Banda Neira

Wisata Banda Neira Hanya untuk Orang yang Mampu

Bisa ke Banda Naira atau Banda Neira tidak pernah ada di mimpi saya. Biaya yang mahal menjadi alasan tidak memasukkan Banda Neira ke dalam daftar tempat yang harus dikunjungi sebelum saya nikah.

Gaji seorang jurnalis, jabatan masih editor baru, mana mungkin cukup buat melakukan perjalanan ke Banda Neira. Sebuah kota kecil di Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Ambon, yang pernah dijadikan pusat perdagangan pala oleh Belanda pada pertengahan abad ke-19.

Mau makan di Shabu-Shabu Shaburi seharga Rp200 ribu saja harus menabung dulu selama satu bulan, apa kabar kalau saya pengin ke Banda Neira? Tidak kepikiran bahwa di tahun-tahun mendatang bakal muncul Hi Jenius yang bisa membantu kita menyisihkan uang untuk ditabung agar yang kita inginkan terwujud.

Namun, ini sungguh aneh, setelah pulang dari Banda Neira malah pengin menyisihkan gaji setiap bulan untuk ditabung supaya tahun depan ke Ambon lagi untuk mengelilingi pulau-pulau yang lain dengan membawa satu misi kemanusiaan.

Jalanan ke arah bandara Soekarno Hatta di Jumat malam, pada akhir November, cenderung ramai tapi lancar. Tidak seperti arus lalu lintas yang terjadi dari arah berlawanan. Mobil dan truk seakan-akan sedang mannequin challenge dari TOL JORR sampai di depan gedung OT Group. Pemandangan yang kurang sedap dilihat tersebut bikin nyali si Kawan ciut.

“Ye, songong,” kata si Kawan sambil menggerakkan tangan yang sebelah kiri untuk menoyor kepala saya. Dia sebal melihat saya tidak berhenti cekikikan manakala mendengar si Kawan, yang berada di kursi kemudi, terus menggerutu. “Pulang dari Banda Neira, gue nggak mau jemput. Pulang sendiri naik Uber. Bodog.”.Β  Setelah saya ancam tidak akan membawa barang titipan milik siapa saja, kalau tidak ada yang jemput, omongan itu segera dia ralat. Dan benar, dia menjemput saya dengan wajah yang terlihat kurang bahagia.

Transportasi ke Banda Neira

Memang tidak mudah untuk bisa sampai di Banda Neira. Butuh kesabaran dan harus mau capai jika pengin melihat surga dunia dari timur Indonesia. Banyak-banyak mengelus bokong supaya dia tidak stres.

Kita harus punya semangat kayak penjajah dari Belanda yang rela menempuh jarak beribu-ribu mil demi bisa menguasai pala, yang pada zaman segitu merupakan rempah termahal di pasar Eropa, untuk mereka jual.

Pertama, turis yang mau berlibur di Banda Neira, harus menempuh perjalanan udara selama tiga jam 30 menit menuju Ambon. Kemudian, lanjut perjalanan laut selama enam jam dengan menaiki kapal cepat “Express Bahari” yang bersandar di pelabuhan Tulehu tidak setiap hari.

Calon turis bisa menghubungi nomor 081343292900 guna mencari tahu semua info mengenai kapal cepat ke Banda Neira.

Kami berkenalan dengan putra aseli Kepulauan Banda di pelabuhan Tulehu. Sosok yang sekilas mirip the man behind the show Jakarta Fashion Week Edwan Handoko bernama Hamdi.

Hamdi yang menjadi tour guide kami selama lima hari di Banda Neira. Kami mendapat banyak bayangan tentang Banda Neira dari pria yang sekarang menjadi jurnalis video kontributor untuk salah satu media besar di Indonesia.

Hamdi juga yang membenarkan bahwa kendala untuk bisa ke Banda Neira ada di transportasi. Kalian harus tahu, jadwal berlayar Express Bahari tidak setiap hari. Hanya dua kali dalam seminggu. Selasa dan Sabtu (Tulehu ke Banda Neira) kemudian Senin dan Rabu (Banda Neira ke Tulehu).

Turis jangan pernah memesan tiket ke Ambon sebelum mendapat jadwal berlayar Express Bahari yang pasti. Dan, terbang ke Ambon menggunakan Batik Air di Sabtu dini hari (00.30 WIB) adalah pilihan paling tepat dan benar. Sebab, sampai di bandara Pattimura pukul 06.00 WITA, turis bisa langsung menuju pelabuhan Tulehu mengejar kapal cepat yang akan berangkat pukul 09.00 WITA.

Kalau turis sampai ketinggalan kapal cepat dengan harga tiket Rp410 ribu untuk satu kali jalan, pilihan hanya ada dua, sewa speed boat atau keliling Ambon saja kemudian pulang ke Jakarta.

Harga sewa speed boat ke Banda Neira tidak murah. Sekitar Rp2,5 juta sampai Rp4 juta dengan waktu tempuh lebih cepat empat jam.

Penginapan di Banda Neira

“Selamat datang di Banda Neira. Nanti rombongan Bintang Nutricia menginap di hotel itu,” kata Stanley sambil menunjuk ke sebuah bangunan tua mirip bangunan zaman kolonial yang berada di pinggir pantai dan tidak jauh dari dermaga. Perjalanan selama hampir 16 jam akan segera berakhir. Kami yang berada di luar bagian depan kapal sudah diminta untuk masuk oleh dua orang ABK karena tidak lama lagi kapal akan bersandar di pelabuhan.

Hotel yang ditunjuk oleh Stanley di atas kapal tadi bernama The Maulana. Yang dibangun oleh mendiang orang terpandang di Banda Neira bernama Des Alwi. Sejumlah tokoh yang pernah diasingkan di Banda Neira, termasuk mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Hatta, memiliki hubungan yang sangat dekat Des Alwi.

Kata generasi Y, hubungan yang terjalin di antara Des Alwi dan Hatta layak disebut bromance. Semua gambaran mengenai kedekatan mereka bisa dilihat dari semua foto yang dipajang di dinding dekat pintu masuk dan lobby Hotel Maulana. Foto mereka juga akan kalian temukan manakala mampir ke Rumah Pengasingan Bung Hatta.

Penginapan di Banda Neira ada banyak. Semula kami diberitahu, rombongan Bintang Nutricia akan menginap di Hotel Cilu Bintang. Berhadapan langsung dengan Benteng Belgica, bersebelahan dengan Benteng Nassau, dan bisa melihat kegagahan gunung api. Sehingga muncul kesan damai dan tenang bila menginap di sini. Namun, setelah saya tahu suasana yang sebenarnya, saya pribadi malah bersyukur banget menginap di Hotel Maulana.

Meski pelayananan di Hotel Maulana biasa aja, tapi untuk turis penakut macam saya ini, menginap di Hotel Cilu Bintang bukan pilihan tepat. Apalagi setelah mendengar cerita dari Hamdi mengenai 40 saudagar kaya yang dibantai oleh Belanda, kemudian dikubur secara massal, dan kuburan yang dinamai monumen Parigi Rante ada di samping hotel ini, sudah pasti BIG NO!

Pemandangan yang Saya Dapat dari Depan Kamar di Hotel Maulana, Laut yang Biru dan Gunung Api yang Berada Persis di Depan Banda Neira

Biarin deh sarapan cuma mi rebus yang sudah mengembang, nasi goreng yang tak ada rasa, kue cara yang enak banget tapi ini pesanan bukan buat sendiri, dan pisang goreng abu-abu yang parah enaknya, tapi urusan pemandangan, Hotel Maulana yang paling top. Kedua bola mata happy banget setiap buka pintu kamar yang dilihat adalah gunung api di Pulau Gunung Api, air laut yang biru, dan bule Australia yang rutin membersihkan Yacht miliknya.

Harga kamar di Hotel Maulanan mulai dari Rp350 ribu sampai Rp3 juta per malam. Tiga hari di Banda Neira tidak cukup. Paling sebentar lima hari. Kalikan saja berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan hanya untuk penginapan saja.

Wisata Sejarah di Banda Neira

Satu-satunya kegiatan yang bisa dilakukan saat berlibur di Banda Neira adalah wisata sejarah. Istana Mini yang pernah ditinggali Gubernur Jenderal Joen Pieterszoen Coen, Monumen Pargi Rante untuk memeringati peristiwa pembantaian para saudagar kaya di Banda Naira, dan Rumah Budaya yang dijadikan tempat untuk menyimpan semua peralatan rumah tangga yang pernah dipakai oleh tentara VOC merupakan secuil barang bukti bahwa bangsa Eropa pernah menjajah Banda Neira demi menguasai kebun pala.

Bangunan dengan tembok yang tebal, tinggi, dan dilengkapi tiang-tiang bulat besar masih berdiri kokoh sampai sekarang.Β  Khusus Istana Mini, sering dipakai untuk acara-acara termasuk Festival Dongeng Internasional Indonesia 2016 x Bintang Nutricia. Konon, di salah satu kaca dari Istana Mini, ada sepenggal curhatan dalam bahasa Belanda dari None Belanda yang merasa hidupnya terlalu dikekang. Berani foto, silakan, meski merasakan sedikit semriwing.

Monumen Pergi Rante, Kuburan Massal 40 Saudagar Kaya di Banda Neira yang Dibantai Penjajah. Masih Pagi Sudah Uji Nyali

Bukti lain bahwa Banda Neira pernah menjadi “tempat tinggal” para kompeni, terdapatnya benteng Belgica yang bisa kunjungi di sore hari sampai sebelum adzan maghrib berkumandang. Benteng yang dibangun oleh Portugis, sebelum kemudian digunakan Belanda, digunakan sebagai tempat untuk memantau kedatangan musuh. Benteng yang terlihat hanya memiliki tiga pilar tapi ternyata punya lima pilar juga digunakan untuk memantau lalu lintas kapal dagang di perairan Banda Neira.

Mulut jangan pernah iseng saat mengunjungi Benteng Belgica. Kalau memang takut, sudah, diam saja. Tidak usah jahil tanya macam-macam ke penjaganya. Nikmati saja kemegahan benteng bertembok raksasa yang sudah lebih dari satu kali dipakai syuting My Trip My Adventure Trans TV.

Kalau ke Banda Neira Harus ke Benteng Ini. Lihat Keindahan Laut Banda dari Atas Benteng Belgica yang Cukup Berhasil Bikin Bulu Kuduk Berdiri

Kemudian, turis juga bisa melihat jejak masa lalu sejumlah tokoh seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir, dan Dr Cipto Mangunkusumo yang pernah diasingkan di Banda Neira dengan mengunjungi rumah pengasingan mereka. Kemarin, rombongan Bintang Nutricia hanya singgah di rumah pengasingan milik Bung Hatta.

Tempat-tempat di atas bisa dikunjungi dengan hanya berjalan kaki dari Hotel Maulana atau hotel mana saja tempat turis menginap. Ojeg ada, tapi lebih baik jangan, karena bisa-bisa dikasih harga mahal. Jarak dari satu tempat ke tempat yang lain dekat banget, kok.

Dari Hotel Maulana, misalnya, tempat pertama yang bisa dikunjungi Rumah Budaya Banda Neira, Rumah Pengasingan Sjahrir, Rumah Pengasingan satu tokoh yang saya lupa namanya tapi seingat saya ada “Cole” di belakang namanya. Sampai di ujung jalan lalu belok ke kiri, jalan kira-kira 100 meter sudah bertemu dengan Benteng Belgica, jalan sedikit lagi kira-kira 300 meter bakal ketemu sama Rumah Pengasingan Bung Hatta.

Dari Rumah Pengasingan Hatta kembali ke arah Benteng Belgica, menyebrang ke arah Hotel Cilu Bintang, agak lurus sedikit dan belok ke kanan bakal ketemu dengan Monumen Pargi Rante. Lurus sampai bertemu pertigaan langsung ke kiri, menuju Istana Mini, Gereja Tua, dan Rumah Pengasingan Dr Cipto Mangunkusumo.

Snorkeling atau Diving di Banda Neira

Turis yang mau snorkeling atau diving harus menyewa speed boat untuk diantar ke Pulau Hatta, Pulau Sjahrir, Pulau Rhun, atau Pulau Neilaka. Kalau di Banda Neira sendiri, bisa ke Lava Flow untuk melihat ikan hammerhead. Itu pun kalau pas ada.

Ya, intinya kalau snorkeling, diving, dan melihat matahari terbenam, harus ke pulau lain, bukan di Banda Neira.

Saya tidak tahu berapa harga sewa speed boat. Yang jelas, speed boat milik Pak Camat yang membawa kami dari Pulau Sjahrir ke Pulau Neilaka kemudian balik ke Banda Neira seharga Rp2,5 juta dengan kapasitas tempat duduk 10 orang.

Bayangin kalau dalam lima hari mengunjungi banyak pula dan jumlah rombongan (kalau ikut travel) tidak banyak. Sudah tahu kira-kira uang yang akan dikeluarkan untuk biaya ini, dong? Belum lagi uang yang harus dikeluarkan untuk beli mi rebus, air mineral, dan camilan karena lapar sehabis snorkeling.

Mengejar Momen Matahari Terbenam dari Pulau Hatta, Tak Jauh dari Banda Neira, Setelah Snorkeling

Kalian harus tahu, mi rebus di Pulau Hatta dibandrol dengan harga Rp17 ribu, saudara-saudara. Maklum saja, ongkos kirim yang mahal banget.

Oleh karena alasan itu semua, saya berani mengatakan bahwa wisata ke Banda Neira hanya untuk orang yang mampu. Mampu dalam banyak arti. Bukan sekadar mampu karena punya banyak uang, tapi harus mampu duduk lama selama di perjalanan, mampu menjaga omongan, mampu menerima segala kondisi di sana, dan mampu-mampu yang lain yang mungkin orang lain tidak mampu melakukannya.

Kalau saya, paling tidak mampu di biaya saja. Sisa yang lain, saya mampu banget. Naik kapal cepat ke Banda Neira selama enam jam bukan perkara sulit buat saya yang sejak kecil sudah terbiasa naik kapal laut. Saya juga mampu mengelilingi Banda Neira dengan berjalan kaki. Asal ada temannya.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

21 comments

  1. Yuk, ke mana lagi kita habis dari Banda Neira? Masih ada tulisan lainnya

  2. Wauuuu…….. Kalo kesana lagi bawa mie instan yg banyak za…… Lumayan klo bisa dijual lagi

    1. Bisa, bisa… Kerjasama dengan Indomie

  3. Pengen ke Banda Neira dibayarin kayak Adit…

    1. Kita pakai luv, supaya bisa sampai ke sana tanpa mengeluarkan uang. Yuk.

      1. ….Kok pake luv?
        (Ngga paham)

  4. Foto yang paling atas manis banget, kayak anak gadis lagi karyawisata…

    *kemudian diblock*

    1. Kak Chikaaaaaaa!

  5. Hiks. Mahal ya kalau liburan ke sana. Aku harus nabung berapa lama, Kakak? πŸ™

  6. Duh duh cantik sekali sunset-nya.. Mataku langsung melotot lihat harga speed boat disana. Aku juga mengira Banda Neira itu tetanggaan sama Banda Aceh. Ternyata, salah ya hahaha. Lucky you udah pernah menjejak kesini, Kak Adit πŸ™‚

    1. Jauh, kak, jauh. Hahaha… Kak Dee bakal ke sana kok suatu hari nanti.

  7. Asyik banget nih. Pemandangan plus sejarah. Aku paling suka sejarah. Banda Naira..duh, jadi mupeng juga pengen ke sini

    1. kakak pasti bisa.

  8. yah…. nabung dulu…hehe
    emang komplit ya Banda Neira

    1. Karena nggak komplit itu kudu mengeluarkan banyak uang πŸ™

  9. Wow! Tempat bersejarah yang indah rupanya, Dit. Aku suka banget ama sunsetnya, love it!

    Baca cerita dikau jadi pengen belajar sejarah lagi. Ga nyangka ya, sebenernya Indonesia itu hebat, rempah2nya pernah menjadi buruan Eropa. Harap maklum Dit, nilai pelajaran Sejarahku jeblok abiss. πŸ˜€

    Eh cieeee yang udah jadi Editor #uhuk2 Boleh donk jadi asistennya. :p

    Perbaikan EYD di blog dikau memang udah daku sadari sejak nulis yang gawai2 ituh hahaha

    1. *tutup wajah pakai bantal tanda malu*

  10. kakak editor, ajak aku kemana donk dengan dirimu~

  11. Salken Bang Adit….. Saya Ria, boleh minta no hp nya bang adit & bang hamdi?
    Saya mau tanya banyaaakk, please email ke “apunkbethan@gmail.com”
    Terimakasih sebelumnya bang adit😊

Tinggalkan Balasan