Ketika Pria Tak Berjakun Pergi Umrah

Tulisan ini tersimpan di draft selama setahun. Saya lupa pernah menulis pengalaman pahit pria tak berjakun ketika umrah ini. Maklum, blog ini sempat mati suri gara-gara hostingannya kacrut.

Pertumbuhan jakun dan kumis yang melambat akibat obesitas di masa kanak-kanak, ditambah menumpuknya lemak di bagian dada, membuat orang lain selalu mengira saya adalah perempuan.

Pengemudi Gojek, supir taksi, atau supir Grabcar, selalu memanggil dengan sapaan mbak, ibu, atau cici. Jangan heran kalau banyak dari mereka nyaman curhat dengan saya. Kalau kebetulan dapat pengemudi yang langsung memanggil saya bapak dan tidak meralatnya, ongkosnya pasti saya tambah.

Kekeliruan tidak hanya terjadi di sini. Saat saya umrah pada Februari 2015, cukup banyak kejadian yang membuat saya geli sendiri gara-gara orang lain mengira saya adalah jamaah perempuan. Baru sampai di Qatar saja, saya harus ribut dengan petugas bagian pengecekan visa di Bandara.

Petugas kekeuh, percaya, dan yakin saya ini perempuan. Dia bilang wajah saya perempuan sekali. Selayaknya perempuan yang akan beribadah selama sembilan hari di Madinah dan Mekkah, menurut dia seharusnya saya mengenakan jilbab. Bukan malah pamer rambut.

Karena pergi sendiri, saya harus pelan-pelan menjelaskan bahwa saya adalah cowok tulen. Jakun dan kumis memang tidak ada tapi saya punya penis, meski tidak selebar, sepanjang, dan setebal milik pria Arab. Saya juga punya bulu kaki. Bulu yang tersembunyi di bagian lain juga ada!

Dia baru benar-benar percaya setelah saya kasih lihat KTP, kartu pelajar, dan kartu pers yang mencantumkan identitas lengkap termasuk jenis kelamin saya yang sebenarnya ke depan mukanya. Kalau dia masih tidak percaya, saya berencana bugil kayak Joko Anwar yang rela melakukan itu di swalayan demi mendapat followers yang banyak.

Rombongan jamaah umrah sampai di Bandara Qatar

Dulu pernah periksa ke dokter. Setelah diperiksa, jakun itu masih tertutup karena lemak yang ada di tubuh saya belum hilang 100 persen. Dibilang kekurangan hormon testosteron tidak juga, buktinya saya punya bulu kaki dan bulu-bulu lainnya. Dampaknya suara saya belum pecah, tidak nge-bass, mirip suara perempuan.

Waktu masih di bandara Soekarno dan Hatta, anak kecil yang ternyata satu rombongan dengan saya menjerit ketika masuk ke WC laki-laki. Dia lari ke ibunya dan mengatakan salah masuk toilet. Gara-gara melihat saya sedang merapikan rambut sambil bercermin. Hufht! *sad*

Saya coba mengingat kisah mengenaskan lainnya yang saya alami selama umrah. Kalau terbahak-bahak, kalian dosa. Kalau diam saja kalian masuk surga :p

  1. Dihadang porter

Tujuan pertama perjalanan umrah saya kala itu adalah kota Madinah. Koper dan tas yang menyangkut keperluan untuk ibadah serta semua perlengkapan masuk dalam bagasi, menjadi tanggungjawab pihak travel. Tersisa satu tas berisi dompet, buku, dan gawai yang saya bawa.

Porter, pembawa barang, di Bandar Udara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMMA) Madinah lebih ganas dan lebih tidak sopan jika dibanding porter di Pelabuhan Tanjung Priok.

Mereka akan seenak udel meraih tas di genggaman begitu tahu rombongan yang datang adalah jamaah dari Indonesia, terutama perempuan. Mereka tidak bertanya dulu apakah kita mau menggunakan jasa mereka atau tidak.

Sesaat sebelum pesawat mendarat di Madinah

Itu terjadi pada saya. Seorang porter yang sudah menunggu di dekat pintu keluar langsung menghampiri saya seraya berkata, tasnya saya bawakan saja, Mbak langsung masuk bus saja. Belum saya jawab tawaran itu, tangan sebelah kanannya sudah memegang tali tas saya.

Saya menolaknya dan refleks memeluk erat tas tersebut, mirip ketika sedang berjalan di terminal Blok M yang terkenal banyak sekali copet. Kalau kita tidak mau, mereka akan bilang bahwa orang Indonesia itu baik-baik, tidak pelit, dan paling senang kalau tasnya dibawa sama porter. Maunya dilayani seperti bos. Hih.

Rata-rata yang merasa terganggu dan risih sama tingkah porter-porter itu adalah jamaah perempuan. Para porter itu mungkin sadar, bapak-bapak di rombongan saya terlihat gagah dan mampu membawa semua barang seorang diri tanpa perlu dibantu.

Dasar porter bodoh. Mereka seharusnya tahu yang lebih royal itu adalah bapak-bapak, bukan ibu-ibu. Mereka minta dengan harga yang mahal sekalipun akan tetap dibayar tanpa ada proses tawar menawar ke harga yang sangat rendah.

  1. Selalu didahulukan dan diberi bonus atau diskon

Jamaah atau penduduk laki-laki setempat selalu memprioritaskan kaum perempuan. Ketika melihat ada perempuan yang mengantre di belakang mereka, akan ditanya apakah mau duluan atau tidak.

Waktu itu saya mau beli makanan di salah satu ruko pinggir jalan. Laki-laki Arab yang berdiri di depan saya langsung bergeser ke kanan ketika tanpa sengaja menengok ke belakang. Dia meminta saya maju agar lebih cepat memesan makanan yang dimau. Saya menolaknya tanpa memberitahu saya ini cowok. Tengsin, bo!

Pernah satu kali, di warung kebab, ada seorang laki-laki baik hati memberikan saya seporsi kebab yang menjadi menu favorit di tempat itu. Terima ini, Ukhti. Ini kebab yang paling banyak dicari di sini. Rasanya enak, kamu pasti suka, katanya. Lumayan, saya hemat Rp 55 ribu.

H-2 menuju Mekkah untuk menjalankan ibadah wajib, saya berkeliling sejumlah toko di sepanjang jalan yang berada di belakang hotel, tempat saya dan rombongan menginap selama lima hari di Madinah. Mencari pesanan orang rumah sekalian oleh-oleh berupa parfum.

Mumpung adzan Maghrib masih lama, saya memilih melakukan studi banding mengenai harga di setiap toko. Setelah satu jam, pilihan saya jatuh pada toko milik Tuan Badu. Harganya standar, Tuan Badunya baik dan ramah, tokonya juga cukup bersih.

Karena Tuan Badu juga bisa bahasa Indonesia, transaksi dilakukan menggunakan bahasa Indonesia dan harga dalam bentuk rupiah. Kamu pilih saja, masalah harga gampanglah sama saya, banyak pelanggan saya dari Bandung, Semarang, Medan, dan Jawa, katanya. Dia tidak tahu kalau Bandung dan Semarang itu berada di pulau Jawa. 😆

Tuan Badu cerita, mantan pacar anak laki-lakinya adalah mahasiswi asal Indonesia. Tuan Badu jatuh hati karena anaknya sopan, mandiri, dan ibadahnya bagus. Sempat ada rencana untuk segera menikahkan keduanya. Tuan Badu rela jika kelak anaknya harus tinggal dan hidup di Indonesia, jauh dari dia dan istri.

Namun, Tuan Badu harus menerima kenyataan, hubungan keduanya kandas karena ternyata anak laki-lakinya selingkuh. Tuan Badu kecewa dan marah besar.

“Kamu mau saya kenalkan dengan anak saya? Dia sudah berubah. Dia belajar dari kesalahannya,” kata dia. Saya menjawab dengan senyum saja.

Tuan Badu lalu menyuruh saya memilih parfum yang mau dibeli. Dia memberi potongan harga 50 persen untuk saya. Tanda terimakasih karena kamu baik sama saya, kata Tuan Badu.

Ketika saya pamit pulang, Tuan Badu memasukkan dua parfum (seperti pesanan adik saya) tambahan ke dalam tas plastik belanjaan saya. “Saya marah kalau kamu menolaknya. Kalau nanti saya ke Padang, saya harap bisa bertemu dengan kamu lagi,” kata dia.

  1. Diajak masuk mobil sama pria Arab

Pakaian yang saya kenakan selama umrah adalah gamis dan celana tiga per empat. Pakai gamis jauh lebih ringkas ketimbang baju koko. Heran, giliran saya yang pakai gamis dibilang mirip perempuan. Padahal rata-rata pria di sana mengenakan gamis. Ini tidak adil!

Gara-gara itu saya pernah dipaksa masuk ke dalam mobil oleh pria Arab dengan setelan khas orang kaya di sana. Awalnya dia menyapa menggunakan bahasa Arab. Saya membalasnya dengan ‘Terimakasih’. Kirain bakal pergi ternyata dia bisa bahasa Indonesia juga. Ajakan masih berlanjut.

“Sini, masuk. Jangan takut, saya bukan orang jahat. Kamu mau ke mana? Ikut sama saya ke tempat favorit orang Indonesia. Kecuali kalau kamu mau yang lebih, saya pilihkan tempatnya,” kata dia.

Outfit selama umrah

Dia hampir turun dari mobil. Sebelum itu terjadi, saya bangkit dan memilih lari entah ke arah mana, yang penting lari dulu.

Saya nyaris stres ketika mendengar cerita TKW asal Indonesia. Pria Arab dikenal sebagai sosok yang tak mampu menahan birahinya. Siapa saja bisa disikat sama mereka. Mereka menganggap wanita adalah budak seks. Jika wanita yang melayaninya kesakitan, mereka akan semakin senang dan semakin brutal. Tapi ketika wanita menikmati permainan mereka, mereka bisa main tangan dan menghajar sampai babak belur.

“Jangankan sama cewek, cowok pun mereka sikat,” kata Mbak Anis, TKW asal Surabaya.

Saya ceritakan pengalaman pahit itu ke Mbak Anis, beliau malah meledek saya,”Kalaulah mereka tahu kamu itu ternyata laki-laki, mereka tidak akan peduli, dek. Mereka itu nggak takut sama azab Allah.”

Lemas, bok, lemas!

  1. Dirayu penjual gamis

Saya suka jalan-jalan sendiri selama di sana. Habis Isya, saya sempatkan cuci mata di mall yang terletak di samping kiri Al-Masjid an-Nabawi. Mall itu mirip ITC di Jakarta tapi lebih bersih. Juga tidak ada petugas yang teriak-teriak ‘Bajunya, kakak, beli dua gratis satu’. Dan tidak ada eskalator. Mau ke lantai satu, dua, tiga, atau empat, harus menaiki satu per satu anak tangga.

Malam itu saya ke mall tersebut untuk mencari topi khas Timur Tengah atau khas Arab. Orang sini bilangnya topi tatakan pizza. Harganya bervariasi dari Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu, tergantung toko. Tapi, kalau petugas toko tahu calon pembelinya adalah orang Indonesia, mereka jarang sekali mau menurunkan harganya. Paling dikasih potongan harga Rp 25 ribu doang.

Jadi, mampirlah saya ke satu toko karena di situ topi yang saya mau banyak jenis dan modelnya. Warnanya juga bagus-bagus. Harganya juga tidak kalah bagus.

Si pemilik toko yang kalau dibawa ke Indonesia bisa jadi bintang sinetron atau model tidak mau memberi diskon yang besar sekalipun saya memborong topi itu selusin. Pokoknya harga satu topi Rp 200 ribu. Beli selusian berarti Rp 2,4 juta. Saya tawar dua juta, dia menolaknya.

Topi yang maksud seperti yang saya kenakan ini

Menurut dia, orang Indonesia itu royal, tidak pelit, dikasih harga berapa saja pasti dibeli. Tapi ‘kan tidak semua jamaah dari Indonesia bawa banyak duit. Saya saja bawa duitnya pas-pasan.

“Begini saja, topi itu tetap dengan harga segitu. Tapi, kamu saya kasih diskon 70 persen kalau beli gamis ini (gamis perempuan yang ada kilauan permata ala-ala di bagian leher). Gamis ini cocok di badan kamu. Kamu pasti terlihat cantik,” kata dia.

Saya langsung ngacir turun ke bawah. Tidak jadi beli apa-apa di mall itu. Beli topi pun di toko emperan pinggir jalan saja. Harganya masih lebih murah sedikit.

  1. Ramuan perbesar penis untuk pasangan dan madu penambah gairah di ranjang

Sebelum ke Bandara King Abdul Aziz untuk pulang ke Indonesia, jamaah umrah dibawa ke pasar Ali Murah. Pasar bagi semua umat manusia yang ingin mencari buah tangan dengan harga terjangkau. Termasuk kurma muda yang konon dapat membantu proses pembuahan sehingga memudahkan wanita untuk hamil.

Belanja di Madinah atau Mekkah berasa sedang berbelanja di pasar Mayestik, Blok M, Mangga Dua, atau apa saja toko yang ada di sini. Petugas toko fasih sekali berbahasa Indonesia. Karena memang dari tahun ke tahun, jamaah umrah atau haji dari Indonesia selalu bertambah dan tetap yang paling banyak. Di mata para pedagang di sana, jamaah dari Indonesia adalah pembeli yang tidak pelit. Anti tawar menawar. Senang juga memberi lebih.

Masuklah saya ke satu toko yang menjual kurma muda tersebut. Salah seorang petugas di toko memanggil saya, lalu memberitahu bahwa ada ramuan yang lebih ampuh daripada kurma muda tersebut. Madu dan minyak perbesar penis.

Ini minyak perbesar penis
Dan ini madu supaya bertahan lama di ranjang

“Madu ini buat kamu supaya tahan lama di ranjang. Minyak ini, untuk pasangan kamu. Bisa jadi kamu belum hamil karena punya pasangan kamu kecil. Saya kasih murah. Mau?,” ujar si petugas toko.

Mending kalau volume suaranya kecil, ini suaranya kencang banget saat menjelaskan kegunaan dari dua benda itu. Satu per satu pembeli yang mendengar penjelasan itu perlahan maju.

Satu jamaah yang juga dari Indonesia mencolek saya sambil berkata,”Nggak usah beli begituan, dek. Sabar saja. Kalau memang sudah waktunya akan dikasih momongan juga kok. Yang penting kamu sama pasangan jangan berhenti berbuat kotornya. Lagian ya, buat apa anu yang terlalu besar, kalau ujung-ujungnya bikin kamu kesakitan.”

Saya hanya bisa menganggukan kepala. Berjalan keluar toko dengan kepala menunduk. Baru berani menegakkan kepala ketika sudah bertemu dengan rombongan umrah lainnya. 🙁

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

18 comments

  1. Hidupmu berat ya, Dit…

    1. Begitulah, kak Chik. Mana berat badan belum juga turun 🙁

  2. Oalah dikira perempuan mulu ya Mas, mungkin next time kudu tumbuhin jenggot kalo umroh lagi. Salam kenal dari sesama anggota Kobel.

    1. Salam kenal, Mas Ihwan.

      Tapi, Mas, tumbuhin jenggot dan kumis itu tidak membantu. Iis Dahlia kumisan

  3. hihihi cocan, cowok cantik
    btw saat SMP saya punya tmn cowok yg “cantik” jg rupanya, krn ibunya yg kebetulan guru di sekolah saya juga cantik banget. Hrsnya jadi artis kali ya, bkn jd guru hihihi. Jd ibunya Mas pasti cantik jg ya kyknya? 😀

    1. Ibuku sudah pasti cantik dong, Mbak April. Anaknya saja cant… eh, ganteng, maksudnya 😆

    1. Mbak Nella, kamu apa kabar? Hobinya masih bercocoktanam?

  4. Hahahahaha. Kok banyak seh dit yang ngirain kamu cewek. Kalau suara seh iya. Tapi kalau lihat langsung dengan rambut dan tinggimu kok rasanya gimana gitu ?

    1. Hmmmm.. Aku sendiri bingung, Nie. Kita kopdar saja apa?

  5. Cabal ya, Ka Adit. 🙁 Tapi aku sejak pertama ketemu kk, aku nggak ngira kk cewek. Tapi memang, ada pertanyaan dlm benakku yg akhirnya terjawab di posting ini.

    1. Terimakasih, Helda.

      Memang apa pertanyaan yang ada di benak kamu? Cerita saja, nggak papa.

  6. Mbak..eh Mas… Maaf…Aku berdosa. Hahahahaha…. Maaf banget. Aku geli-geli ketawa membaca pengalamanmu. Kocak banget! Allah memang Maha Adil. Aku dikasih perawakan cowok, tapi dikasih nama cewek. :p

    1. Nggak papa Mbak Citra. Eh, maksud saya Mas Rahman 😆

      Ya begitulah Allah, adil seadil adilnya

  7. Kamu yg sabar yaaa kak, aku baca nya teriris2 saat kamu disangka wanita #Peyuk
    Trus jadi kamu beli obat pembesar penis itu ????

  8. Wah, seru juga ya pengalaman kamu di negeri Arab. Emang sih, walaupun aku belum pernah ke sana, dari banyak cerita, hampir semua teman yang pernah ke sana pasti berkomentar kalau orang2 Arab itu menganggap wanita cuma sebagai budak seks. Di luar soal seks, kelakuan mereka juga suka seenaknya dalam level maksimum. Sungguh ironis ketika di sini malah banyak yang menggagungkan hal yang berbau arab.

  9. hahaha maafkan sya karena bacanya ngakak 😀

Tinggalkan Balasan