medical check up

Medical Check Up, Hadiah Ulang Tahun ke-31

Tiga hari setelah ‘bertamu’ ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), saya akhirnya berani untuk medical check up (MCU). Kalau saja tekanan darah di Senin sore itu tidak menyentuh 130/90 mmHg, pria gembrot berumur 30 tahun, 11 bulan, kurang dua minggu ini lebih memilih memanfaatkan izin dari bos buat tidur, Netflix-an, makan, dan tidur lagi ketimbang harus cek kesehatan selama enam jam.

Ajakan untuk MCU dari pihak Rumah Sakit Pondok Indah – Pondok Indah sudah berbulan-bulan yang lalu datang ke saya. Tak lama usai balik dari New York dan menyelesaikan program Diary Paskibraka di penghujung Agustus 2018. Disebabkan anaknya ini takut sekali sama jarum suntik (lebih tepatnya, sih, takut kepikiran sama hasil pemeriksaannya), saya terus menunda memberikan jawaban ‘ya’ atas sebuah kesempatan yang mungkin saja tidak datang empat kali.

“Kapan mas mau, kapan mas siap, beritahu saya. Ini tidak akan hangus, kok,” jawab mereka setelah saya menjelaskan panjang lebar soal belum beraninya menerima tawaran tersebut.

“Ini pokoknya buat mas Adit. Biar mas Adit sehat,” kata mereka lagi.

Pas tahu saya tidak langsung mengiyakan tawaran tersebut, si Kawan terus meyakinkan saya bahwa yang namanya medical check up tak sehoror yang ada di imajinisasi saya. Dia sampai kasih tunjuk ke saya kalau jarum suntik yang digunakan nantinya tidak setebal jarum yang dipakai buat donor darah. Darah yang diambil pun tidak sebanyak itu.

ilustrasi medical check up
Tenang! Ambil darah saat medical check up tidak seperti ini (CR: Kompas)

Suatu malam, di perjalanan menuju Grand Indonesia untuk bertemu narasumber, dia tiba-tiba bilang, tidak perlu khawatir sama hasilnya. Dia percaya saya baik-baik saja. Karena selama ini saya tidak pernah melakukan semua hal yang menjadi faktor risiko dari segala macam penyakit berbahaya.

Menurut si Kawan, apabila hasilnya tidak 100 persen positif, setidaknya saya dikasih banyak waktu buat menyempurnakannya. Sehingga di tahun-tahun mendatang, di saat banyak orang seumuran saya sibuk menyembuhkan dirinya, setidaknya saya sudah berada di tahap ‘merawat tubuh’ biar tidak mengalami serupa.

“Iya juga, sih,” kata saya.

“Jangan iya, iya aja. Tawaran itu datangnya ke elo sih bukan ke gw. Gw pasti langsung jawab iya, tanpa pikir panjang kek begini,” kata dia. *Moon maap! Kenapa Anda ngegas?*

“Iya, iya, nanti dipikirin lagi,” jawab saya.

“Pokoknya, harus diambil. Jangan sampai enggak,” kata dia.

Pengalaman Medical Check Up Teman Wartawan

Satu atau dua bulan kemudian, saya liputan bareng salah seorang jurnalis dari portal berita kompetitor yang ternyata baru MCU. Usianya lima tahun di atas saya. Dia melakukan pemeriksaan medis karena satu tahun terakhir seperti ada yang aneh sama tubuhnya. Lebih gampang lemas dan sering pusing. Padahal, dia termasuk orang yang rajin berolahraga dan makannya pun tidak berantakan-berantakan amat.

Dia cerita semua hal mengenai medical check up yang dia jalani. Saya juga cerita tentang tawaran itu. Sama seperti si Kawan, dia cuma bilang tak perlu takut. Soal hasilnya, dia sendiri jadi lebih tahu harus berbuat apa saja agar tubuhnya sehat kembali.

Dari obrolan itu saya terus meyakini diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Dan medical check up cuma tes kesehatan biasa, yang manfaatnya buat jangka panjang.

“Mbak, benar ya medical check up itu enggak seram,” tanya saya ke pihak RSPI. Saya bodoh amat jika si Mbak kemudian menilai saya pria pengecut. Yang sama jarum suntik saja takut.

“Beneran kok Mas Adit. Kayak digigit semut,” jawabnya. Persis tenaga medis saat mau nyuntik bocah SD. Yang selalu bilang,”Jangan takut. Sini, sini. Cuma sebentar kok. Pernah digigit semut, kan? Nah, rasanya sama kayak begitu. Kalau enggak percaya, rasain, deh.”

“Ha ha ha … Digigit semut rangrang, sakit, lho, Mbak,” kata saya. “Bentolnya bisa berhari-hari,” kata saya menambahkan.

Ilustrasi Medical Check Up
Suntik saat MCU seperti digigit semut. Ya, maap, kalau semutnya sebanyak ini juga bikin trauma kali, ah. (CR Tribune)

“Ayolah! Percaya sama saya, medical check up itu tidak sakit,” katanya lagi.

“Mbak, saya trauma percaya sama manusia. Saya percayanya cuma sama Allah,” sayangnya bukan ini jawaban saya. Takut tawarannya malah hangus.

Menghadiahi Diri Sendiri Medical Check Up

Saat malam pergantian tahun, saya ditugaskan oleh kantor meliput kegiatan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila F Moeloek. Menkes akan melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah tempat, yang media sendiri tidak tahu akan ke mana saja.

Kegiatan dimulai pukul 21.00 WIB sampai pukul 01.00 dini hari. Menkes, jajaran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dan sejumlah awak media ‘merayakan’ Malam Tahun Baru 2019 di bawah TOL Tomang, Jakarta Barat.

Malam itu Menkes berpesan, supaya saya dan teman-teman jurnalis yang lain lebih bisa menjaga kesehatan di tahun yang baru. Beliau pun sempat menyinggung soal pentingnya medical check up. Mendengar itu saya semakin mantap buat menghadiahi diri sendiri berupa MCU yang akan saya lakukan saat hari ulang tahun ke-31 pada 18 Februari.

Menkes mengatakan medical check up artinya tanda sayang dari kita buat tubuh. Dengan melakukan pengecekan, kita jadi tahu harus berbuat apa sama bagian tubuh yang benar-benar perlu dijaga lebih ketat lagi. Semisal ada yang kurang, tubuh mendapatkan haknya.

Kita enggak tahu apakah tubuh ini sudah mendapatkan asupan vitamin A yang cukup. Kita memang makan secara teratur sih; pagi, siang, dan malam. Ditambah camilan-camilan yang secara bergantian masuk ke dalam mulut di jam-jam tertentu. Yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah dari makanan tersebut, tubuh kita sudah mendapatkan semua vitamin dan mineral yang memang mereka butuhkan?

Kita memang makan, cuma apa yang kita makan? Kalau makannya cuma nasi ditambah mi ditambah kentang pedas, mana asupan serat dan protein buat tubuh kita? Taruhlah di dalam piring makan kita ada nasi, sayur, dan ikan, apakah itu sudah cukup? Ternyata, belum. Kita lupa sama asupan protein nabati, seperti tahu dan tempe. Memang perlu? Kan sudah ada protein hewani? Nah, coba cek di Google pentingnya asupan protein nabati bagi tubuh kita?

Semua pertanyaan itu yang pada akhirnya melunturkan ketakutan tak berguna saya mengenai MCU selama ini.

Tepar di Senin Siang

Senin, 14 Januari 2019, tubuh saya mendadak lemas. Kepala terasa pusing yang membuat tak fokus mengetik berita. Saya pun kesulitan bernapas. Kondisi tersebut bikin saya uring-uringan.

Biasanya, kepala pusing seperti yang saya alami hari itu, menandakan tubuh lagi butuh gula tambahan. Setelah makan siang dengan menu bebek di Stasiun Gambir, yang ternyata rasanya jauh dari layak makan, saya jajan roti kukus selai srikaya beli di salah satu gerai kopi tak jauh dari tempat tersebut.

Bukannya mendingan, kepala semakin keliyengan. Gajian memang masih lama. Akan tetapi saya ‘kan tak punya tunggakan kartu kredit, apalagi cicilan KPR maupun roda empat. Kenapa bisa sepusing ini?

Sesampainya di kantor, mendadak pengin muntah. Saya cepat-cepat lari ke toilet. Tak lama saya langsung jackpot. Semua yang saya makan keluar semua bersama janji-janji yang saya telan mentah-mentah. Secara kebetulan ada si bos lagi kencing.

Mengetahui hal tersebut, dia menyuruh saya ke IGD RSCM. Jangan sampai saya pingsan, kayak dua tahun yang lalu. Baca : Mirip Gejala Demam Berdarah tapi Bukan DBD

“Sono, ke RSCM. Kalau lo pingsan, kagak ada lagi yang bisa ngangkat. Lift kantor kecil. Kagak bakal muat,” candanya.

Saya mengiyakan perintah beliau. Bersama teman satu tim, yang diutus oleh si bos buat menemani saya, berangkat ke IGD RSCM. Itu untuk pertama kalinya saya ke RSCM buat berobat. Sebagai peserta BPJS pula.

Setelah menunggu cukup lama di sebuah ruangan yang sangat layak untuk ukuran peserta BPJS Kesehatan, datang seorang dokter yang langsung memeriksa saya.

“Apa keluhannya?,” tanya si dokter dengan sopan.

“Enggak tahu dok. Mendadak pusing. Pusingnya muncul setelah minum kopi,” kata saya menceritakan kronologisnya.

Dokter itu kemudian memeriksa nadi dan denyut jantung saya. Diawali dengan pemeriksaan tensi darah.

Biasanya, rendah apa tinggi (tekanan darahnya)?,” tanyanya.

“Rendah, dok,” jawab saya. Selama ini saya mengetahui bahwa saya adalah pasien darah rendah. Tekanan darah tidak pernah di atas 110/90 mmHg, pasti selalu di bawah itu. Salah satu faktor yang menyebabkan saya blackout di kantor waktu itu pun karena tekanan darah yang mendadak drop.

“Oke. Ini tekanan darah kamu 130/90 (mmHg),” katanya. “Tapi nadi dan jantung kamu normal. Itu yang lebih penting, sih,” katanya lagi.

Medical Check Up Dipercepat

Dari ilmu yang saya pelajari selama menjadi jurnalis kesehatan, tekanan darah setinggi itu sudah mengarah kepada pra-hipertensi. Hanya saja untuk mengetahui diagnosis pastinya, seorang pasien harus melakukan cek tekanan darah dalam keadaan tenang dan tidak habis berkegiatan. Benar-benar tenang.

“Jadi, saya berikan obat, dan tolong dihabiskan,” katanya.

“Kemungkinan karena apa dok?,” tanya saya penasaran.

Besar kemungkinan dari kopi yang saya minum. Bisa jadi, hari itu kafein yang masuk ke dalam tubuh saya terlalu besar. Namun, bisa jadi juga karena tubuh saya kurang bersahabat dengan kafein dari kopi. Sebab, saya ini pada dasarnya bukan peminum kopi. Setiap kali minum kopi pasti mencret. Cuma tiga bulan terakhir, saya menemukan cara minum kopi yang aman bagi tubuh saya, jadinya keterusan. Ternyata tetap enggak cocok.

Sepulangnya saya dari IGD RSCM, saya jadi kepikiran, apa medical check up itu saya percepat? Saya terlebih dulu tanya, apakah tawaran tersebut masih berlaku. Ternyata masih.

“Saya mau deh medical check up,” kata saya.

“Sudah mantap, Mas?,” kata Mbaknya. Kenapa tidak langsung jawab oke saja? Saya bisa jadi malas lagi kalau ditanya seperti itu. Seolah-olah kayak mau bilang elo udah siap buat menderita? Hahaha!

“Mantap, Mbak,” kata saya lagi.

“Oke. Saya atur jadwal buat Mas Adit, ya..”. Dua jam kemudian,“Hari Kamis, ya, Mas Adit.”

Buset. Secepat itu? Hmmmm… Baik! Karena bos memberikan saya izin selama tiga hari buat istirahat, hari terakhirnya saya pakai buat medical check up. Biar saya cepat mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh saya.

Hari yang dinanti pun tiba. Tepat pukul 08.00 WIB, saya tiba di lantai 2 Rumah Sakit Pondok Indah – Pondok Indah buat medical check up. 

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

2 comments

  1. Langsung ngakak pas baca komen bosmu, Dit. 😆

    Btw ini postingan bersambung ya Dit? Pinisirin kelanjutannya.

    1. Rencananya begitu, kak.

Tinggalkan Balasan