Belajar Memaknai Hidup Selama Jalan-jalan ke Kota Tua

Setelah berlibur di Salatiga selama tiga hari, sepupu saya yang paling kecil memohon kepada Mama supaya dibawa jalan-jalan ke Kota Tua. Pas dia tahu saya mendapat jatah libur Tahun baru selama tiga hari, bocah perempuan yang masih duduk di bangku kelas 5 SD buru-buru mengeluarkan jurus andalannya, yaitu berbisik ke mama agar mengajak saya untuk jalan-jalan ke Kota Tua.

Mama bukan orang yang tegaan. Beliau mengiyakan permintaan Nesya dan bersedia mengantarnya. Dengan catatan, jalan-jalan ke Kota Tua dilakukan pada hari kedua di tahun yang baru biar semua bisa ikut.

Mama melakukan itu karena mama tahu saya ini anaknya nggak sabaran dan suka geregetan melihat tingkah Nesya yang terkadang tidak sesuai janji di awal. Bukan karena mama takut anak laki-lakinya yang sering dianggap perempuan mendapat pelecehan seksual verbal, berupa tindakan siul dari orang yang tidak dikenal, karena menganggap saya seorang mama muda yang sedang membawa anaknya jalan-jalan tanpa didampingi suami.

Sesudah mengiyakan permintaan Nesya, mama langsung mengajukan syarat, yaitu jalannya harus pagi banget untuk menghindari macet di daerah Stasiun Kota dan sekitarnya.

Ini untuk pertama kalinya pergi ke Kota Tua dengan mengendarai mobil sendiri. Kami sempat kelimpungan mencari parkir mobil yang letaknya cukup jauh dari kawasan Kota Tua. Setelah berputar lebih dari dua kali untuk mencari tempat parkir yang dimaksud oleh satpam yang menjaga “pintu masuk” Kota Tua, mama memarkir mobilnya di sebuah gang yang berada persis di depan pintu masuk sebelah utara. Kami minta tolong ke penjual kaos yang tengah merapikan dagangannya untuk “menjaga” mobil kami karena saat itu tukang parkirnya belum datang.

Kota Tua masih diminati oleh warga Jakarta dan juga para pendatang yang ingin berlibur bersama keluarga tanpa mengeluarkan uang yang banyak. Buktinya, masih jam 08.00 saja, teras dan pekarangan Museum Sejarah Fatahillah sudah dipenuhi pengunjung yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

biaya masuk ke Kota Tua
masih jam 8.00 pagi tapi Museum Fatahilla, Kota Tua sudah ramai pengunjung

Ada yang menunggu museum dibuka. Ada juga sejumlah keluarga yang sudah menggelar tikar, mengeluarkan rantang, dan makan bersama-sama. Sisanya sibuk selfie atau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah swafoto dengan pose duduk di atas meriam.

Tidak banyak yang berubah dari Kota Tua, tempat wisata yang sering dijadikan lokasi untuk foto prewedding. Paling di beberapa titik sedang mengalami perbaikkan. Dan peraturan pun mulai diperketat, salah satunya pengunjung tidak boleh naik ke atas meriam. Apakah pada menaati peraturan tersebut? Tidak! Masih banyak yang bandel, pura-pura tuli, dan masa bodoh sambil membiarkan anak-anak mereka duduk di atas sejumlah meriam yang ada di depan Museum Fatahillah, Kantor Pos, dan Gedoeng Jasindo.

Bersepeda di Kota Tua

Banyak ragam kegiatan bisa kita lakukan selama di Kota Tua. Salah satunya mengelilingi daerah Kota Tua menggunakan sepeda onthel. Kalau ogah capai, cukup mengelilingi pekarangan Museum Fatahilla, seperti yang dilakukan Nesya.

Kegiatan bersepeda bagus buat anak-anak seumuran Nesya. Kemarin dia sempat menolak, maunya gelendotan sama ibunya tanpa melakukan kegiatan apa-apa. Saya sedikit memaksa karena Nesya sudah terlalu gemuk. Saya tidak mau Nesya jadi obesitas. Tahu sendiri risiko anak gemuk apa saja.

sepeda ontel di Kota Tua
Ini Nesya (topi) dan adik saya. mereka terlihat happy putar-putar pekarangan Museum Fatahilla, Kota Tua, dengan sepeda ontel

Saya sedang berupaya mencegah agar penyakit orang tua yang saat ini mengintai anak-anak yang kurang fit, karena kurang gerak, tidak terjadi kepada Nesya. Biarlah orang rumah menyebut saya berlebihan dan menilai saya terlalu overprotektif.

Coba satu kali mampir ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, main-main ke ruang rawat inap khusus anak, atau sekadar melihat pusat pelayanan diabetes di RSCM Kencana yang mulai beroperasi pada 2012. Cari salah satu pasien, ajak mereka mengobrol, dan gali semua informasi mengenai riwayat hidup mereka. Hampir rata-rata pasien diabetes yang pernah saya temui, kecilnya berbadan gemuk, kurang gerak, makan tidak terkontrol, dan orangtuanya tidak tahu kalau buah hati tercintanya sudah mengidap diabetes tipe 1.

Penyebab terjadinya diabetes tipe 1 pada anak bermacam-macam. Bisa terjadi bahkan saat anak masih berada di janin ibunya. Gara-garanya pancreas, salah satu organ yang kerjanya menghasilkan insulin, tidak keluar. Jika insulin sudah tidak berfungsi sejak lahir, bagaimana glukosa bisa masuk ke dalam sel?

ramainya orang yang piknik di Kota Tua
ada baiknya pakai sun screen terlebih dulu sebelum bersepeda di Kota Tua

Hidup sebagai pengidap diabetes “tidak enak”. Harus suntik insulin setiap hari, makan harus dijaga banget, dan tidak bisa sembarangan melakukan kegiatan. Nah, saya cuma tidak mau, tante saya jadi repot karena anaknya sakit. Sebab, tante saya seorang single parent.

Nesya akhirnya mau bersepeda setelah dipaksa. Giliran waktunya sudah masih habis, malah nggak mau udahan. Nanggung, katanya. Namun, dia harus menyerah juga, setelah pekarangan Museum Fatahillah Kota Tua mirip kolam ikan.

Harga sewa sepeda onthel di Kota Tua naik menjadi Rp20 ribu per 30 menit. Terakhir jalan-jalan ke Kota Tua, harga sewa sepeda onthelnya masih Rp15 ribu. Bahkan, telat 15 menit saja tidak dikenakan biaya tambahan.

Hari itu sulit menggila di Kota Tua karena pergi sama mama. Mama nggak mau lama-lama, takut jalanan macet, dan sampai di rumah sore hari. Mama harus cepat-cepat sampai rumah untuk kembali beraktivitas di toko. Barangkali kalian mau beli Tupperware, pesan di mama saya saja. Harganya murah. Kalau tidak percaya, silakan Cek Toko Sebelah.

Mengais Rezeki di Kota Tua

Setelah mengantar Nesya mengembalikan sepeda onthel ke tempat penyewaan di depan Museum Wayang, kami melangkah menelusuri sisi sebelah kiri Museum Fatahillah untuk mencari penjual kerak telur.

Apalah artinya sudah jalan-jalan ke Kota Tua tapi tidak mencicipi kuliner khas Jakarta yang terbuat dari ketan putih, telur ayam atau telur bebek, ebi yang disangrai kering, dan taburan bawang merah goreng.

Namun, bukan penjual kerak telur yang kami dapati, bukan juga jodoh yang bisa saya pamerkan ke papa untuk segera dilamar, melainkan tiga manusia batu yang sedang melakukan atraksi, menyulap diri sendiri menjadi patung berbagai karakter di area depan Famous Kopi Bangi Heritage.

Badan yang dilumuri cat berwarna keemasan dan berdandan menyerupai tentara, Jenderal Sudirman, dan ada yang duduk mengambang menjadi daya tarik pengunjung Kota Tua yang butuh hiburan. Keunikan yang mereka hadirkan membuat pengunjung rela mengantre untuk berfoto dengan mereka, kemudian melemparkan uang ke dalam kotak sebagai “bayaran”. Tidak dipatok harga khusus, seikhlasnya saja.

cara lain mencari nafkah di Kota Tua
manusia patung yang berdandan seperti pahlawan Nasional Jenderal Sudirman menjadi pemandangan menarik bagi pengunjung
yang bisa dilakukan selama di Kota Tua
Totalitas manusia patung ini patut diacungi jempol. Padahal, bayaran sehabis foto bersama tak seberapa.

Saya salut sama ketiganya. Mereka rela melepas urat malunya sementara waktu, berdandan seperti ini, demi mengais rezeki yang halal. Para pemalas yang kerjanya hanya mengeluh karena beranggapan sudah tak ada lowongan pekerjaan bagi mereka seharusnya mencontoh yang dilakukan tiga manusia patung ini. Usaha mereka bukan tidak menghasilkan duit. Menurut saya profesi yang mereka tekuni itu sangatlah menjanjikan.

Taruhlah satu orang memberi bayaran Rp2 ribu. Kalau yang mengajak foto bareng ada 100 orang pengunjung Kota Tua, mereka bisa mendapatkan uang Rp200 ribu dalam sehari. Bahkan, sudah dipotong untuk uang makan siang dan uang beli rokok, pendapatan mereka masih terbilang besar. Itu hitungan kotornya, bisa jadi lebih besar dari itu.

apa saja yang ada di Museum Fatahilla, Kota Tua?
Bagaimana caranya bapak ini bisa melayang?
Kota Tua ramah anak
Gaya seadanya, hanya beberapa orang yang mau menghampiri bapak ini

Gambaran nyata dari kalimat “uang akan menghampiri orang-orang yang mau berusaha” terpampang dengan jelas di hadapan saya. Cara mereka mengais rezeki di Jakarta, sebuah kota metropolitan yang kerap dianggap tidak bersahabat untuk pendatang, benar-benar tak biasa. Hanya orang-orang yang tidak egois dan genggsian yang berani, mau, dan nekat melakukan semua itu.

Hari itu banyak sekali hal menarik yang saya dapat selama jalan-jalan di Kota Tua. Pengin balik lagi dan pengin mengobrol banyak hal sama mereka.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

7 comments

  1. *kerja sampingan jadi manusia patung*

  2. Salut buat orang-orang yang tanpa malu mencari rezeki yang penting halal, dari pada melihat orang-orang yang masih muda dan sehat tapi lebih memilih pekerjaan mengemis.

    1. Hooh. Seharusnya, mereka yang sering mengemis itu jalan-jalan ke Kota Tua, dan melihat perjuangan bapak-bapak ini

  3. Kenapa setiap kali aku ke Jakarta tidak pernah bisa menyempatkan diri untuk mampir ke Kota Tua? Besok deh kalau ke Jakarta harus ke Kota Tua. Besok yang entah kapan. Huft.

    1. Mending jangan sekarang, kak, masih banyak perbaikan. Masih berantakan. Toiletnya juga masih jauh banget.

  4. Aku pengen ke Kota Tua ama B. Pasti seneng deh. Btw mesti nyampe jam berapa biar nggak rame gitu ya?
    Ohya, beneran ada yang nyiulin nggak, Dit? 😛

    1. Hari kerja, kak Eka. Sepi (meski nggak sepi-sepi amat). Setidaknya, untuk masuk ke museum-museumnya nggak terlalu padat.

      Syukur alhamdulillah itu tidak terjadi. padahal berharap banget itu terjadi. #lah

Tinggalkan Balasan