Kenikmatan Di Awal – Penyiksaan Di Akhir

Beberapa bulan terakhir ini, pencernaan saya sedang tidak OKE. Yang mengakibatkan saya susah BAB. Kalau pun bisa, itu karena saya paksakan. Akibatnya, pantat saya pun sering sakit. Setiap kali periksa ke dokter, entah kenapa saya tidak langsung percaya, punya trauma tersendiri terhadap jawaban dokter.

Bulan Februari, saya mencoba ke dokter untuk memeriksakan diri. Jawaban yang saya terima, bahwasanya saya bermasalah dengan usus. Hanya, bermasalah dengan usus tanpa keterangan lebih lanjut. Saya pun hanya menjawab “Ooo, gitu ya, dok? Hanya itu?”. Selang 3 bulan kemudian, ibu mengajak saya ke sensei yang ada di kawasan Mangga Dua. Tubuh saya pun kembali diperiksa dengan alat semacam palu yang disambungkan ke alat modern pendeteksi penyakit. Jawaban yang saya dapat “Saya lihat disini, bagian pencernaan kamu diagramnya berwarna merah, itu tandanya kamu susah BAB, ya?”. Dalam hati saya “Nah, kok bisa tahu, ya .. Saya kan belum cerita apa-apa”. “Eh, iya, sei.. Saya memang susah BAB”. Lagi-lagi jawaban dari sensei itu bikin saya menganga “Kamu dulu pemakan yang instan-instan dan berpengawet, ya? Plus, sering minum soda, ‘kan?”. Glek. Nusuk. Tebakan sensei itu tepat. Sang sensei pun memberikan saya madu cerna yang harus saya konsumsi sebelum saya makan.

Tidak sampai disitu.

Hari Kamis saya mengantarkan kakek untuk ditotok di kawasan Pondok Gede. Ketika melihat kakek ditotok, kok saya jadi pengen ditotok juga. Kebetulan pula, badan saya sedang pegel-pegelnya. Karena selama kerja saya harus menggendok tas yang cukup berat. Akibatnya sekujur tubuh saya pegelnya luar binasa.

Menit-menit awal saya sangat menikmati totokan itu. Tapi, begitu totokan itu masuk ke titik-titik inti, saya pun menjerit karena kesakitan. Di bagian pinggang, seperti ada benjolan. Lagi-lagi, jawaban yang saya terima membuat saya percaya ngga percaya.

“Ya ampun, dek .. Situ nimbun pengawet di dalam tubuh?” kata Mas Abdul, tukang totoknya. “Maksud Mas Abdul?” jawab saya penasaran. “Kamu itu doyan makan yang instan dan minuman bersoda, ya?”. Nah, kan … Jawaban itu lagi yang saya dengar. Akhirnya, saya pun menceritakan ke Mas Abdul. Saya ceritakan saja, kalau dulu, sebelum saya menjalankan program sadar diri, saya adalah fans garis keras dari mie instan dan minuman bersoda. Kalau sudah mengonsumsi “mereka” mulut ini ngga mau berhenti.

– GOOGLE –

“Tapi itu dulu kok, Mas Abdul. Terakhir saya mengkonsumsi itu semua penghujung 2008. Sudah hampir 3 tahun saya tidak mengkonsumsi itu lagi” kata saya coba menjelaskan. “Lagian ya Mas Abdul, berat badan saya saja sudah turun 40 kilograman”. “Memang berat kamu dulu berapa, dek?” tanya Mas Abdul sambil menekan pinggang saya. “Terakhir saya timbang di 2008 sekitar 125 kilogram, Mas. Sekarang sih, nimbang dibulan Mei kemarin sudah 75 kilo gram” senyum sambil menahan sakit.

“Nah, ini nih, hasil yang kamu dapatin dari hobi kamu mengkonsumsi ‘mereka-mereka’ itu. Kamu susah BAB, karena didekat pencernaan kamu, pengawet-pengawet itu ngumpul semua. Jadi, kamu harus tahan, ya. Mau sehat, ‘kan?”. “Mau, mas!” jawab saya semangat.

Selesai melakukan totok tubuh bagian belakang, saya disarankan melakukan detoksisasi dengan mengkonsumsi beberapa butir pil herbal. “Tapi, dek.. Sebelum kamu minum obat itu, sampe rumah kamu juga moncor itu” kata Mas Abdul dengan muka serius.

Dan, ternyata benar. Selama perjalan pulang, hasil totok itu mulai menunjukan hasilnya. Sesampainya di rumah, tak henti-hentinya saya BAB. Ada kali 10 kali saya mondar mandir ke WC. Sampai saya memosting ini, pun saya masih mondar-mandir ke WC.

Buat teman-teman yang masih hobi mengkonsumsi “mereka”, pesan saya cuma 1. Berhentilah. Sesekali boleh, deh. Sekarang sih memang nikmat banget, efeknya akan kalian rasakan belakangan. Bukan nyumpahin, lho ! 🙂

Dan, mohon maaf apabila ada yang tidak mengenakkan dari postingan ini. Maksud saya hanya ingin berbagi. Tidak lebih 🙂

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

33 comments

  1. wah, semoga cepet sembuh ya Dit…
    alhamdulillah aku gak suka minuman bersoda. Udah berapa tahun kali gak pernah nyentuh cola dsb.
    kalo mi instan, kadang masih bikin, apalagi pas tanggal tua renta :((
    thx infonya ya, bermanfaat banget.

    1. Wah, hebat. Pertahankan ya, Put 😀

    1. Hmmm.. Kalau sudah “hobi” memang susah untuk menjauhkan. Tapi,kembali lagi ke pribadi masing-masing, sih 🙂

  2. Kalau lagi makan atau minum yang demikian itu tadi kita seringnya lupa akan efeknya…
    Semoga yg baca ini bisa ambil hikmahnya

    1. Bener sekali, Pak. Suka terlena akan kenikmatannya. Amiin 🙂

  3. Eh aku mau totok itu dit… ama sense itu dimana?! mau dong mau… 😀 *anterin

    1. SAMPAI DULU KE INDONESIA, BARU AKU ANTERIN. Ugh. Nyampe aja belum, udah minta anterin. Hahaha =))

  4. Saya tidak pernah minum soda lagi, dan sudah jarang makan makanan instan kecuali kalo orang tua ngga ada, terpaksa cuma masak mie instan atau chicken nugget >.<

    1. Yah, sesekali boleh lah. Asal jangan keterusan. Mumpung kamu masih aktif dan muda 🙂

  5. wah, jadi takut…
    mie instant masih jadi makanan favorit saya

    1. Ga perlu takut. Santai aja. Kan, kita yang menanamnya, jadi jangan takut. Hadapi saja hasil akhirnya 🙂

  6. wow, pernah 100 kg lebih. sekarang saya 80-an, sedang ingin turun sampai 70-an. mengenai minuman berdosa (eh bersoda) dan makanan instan, saya cukup jarang mengkonsumsi. dan saat ini makan buah dan sayur diperbanyak, tak lupa olahraga :D..salam semangat, selamat hari minggu

    1. Iya, mas. Dulu saya 100an.

      Wah, bagus itu mas, lanjutkan terus ya. Saya pun sedang melakukan itu semua. Semoga saya bisa konsisten melakukan ini semua.

      Salam sehat!

  7. saya ndak terlalu suka minuman bersoda, lebih banyak kopi. itu ndak terlalu bahaya kan?

    1. setau saya, kebanyakan kafein juga ga baik buat lambung, bukan?

  8. ini sinshenya keren banget nih…. boleh dong diberikan alamatnya… kayaknya menarik nih di totok sama dia…..

    semoga cepet sembuh ya…..

    1. Kalau sinsheinya kantornya tepat di depan WTC Mangga Dua. Kalau totoknya, di Pondok Gede :). Saran saya sih, mending ke totok.. Karena badan sambil ditotok gitu, enak

  9. Perbanyak juga makan sayuran dan buah, pokoknya makanan berserat 😉

    1. Sudah, kak. Aku memang doyan sayuran dan buah. Tapi dulu, juga doyan mengonsumsi begituan

  10. wiiuuhhh inspiratif, makasih infonya yakk…

  11. perbanyak makan yg berserat sob,,,
    coba deh buah pepaya ,,,

    wilujeng ngeblog

    1. kalau itu sudah menjadi kebiasaanku. Tapi, tetap saja tak berhasil. Memang dasar dari dulu sudah menimbun “penyakit”

  12. Jadi pantat kamu sakit Dit? Aduhh bahaya banget itu Dit! *lanjut membaca*

    Huwaa Dit, aku jadi pengen ditotok kek gitu. Pengen tahu juga, secara aku doyan banget makan instan dan sncak dan makanan yang berpengawet. Tapi kalau minuman bersoda udah lama banget aku hindari sih, karena emang gk suka juga. Soalnya bikin panas.

    1. Sesekali ga papa kok, Rus. Tapi, jangan kebablasan juga, ya. Good job, Rus. Kamu tidak meminum minuman soda.

  13. eeeh totoknya dimana Dit.. aku mau juga dong

  14. udah turun 40 kilo-an? wiiih hebat. Daku sih ga suka soda, yang instan-instan juga ga terlalu doyan.. *kecuali mie goreng rendang* 😆 *intinya tetep ada instannya*

  15. Duh. Aku sampai sekarang masih doyan soda…
    Yang harus dijaga adalah anak2 yang masih kecil ini agar tidak dibiasakan makan yang instan ya.

  16. Wow, tetep posting meskipun sedang moncor… 😆

  17. boleh minta alamat lengkap tempat totok yg di pondok gede nggak, mas? makasih sebelumnyaaaa.

  18. Wah, sampe sekarang pun akunya sering minum minuman yang mengandung soda soalnya enak dan lebih fresh. Nggak tahunya bisa sangat merugikan kesehatan kita ya mas bro
    thanks atas nasehatnya, dikit2 akan aku kurangi pengkonsumsiannya..

Tinggalkan Balasan