Forum NGOBRAS ke-4, Terinspirasi Ina si Nononk

Kasus Ina si Nononk yang menggemparkan ranah media sosial pertengahan Maret ini menginspirasi teman-teman NGOBRAS untuk mengadakan satu diskusi dengan tema ‘Anak dan Media Sosial’.

NGOBRAS atau ngobrol bareng sahabat merupakan satu forum yang digagas jurnalis-jurnalis kesehatan lawas untuk sesama jurnalis kesehatan dari media mana saja dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya. Ada pun yang menjadi narasumber pada Jumat, 11 Maret 2016, adalah Psikolog Anak dan Remaja dari Yayasan Pulih, Ika Putri Dewi dan Widuri dari ICT Watch.

Dua narasumber bersama otak dari forum NGOBRAS. Dari wajah sudah terlihat kan kalau mereka lawas?

Berbicara tentang media sosial tidak bisa dipisahkan dari dampak atau risiko yang bakal diterima. Kita selama ini mengutuk dengan keji orang-orang yang suka membully. Melihat pelawak yang mengumpat lawan main sebagai bahan guyonan saja kita marah dan protes. Mendengar, mengetahui, atau membaca ada orang yang mengomentari artis idola karena dianggap selama ini hanya bermimpi namun belum menampakkan hasil, murkanya sudah kayak melindungi keluarga sendiri. Giliran ada kasus kayak Ina si Nononk, bocah perempuan yang berpose di atas ranjang bersama bocah laki-laki dalam keadaan tubuh ditutupi selimut putih, kita bukannya diam saja, malah ikut-ikut menshare dan menuliskan komentar menyudutkan? Sadar tidak kalau tindakan itu sama dengan membully?

Tindak pembullyan di media sosial tak jarang berujung maut. Berawal dari stres yang secara perlahan merusak mental dan emosi mereka, lambat laun berkembang menjadi sebuah kondisi cukup serius. Tidak mampu menahan sakit, malu, dan penderitaan yang dirasa berat, ujung-ujungnya memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Widuri (jilbab) dan Ika menjelaskan mengenai dampak media sosial bagi anak

Jangan buru-buru memaki orang-orang seperti Ina si Nononk dan cinta monyetnya. Mereka itu adalah korban. Korban dari ketidaktahuan bahwa tindakan mereka belum pantas untuk dilakukan. Juga tidak elok dilihat. Dan mungkin kedua bocah itu adalah korban dari kedua orangtua yang super sibuk sehingga tak tahu apa saja yang telah diperbuat buah hatinya. Sudah sepatutnya orangtua mengawasi setiap gerak-gerik anak sehari-hari, terlebih saat mereka berselancar di dunia maya. Jika perlu ikut memastikan anak-anak belum memiliki akun pribadi di media sosial sampai umur mereka di atas 17 tahun.

Ika menjelaskan bahwa sebenarnya media sosial tidak tepat untuk anak di bawah 17 tahun. Alasan utamanyaa adalah masalah kematangan. Kematangan emosi dan berpikir mereka. Itulah mengapa Facebook, Twitter, dan Path diperuntukkan bagi mereka yang sudah berumur 18 tahun hingga usia dewasa.

Tak bisa dipungkiri media sosial telah menjelma menjadi teman hidup sehari-hari manusia modern. Kita bebas mengekspresikan apa saja di sana. Curhat, berbagi momen apa saja, sampai hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dicatut di media sosial pun kita lakukan. Bagi mereka yang matang serta sudah tahu harus berbuat apa di media sosial, menjadikan situs pertemanan itu untuk mencari uang tambahan.

Ika secara tegas mengatakan bahwa belum pantas anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, tujuh sampai 12 tahun atau anak yang tergolong middle childhood, memiliki akun media sosial pribadi. Menggunakan internet boleh tapi tidak untuk yang satu itu.

Ika menekankan mengenai konsep diri (self concept). Anak-anak usia segitu belum terlalu membutuhkan peer group atau pertemanan di luar dari lingkungan sekolah, tempat tinggal, atau tempat les. Fokuskan anak pada kegiatan yang membuat mereka dapat berinteraksi langsung. Ikutkan kegiatan ekstra kurikuler, kursus sesuai minat dan kesukaan, atau mengikuti berbagai perlombaan. Menurut Ika, lebih baik perkenalkan internet sebagai sarana belajar.

Namanya juga NGOBRAS, Ngobrol bareng sahabat, duduknya santai begini. Lesehan.

Sedangkan anak-anak yang memasuki umur 12 tahun ke atas, media sosial akan mereka gunakan untuk mencari pertemanan yang lebih luas. Kebanyakan anak dan remaja memiliki media sosial untuk sosialisasi. Mencari teman yang memiliki hobi dan minat sama. Hanya saja orangtua tetap harus mendampingi mereka. 12 tahun adalah usia mencari jati diri. Usia-usia ingin serba tahu lebih mendalam. Sebaiknya hindari kata ‘jangan’, menggantinya dengan sebuah penjelasan. Percuma melarang anak aktif di media sosial tapi justru orangtunya yang getol melakukannya.

Ada pun manfaat lain dari mengawasi mereka adalah mencegah anak memfungsikan media sosial sebagai ajang tampil diri. Apalagi kalau mereka tidak punya modal unjuk prestasi. Terlebih mental mereka tidak dirancang menerima kritikan dan masukan.

Widuri mengatakan media sosial ibarat pasar atau mal. Orangtua harus selalu mengawasi semua tindakan yang dilakukan anak

Seperti yang dikatakan Widuri ‘media sosial itu ibarat mal atau pasar’. Dampingi anak ke mana pun mereka melangkah. Anda tentu tidak ingin anak masuk ke toko yang salah, dong? Misal masuk ke toko mainan yang harga per satu barang saja tidak manusiawi. Meleng sedikit saja bukan tidak mungkin anak masuk ke toko itu, melihat semua mainan yang tersusun rapi, dan merengek minta dibelikan. Ibarat dua sisi mata pisau, internet itu ada efek baik maupun jelek.

Efek baik dari media sosial tak usah dijelaskan lagi. Kita semua sudah merasakannya, bukan? Efek jeleknya ini yang terkadang kita lupakan. Tak cuma cyberbully, efek jeleknya anak bisa menjadi korban penculikkan dan sejumlah tindakan keji lainnya. Kejadian ini tak jarang karena kelalaian orangtua sendiri.

Siapa di sini yang suka mengunggah foto anak ke media sosial? Berapa kali dalam sehari? Hati-hati, pamer Anda membahayakan nyawa si Kecil. Inilah yang ditekankan kedua narasumber. Mau berbagi momen bersama anak mongo saja, tidak ada yang melarang. Cuma jangan keseringan. Sekali pun di Path, yang menurut kita jauh lebih aman ketimbang Twitter dan Facebook karena isinya adalah orang-orang pilihan.

Semenjak kasus seorang perempuan vs penumpang Commuterline yang terjadi satu atau dua tahun lalu, saya sudah menganggap Path tidak aman lagi. Mulai hari itulah saya agak mengontrol apa saja yang ingin saya bagikan di sana. Selama ini paling banyak curahan hati tentang seringnya saya dianggap perempuan sama abang Gojek dan lain-lainnya.

Widuri juga mengimbau agar jangan pernah memberikan alamat lengkap saat check-in di media sosial, apalagi jika membawa anak-anak untuk hal-hal rutin seperti sekolah guna meminimalisir penculikan berdasarkan informasi ini. Oknum-oknum tidak bertanggungjawab menjadi tahu kapan harus bertindak.

Di akhir diskusi bersama forum NGOBRAS, Ika dan Widuri menyampaikan beberapa pesan untuk para orangtua.

  1. Mengganti kata sandi

Ingatkan atau ajarkan anak mengganti kata sandi media sosial secara berkala. Jangan menggunakan sesuatu yang mudah diingat oleh pemilik akun. Carilah yang tidak terpikirkan oleh orang lain. Jika selama ini selalu menggunakan tanggal lahir, tanggal jadian, atau nama orang-orang terdekat, segera ganti dengan nama panggilan ketika kecil, mungkin. Atau nama orang yang pernah singgah di hati sebagai selingkuhan, mungkin? Eh, maaf, ini kata sandi buat anak ya? Kirain buat orang dewasa.

  1. Jangan terlalu reaktif

Ketika menemukan konten yang tidak diharapkan di dalam akun media sosial si Kecil, jangan terlalu reaktif dan langsung menduga-duga sesuatu yang buruk. Tak ada salahnya bertanya apa benar konten itu mereka yang ciptakan. Jangan-jangan itu kerjaan orang lain yang membaginya kepada si Kecil tanpa mereka ketahui.

  1. Jangan pernah merasa anak baik-baik saja

Secara berkala awasi apa yang anak lakukan di depan internet. Jangan karena fisiknya terlihat baik-baik saja atau anteng, orangtua merasa anak baik-baik saja. Awasi perubahan sikap anak yang tidak biasa. Cenderung lebih murung, menarik diri dari sekolah, atau kemudian enggan menggunakan gawainya lagi. Apalagi jika orangtua sampai menemukan anak menjadi sulit tidur. Lebih baik cari tahu gejala-gejala psikologis anak telah menjadi korban bullying di dunia maya.

Semoga kita bisa belajar dari kasus Ina si Nononk dan kasus-kasus lainnya.

.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

9 comments

  1. gw malah baru tahu kasusnya Dit karena beberapa hari terakhir ini anmedsos. Menurut gw orang dewasa yang belum matang pun sebaiknya juga jangan maenan medsos daripada share hal-hal yang cuma penuh umpatan atao hal-hal yang emang gak layak share. Huehehe..

    1. Makanya itu Mas Den, yang dewasa saja belum benar-benar matang memahami harus berbuat apa di media sosial, apalagi anak-anak yes? Rentan sekali.

  2. Media sosial menjadi tempat di mana penggunanya merasa menjadi pusat perhatian: self selebritis. Hehe…

    Nice report

    1. Begitulah Kang yang terjadi pada masing-masing penggunanya. Termasuk kita(?)

  3. buset,
    entah saya yg kudet atau emang kasusnya gak boomin,
    gtu baca saya googling eh ngeri banget anak2 foto2 bgtuan..

    1. Hehehe…

      Begitu deh Mas kenyataannya

  4. Wah, programnya keren. Keep doing it! 🙂

    1. Terimakasih, kak Mich. Kapan-kapan hadir dong ke Ngobras

Tinggalkan Balasan