kurma dan kopdar gula

#KopdarGula, Lebih Sehat Madu dan Kurma Ketimbang Gula?

Gula bagi pelaku diet dianggap musuh. Di benak orang-orang yang sedang dalam proses menurunkan berat badan, memasukkan gula sama saja menghambat mereka memperoleh bentuk badan yang diidam-idamkan. Tidak sedikit pula yang terlanjur memercayai konsumsi gula bisa mengakibatkan obesitas yang berujung pada risiko penyakit jantung dan diabetes.

Salah satu orang yang memusuhi gula adalah saya. Bisa sekurus sekarang karena selama empat tahun saya bermusuhan dengan gula. Padahal, dokter hanya menyarankan saya untuk mengurangi asupannya, bukan tidak makan gula sama sekali.

Hal di atas yang mendasari saya berkenan hadir di #KopdarGula bersama @tanyadok, @buibuksocmed, dan #BasketOmOm pada Sabtu, 8 April 2017. Ada pun yang menjadi narasumber siang hari itu adalah Dr Marshell dari Tanya Dok.

Diskusi yang diadakan di sebuah kafe di kawasan Cipete Raya berlangsung santai selama hampir dua jam. Cara Dr Marshell menjawab seluruh pertanyaan, baik dari peserta yang hadir maupun dari pengguna Twitter yang mengikuti diskusi melalui tanda pagar #TanyaGula, dijawab dengan lugas dan mudah dipahami.

#KopdarGula dibuka dengan penjelasan mengenai anjuran mengonsumsi gula sehari-hari. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menganjurkan 50 gram atau setara dengan empat sendok makan. Beliau bilang, angka tersebut masih lebih “manusiawi” dibanding anjuran dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu hanya 25 gram atau setara dengan dua sendok makan.

Sanggup? Andai seluruh masyarakat Indonesia menyanggupi anjuran tersebut, saya rasa akan berkurang jumlah pasien diabetes tipe 2, akibat berkurangnya jumlah orang obesitas.

Kurma dan Madu Jauh Lebih Sehat Ketimbang Gula?

Dalam diskusi itu juga Dr Marshell menjawab sejumlah kesalahpahaman yang terjadi di masyarakat. Misalnya, apakah buah kurma itu lebih bagus dibanding gula dan madu?

Menurut dokter berkacamata ini kurma memang termasuk golongan buah, dengan kandungan gulanya berupa gula fruktosa. Akan tetapi, di tengah industri yang semakin pesat, buah kurma yang dijual di pasaran tidak sedikit adalah buah kurma yang sudah direndam dengan air gula. Jatuhnya manisan kurma, bukan kurma murni. Bila bicara produksi massal, gula digunakan sebagai salah satu pengawet. Sehingga sama saja. Kecuali, kalau kita mengonsumsi kurma yang dipetik dari pohon sendiri.

Begitu juga madu. Banyak yang bilang madu lebih baik daripada gula pasir. Faktanya, saat madu masuk ke dalam tubuh (lambung), tubuh tidak bisa membedakan apakah itu madu atau gula pasir. Lagi-lagi jatunya sama saja. Begitu madu masuk, langsung menaikkan kadar gula darah untuk energi kita. Sebaiknya, konsumsi madu maupun kurma tetap dibatasi.

Macam-macam Gula

Lalu, ada yang bertanya seperti ini, Dok, katanya gula putih atau gula pasir itu tidak bagus. Lebih bagus gula aren, lebih sehat, katanya. Sama seperti nasi, nasi merah lebih bagus ketimbang nasi putih? Apakah semua yang putih-putih harus dimusuhi?

Dr Marshell menjawabnya dengan menjabarkan enam jenis gula yang seringkali kita jumpai di pasaran.

  1. Gula pasir : Kandungan utamanya disebut sukrosa. Yang nantinya langsung dicerna tubuh untuk menaikkan kadar gula darah. Naiknya langsung tinggi.
  2. Gula batu : Pernah lihat gula batu? Biasanya, kalau kita pesan teh poci, disediakan gula batu yang disajikan terpisah. Menurut Dr Marshell, gula batu adalah gula yang terbentuk melalui proses pengkristalan. Jadi, kalau ditanya kandungan apa, kandungannya sama-sama sukrosa. Sama saja bahayanya. Bahkan, nilai kalori dari gula batu, lebih besar dibanding gula pasir.
  3. Gula halus : Itu, lho, gula yang biasa dipakai buat kue donat. Tahu, kan? Jenisnya pun sukrosa. Yang membedakan hanya proses terbentuknya saja.
  4. Gula cokelat : Biasa disebut dengan gula aren. Kandungannya sama, sukrosa. Prosesnya sama saja. Perbedaan lainnya, harganya lebih murah.
  5. Gula pelapis, pondan : Sama bae!
  6. Gula palma : Sama kayak gula aren, tapi bentuknya gula palma masih utuh, belum dihaluskan.

“Mau putih, mau cokelat, tetap saja namanya gula. Harus dibatasi, jangan berlebihan Ikuti anjuran dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 50 gram sehari,” katanya.

Kemudian, seorang ibu bertanya mengenai pemberian cokelat pada anak, mengingat aktivitas seorang anak yang cukup aktif. Bolehkah dikasih berlebih? Semacam mencari pembelaan, kayaknya.

Sebagai seorang dokter, Dr Marshell akan memberi saran untuk sebaiknya tidak diberi cokelat atau teh manis, melainkan manis dari susu. Mengapa? Kembali lagi, seorang anak harus mendapatkan nutrisi yang baik setiap harinya. Nutrisinya harus seimbang. Ada karbohidrat, lemak, dan protein.

Apabila diberi susu, orangtua tidak hanya memberikan gula saja pada seorang anak, tapi juga memberikan nutrisi lainnya yang terkandung di dalam susu tersebut. Kandungan yang benar-benar dibutuhkan seorang anak.

Kalau orangtua kekeuh mau memberikan cokelat, cek dulu label kemasan, berapa kandungan susu dan gulanya. Bila ternyata kandungan susunya besar, boleh diberikan kepada anak.

Hmmm.. sebentar, saya coba mengingat apalagi yang dibahas di #KopdarGula hari itu. Ya, Tuhan, saya lupa. Begini saja. Untuk informasi lebih jelasnya, coba kalian intip tanda pagar #TanyaGula di Twitter. Atau tanya langsung dengan cara mensyen @tanyadok. Nanti akan dijawab oleh mereka. Oke?!

NB: Foto yang dijadikan gambar fitur pada postingan #KopdarGula diambil dari situs Pondok Ibu.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

3 comments

  1. bener gk sih kalo kurang gula bisa bikin susah mengingat? eh..ups.. hahahha… kidding

  2. luar biasa, saya terus terang masih kurang bisa memusuhi gula,
    dan memang berat badan jadi agak berlebih sedikit dari normal

    akan jadi bahan pertimbangan juga nih, tuk ikut penulis adiitoo dot com tuk bisa memusuhi gula

  3. Memang menghindari gula pasir lebih sehat,bdan lebih fresh,perut terasa lebih ringan,kolesterol,asam urat dijamin normal kembali

Tinggalkan Balasan