Liburan Dadakan ke Malang dan Bromo

Kota Malang menjadi saksi kami liburan bareng berempat. Sedangkan Bromo menjadi saksi betapa kuat fisik dua orang perempuan yang turun ke lapangan mencari berita sejak kemunculan film Pengantin Remadja. Menelusuri jalan menanjak dan berpasir tanpa menunggangi kuda yang bisa mereka sewa jika mau, lalu berhasil menaiki satu per satu anak tangga hingga ke puncak gunung adalah bukti tua hanya luarnya saja.

Yang bikin saya tambah takjub, salah satu dari dua orang perempuan itu ada yang sakit. Rupanya, liburan kemarin membuat dia lupa akan penyakitnya.

Siapa sangka kalau kami semua bisa naik ke atas puncak itu. Apalagi emak-emak itu usianya tak lagi muda

Liburan dadakan empat hari empat malam di pertengahan Mei 2015 bermula dari kegelisahan Mbak Ana yang harus memenuhi undangan simposium salah satu produsen obat di Malang seorang diri.  “Coba kalau kalian diundang juga, kita bisa extend ke Bromo. Gw lihat di Twitter, ada tempat sewa jeep murah. Seru deh pasti kalau Warkesnyir ikut semua, bisa kita sewa satu mobil.” kata Beliau ke saya di dalam taksi menuju ke kantor masing-masing usai menghadiri seminar kesehatan.

Siapa coba yang nggak mau liburan? Apalagi liburan bareng sahabat. Namun,  berhubung sebagian Warkesnyir alias wartawan kesehatan (doyan) nyinyir tidak lagi di desk Kesehatan, dan kebanyakan adalah jurnalis media online, tentu waktu liburnya berbeda.

Jika jurnalis cetak macam Mbak Ana, Rendra, Mbak Lilis, Nida, dan Qalbi bisa leyeh-leyeh di tanggal marah, saya, Uno, Helmi, Fitri justru merasakan hal sebaliknya. Ketika mereka leyeh-leyeh di rumah, tidak mandi seharian, dan marathon DVD Korea, kami malah berkutat dengan kerjaan.

Mbak Ana terus mengajak yang lain untuk liburan di Malang dan Bromo. Baginya, tak ada usaha yang sia-sia. Ajak saja dulu, bakal ada yang mau ikut atau tidak itu urusan belakang. Dari delapan anggota yang tersisa, hanya dua orang yang menjawab mau. Sisanya, menolak dengan alasannya masing-masing. Aku piket, istriku nggak bisa ditinggal, sudah ada janji sama yang lain, dan ada yang sudah keburu bikin janji wawancara di hari Sabtu. Sedangkan saya masih labil. “Gw mau, deh. Sepertinya gw bisa izin, mengingat kemarin-kemarin gw muluk yang piket,” kata Saya sok yakin.

Rupanya, bos memberi izin. Kali itu giliran Dikta yang piket. Dikta, personel termuda di tim desk Kesehatan hanya bisa pasrah menerima surat cuti dari saya. Namun ada kendala lain, si Kawan harus diberitahu mengenai rencana liburan mendadak ini.

“Boleh, asal kalau di-WhatsApp atau ditelepon tolong direspons,” jawab si Kawan singkat sambil menyantap ayam goreng di warung tenda favoritnya. Oke, berarti semua izin sudah didapat. Bahkan izin orangtua sudah saya kantongi sejak lama.

Setelah jelas siapa saja yang pergi, masalah baru muncul. Drama sebenarnya baru saja di-mu-lai. H-7 keberangkatan belum tahu juga bakal naik apa ke Malang, bakal bermalam di mana, jauh tidak dari kantor tempat penyewaan jeep ke Bromo, dan harus bawa apa saja, habis dari Bromo bakal ke mana lagi. Doh! Kondisi itu terjadi sampai H-1 keberangkatan.

  1. Naik bus lebih dari 17 jam

Sejak awal pesawat kami coret dari daftar moda transportasi yang akan kami pergunakan. Tidak lain karena harganya yang kebangetan. Maskapai kelas C saja harga sekali jalan tembus Rp 950.000 apalagi maskapai kelas A? Coret! Satu-satunya moda transportasi yang harga tiketnya sesuai kantong kami adalah kereta api. Kami hanya bisa gigit jari pas tahu semua tiket kereta api ludes terjual.

“Kita naik bus aja. Pas berempat. Dua-dua duduknya,” saran Rendra.

“Bus? Ogah. Sempit. Kaki gw nggak leluasa bergerak,” jawab saya menolak.

“Kalian cari bus yang kelas eksekutif. Harganya juga nggak mahal. Paling sekitar Rp 400 ribuan. Yang tempat kapasitasnya Cuma 25 orang. Luas,” kata Mbak Ana.

Bus Malino Putra ini luasnya bukan main. Buat individu yang besarnya seperti saya, bus ini rekomend banget

Setelah membaca banyak review para pengguna bus, pilihan jatuh ke Malino Putra. Dari 100 komentar yang ada, hampir sembilan puluh lima persen berpendapat bus ini yang paling top. “Ibu Ane itu hampir dua minggu sekali melakukan perjalanan Malang-Jakarta-Malang menggunakan bus Malino Putra. Kata dia supir bus ini bawanya sangat hati-hati. Dapat makan pula. Busnya juga nyaman,” tulis salah satu akun yang membuat kami, terutama saya, semakin yakin menggunakan bus ini.

Melakukan perjalanan jauh menggunakan bus adalah pengalaman pertama saya. Dulu pernah naik bus dari Medan ke Aceh, tapi masih kecil banget. Jadi lupa sensasinya.

Petugas loket sudah memberitahu kalau perjalanan menggunakan bus Malino Putra memakan waktu selama 19 jam. Itu pun kalau di beberapa kota tidak macet. Dengan bus senyaman itu, tentu bukan sebuah masalah besar buat saya. Kalau ngantuk ya tinggal tidur lagi. Kalau mau ngobrol ada temannya. Kalau capai melakukan semuanya, saya pilih baca e-book yang dibeli menggunakan pulsa Indosat. Beres!

Bergerak dari terminal Rawamangun sekitar Rabu pukul 03:30 sore, tiba di terminal kota Malang pada Kamis pukul 12:30 siang.

“Kalau naik pesawat, kita sudah sampai di Amerika kali, ya,” kata saya ke mereka.

  1. Penginapan

Sama seperti kereta api dan pesawat, hampir seluruh penginapan di kota Malang penuh untuk dua hari itu. Saya teleponin satu per satu, jawabannya sama semua,”Maaf, bu, untuk hari itu sudah penuh semua. Adanya tersisa satu kamar yang VVIP,” kata para petugas hotel.

Masing-masing dari kami memberi referensi hotel dan hostel mana saja yang sekiranya cocok untuk diinapi selama tiga hari. Hasilnya nihil. Beberapa teman, bahkan nara sumberku, dengan senang hati menampung kami selama di sana. Saya pribadi tidak masalah sekali pun harus tidur di atas sofa ruang tamu. Cuma saya `kan liburan berempat, bareng sama emak-emak juga. Dari pada rempong, saya ucapkan terimakasih untuk tawarannya, dan melanjutkan pencarian.

Perkarangan Enny’s Guest House dari lantai atas kamar kami

“Eh, ini penginapanya bagus deh. Kata teman-teman gw yang pernah menginap di sana, tempatnya enak gitu,” kata Rendra sambil memperlihatkan salah satu situs berisi penginapan di Malang paling rekomendasi.

Rendra kami desak segera menghubungi penginapan tersebut. Berdoa saja, siapa tahu masih ada kamar yang kosong. “Yang kosong untuk hari (Kamis) itu Cuma satu. Tapi hari Jumatnya ada satu tamu yang bakal kelar. Nantinya bisa pindah kalau memang mau pindah,” kata karyawan penginapan tersebut.

Tanpa pikir panjang, Rendra pesan kamar yang kosong itu, dan langsung mengirim sejumlah uang sebagai tanda jadi.

Masalah penginapan kelar, karena kami akan bermalam di Enny’s Guest House. Setelah tanya ke beberapa teman, letak EGH sangat strategis. Dekat juga ke kantor tempat penyewaan jeep.

  1. Mengujungi Bromo

Jeep yang kami sewa tiba tepat waktu di halaman depan Enny’s Guest House (EGH) pukul 11:00 malam. Sebelum beranjak meninggalkan kota Malang menuju Bromo, kami terlebih dahulu dibawa ke kantor mereka. Diberitahu besaran suhu di sana, titik kumpul di mana, dan bakal ke mana lagi setelah melihat matahari terbit.

Malam itu suhu kota yang dikelilingi sejumlah gunung seperti Arjuno, Semeru, Kawi dan Panderman, serta Kelud mencapai dua puluh dua derajat celcius. Waktu yang tepat menyantap semangkuk Indomie rebus tanpa rasa berdosa, bukan? Dan cuaca seperti itu bisa menghasilkan satu orang anak sepuluh sampai sebelas bulan mendatang.

Sepanjang perjalanan menuju Bromo, supir jeep kami bernama Patrick, memberitahu spot paling asyik melihat matahari terbit dari puncak Gunung Penanjakan. Mengingat hari kejepit Nasional, dia memastikan bakal banyak wisatawan yang melakukan hal serupa. Maka itu perjalanan dilakukan sekitar pukul 12:00 malam. Biar tiba di pos 2 sekitar pukul 03:30 dini hari dan jeep dapat parkir di tempat yang tak terlalu jauh. Sehingga memudahkan kami mencapai lokasi yang dimaksud.

Patrick menyarankan supaya kami jangan tidur. Nikmati saja perjalanan menuju Bromo karena bakal banyak menemukan hal-hal menarik yang mungkin tidak pernah kami temui selama di Jakarta. Salah satu ucapan Patrick yang bikin saya penasaran adalah begitu di dataran atas menuju Bromo, kami dapat melihat bintang-bintang bertebaran di langit. “Kakak pasti takjub pas melihatnya,” kata Patrick.

Inginnya, sih, begitu tapi keburu mata ini kriyep-kriyep. Melihat ke belakang, Mbak Lilis dan anaknya sudah pulas. Rendra setengah tidur. Cuma Mbak Ana yang masih terjaga. Berhubung saya tidak bisa tidur, Mbak Ana saya ajak saja bercanda. Sesekali Patrick kami goda. Tapi kayaknya tidak mempan.

“Nah, ini saya bilang tadi. Banyak `kan bintangnya? Pasti kakak jarang melihat bintang sebanyak ini di Jakarta,” kata Patrick yang terlihat sumringah dan tersenyum membuktikan omongannya. Brondong ini akhirnya tersenyum. Saya senang melihatnya.

“Banyak banget bintangnyaaaaaa,” kata saya sambil mengeluarkan kepala untuk melihat semua bintang-bintang itu.

Setelah melewati jalan yang bikin ingat sama Tuhan, mendadak kangen sama orangtua dan pacar, plus mendadak ingat punya hutang sama siapa saja, sampailah kami di pos 2. Bak lantai yang ketumpahan gula, puluhan motor langsung menghampiri jeep kami dan menawarkan jasa mengantar sampai ke atas. Catat, hanya sampai depan pos masing-masing tidak sampai spot yang diinginkan. Makanya, selagi kaki masih kuat, mending jalan tidak usah pakai ojeg.

Selepas melihat matahari terbit di Bromo.
Jatuh cinta banget sama pemandangan seperti ini
Satu mimpi terwujud. Selanjutnya, bakal ke mana kita?

Selain itu, harga yang mereka tawarkan tidak masuk akal. Persis seperti ojeg-ojeg pangkalan depan kantor saya. Yang langsung tembak harga padahal belum tentu tahu letak persis alamat yang dituju. Sad!

Tidak hanya dimanjakan dengan keindahan matahari yang secara perlahan menampakkan wujud, dari puncak Gunung Pananjakan pos 2 kami juga bisa melihat dengan jelas keindahan Gunung Bromo, Semeru, dan puncak Gunung Tengger yang tertutup kabut cukup tebal.

Buat yang pergi sendiri, bakal sering elus dada. Waktu itu, sepasang kekasih warga negara asing berdiri di depan saya dan berciuman sambil berfoto. Mupeng, njir! Sebentar-bentar ciuman, pelukan, melihat ke arah Gunung Bromo, senyum-senyum, lalu ciuman lagi. Ciumannya kurang bringas, terlalu standar, dan sadar kamera. Cowoknya terlihat binal dan tidak suka basa-basi tapi ceweknya malu-malu-nanggung-kalau-udahan.

Buat kalian yang mungkin tidak bawa pakaian banyak untuk lapisan, tenang, banyak yang jual keperluan tersebut di puncak Gunung Pananjakan. Sarung tangan, kupluk, kaos kaki tebal, sampai jaket tebal a la kadarnya pun dijual sama mereka. Paling penting adalah perut jangan kosong. Sebelum berangkat ke Bromo sebaiknya makan terlebih dahulu. Tidak perlu memberatkan tas dengan isi makanan, karena banyak penjual makanan juga di sana.

 

 

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

14 comments

  1. belum pernah ke Bromo. masih wacana melulu nih. hahahahaha.. eeh kalo di blog gak boleh komen yang aneh-aneh yah ? wakakakakaka

    1. Mau komen ape lu? EH?? *asah golok*

    1. *brb ke blog Mbak Endang*

  2. Aku ga kuat naek yang ke dua itu, yang ada pura nya ituh, nyerah 🙂

    1. Saya dan teman-teman alhamdulillah bisa naik sampai puncak

  3. Kalau liburan rame-rame dengan teman, apapun dijabani ya. Meski harus naik bus 17 jam sekalipun.

    1. Betul sekali, kak. Mereka bocor-bocor. Perjalanan jauh jadi tak terasa sama sekali

  4. Bromo always make me enjoy the trip so much, I’ll go there again 😀
    *opo iki bahasa inggris segala*

    1. Yuklah bikin acara di sana, mas

  5. Seru mba ceritanya… Thanks ya.. buat referensi ntar mo ke bromo juga 😀

Tinggalkan Balasan ke Salman Faris Batalkan balasan