Kebablasan Karena Ketiduran Itu Tidak Enak!

Ketiduran (sumber: GOOGLE)

Ayo ngaku, siapa yang sering tidur di dalam bis ketika pulang bekerja? Pasti banyak, ‘kan? Dan pasti, tidur di dalam bis itu nikmat rasanya. Daripada pusing melihat kemacetan yang ada di jalan, mending tidur. Betul, tidak?  *gaya Aa Gym*. Tapi, apa rasanya ketika kita bangun, kita tersadar kalau ternyata kita keterusan dari tempat kita biasa turun? GA ENAK BANGET, pastinya! Kurang lebih itulah yang saya rasakan malam ini.

Tadi sore, selesai melakukan interview pekerjaan, saya memutuskan untuk langsung pulang. Niatan untuk nonton @SangPenari, saya coret dulu. Enggak tau kenapa, saya merasakan capek yang teramat sangat. Berhubung jumlah armada bis yang sering saya gunakan sangat sedikit dan sekalinya nemu pasti penuh, saya memilih naiknya dari terminal Depok. Kalau dari terminal, sudah pasti saya dapat duduk. Enggak lama setelah saya naik dan mendapatkan tempat duduk, bis nya pun jalan. Ah, lega rasanya. Melihat jam, belum jam macet-macetnya. Saya fikir, pasti enggak sampai 2 jam perjalanan, saya sudah sampai di rumah.

Seperti biasa, kalau sudah di dalam bis menuju pulang, biasanya yang saya lakukan adalah, tidur. Mau baca, enggak mungkin, secara penuh dan pasti gelap. Mau kayang, entar disangka orang gila. Yaudah, tidur merupakan pilihan yang sangat tepat. Biasanya, nich, saya selalu terbangun kalau ada yang nyentuh saya. Makanya itu, walaupun saya tidur, saya tidak pernah takut untuk keterusan. Tapiiiii tadi begitu saya melek, saya perhatikan gedung-gedung yang ada di luar, ternyata saya keterusan cukup jauh, saudara-saudara. Shock, sudah pasti. Gimana enggak, kalau deket sih enggak masalah, ini jauhnya naudzubillah. Plus, jalanan pun sudah penuh dengan mereka-mereka yang akan pulang. Yassalam.

Mau naik taksi, enggak mungkin. Mau berapa rupiah???? Gila. Mending supir taksinya tau jalan, kalau dapat yang ga tau jalan, sama aja bodong. Satu-satunya cara ya dengan busway. Setelah menempuh perjalanan 45 menit, sampailah saya di terminal Lebak Bulus. Jam, pun, sudah menunjukan pukul 7.45. Dan dari Lebak Bulus, masih butuh 30 menit lagi untuk benar-benar sampai di rumah. Dengan catatan, kalau TIDAK MACET. Nyatanya, saya menemukan yang namanya MACET. Pasrah.

Kawasan Ciputat (Jepretan Sendiri)

Begitu melihat jalanan Ciputat yang tidak santai, pupus sudahlah harapan saya untuk segera sampai di rumah dalam waktu cepat dan bisa menyaksikan acara favorit saya yang malam ini memasuki sesi final. Ngok!

Gara-gara ketiduran sampai kebablasan, membuat rencana yang sudah tersusun rapi, mendadak berantakan. Ingin menikmati perjalanan singkat, malah mendapati perjalanan seperti biasanya. Bahkan, lebih. Dari Depok ke Ciputat, biasanya 2 jam. Itu sudah hitungan macet yang standar. Kalau macet yang bikin supir truk bisa main gaplek di jalan raya, beda lagi ceritanya. Macet standar aja sudah seperti waktu perjalanan Jakarta-Bandung, apalagi macet yang tidak standar.

Fiuh, sampai di rumah, langsung mandi, sholat dan posting ini deh. Tapi syukur, deh, acara yang ingin saya saksikan ada siaran ulangnya. HAHAHA.

Selamat malam ,

~Adiitoo

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

7 comments

  1. aku gak bisa lho yang namanya tidur di kendaraan umum…sengantuk dan secape apapun…gak tenang aja bawaannya…di kendaraan umum kan gak ada yg kita kenal satupun…makasih udah share ya..salam kenal slalu

    1. Memang sih, mbak. Rada ga aman juga. Makanya itu, saya kalau tidur, tas selalu dalam pelukan. Hehehe. Salam kenal juga owner baju wanita. Kok web nya ga bisa di kunjungi ya?

  2. Wahihihi, saya juga sering ngalaminnya. Kadang karena dengerin musik di iPod, trus ketiduran. Kadang ya karena terlalu capek, sehingga kantuk tak dapat ditahan. Jadinya, kebablasan. Pernah sampai muter lagi dari Kp. Rambutan ke arah sebaliknya, haha…

    1. Kampung Rambutan? Serius? Itu kan macetnya parah banget. Haha :))

  3. Waktu masih kuliah di Surabaya, saat naik bis/travel Bali-Surabaya saya malah senang tidur dalam perjalanan, entah bagaimana saya sering otomatis terbangun kalau kendaraannya berhenti.

    1. saya juga demikian bli, biasanya. Tapi malam itu, saya benar2 ngantuk berat. dan keterusannya pun cukup jauh :”(

  4. Ini sangat bermanfaat karena koneksi internet melalui HP sering dihitung harganya per KB, sehingga cara ini selain cepat juga lebih murah.

Tinggalkan Balasan