Drama Dinda. Ibu Hamil dan Bangku Prioritas

Kalian pastinya ngikutin berita si Dinda, dong? Itu tuh, si gadis asal Depok (kalau dibaca dari lokasi Path-nya) yang ngomel-ngomel di Path-nya karena ibu hamil yang tiba-tiba minta duduk di kereta. Nah, postingan kali ini, terinspirasi dari si Dinda. Terimakasih, Dind, karenamu, blog yang banyak sarang labah-labahnya ini bersih lagi.

Sebelumnya, saya mohon maaf, apabila nantinya ditemukan hal-hal yang tidak mengenakan dalam postingan ini.

Awal membaca screenshot postingan Path si Dinda, saya sempat (sok) marah dan memaki dengan keji. Kata saya, Dinda ini tak punya otak dan tak punya hati nurani. Bisa-bisanya sama ibu hamil seperti itu. Kalau posisi di balik, bagaimana? Emangnya enak digituin? Itu awalnya.

Sampai akhirnya, postingan ini menjadi obrolan saya dan gebetan teman dari media sebelah. Saya utarakan pendapat saya soal kasus ini. Setelah ngomong panjang lebar, dia cuma ngomong,”Kamu yakin sudah lebih baik dari dia? Kamu yakin, semua orang yang memaki dia, termasuk kamu, akan memberikan tempat duduknya kalau kamu dalam keadaan mendesak. Mungkin dia khilaf dan ada sesuatu yang membuatnya seperti itu. Kita tidak pernah tahu, ‘kan?”

Selesai mendengar ucapan seperti itu, saya tiba-tiba berpikir bahwa apa yang diomongin dia ada benarnya. Ternyata, saya juga pernah (sering) melakukan ini.

Selain itu, apa yang dibuat si Dinda, membuktikan rumor yang beredar selama ini. Kalau wanita di gerbong khusus wanita masih ada yang egois. Bahkan sama wanita hamil sekali pun.

Pernah satu kejadian, seorang ibu yang tengah mengandung dan membawa anak masuk ke gerbong campur (gerbong empat, CL Serpong-Tanah Abang). Saat ibu itu masuk, pria dan wanita yang duduk di kursi prioritas spontan berdiri dan mempersilahkan si ibu dan anaknya untuk duduk. Tiba-tiba, ibu tua yang ada di sebelahnya ngomong, kenapa dia tidak di gerbong khusus saja, akan lebih aman melihat kondisinya saat itu.

Sambil tersenyum, si ibu berkata,”Saya tadi sudah di gerbong khusus, bu. Tak ada satu pun yang memberikan tempat duduknya. Bahkan, seorang wanita yang tengah duduk mengatakan kalau saya ada baiknya di gerbong campur, karena akan mendapatkan duduk. Pria lebih ngalah.”.

Nah, lho! Mendengar itu, saya yang berdiri di samping kursi prioritas (dekat pintu) cuma senyum-miris saja. Kok tega, ya?

Tak lama setelah itu, saya mendapat cerita yang sama dari mama. Waktu kejadian siang menuju sore hari, di CL dari Tanah Abang ke Serpong. Kata mama, ketika itu ada ibu tua (sepertinya pedagang) masuk ke dalam CL. Kondisi di gerbong khusus itu memang sudah penuh. Melihat si ibu yang membawa banyak dagangan, tak ada satu pun orang yang langsung berdiri (beberapa ada yang tertidur dan membaca) dan mempersilahkan si ibu untuk duduk. Dilihat dari usia, sekitar 55 tahunanlah.

Akhirnya, si ibu duduk saja di plastik besar dagangannya. Namun, satpam wanita yang ada di gerbong itu meminta si ibu untuk berdiri. Katanya sih, mengganggu yang lain. Beruntung, tak lama kemudian, ada ibu lain yang baru bangun dari tidur singkatnya dan langsung mempersilahkan si ibu untuk duduk di kursinya.

“Lebih baik gondok di gerbong campur, ketimbang gondok di gerbong khusus. Seharusnya, sesama wanita mengerti,” itu kata mama saya.

Tidak usah soal duduk, deh. Etika ketika akan masuk ke dalam kereta saja masih terasa kok keegoisannya. Mungkin merasa sama-sama wanita kali, ya. Jadinya, rasa tidak enak untuk saling dorong mendorong dan duluan-duluanan masuk diabaikan. Mungkin.

Jujur, saya juga pernah melakukan itu. Hanya saja, tidak memaki si ibu dan tidak memosting itu di Path. Bukan bermaksud tidak empati. Kalau boleh jujur, saya miris bila melihat ada wanita tua terlalu lama berdiri. Apalagi kalau mukanya terlihat capek.

Biasanya, sifat egois saya muncul kalau sudah benar-benar capek dan ngantuk parah. Ketika melihat ada wanita yang lebih membutuhkan bangku itu, saya cuma melihat sekilas dan memilih tidur. Dalam hati, saya hanya berkata,”Tuhan, maaf, kalau saya melakukan ini.”. Dengan catatan, itu terjadi tidak di bangku prioritas. Maka itu, ketika tahu kondisi tubuh seperti apa, saya tidak mau duduk di bangku prioritas ketika CL dalam keadaan sepi. Ada baiknya menghindar. Kalau saya egois di bangku prioritas, tandanya saya memang tak punya otak. Sudah tahu itu bangku prioritas, malah saya diam saja. Lain halnya, kalau dalam kondisi sebaliknya.

Saya tahu, kok, duduk terlalu lama juga enggak baik untuk kesehatan. Terlebih bila sudah terlalu lama duduk di kantor/lokasi liputan. Tapi kalau sudah ngantuk parah, bisa buat apa? *siap dimaki-maki*

Ngomongin soal bangku prioritas, saya pernah mengalaminya. Sekitar dua bulan lalu, saya menaiki CL dari Palmerah ke Serpong. Hari itu, muka saya pucat dan pusing berat. Saking pusingnya, untuk melihat cahaya terang saja sudah tak kuat. Makanya, saya buka jaket yang dikenakan dan saya pakai di kepala. Lumayan, menghindari saya dari cahaya.

Melihat kondisi saya, bocah laki-laki berpakaian putih biru berdiri dari bangku prioritas dan mempersilahkan saya duduk. Awalnya sempat nolak. Tiba-tiba terlontar dari mulutnya,”Silahkan duduk, bu. Muka ibu mucat!.”. IYA, DIA MANGGIL SAYA IBU. Saya kaget mendengar itu. Mau marah, tapi tak sanggup. Soalnya, ingin rasanya cepat-cepat sampai rumah dan tidur. Yasudah, akhirnya tawaran dari adik itu saya terima.

Ternyata, si adik itu turunnya satu stasiun sama saya. Tahu saya juga turun di stasiun itu, si adik kembali menawarkan saya untuk diantarkan pulang. Karena kata dia, muka saya benar-benar pucat. Saya menolak dengan halus, sembari membuka identitas sebenarnya. Setelah tahu, dia cepat-cepat minta maaf dan meralat panggilannya. Ha ha ha.. Kayaknya sih, si adik ini mendapat ajaran yang bagus di rumahnya.

Pas saya tanya kenapa manggil saya ibu, dengan polosnya dia jawab, “Waktu kakak mukanya ditutupin jaket itu, terlihat seperti perempuan. Manis. Apalagi kakak ada anunya (baca: tetek). Maaf ya, ka.”. Duh, saya curiga.. Kalau saya tidak bongkar identitas sebenarnya, si adik ini naksir sama saya. Duh, dik, kamu masih terlalu brondong untuk saya. *lho*

(GOOGLE/KOMPAS)

Kembali ke Dinda…

Sebenarnya, apa yang diperbuat oleh si Dinda ini pernah dilakukan oleh wanita-wanita lain. Hanya saja, tidak sampai dipost di Path atau media sosial lainnya. Lagian ya, kok teman di Pathnya tega gitu nge-capture postingan si Dinda dan menyebarkannya ke semua orang. Berarti Dind, 150 orang teman di Pathmu ada yang bermuka dia. Coba cek satu-satu deh. Jangan-jangan, orang yang melakukan itu ada di deretan orang yang memberikan komen di postinganmu itu? Barangkali, lho.

Oia, Dind, mau nanya. Kamu bilang kan di stasiun dari jam 5, dan si ibu yang meminta kursi itu baru masuk jam 7. Memangnya, kamu dari stasiun mana, kok lama sekali perjalanan yang kamu tempuh baru ketemu si ibu itu?

Kalau berasal dari stasiun yang sama, memangnya kereta yang ingin kamu naiki tibanya berapa jam sekali? Kenapa kamu enggak naik yang jam 5:30 saja? Kenapa harus nunggu sampai jam 7? Kalau kayak begini sih, aku bisa memahami mengapa kamu semarah itu. Tapi, itu kan salahmu juga. Kenapa harus menunggu selama itu?

Ditambah lagi pakai lari-lari. Memangnya tidak capek?

Dind, saya cuma mau bilang. Kalau kamu mengejar kereta saja sudah capek, bagaimana saya yang hampir satu tahun mengejar cinta orang yang saya suka? Itu capeknya luar biasa lho, Dind. Dikasih kode apa saja, tidak mempan Dind. Ayolah Dind, mengerti perasaan saya. #malahcurhat.

Sudahlah Dind, ini pembelajaran untuk kita semua. Pelajaran untuk; 1. Tidak memosting sembarangan di Path, 2. Lebih mengenal siapa-siapa saja yang layak dijadikan teman di Path, 3. TIDAK BERURUSAN DENGAN IBU HAMIL. SEKECIL APA PUN KESALAHAN MEREKA, MOHONLAH DIMENGERTI, DIND. (capek bawa nyawa dalam kandungan)

Yowes, si Dinda pun sudah minta maaf. Saya juga minta maaf ya, Dind, kalau turut memaki dirimu. Kita sama memperbaiki diri. Kamu, saya, dan yang lainnya mengubah perilaku kita ini.

Jadi, buat para sesama wanita yang turut terseret memaki dan mengecam si Dinda, apakah tidak pernah melakukan hal yang sama? Yakin?

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

22 comments

  1. Jadi …. Kalian para wanita di gerbong khusus itu kayak begitu kelakuan nya. Ok Fine Aku Paham

    1. Egois ya, kak? Ish, enggak usah ditemenin saja. >.<

  2. Waktu itu aku liat sepintas di TL masalah bumil ini tapi aku googling ga nemu, termakasih ibu adiiit 😛

    eh betewe hamilnya berapa bulan?
    Curhatan/caci maki dinda ke bumil bisa mbaca dimana ya dit?

    1. *TAMPOL*

      bacanya bisa buka Liputan6.com, Kompascom, Detikcom, dan media online lainnya

  3. Pertanyaan penting “apakah kita sama dengan dinda?”
    hemmm syukurlah saya setengah iya dan setengah tidak tapi banyakan saya suka kasih tempat duduk bagi yang membutuhkan ^^

    TAPI MEMANG WANITA ITU EGOISSSSSSS #malahcurhat

    1. serius, Lid? Ah, yang benar?

    1. Ngawasin susah, Fan. Secara kereta itu padatnya nauduzubillah mindzalik. Yang ada, yang ngawasin tergeser ke belakang karena didorong

  4. bener kok, penumpang di gerbong khusus itu justru lebih egois.. istriku dulu beberapa kali naik kereta di gerbong khusus cuman sekali dapet duduk — setelah ada yang ngasih. sebaliknya berkali-kali masuk gerbong campur, cuman 1-2 kali ga dapet kursinya. itu pun karena udah penuh sesak banget.

  5. emang paling benar, kalau ngerasa dirinya butuh di prioritaskan sebaiknya masuk kegerbang campur aja kali yaa… *padahal yo aku gak pernah naik commuterline*

    kapan pulang bareng lagi Dit?

    1. Yu, kita pulang naik kereta. Atau jalan ke mana gitu, dengan menaiki kereta

  6. Tanpa bermaksud membela Dinda, IMHO, gerbong KRL di Jabodetabek ini udah over capacity, terutama di jam sibuk. Terakhir kali saya naik KRL udah ada 5 tahun lalu, itu saja penuh sesaknya udah inhuman. Sekarang pasti lebih sesak lagi. Dengan kondisi angkutan umum yg terlalu padat, penumpang rawan stress, boleh jadi empatinya menjadi agak tumpul.

  7. ada kegelisahan hati dan pikiran yg harusnya dipendam dengan sabar, dinda memblowupnya di media, temannya menjadikannya efek viral. Kasihan nama baiknya. Padahal mungkin ibu yg tidak diberi tempat juga sekarang biasa saja, sudah ditemuinya sehari2 yg tidak memberi tempat. Hati2 deh sama nama baik dan ucapan di media sosial

    1. hooh. bisa saja si ibu tidak menyadari si Dinda itu. jadi, ya gitu deh

  8. Udah lama kita nggak ketemu Diiit.
    Dulu awal-awal aku juga binging mau manggil kamu apa >.<

    1. Iya, Mbak. terakhir dua bulan lalu, acara Nutri Talk.

      Mbak Ekaaaaa

  9. Itu ada yg typo
    Dari 150 teman ada yg bermuka dua harusnya

    1. yang mana cih, yang mana?

  10. Aslinya, wanita kalau sudah kejam ya lebih kejam dari pria. Pria kan malu kalau tidak mengalah sama perempuan, nah perempuan sih cuek saja karena merasa sama2 perempuan ini….

    1. OH, Begitu. Oke, kak. Hahahaha

Tinggalkan Balasan