Hadiah Berkedok Penawaran Barang

Sekitar 2 hari yang lalu, ketika saya dan ibu sedang dalam perjalanan mengantarkan adik saya ke tempat les-nya, tiba-tiba saja BB saya berbunyi menandakan ada yang menghubungi. Awalnya saya sempat ragu untuk mengangkatnya, tapi pada akhirnya saya angkat saja, takut-takut ada panggilan interview atau bahkan panggilan kerja. Walaupun nomornya tidak saya kenal, saya berusaha tetap sopan ketika menerimanya. Ya itu tadi, takut-takut saudara atau bahkan pihak HRD beberapa perusahaan yang saya masukan lamarannya.

Saya sapa dengan sopan dan mencoba mengenali suara siapakah yang ada dibalik telepon itu. Ternyata, seorang cewek. ‘Duh, jangan-jangan panggilan kerja, nich’ ucap saya dalam hati. Ga taunya ‘maaf, mas.. Apa benar, mas pemilik nomor 0821-22-48-xxxx’ tanyanya. ‘Iya, benar.. Saya pemilik nomor ini. Ada apa, ya?’ tanya saya balik.

Tiba-tiba dia ngomong yang membuat saya setengah ga percaya dan benar-benar ga percaya ‘Perkenalkan, saya Nesya dari (*maaf, nama perusahaan saya palsukan) RINONDOE GRUP. Mau memberitahukan bahwa, nomor anda berhasil mendapatkan voucher 500.000 RUPIAH berkat kerjasama kami dengan pusat perbelanjaan ITC’. ‘Saya menang voucher? Serius? Perasaan, saya tidak pernah mengikuti kuis beberapa hari ini’ jawab saya yang masih tidak percaya dan berusaha menanyakannya lagi¬† ‘Mbak, ini buka penipuan, kan? Hati-hati, lho, ayah saya polisi (*sok nakut-nakuti)’. Lalu, si mbak yang mengaku bernama Nesya itu menjelaskan dengan detail supaya ga dikira penipu. Saya yang tidak bisa mendengarkan kata berbau “hadiah” mendengarkan dengan benar ‘Benar, mas.. Kami sadar, pasti banyak yang mengira kami ini penipu. Tapi mas tenang saja, ketika mas mengambil hadiah ini, mas tidak perlu membawa uang, cukup membawa fotokopi KTP dan KK. Oia mas, apa mas sudah berkeluarga? Kalau belum, mas harus didampingi orang tua untuk mengambil hadiah ini’. Terdengar aneh sih memang, ngambil hadiah kok bawa orang tua segala. Tapi yaudah deh, ga masalah ‘Iya, mbak.. Saya belum berkeluarga. Nanti saya datang bersama ibu saya. Tolong SMS kan letak kantornya dimana’.

Selama perjalanan, saya ceritakan ke ibu masalah penelepon tadi. Ibu saya, pun, heran.. Kok ngambil hadiah harus di dampingi orang tua. Apalagi dia mengatakan, bahwa hadiahnya voucher belanja 500.000 dari ITC. Ga berapa lama kemudian, si penelepon tadi mengirimkan SMS berupa alamat dan letak persis pengambilan hadiahnya. Setelah saya baca baik-baik, dari lokasinya sih, sepertinya bukan penipuan. Karena, saya hampir setiap hari melewati alamat dan komplek yang tertera di layar ponsel itu. Setelah menerima itu, tak lantas saya dan ibu saya pergi ke alamat itu, kami harus mengecek nya lagi. Alamat, sih, boleh jelas.. Perusahaannya? Belum tentu jelas! *curhat! Beberapa kali mendatangi perusahaan yang tidak nyata*. Sesampai di rumah habis mengantarkan adik, ibu saya mencoba menelepon ke perusahaan tersebut. Setelah ditanya panjang kali lebar kali tinggi, ternyata saya benar-benar mendapatkan hadiah itu. Dan, perusahaan itu nyata adanya.

Berhubung pengambilan hanya sampai jam 6, saya bergegas sholat ashar dan menuju ke alamat itu bersama ibu saya. Karena jarak dari rumah saya ke lokasi pengambilan hadiah tidak begitu jauh, tak sampai 20 menit, kami pun sampai ke kantor yang dimaksud. Saya dan ibu pun disambut dengan senyum sumringah para pegawai kantor itu bak seorang pengunjung restoran ternama “SELAMAT DATANGGGGG!”. Perasaan tidak enak saya pun muncul. Bukannya takut di hipnotis atau di apain (di satu sisi muka mereka emang ga mirip Uya Kuya, di sisi lain, sepertinya mereka orang baik-baik) hanya saja, kok di hadapan kami banyak barang elektronik berjejer rapi. Mulai dari AC, Home Theater, DVD Player, Kompor Gas “sentuh”, Penyaring Air Mineral dan lain-lain. ‘Apa mungkin ini hadiah buat gue? Masa iya, sih? Tadi si mbak Nesya cuma bilang voucher 500rebo. Ah ga mungkin ah’ fikir saya dalam hati.

Mulai deh, ciri khas #IndonesiaBanget keluar, basa-basi. Saya paling benci yang namanya basa-basi. Dia mulai bicara panjang lebar yang sampai pada akhirnya menjelaskan tentang barang-barang yang ada di hadapan kami berdua (saya dan ibu saya) ‘Kami bergerak di perusahaan distributor perusahaan eletronik ini. Kebetulan, ruko barang ini sendiri tersebar di seluruh ITC yang ada di Jakarta. Mas ini mendapatkan voucher 500.000 yang bisa digunakan untuk potongan harga di perusahaan eletronik ini’. Saya pun mulai ga santai dan emosi ‘JADI, maksudnya saya mendapatkan voucher potongan harga, bukan voucher 500.000 dari ITC??’. Walaupun hanya sekelas ITC, lumayan juga kali belanja disana. Syuku-syukur bisa di pakai sama ibu, eh ga taunya beginian, MODUS ABIS!. Dengan senyum palsunya itu si mas-mas masih melanjutkan menjelaskan sambil membuka map yang isinya orang-orang yang berhasil mendapatkan itu ‘Disini ada kertas, mas boleh pilih 1.. Di dalamnya ada hadiah’. Mereka berhasil, lho, menahan saya dan ibu untuk tidak meninggalkan ruangan itu, SIAL!!. Yaudah deh, saya ambil 1. Setelah di buka, ternyata isinya¬† gambar bingkisan, tulisan 1.000.000 rupiah dan platinum.

Karena saya penasaran, saya tanyakanlah kepada si mas yang senyumnya lebih palsu daripada teteknya Melinda Dee. Dia pun dengan menggemu-gemu menjelaskannya kepada saya ‘Gini, mas’ menjelaskan sambil pindah posisi duduk ‘Bingkisan itu, mas mendapatkan bingkisan dari kami. Bingkisan menarik deh, pokoknya’. Iseng saya, saya celetukin ‘menarik? Saya masuk sini aja pandangan saya sudah tidak menarik, mas!! Lalu, 100.000 juta+platinum ini maksudnya apa?’

Dengan muka yang sudah tidak semanis di awal, mas itu pun menjelaskan dengan muka masam ‘Platinum plus 1.000.000 rupiah itu maksudnya, mas mendapatkan ini (*menarik AC, Home Theater, DVD Player dan Alat Therapy kehadapan saya). Ini semua seharga 15.000.000 rupiah, bisa mas bawa pulang. Lalu, 1 juta itu, mas mendapatkan ini (*lalu mengambil semacam AC tapi yang diberdirikan–saya lupa namanya). Ini kan harganya 5.999.000, karena mas mendapatkan 1 juta, mas dikenakan pemotongan harga segitu. Jadi mas cuma bayar 4.999.000 tapi sudah mendapatkan barang lebih dari 15.000.000 rupiah’.

Ternyata, ibu sudah mulai geram dengan semuanya. Pada akhirnya, perkataan pedas pun keluar dari bibir manisnya ‘Maaf ya, mas.. Bukannya saya sombong. Asal mas tau saja, ini semua ni yang mas taruh persis di depan saya, saya sudah punya semua. AC ada 2, Home Theater, pun, ada 2. Alat therapi apalagi. Jadi, buat apalagi ini semua!?!? Pantesan saja, anak saya di suruh bawa orang tua. Memang, sih, bukan penipuan seperti yang lain-lain, cumaaaa ini sih namanya juga penipuan. Wasting time saya aja’

Mas-mas itu pun tetap kekeuh ‘Tapi, bu, sayang banget lho. Cuma bayar 4.999.000 ibu sudah mendapatkan semuanya’. ‘Makasih, lho, mas atas ke-percuma-an ini semua.. Mas itu yang percuma, ngomong panjang lebar tapi tetep ga berhasil’ kata saya sembari mengambil bingkisan itu dan bergegas keluar.

Setelah sampai di rumah dan masih dalam keadaan gondok, saya pun membuka bingkisan yang kabarnya menarik dengan hati yang super ikhlas. Taraaaa, pas dibuka, inilah isi dari bingkisan super menarik itu. Setengah lusin gelas yang sebenarnya tidak ada menarik-menariknya. Lebih menarik gelas Angry Birds yang dijual di Indomart. Sebenarnya, yang bikin saya gondok itu bukan karena gelas ini. Melainkan, si mas-mas itu mengira saya adalah calon polwan yang baru mau masuk. Sial benar-benar sial. Walaupun saya lelaki botak, cuma tetek di badan ini bekas gendut tempo hari belum juga kempes.

Semoga ini jadi pembelajaran berharga buat saya, semoga ke-sana-sana-nya, hal seperti ini tidak terulang kembali. Setelah di fikir-fikir, gelas nya lumayan juga. Tau aja ibu saya kekurangan gelas tamu. Terimakasih banyak lho! Buat orang-orang yang ada di map, kalau kata Presiden SBY, saya PRI-HA-TIN.

Setengah Lusin Gelas

 

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

5 comments

  1. modus spt ini banyak di mall, kasihan kalau orang2 tua yg dikerjai mrk. tp lumayan jg tuh dpt setengah lusin gelas :). Salam kenal.

    1. Iya, mbak.. Kasihannya sih sama mereka-mereka yang kepancing dengan iming2 seperti itu. Lumayanlah setengah lusin

  2. Sewaktumereka melihat lihat, pria tua itu mencari mobil hijau gelap yang sudah iapesan dan bayar kemarin.

  3. sabar Dit, dulu aku juga pernah kena sama ibu, malahan itu di plaza nya, gak disuruh ke alamat lain lagi. Tapi sama aja, kesel beudh, ketipu! T_T

  4. pernah merasakan hal yang sama. sebeeeeeeell banget. kenanya di detos, depan hypermart. waktu itu udah nolak mentah2, bahkan ngomel2 sama orangnya. akhirnya bisa kabur dari jeratan.
    ternyata eh ternyata, ibu pergi belanja lagi sama bapak (berdua doank) ke hypermast dan ketemu orang itu lagi. alhasil pulang2 mereka beli barang2 seharga 4jutaan dan sampai detik ini (udah 2 tahun yang lalu) barang2nya cuma ditaruh diatas lemari. maksudnya ngumpetin dari anaknya yg satu ini. begitu ketauan dan diomelin sama mim, mereka diem aja.
    makanya lain kali, ga ada dech berbaik-baik sama mereka. sebel banget.

Tinggalkan Balasan