Hari Pertama Menggunakan Commuter Line

Tadi pagi, gue dapat tugas disuruh ke kantor bokap. Seperti biasa, kalau ke kantor bokap yang berlokasi di Abdus Muis, Jakarta Pusat, paling cepat menggunakan kereta api. Dan kebetulan, transportasi ini memang menjadi transportasi handalan bokap untuk ke kantornya. Pergilah gue, sampai di stasiun gue baru ngeh kalau hari ini adalah hari pertama CommuterLine dijalankan pas hari kerja. Hahaha, pertama dengan Pe-De nya gue mesen Ekspress. Kata pegawai loketnya, ekspress sudah enggak ada, mas, sekarang CL. Sial, lupa gue.  Yaudahlah mau gimana lagi.

Kesan pertama gue tentang CommuterLine ini adalah, jadwalnya bolehlah, 15 menit sekali keretanya nongol. Bener, enggak perlu nunggu lama dari kereta api sebelumnya, kereta selanjutnya tiba dan berhenti tepat didepan gue (*itu baru kesan pertama yang ternyataaaaaa enggak 100% benar) . Kesan kedua gue, gerbongnya panjang juga, lebih panjang/lebih beberapa gerbong daripada Depok Ekspress. Kesan ketiga, penumpangnya enggak banyak-banyak amat. tapi enggak tau juga lah ya, mungkin pas gue berangkat sudah siangan jadi penumpangnya sedikit. Kesan pertama, kedua dan ketiga lumayan baguslah. Kesan selanjutnya, kok jalannya lelet, se-lelet ekonomi biasa. AC nya ga poollll. Dan, seperti biasa, beberapa penumpang masih ngeyel, masih ada yang menggunakan kursi lipat. Padahal ini sudah menjadi larangan. tapi beneran deh, ini jalannya lelet. Gondok gue. Masalah berhenti tiap stasiun juga jadi masalah sih sebenernya. Tapi untuk hari ini, enggaklah. Karena guue cuma melewati beberapa stasiun saja yang seharusnya tidak memakan waktu terlalu lama. Diantaranya, Pondok Ranji, Kebayoran dan Palmerah. Tapi jalannya itu yang lagi-lagi enggak bisa di tolerin.

Dan ternyata, jadwalnya ga selalu 15 menit sekali (*ini ni yang gue bilang enggak 100% pada paragraf diatas). Buktinya pas gue selesai jam 10, itu kereta enggak ada jadwal, adanya lagi jam 1 siang. Eh busyet lama aja. Ngapain gue lama-lama disini (stasiun Tanah Abang -red). Dan lagi, jadwal yang terpampang didinding pengumuman di dalam stasiun, tidak semuanya mengerti cara membacanya, termasuk gue. Aseliiiii gue bingung cara bacanya. Yasudahlah, masalah jadwal bisa kapan-kapan lagi gue cari tahu.Pada akhirnya memutuskan untuk pulang menggunakan kereta ekonomi. Dan anehnya, gue ngerasa kecepatan kereta ekonomi yang gue naikin jauh lebih cepat daripada CommuterLine. Sumpah deh.

Intinya, pemerintah masih gagal dalam kasus CommuterLine ini. tapi gue berharap, kedepannya jauh lebih ter-tata jadwal dan tetek bengek lainnya (*bacanya jangan ada jedah, ya). Hehehe :

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

Tinggalkan Balasan