segi letak, sangat strategis. Turun di Stasiun Kota, jalan kaki ngga sampai 5 menit sampai di Museum Mandiri ini. Mau naik busway? Lebih gampang lagi. Turun saja di halte Stasiun Kota. Turun dan jalan lewat bawah, ambil kiri begitu naik, sudah sampai di pintu masuknya. Gampang, bukan? Deketlah sama Museum Fatahilla dan Museum Bank Indonesia.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

15 comments

  1. Jalan-jalan menelusuri museum, yuk.

  2. cara yang menyenangkan untuk menunggu :)) besok lagi ke situ, di lantai atas juga menyenangkan, terus lanjut ke museum BI.

  3. saya sudah bulak balik daerah sini tapi juga belum pernah kesini… coba deh museum bank Indonesia juga katanya juga bagus banget loh….

    jadi ingat belajar ngetik dulu… asdf ;lkj asdf ;lkj suruh ngetik itu sampai lancar heheheh

  4. ih bohong dosa lho Dit, pake ngaku anak kuliahan segala 🙁
    trus, akhirnya jadi ditraktir temenmu makan kagak? haha
    btw, blog ini tampilannya ganti yak? font-nya juga ganti? bagus kok, lebih bersih 🙂

  5. Saya sudah pernah ke sna, tapi koleksi museum yang ditawarkan belum semenarik museum lainnya, semacam Museum Fatahillah dsb.

  6. Itu yang kaya mesik ketik digital nama dan kegunaannya apa yah? Yang sebelahan sama monitor komputer.
    Kalau malam hari buka gak yah? Ntar kalo malem jadi pada hidup tuh yang di museum, kaya di film Night at the Museum 😀
    Maaf kalo OOT :-p

  7. Cuma mau komentar…. cie…. yg tampilan blognya baru… cie cie…

    1. Komentar lagi… lah ini bocah kayak lagi galau maksimal…. Kayaknya kemaren tampilannya ga gini… Eh berubah lagi tampilannya…. Mo buat tiap hari ganti template?
      Kalo gitu musti di cie in lagi…. CIE ADITTT… Template baru lagi….

  8. patuh disinggahi kalo ane ke jakarta, di Gedung Bank indonesia juga ada museum kan??

  9. Pas ke Jakarta beberapa tahun lalu, aku udah rencana mau mengunjungi Museum ini, (bersama beberapa teman, termasuk @isnuansa) tapi sayang, udah di depan museum, tapi ternyata museumnya tutup (–,)

  10. menunggu adalah kegiatan yang menyenangkan, kalau yang ditunggu sudah datang duluan.
    (namanya ga nunggu dong, hehehe)
    belum pernah ke museum itu nih. hmm.

    salam.

  11. Patut disinggahi nihh museum Bank Mandiri sama Bank Indonesia juga deh kayaknya asik.
    Tampilan templatenya lebih keren dari yg lama

  12. Dulu waktu kerja di bank yang seberangan ama museum ini pernah beberapa kali maen kesana. Angker gitu gak sih sekarang suasananya? Kalo dulu saya masuk sih gratis terus. Nama perusahaannya sih sama. Hehehehe.

  13. mesin tik seperti di atas masih biasa sy pakai di kantor loh
    mala lbh jadul
    ;p

  14. udah pergi sini. yayy!

Tinggalkan Balasan