Hanya Satu yang Dapat Didengar Uyut, Durian !

Lebaran tahun ini, untuk pertama kalinya uyut menginap di rumah mama. Selama ini, uyut nggak pernah bisa move on dari rumah anaknya yang berada di Bekasi. Jadinya, setiap tahun di hari raya idulfitri, seluruh keluarga besar berkumpul di Bekasi.

Usia uyut tidak lagi ‘muda’, sudah 3 digit. Menurut kakek, usia uyut sudah 100 tahun. Tapi, ketika usia itu ditanyakan langsung ke uyut, beliau menjawab usianya baru 103 tahun. Baru? Gila! Memang, banyak perubahan yang terjadi pada uyut, sesuai dengan bertambahnya usia beliau.

Tuli? Sudah pasti. Pikun? Apalagi. Jalan pun, uyut sudah tak sanggup. Tapi, ada satu hal yang nggak pernah berubah dari uyut, yaitu kegemarannya menyantap buah durian. Iya, durian !

Kemarin saja, sewaktu saya mengajaknya mengobrol, saya harus berjuang mendekati bibir ini ke telinganya dia. Kalau tidak begitu, dia tidak dapat mendengar dengan jelas. Uyut ini kalau ditanya bagaimana kabarnya, drama-nya dia keluar. Sok mengeluh, dan minta dikasihani. Hahahaha.. Ini kocak, apalagi melihat mimik ketika menjawab pertanyaan dari anak dan cucunya.

Uyut itu selalu merasa dirinya sudah tak sehat seratus persen. Disuruh makan nasi, dia nggak pernah mau. Alasannya, sudah tak kuat mengunyah, dan kesakitan ketika menelan. Tapi, ketika kami, anak dan cucunya, menawarkannya buah durian, dengan cepat dia menjawab, “Mau!”

Kemarin malam saya iseng ngobrol sama anaknya (tante saya), yang kebetulan duduk di samping uyut, di atas tempat tidur, “Tante, enak kali ya, kalau makan durian. Beli durian yuk, tan!”. Ajaibnya, si uyut itu bisa mendengar, ketika ada yang menyebut kata durian.

Durian? Mana duriannya? Aku mau!” ucap uyut ke anaknya. “Ah, memang ada bilang kalau di sini ada durian? Kuping mamak salah dengar kali. Mamak kan, sudah tuli,” jawab tante iseng. “Aku dengar, aku belum tuli,” kata uyut ngotot.

Karena terlanjur dia mendengar kata durian itu, alhasil malam harinya setelah pulang dari kantor (Iya, saya lebaran kedua sudah masuk kantor), saya menyinggahkan diri ini ke TOTAL, bareng sama mama.

Sempat desperate, waktu mbak-mbaknya bilang kalau beberapa hari tak ada durian yang dipasok sama TOTAL. Nah, lho, berabeh urusannya kalau duriannya itu enggak ada. Saya bilang ke ibu, untuk mencarinya di tempat lain. Tapi, ibu sudah nggak kuat nyetir mobil, mau nggak mau, ada nggak ada duriannya, harus pulang.

Pas banget mau keluar dari TOTAL, saya baru teringat kalau di situ ada pancake durian. Nggak jadi keluar, saya masuk lagi, dan bertanya ke mbak-nya, apa ada pancake durian? Syukurlah, pancake duriannya masih ada 4 bungkus.

Saya pikir, nggak dapat buahnya, pancakenya pun jadi.

Sepanjang perjalanan sempat ragu, takutnya uyut nggak begitu suka dengan pancake durian. Di sepanjang perjalan pun, mata ini melirik kanan kiri jalan, siapa tahu ada yang jualan buah durian.

Sesampainya saya di rumah, si uyut sudah menanyakan mana durian untuknya. Belum juga ngelepas tas, saya langsung masuk ke kamarnya uyut, dan bilang kalau durinya nggak ada. Tahu enggak, waktu saya bilang seperti itu, mukanya uyut langsung BT. 😆

Karena takut durhata, uyut murka, dan dia minta diantar pulang ke rumah anaknya yang di Bekasi, yasudah saya langsung menyodorkan pancake durian tersebut.

Pas ngelihat pancake yang masih berada di dalam bungkusan, uyut berujar, “Mana duriannya? Durian itu putih, itu bukan durian. Itu kue,”. “Sudah, uyut makan saja dulu, dan cobain. Itu durian kok isinya,” jawab saya.

Awalnya, pancake durian itu nggak langsung dimakan gitu sama uyut, tapi dipotek (dibelah) dulu sama dia. Untuk meyakini, kalau isinya benar-benar durian.

Uyut dan pancake duriannya

“Oia, isinya durian. Baunya sudah kecium,” kata uyut sambil nyengir. “Tuh, ‘kan, benar. Enak ‘kan, yut?” tanya saya. “Enak! Dua-duanya buat aku, ya,” 😆

Uyut itu kalau sudah ngomongin durian bakalan panjang. Waktu nyicipin pancake duriannya itu, dia nawarin ke anak dan cucunya yang menemaninya di dalam kamar. “Kelen (kalian) mau?,” sambil mencium aroma duriannya. “Enggak yut, awak nggak  suka,” jawab cucunya. Satu per satu pun kabur meninggalkan uyut, karena nggak kuat dengan aroma duriannya.

“Kalian payah. Sama buah surga kok nggak suka. Bagaimana mau jadi orang sukses?”. Hmmmmmm… Yang terakhir, entah apa hubungannya dengan nggak suka buah durian.

Lahapnya

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

19 comments

  1. *ngunyah pancake durian*

  2. Uyut saya sukaaa durian 😀 .Benar tuh kata Uyut bgm mau sukses makan dan nyium duiran aja ko ga suka 😆 .

    1. Hahaha.. Kak Nella ini. Usia uyutnya berapa, kak Nel?

      1. 80 an upa tepatnya :D.

  3. Wah Uyut hebat doyan buah durian! Daku aja sampe sekarang masih gak kuat sama baunya,huhuhu…

    1. tapi kamu sudah sukses, kak. Nggak perlu.

  4. Belum nemu pancake durian yg enak.
    Terakhir nyobain, baunya kayak apotik..itu isinya perisa durian kali ya (–“)

    1. durian medan dong, kak

  5. ewaduh suka duriamn ya , wah enak tuh duriannya

    1. enak banget. banget.

  6. Wah 103 tahun? Hebat bisa tetap sehat ya. Wuih uyut suka durian, memang durian itu enak tp kalau kebanyakan pusing juga.

    1. Nah itu dia. Dia nggak pernah merasakan pusing

  7. masih suasana lebaran khan,
    jadi nggak apa2 kan kalo aku mohon dimaaafkan lahir batin kalau aku ada salah dan khilaf selama ini,
    back to zero again…sambil lirik kiri kanan nyari ketupat….salam 🙂

    1. sama-sama, Om. Maaf lahir batin juga, ya 🙂

  8. duren itu buah surga… akupun mengakuinya… hahahaha

    1. mana lepok duriannya?

  9. Sumpah gw penasaran makna kata “Buah surga dan sukses ????” hahaha. Gw paling anti ama durian, kecium bau nya bisa mual. Durian oh durian, orang setua itu masih tergila2 padamu 🙂

  10. semoga beliau tetap sehat ya dit 🙂

  11. Uyut itu kalau sudah ngomongin durian bakalan panjang. Waktu nyicipin pancake duriannya itu, dia nawarin ke anak dan cucunya yang menemaninya di dalam kamar. “Kelen (kalian) mau?,” sambil mencium aroma duriannya. “Enggak yut, awak nggak suka,” jawab cucunya. Satu per satu pun kabur meninggalkan uyut, karena nggak kuat dengan aroma duriannya.

Tinggalkan Balasan