Masih Mau Mengeluh (?)

Di komplek rumah om saya, ada satu pedagang kerupuk Palembang yang selalu dinanti kehadirannya. Nama pedagang kerupuk itu adalah Pak Agus. Pak Agus kerap menjajahkan kerupuknya sekitar pukul 06.00 pagi. Pokoknya, setiap jam 6 lebih sedikit, teriakan khas Pak Agus sudah membahana sampai ke dalam rumah.

“Kerupuk.. Kerupuk.. Kerupuk.. Masih renyak, pak, bu..”

Sebenarnya, tak ada yang spesial dari kerupuk Pak Agus ini. Sama seperti kerupuk Palembang pada umumnya. Hanya saja, yang menjadi istimewa terletak pada Pak Agusnya, bukan pada kerupuknya.

Pak Agus tidak seperti pedagang pada umumnya. Pak Agus adalah seorang penyandang tuna netra. Orang-orang di sekitar komplek sangat antusias akan kehadiran Pak Agus ini karena semangat kerjanya yang tinggi. Walaupun dia memiliki kekurangan, itu tidak menjadikannya seorang yang pemalas dan mengharap belas kasihan orang lain kepadanya.

Orang-orang di sekitar komplek sering mengatakan, kalau mau belajar jujur, jadilah pembeli kerupuk Pak Agus.

Pak Agus tidak bisa melihat. Dia tidak bisa melihat berapa kerupuk yang orang ambil. Berapa rupiah yang orang berikan kepadanya. Dan, Pak Agus juga tidak tahu, apakah sudah pas uang kembalian yang ia berikan ke pembelinya?

Kalau kita tidak punya sifat jujur, dan rasa belas kasihan, bisa saja kita berbohong ke Pak Agus.

Misalnya, kita beri kerupuk 3 bungkus dengan harga 15ribu, karena kita tidak jujur, bisa saja kita memberikan uang 10.000 ke Pak Agus, bukan uang 20.000 yang semestinya. Iya, ‘kan?

Tapi, kalau kita memang pada dasarnya jujur dan memiliki rasa kasihan, mana mungkin kita akan berbuat seperti itu. Memang, Pak Agus tidak bisa melihat, tapi Tuhan?

Saya jadi malu sama Pak Agus. Saya yang dikasih sama Tuhan indera yang lengkap tanpa kurang satu pun masih sering mengeluh. Padahal, saya di kasih Tuhan pekerjaan yang mengharuskan saya masuk ke dalam ruangan yang ada pendinginnya. Sedangkan Pak Agus? Dia harus panas-panasan keliling komplek rumah. Belum lagi kalau di jalan bertemu dengan orang yang berniat jahat padanya.

Malu rasanya, kalau saya masih beranggapan dunia ini tidak adil setelah bertemu langsung dengan Pak Agus ini.

Oia, pagi ini saya bertemu Pak Agus beserta istri dan anaknya yang ikut menemaninya berjualan.

Buat Pak Agus, semangat ya pak, jualannya. Semoga dagangan bapak laku dan tidak ada yang berniat jahat sama bapak.

Terimakasih Pak.

Buat teman-teman, masihkah kalian mengeluh soal hidup ini? Semoga tidak, ya 🙂

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

33 comments

  1. wah, krupuknya gede2 ya?
    kalo disini mah kecil2, paling selonjor plastik itu harganya 1500-2000 rupiah, isinya sekitar 10 biji. itu krupuk bawang sih, bukan krupuk ikan.

    semoga Allah memberikan rizki yang melimpah bin berkah buat pak Agus & keluarga, amin 🙂

    1. Iya, Put. Di sini kerupuknya gede-gede. Kerupuk bawang itu yang bagaimana, Put?

      Amin Amin Amin

  2. istrinya juga tuna netra dit?

    subhanallah…kagum saya sama semangatnya Pak Agus, mudah2an berlimpah rejekinya ya, amin 🙂

    1. Ngga, istrinya tidak tuna netra. Normal.

  3. yang masih galau, yukk dikaplok… 🙂
    #kaplok pipi sendiri doeloe… plokkkk…

  4. nice post mas…. semoga dengan baca ini saya menjadi kuat dan tidak mengeluh lagi… terima kasih sudah diingatkan..

    1. sama-sama, Mas. Mari kita saling mengingatkan 🙂

  5. Salut akan semangat hidup dan ketekunan pak Agus

  6. subhanallah …aku kok jd menitikkan air mata membaca postingan ini 🙁
    benar … jika melihat semangat pak Agus yg tuna netra…apakah kita tidak malu, jika masih saja suka mengeluh

  7. Ngga bisa komentar apa-apa, suka sama postingan ini 🙂

  8. Tidak ada alasan lagi untuk mengeluh..

  9. betul Dit, kenapa kita harus terus mengeluh kalau banyak orang lain yang perjuangan hidupnya bahkan jauh lebih sulit daripada kita tapi masih tetap semangat… semoga kisah pak Agus bisa jadi pembelajaran buat kita semua 🙂

  10. Pernah nonton liputannya di tv, tapi gak tau itu pak Agus atau bukan. Kerupuknya gede2, krupuk bangka ya?, jadi pengennn.

    1. Hmmm.. Kurang tahu deh, Mbak.

      Itu kerupuk Palembang

  11. ya ampun, penjual kerupuknya itu jalan kaki mas 🙂

  12. semoga keluarga pak agus diberkahi oleh-Nya 🙂

  13. Tersentuh, ternyata hal ini masih banyak disekitar kita tanpa kita sadari, semangat bekerja pak agus… 😀

    1. Bener banget, Mas. Kita tak sadar akan hal itu

    1. Sama-sama 🙂

      Kita saling mengingatkan, ya.

  14. Dit, saya pernah punya tetangga yang tunanetra, dan beliau hafal lho dengan uang. Entah bagaimana caranya menghafal, tetapi dengan meraba, dia akan tau itu uang berapaan…

    1. Serius, Mbak? Aku aja ga bisa, lho. Subhanallah, yah 🙂

      1. Nyambung komentarnya Nunik ya. Tunanetra bisa mengenali uang rupiah dengan cara meraba. Ada penanda nominal timbulnya. Terus perhatikan juga ada simbol 2 kotak atau segitiga atau apa gitu di tiap lembaran uang. Coba raba, timbul juga. Dari situlah mereka bisa tau, Adit jujur apa nipu. Hihihihi

        1. Ya Allah, aku beneran baru tahu. Makasih banyak Kak Brad dan Mbak Nunik atas infonya.

          🙂

  15. Ntar kalo aku balik aku beliin kerupuknya 2-3 biji ya dit… ntar kukasih uangnya 50 ribu kembalinya buat beliau 🙂

  16. Ahhh kamu mengajak aku merenung deh Dit. Makasih Diitoo.

Tinggalkan Balasan