Ke Cirebon Sama yang Berumur, Perhatikan 4 Hal Penting Ini

Mimpi saya berlibur ke Cirebon terwujud juga dua hari jelang puasa. Setelah gagal lebih dari satu kali; si Kawan yang harus tugas negara dan yang terakhir gagal ke Cirebon karena tragedi KTP hilang, pelisiran ke salah satu kota yang terkenal dengan makanan enak dan tempat wisata ini beneran jadi. Hanya saja tidak dengan si Kawan maupun sahabat jurnalis, melainkan rombongan blogger kurang piknik.

Foto kiriman Aditya Eka Prawira (@adiitoo18) pada

Saya tidak bilang rombongan blogger kurang piknik ini berumur. Cuma kalau pergi sama mereka, semuanya harus jelas, harus dipikirkan masak-masak, dan nggak bisa serba dadakan. Naik apa ke Cirebon, mau ke mana saja selama di Cirebon, dan yang paling penting mau nginap di mana harus sudah jelas sebelum hari H. Beruntung ada Mbak Nyai, masalah penginapan beres!

Naik kereta ke Cirebon

Cirebon, salah satu kota di provinsi Jawa Barat, yang dikenal dengan nama kota udang dan kota wali ini berada di jalur pantura atau pesisir utara pulau Jawa. Moda transportasi menuju Cirebon cukup banyak dan beragam. Ongkosnya juga tidak menguras kantong.

Kami pilih naik kereta ke Cirebon karena stasiunnya berada di pusat kota dan kalau saya capai duduk selama di perjalanan bisa berdiri sambil jalan-jalan dari gerbong satu ke gerbong lainnya. Ini kali kedua saya naik kereta untuk jarak yang cukup jauh, setelah tahun lalu jalan-jalan ke Malang.

Yang tersisa di situs penjualan tiket di jam yang kami inginkan adalah KA Tegal Bahari. Berangkat dari stasiun Gambir dan berhenti di stasiun Cirebon. Harganya cukup murah, hanya Rp225 ribu. Nyaman, adem, dan ada colokannya. Toiletnya juga cukup bersih. Lama perjalanan kurang lebih tiga jam-an, meleset dari perkiraan semula. Saran dari kami, kalau memang terasa lama, mending diam dan nikmati saja. Jangan coba-coba tanya ke cleaning service, nanti di-PHP-in. Kalau perut sudah tak bisa diajak kompromi, beli saja makanan di sana. Rasanya not bad, kok.

Menginap di Hotel Santika Cirebon

Setelah berunding mau nginap di mana, pilihan jatuh pada Hotel Santika Cirebon. Hotel bintang tiga yang berada di pusat kota cocok sekali buat turis lokal macam kami ini yang tak tahu mau ke mana saja selama di Cirebon.

Siang itu kami dijemput sama Pak Edi. Pemilik tubuh yang besar, kepala plontos, dan sapaan ramah ini telah mengabdi selama belasan tahun di Hotel Santika Cirebon. Dengan mini bus warna abu-abu bertuliskan logo hotel di pintu penumpang bagian depan, beliau membawa kami ke tempat yang wajib dikunjungi ketika baru sampai di kota penghasil batik motif Mega Mendung, yaitu tempat makan.

Kebetulan @gembrit alias CHS (bukan singkatan dari catatan hati seorang istri) kerja di sana. Barangkali butuh seorang pemandu wisata yang baik hati, ramah, dan santun, colek saja mas-mas gemash ini Twitter. Insha Allah kalau sedang tidak sibuk dia mau menemani.

Tapi, tanpa pemandu pun kita kayaknya nggak bakal kesasar. Yang penting tujuannya jelas dan tinggal tanya sama karyawan hotel naik angkot nomor berapa untuk sampai di tempat tersebut. Atau kalau nggak mau ribet, naik becak yang suka ngetem di depan hotel saja.

Video kiriman Aditya Eka Prawira (@adiitoo18) pada

Bahkan beberapa tempat kayak Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Keraton Kanoman, dan Pasar Kanoman dapat ditempuh hanya dengan jalan kaki. *pijat-pijat betis*

Wisata kuliner Cirebon

Cirebon juga terkenal dengan beragam kuliner yang menggugah selera. Konon, belum sah ke Cirebon kalau belum mencicipi yang namanya empal gentong, tahu gejrot, dan nasi jamblang. Jangan heran kalau orang yang baru pertama kali ke sana pasti langsung mencari kuliner yang wajib dicoba di Cirebon itu.

Salah seorang rombongan blogger kurang piknik adalah mantan penguasa di Cirebon. Preman saja tunduk saat bertemu dengannya. Tukang becak di depan Hotel Santika, yang saling sapa untuk terakhir kali 10 tahun lalu, tiba-tiba salim dan langsung turun dari becaknya saat melihat orang ini melintas di depannya. Maka ketika dia bilang terlalu mainstream kalau yang dicoba itu-itu melulu, kami pun mengikuti anjurannya mencoba makanan yang lain. *kabur sebelum ditampol*

Berikut 5 kuliner di Cirebon yang kami coba:

  1. Gado-gado Ampera dan Es Oyen

Foto kiriman Aditya Eka Prawira (@adiitoo18) pada

 Kuliner yang pertama kami jajal adalah gado-gado Ampera yang terletak di Jalan Amper Raya, Kota Cirebon. Sekilas tampak tidak ada yang berbeda dari gado-gado di sini dengan gado-gado langganan dekat rumah saya. Hanya beragam jenis sayuran yang telah dikukus lalu disiram bumbu kacang yang diuleg. Tak ketinggalan serpihan bawang goreng dan kerupuk. Sumber karbohidratnya juga tinggal pilih, mau nasi putih atau lontong.

Foto kiriman Aditya Eka Prawira (@adiitoo18) pada

Yang membedakan gado-gado Ampera dengan gado-gado lainnya adalah bumbu kacang yang diuleg sampai halus banget. Tidak meninggalkan jejak kurang sedap di dinding-dinding mulut. Dan tidak bikin seret juga. Pembeda lainnya, bisa dicampur potongan bakwan yang masih panas atau remahan emping yang rasanya manis dan gurih.

Foto kiriman Aditya Eka Prawira (@adiitoo18) pada

Di sebelah gado-gado Ampera ada es oyen yang terasa pas diminum saat cuaca lagi panas-panasnya. Hari itu Cirebon panas sekali. Sepanas ketika melihat gebetan jalan sama gacoannya atau pasangannya.

Total kerusakan dari pesanan saya; 3 bakwan goreng, 1 air mineral, dan seporsi gado-gado Ampera adalah Rp25 ribu.

  1. Nasi jamblang Pitri

Nasi jamblang Pitri atau penduduk di sana biasa menyebut tempat ini dengan nasi jamblang mamih pitri berada tidak jauh dari Hotel Santika Cirebon. Berada persis di sebelah GTC, seberang Matahari Grage Mall.

Tempat makan kaki lima ini konon tak pernah sepi pengunjung. Dan konon katanya lagi, kami termasuk yang beruntung bisa merasakan kelezatan menu-menu yang tersaji di sana, karena tempat ini tutup di saat bulan Ramadan.

Siapa coba yang mampu menahan godaan di warung nasi jamblang Pitri ini?

Nasi jamblang pitri ini musuh bagi yang sedang diet, dalam hal ini saya. Saya tipikal orang yang sulit sekali menahan godaan untuk tidak celamitan, mencoba satu per satu lauk yang terpampang di depan mata. Nasi cukup satu bungkus, lauknya itu bejibun.

Berhubung warung tenda pinggir jalan ini sempit banget, kapasitas tempat duduk hanya untuk 10 orang, memudahkan konsumen untuk mengambil lauk yang diinginkan. Apalagi jeroannya itu lho, kalau kata Milly, juwara!

Masalah harga murah banget. Satu nasi dengan 7 lauk (IYA, 7 APA 8 LAUK GITU, DEH!) hanya Rp30 ribu. Saran saya kalau mau makan nasi jamblang mamih pitri jangan bawa kendaraan sendiri, susah parkir.

  1. Mie Get

Belum semua yang kami makan mendarat sempurna di usus besar, Gembrit sudah mengajak kami mencicipi makanan pinggir jalan khas Cirebon lainnya, yaitu mie get.

Tiga porsi mi get kuah untuk 6 orang

 Mie get, salah satu kuliner yang wajib dicoba di Cirebon ini, hanyalah mi instan biasa yang dimasak menggunakan kuah yang sudah dicampur bumbu-bumbu rahasia. Bumbu rahasia (hasil kepo-kepoin pedagangnya) yang mereka gunakan adalah saus mi ayam dan sedikit tambahan micin. Tahu dong saus mi ayam kayak apa? Tahu juga dong kenapa saus mi ayam bisa membuat masakan yang biasa saja terasa lebih lezat? Hei, jangan membayangkan saus mi ayam yang ada di acara teve itu. Nikmati saja. Enak, kok. :p

Proses pembuatan seporsi mi get kuah. Api yang besar, mi instan yang bejibun, sayuran, dan ya itu saus mi ayam!

Biar pesanan mie get kalian cepat datang, mending pantengin yang masak. Biar mereka nggak kewalahan. Jadi kalau sekiranya pesanan kalian sudah selesai dimasak, tinggal ambil saja. Karena ini dibayarin Gembrit yang kebetulan seminggu sebelumnya berulang tahun, nggak sempat tanya berapa harga seporsinya, deh.

Di balik foto yang bagus, ada teman yang pegangin lampu dan teman yang numpang narsis 😆

Berarti kami sudah sah ke Cirebon, dong?

  1. Martabak Bandung APIN

 Jauh-jauh ke Cirebon makannya martabak Bandung? Biarin! Bandung sama Cirebon kan satu provinsi. Boleh dong kalau kami mencoba martabak Bandung APIN sebelum tidur di malam hari?

Melihat matahari terbenam di Cirebon Waterland, Ade Irma.

Gembrit membawa rombongan blogger kurang piknik dan rombongan @arievrahman ke Cirebon Waterland untuk melihat matahari terbenam dari ujung dermaga kayu.

Untuk sampai ke dermaga, pengunjung akan melewati kolam renang yang berada di sisi kanan dan kiri, serta penginapan bernama SeaView. Bermalam di sini kudu merogeh kocek yang tidak sedikit. Harga menginap di SeaView sekitar Rp1 jutaan++. Kalau saya punya duit banyak, nggak mau juga sih menginap di sini. Biar kata pemandangannya laut tapi jorok banget, sampah di mana-mana.

Berhubung kami sampai di tempat ini 30 menit jelang adzan Maghrib, nggak bisa lama foto-foto di ujung dermaga kayu. 5 apa 10 menit sebelum adzan, petugas menghampiri kami untuk segera menepi karena ditakutkan anginnya kencang dan airnya mendadak pasang.

Besoknya saya lupa apa saja yang dimakan. Yang saya ingat, keesokan harinya mencret-mencret, jadinya nggak ikut rombongan untuk wisata kuliner di Cirebon lainnya. Begitu selesai mandi, packing, cari makan siang, belanja oleh-oleh, dan sudah di stasiun lagi untuk pulang ke Jakarta.

Singkat banget liburan di Cirebonnya. Berarti itu tanda kalau saya harus balik lagi ke Cirebon. Semoga bisa ajak si Kawan yang sibuknya mengalahkan artis striping.

Kalian pernah berlibur ke Cirebon? Mana saja tempat yang kalian suka? Pernah mencicipi kuliner khas Cirebon apa saja? Komen, dong!

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

20 comments

  1. Hmm….. Ada yg ngomongin aku

    1. Mana Mah manaaa? *sungkem sama Mama*

  2. siang-siang gini liat es oyen gimana gitu yaa, jadi pengen nyari utk berbuka (ntar sore maksudnya) 😀

  3. AJAAAAKKKK !!!!!

  4. belum pernah.. target emang taun ini Malang or Cirebon tapi ya mungkin akhir taun aja. Puasa dan Lebaran bikin kantong jebol hehehe..

    1. … dan perut sebentar lagi jebol gara-gara berat badan naik. *kabur*

  5. Ternyata kedatangan kita di Cirebon nggak selisih jauh. Mungkin telisip jalan juga kali hahaha. Kuliner di Cirebon asli ngangeni. Baca list kuliner di sini jadi kangen berat ama kuliner enak di sana…

    1. Ha ha ha… Iya, kita sepertinya selisih di jalan. Aku baca soal jalan-jalan dirimu dan teman-teman blogger lainnya

  6. Aku 2 minggu sebelum puasanya ke Cirebon, tapi naik Cirex a.k.a Cirebon Express. Nasi jamblang itu juara kak. Aku pernah dong berburu nasi itu dan keabisan akhirnya mam bakso huhuhu

    *lah curhat* ?

    1. Put, Put, sabar, Put. *sodorin nasi jamblang*

  7. Udah lama banget ke Cirebon, kulineran, ampe makan banyak banget, tapi ga inget apa aja haha *tanda2 mesti ke sana lagi*
    Ngomong2 tipe warung makan spt Nasi Jamblang emang bahaya … murah dan variasi banyak, alhasil tangan ngambil mulu hahaha.

    1. Ke sana lagi, yuk.

      Iya, nasi jamblang memang jahanam…

  8. Cirebon emang ngangenin, saya pernah ke Keraton kasepuhan sama gua sunyaragi

    1. Saya belum sampai ke situ 🙁

  9. Nasi jamblangnya menggoda banget ya, aku ke sana bisa-bisa nambah 3-4 kali, hehehe..

    1. Hore, ada temannya. Aku kemarin cuma tambah dua kali sih, tapi lauknya berkali-kali

  10. wah banyak makanmakan…..ajak ajak dunk kalo jalan model kyg gini..nasi jamblang pitri dan mie get kuah..hmm jd ngebayanginn keduanya

Tinggalkan Balasan