Haruskah Anak Menjadi Korban?

Senin malam, ketika asik menonton acara yang ada di televisi, tiba-tiba saja hape ibu berbunyi. Melihat ke layar hape, nama yang tertera adalah nama seorang kerabat jauh ibu di sebrang pulau sana. Ketika ibu menjawab sambungan telepon itu, yang terdengar dari dalam saluran itu justru suara anak kecil, bukan suara kerabat ibu.

Ibu sontak terkejut, ternyata yang mencoba menghubungi ibu adalah anak dari kerabatnya sendiri. Akhirnya, ibu mengaktifkan speaker hape, biar kami sekeluarga dapat mendengar apa yang ingin dibicarakan anak kecil itu.

“Hallo, tante, ini Dava..” kata si anak kecil itu.

“Ah, ya, Dava. Ada apa telepon tante malam-malam gini? Kangen sama tante?”. jawab ibu sambil beranjak dari ruang keluarga.

“Iya, Dava kangen sama tante. Tante, Dava rasanya mau ke Jakarta aja, nginap tempat tante”. kata Dava yang kala itu terdengar agak sengau macam orang habis menangis.

” Lho, kok mendadak kayak gitu? Kenapa? Ada apa? Kamu nangis?”

“Dava takut disini tante, Dava takut sama ayah” katanya lagi.

“Takut sama ayah? Kenapa memang ayahnya?” tanya ibu penasaran.

“Ayah jahat sama Ibu, tadi ayah bentak-bentak ibu. Dan ibu hampir dipukul sama ayah. Untung ada pakcik yang datang ke rumah Dava. Dava takut. Dava mau ke rumah tante aja di Jakarta”. kata Dava yang akhirnya menangis sejadi-jadinya.

Setelah Dava berucap seperti itu, ibu pun menyudahi pembicaraannya, dan berusaha menghubungi ibu dari Dava untuk tahu masalah yang sebenarnya terjadi.

sumber gambar: infotipso.com

Ibu berhasil menghubungi kerabatnya itu. Pembicaraan serius pun dimulai. Setelah usai, ibu pun menceritakan apa yang terjadi sama rumah tangga mantan tetangganya itu ketika sama-sama tinggal di pulau sebrang dulu.

Saya yang akhirnya diceritakan oleh ibu apa yang sebenarnya terjadi, cukup kaget mendengar cerita ibu. Ternyata, papanya Dava yang dulu saya kenal amat baik, sopan, dan halus tutur katanya itu kini berubah drastis. Berubah menjadi orang yang cendrung emosian. Entahlah, apa yang terjadi sama rumah tangga mereka. Untuk yang satu ini, biarkan menjadi rahasia saya 🙂

Yang jelas, akibat dari pertengakaran mereka, membuat Dava takut akan sosok ayahnya sendiri.

Dava yang ketika kecilnya dulu sering saya lihat bermanja-manja dengan sang ayah, mungkin sekarang enggan untuk melakukan hal serupa yang pernah ia rasakan ketika kecil dulu.

Dava, anak kecil yang usianya baru 8 tahun ini harus melihat peristiwa di dalam istana kecilnya yang sebenarnya belum pantas untuk dia saksikan. Melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang ibu dibentak oleh ayahnya sendiri, dan hampir saja si ayah melayangkan tangannya ke pipi ibunya. Itu semua terekam jelas di kepalanya.

Karena ketakutannya itu, ia pun menelepon ibu yang sebenarnya bukan tantenya sendiri menggunakan hape milik ibunya.

Kalau soal yang satu ini, kami semua memakluminya.

Dulu, ketika tinggal di pulau sebrang, ibu dikenal sebagai orang yang cukup dekat dengan anak-anak tetangganya. Semua anak-anak kecil lengket sama ibu. Sampai saya yang kala itu duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama hampir marah melihat kedekatan mereka. Dan, hampir melarang anak-anak kecil itu main ke rumah kami.

Kembali ke masalah semula.

Saya sendiri ngga habis fikir, ketika mendengar/mengetahui ada orang tua yang bertengkar di depan anak-anaknya. Sampai-sampai ada tindakan kekerasan yang disaksikan oleh anaknya sendiri.

Kemana otak mereka?

Mereka ga takut kalau kelak ketika si anak besar menjadi pribadi yang tertutup?

Ngga gampang menyembuhkan rasa trauma kepada anak-anak yang menjadi saksi pertengkaran kedua orang tuanya.

Menurut artikel yang saya baca, akibat dari perkelahian orang tua yang disaksikan langsung oleh anaknya, dapat menyebabkan kerusakan mental pada anak itu sendiri.

Ketika anak-anak merasa terancam pada tingkat emosional tertentu, mereka akan menunjukkan peningkatan gejala negatif seperti depresi, kecemasan, dan permusuhan. Seorang anak bereaksi terhadap perkelahian orangtuanya dengan menjadi agresif. (sumber: merdeka.com)

Seharusnya, pertikaian yang terjadi sama orang tua ketika berada di dalam rumah dan tahu ada anaknya sendiri disitu, bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Kompromi. Jangan sampai si anak menyimpanmemori buruk yang mengakibatkan rasa benci dikemudian hari.

Saya rasa, sudah saatnya orang tua lebih berhati-hati lagi dalam bersikap dan bertindak. Kalau lah memang suatu masalah yang harus diselesaikan, selesaikanlah di satu tempat yang jauh dari anak-anak kalian. Di kamar sendiri misalnya. Atau, di tempat tidur? Entahlah. Pilihan itu, kalian sendiri yang menentukan wahai orang tua.

 Buat Dava, kamu yang sabar ya, dek. Insya Allah semua ini ada jalan keluarnya. Kami semua yang ada di rumah ini, sayang sama Dava.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

7 comments

  1. Waduh tidak bisa ngomong nih…. mungkin hilaf kali ya… semoga cepat selesai masalahnya… kasian anaknya..

  2. Adit pantes jadi psikolog 🙂
    semoga segera harmonis kembali ya keluarga Dava…
    tuh kan, hidup berkeluarga itu gak mudah, para calon ortu dan ortu perlu terus belajar masalah beginian. Kompleks.

  3. Apa yang terjadi olah sekarang adalah buat bibitan masa kecil. Semoga anak2 Indonesia besok dapat merekam memoar yang baaik. sehingga Indonesia baik juga kelak 🙂
    Salam dari Semarang

  4. Kalo udah emosi, suka lupa tempat, Dit.

    Semoga kita nanti ga seperti kluarga mantan tetangga itu ya..

  5. Sedih bacanya. Semoga Dava tidak trauma dan permasalahan yang ada bisa terselesaikan.

  6. Jika dalam keluarga dah ada pertikaian keras, anak2 sebaiknya dilindungi dan dijauhkan tapi sayangnya dari banyaknya kasus saat ini malah mereka yang sering jadi korban. Kasian dan buat Dava moga diberi kekuatan

  7. smoga segera kembali seperti dulu lagi.. jangan ada pertengkaran lagi.. kasian anaknya…

Tinggalkan Balasan