Order Ojek Online di Hari Jumat Dapat Pengemudi Ini, Ongkosnya Gratis!

Suasana di bawah Stasiun MRT Lebak Bulus pintu Point Square, Jakarta Selatan, pada malam hari itu lebih sepi dari biasanya. Saya jadi menyesal atas pilihan saya sendiri, yang menolak tawaran seorang kawan yang beritikad baik mengantarkan sampai ke rumah, malah minta diturunkan di situ saja biar nanti melanjutkan perjalanan menggunakan ojek online (daring) GrabBike.

Dalam keadaan setengah takut, saya merogoh kocek celana sebelah kiri guna mengambil ponsel yang biasa saya pergunakan untuk memesan ojek maupun taksi daring, sambil sesekali melihat ke arah kanan. Saya buka aplikasi berlogo hijau itu, memasukkan titik jemput dan tujuan, lalu klik order.

Tanda server Grab sedang ‘mencari’ pengemudi sudah muncul. Di saat yang bersamaan, rasa cemas mendadak muncul; takut tak ada pengemudi yang mau menerima pesanan tersebut.

Dari pengalaman yang sudah-sudah, setiap kali naik MRT dan turun di Lebak Bulus, biasanya pesanan saya akan ditolak sebanyak dua kali terlebih dahulu, baru yang terakhir akan berhasil.

Saya sejujurnya kesal selalu diperlakukan seperti itu. Alasan mereka menolak selalu saja sama dan klise; macet, ban bocor, dan mengaku mencari penumpang yang searah jalan pulang.

Kalau alasannya macet, saya selalu bilang akan tetap menunggu dan tidak akan membatalkan pesanan itu, selama tak lebih dari 20 menit. Tak tahunya, sudah menunggu cukup lama malah mereka yang membatalkan secara sepihak. BT!

Ongkos Grab Naik, Saya sih Oke-Oke Saja

Pemerintah belum lama ini menaikkan tarif ojek online, tak terkecuali Grab. Saya sebagai penumpang tidak menyoalkannya, tidak protes, apalagi misuh-misuh karena dari banyak berita yang saya baca bahwa hal itu dilakukan buat kebaikan para mitra GrabBike.

Seperti yang tertulis di berita di Liputan6.com ini, penetapan tarif baru yang sudah berlangsung selama satu bulan membuat penghasilan para pengemudi jadi naik 30 persen. Ya, alhamdulillah, dong! 

Sayang, kebijakan itu tidak dipergunakan sebaik-baiknya oleh sejumlah pengemudi untuk bekerja lebih giat lagi, biar penghasilan yang mereka peroleh lebih besar pula.

Beruntung sekali malam hari itu saya tidak harus merasakan penolakan terlebih dulu. Malah sang pengemudi GrabBike yang diketahui bernama Yahya Wijaya, menelepon saya untuk menunggu di titik penjemputan.

“Saya ke sana, Mbak. Ini meluncur dari arah Point Square,” kata beliau.

“Oke, pak, saya tunggu,” jawab saya. Tidak sampai lima menit dari saya mengakhiri pembicaraan, pengemudi yang akan mengantar saya pulang sudah berhenti di depan saya.

“Ke Ciputat ya, Mbak,” kata pak Yahya sembari mengeluarkan helm yang akan saya pakai dari sarungnya.

Jangan kaget membaca percakapan di atas. Beliau sama seperti kebanyakan pengemudi yang mengira saya perempuan, dari suara saya di telepon. Keadaan tidak berubah sama sekali ketika pembicaraan terjadi.

Tarif Ojek Online Naik, Seharusnya jadi Kabar Bahagia

Pak Yahya begitu sopan. Dari cara dia menyapa, saya menduga bahwa pengemudi yang mengaku sudah menjadi mitra GrabBike lebih dari 3,5 tahun ini senang mengajak penumpangnya mengobrol.

“Ini pesanan pertama atau sudah yang ke berapa, Mbak?,” tanya beliau.

“Yang pertama kok, pak,” jawab saya. Saya kaget mendengar pertanyaan tersebut. Mengapa bisa pas sekali dengan yang saya rasakan selama ini. “Kenapa memangnya, pak?,” tanya saya balik.

Dia bercerita bahwa penumpang yang memesan GrabBike dari titik yang sama kayak saya kerap mengeluhkan hal tersebut. Banyak dari mereka yang ditolak dulu, baru yang terakhir mendapatkan pengemudi yang benar-benar mau mengantarkan penumpangnya.

Pak Yahya pun mengeluhkan sikap rekan-rekannya yang senang menolak pesanan. Menurutnya, selama aplikasi masih diaktifkan, pengemudi punya tanggung jawab besar mengantarkan penumpang ke mana pun tujuannya. Kalau memang sudah tak ingin narik, cepat-cepat menonaktifkan aplikasi supaya orderan yang masuk ke server tidak ‘tersangkut’ ke aplikasinya.

“Yang kayak begitu, yang bikin nama Grab jadi rusak. Padahal, masih banyak yang mau benar-benar mencari uang. Kalau tingkah mereka seperti itu terus, bisa-bisa penumpang beralih ke yang lain,” katanya.

Kemudian, saya sedikit menyinggung perihal tarif yang mengalami kenaikan. Beliau mengatakan seharusnya itu menjadi kabar membahagiakan buat seluruh mitra,”Kalau tarif naik, otomatis rezeki buat pengemudi naik toh?.”

“Pak, jumlah penumpang berkurang enggak sih,” tanya saya.

“Enggak sama sekali, Mbak. Kecuali, penumpang yang memang doyan mengejar promo. Kalau orang-orang kantoran mah enggak berkurang sama sekali, Mbak,” katanya.

Beruntung Dapat Pengemudi GrabBike seperti Pak Yahya

Dari obrolan itu, saya merasa beruntung dikasih pengemudi beliau. Banyak hal dari percakapan selama di perjalanan yang bisa saya terapkan di kehidupan sehari-hari. Kayak misalnya cara beliau menyukuri hidup.

Setiap hari Jumat, pak Yahya selalu menggratiskan jasanya. Dia tidak akan meminta sepeserpun ongkos sekalipun mahal. Itu dia berlakukan dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 03.00 sore.

“Bapak enggak rugi?,”

“Insyaallah enggak, Mbak. Hitung-hitung amal semasa hidup. Hidup itu cuma sekali, kita harus selalu bersyukur dan bersabar. Kalau niatnya seperti itu, saya yakin Allah akan menggantinya lebih baik lagi, meskipun tidak langsung,” katanya.

Tidak dipungutnya biaya itu hanya untuk penumpang yang tidak menggunakan OVO. “Soalnya, kalau pakai OVO sudah otomatis masuk ketika perjalanan berakhir,” katanya.

Menggratiskan penumpang sudah dilakukannya nyaris satu tahun. Banyak berkah yang sudah dia rasakan. Hal yang paling dia rasakan, ketika anak keduanya keterima jadi PNS tanpa harus lewat jalur sana-sini. Kuliahnya pun lancar, empat tahun selesai. Nilainya juga alhamdulillah. Nggak baik, tapi enggak buruk juga.

“Saya percaya, apa yang saya lakukan, anak yang akan kena imbasnya. Saya berbuat jahat, anak yang kena apesnya, saya berbuat baik, anak pula yang merasakan berkahnya,” kata beliau.

Aquarius paling enggak bisa diginiin. Saya paling enggak kuat mendengar sebuah cerita yang berkaitan antara ayah dan anak. Entah mengapa saya paling gampang melow ketika menonton sebuah film yang memperlihatkan emosional seorang ayah dan anaknya, ketimbang ibu dan anak.

Wong saya mewek dong pas adegan Spiderman menangisi kondisi Iron Man yang berhasil melumpuhkan Thanos di Avenger End Game. Meskipun awalnya saya rada enggak suka, gedeg, benci sama Iron Man gara-gara ribut sama Captain America di Captain America Civil War. Bocahnya ngeyelan! Mau menang sendiri! Egois! Eh, pas dia jadi ayah, kenapa bisa semanis itu, sih? Kan jadi enggak BT lagi.

Apa yang Terjadi di Grab, Saya Harus Ingat Tanggung Jawab Sendiri

Maka itu, apa pun kondisi yang terjadi di ‘dalam’ Grab, pak Yahya tak mau ambil pusing. Dia menempatkan diri sebagai mitra, yang sudah semestinya bertanggung jawab terhadap tugasnya.

“Ya, kalau sekarang ongkos naik, pendapatan saya juga akan naik. Jadi, saya harus lebih baik melayani penumpang. Jauh sekali pun akan saya kerjakan,” kata beliau.

Pernah suatu hari, lanjutnya, dia mengantarkan seorang penumpang; perempuan dan pekerja kantoran ke Cempaka Putih. Ongkosnya sebesar Rp43 ribu, tapi pas mau bayar, penumpang itu mengaku tak ada uang tunai. Adanya cuma uang goceng di kantong.

Kalau saya yang berada di posisi pak Yahya, saya akan mengantarkan penumpang itu ke ATM. Namun, yang beliau lakukan justru sebaliknya. Uang goceng itu dia ambil, lalu bergegas pergi.

“Saya enggak mau suudzon. Kalau dia memang niat membayar, pasti hal pertama yang dia lakukan meminta saya mengantarkannya ke ATM,” katanya.

Siapa sangka, beberapa hari kemudian, dia membawa seorang penumpang yang mengaku tertolong lantaran pak Yahya mau menerima pesanannya.

Sesampainya di tujuan, pak Yahya diminta untuk menunggu sebentar. Tak lama penumpang itu keluar dari dalam sebuah gedung, dan mengajaknya makan. Pak Yahya menolak, tapi penumpang itu yang meminta dengan sangat, karena merasa berutang budi.

Selepas makan, ketika akan berpisah, penumpang itu memberinya sejumlah uang. Bahkan, nominalnya berkali-kali lipat dari ongkos perjalanannya.

Andai pengemudi ‘malas’ di luar sana mencontoh pak Yahya dan mitra yang benar-benar mau mencari nafkah, saya sebagai penumpang pun akan merasa senang. Yang pada akhirnya ikhlas dengan semua kebijakan yang dibuat sama Grab.

Tarif naik? Enggak masalah! Tarif tak naik pun, selama saya punya uang lebih di kantong atau saldo di OVO cukup buat memberikan tip, pasti akan saya berikan. Selama kebijakan itu dibuat untuk keuntungan bersama, saya ikhlas.

Sebab, ojek online seperti GrabBike dan sejenisnya sangat membantu saya dalam bekerja. Pekerjaan sebagai jurnalis menuntut saya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Cuma dengan moda transportasi motor saya dapat melakukan semuanya dengan mudah.

Sekalipun untuk jarak yang sangat dekat, ongkos GrabCar jauh lebih murah dari GrabBike. Saya akan tetap memilih motor, karena jauh lebih cepat.

Naik GrabBike Lebih Cepat

Dari kantor saya ke Stasiun MRT Bundaran HI, misalnya, ongkos GrabBike bisa Rp10 sampai Rp15 ribu, sementara ongkos GrabCar cuma Rp7 ribu saja.

Murah sih dari segi ongkos. Namun, dari segi kecepatan, lebih cepat GrabBike ke mana-mana sih ya. Sudah paling oke sih buat pekerja kayak saya yang memang harus cepat berpindah tempat demi mengejar liputan.

Lagi pula, saya cukup sering kok mendapat potongan beberapa rupiah padahal tidak memasukkan promo apa-apa. Tahu-tahu ada saja promo yang saya dapat. Yang semula ongkosnya Rp10 ribu, menjadi cuma Rp3 ribu. Saya happy!

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

2 comments

  1. Akupun lagi sering naik grab bike

Tinggalkan Balasan