ditipu First Travel

Saya Pernah Ditipu Travel Umrah, Bukan First Travel tapi First Journey

Nasib nahas yang menimpa sejumlah calon jamaah umrah dari First Travel, mengusik jari jemari ini untuk menulis pengalaman pahit pernah ditipu travel umrah. Namanya hampir sama, First Journey.

Curahan hati ini sebelumnya sudah saya tulis di akun Twitter pribadi saya. Setelah membaca kicauan Ariev Rahman dua hari sebelumnya. Travel blogger penerima penghargaan Indonesia’s Best Travel Blogger (Skyscanner ID, 2014 dan Blogger Camp ID, 2015) dan Travelers of The Year 2016 (Majalah Panorama), berkicau mengenai nasib calon jamaah yang kesulitan mengurus pengembalian uang apabila mereka ingin cabut dari First Travel, pindah ke travel umrah yang lain.

Seketika saya geram. Bisa-bisanya travel umrah sekelas First Travel melakukan hal tega seperti itu. Mengingat nama besarnya yang (bagi saya) sudah selevel dengan Aqua, Rinso, Indomie, dan Odol; mudah diingat.

Orang-orang di sekeliling saya, kerap mempromosikan First Travel kepada saudara, teman, pacar, atau siapa saja yang mau pergi ke Tanah Suci. Padahal di luar sana, banyak travel umrah yang punya penawaran sama seperti First Travel ini. Dan orang yang mempromosikannya itu belum pernah umrah, apalagi merasakan sendiri pelayanan dari travel agen yang dia sebutkan itu.

Tahun 2014 keluarga kami punya rencana umrah di akhir tahun. Untuk merayakan hari ulang tahun papa, hari ulang tahun pernikahan mama dan papa, dan mumpung si Adik libur. Dikarenakan saya tidak bisa libur lantaran mesti piket Natal, saya mundur dari rombongan dan memutuskan pergi sendiri.

Bulan Mei kebetulan banyak hari liburnya. Hari kejepit pula. Setelah dihitung-hitung, jatah cuti yang bisa saya pergunakan tak perlu banyak-banyak. Yang seharusnya 7 hari jadi hanya dua hari saja.

Sayang, travel umrah favorit papa tidak ada keberangkatan di bulan itu. Secara kebetulan, iparnya om saya berencana pergi umrah bersama teman-teman sekantornya. Beliau pun menawarkan agar saya bergabung saja ke mereka, karena masih ada sisa satu slot. Tanpa pikir panjang, tawaran itu saya terima.

Tidak Curiga Sama Sekali

Iparnya om saya ini adalah seorang guru di salah satu sekolah swasta tersohor di Rawamangun. Atas dasar itu yang membuat saya tidak kroscek terlebih dahulu travel umrah yang mereka pergunakan. Masa iya sekolah sekeren itu salah memilih travel, pikir saya waktu itu.

Sebagai anggota baru saya angguk-angguk saja. Bayaran segini, oke, saya turuti. Biayanya murah banget, sekitar Rp16,5 juta. Dengan penawaran umrah selama 10 hari dan jalan-jalan di Thailand selama tiga hari.

Embel-embel kayak begini pun nggak membuat saya curiga sama sekali. Benaran, saya manut bae! Begitu pun saat beberapa hari jelang keberangkatan.

Dua minggu jelang keberangkatan seluruh rombongan diberitahu kalau perjalanan mesti ditundah. Alasan kak Ema, si pemilik travel umrah First Journey, adalah nggak dapat visa.

Di tahun yang sama memang lagi heboh kasus MERS. Jadi, cukup masuk akal apabila kak Ema menggunakan alasan “tidak dapat visa”. Masalah cuti pun HRD membantunya.

Tibalah di bulan yang semestinya rombongan kami berangkat umrah. Kak Ema mengirimkan sebuah pesan singkat, meminta rombongan melakukan manasik di masjid sekolah iparnya om saya itu.

Akan tetapi, selesai manasi kenapa tidak ada tanda-tanda penjelasan kapan berangkatnya, naik apa, dan kapan pula dibagikan perlengkapan umrahnya.

Tahu-tahu selesai makan siang muncullah si kak Ema ini. Ia datang membawa kabar buruk. Alasan yang dia pakai masih sama, nggak dapat visa karena virus MERS.

Geram dong, bow. Yang saya tahu, pemerintah Arab Saudi belum mengeluarkan larangan resmi bagi siapa saja yang ingin berkunjung ke sama. Asal menuruti semua larangan dari pemerintah setempat, jamaah umrah dari seluruh dunia dipersilakan untuk datang.

Semua omongan kak Ema mengenai virus MERS dan tidak diberikannya visa saya jadikan berita. Sekalian buat bukti ke HRD, kalau saya tidak jadi cuti, biar cuti saya tidak hangus.

Nah, di sini iparnya om saya dan teman-temanna mulai curiga. Kenapa giliran rombongan kami ditunda, tapi calon jamaah dari travel umrah yang lain diperbolehkan ke sana?

First Journey gali lubang tutup lubang

Setelah kami usut, ternyata uang rombongan kami kak Ema pakai untuk memberangkatkan rombongan lain yang tertunda juga keberangkatannya.

Bangsat. Seketika pengin saya jambak rambutnya, saya garuk wajahnya, saya dorong badannya ke jalan sambil marah-marah.

Saya kemudian penasaran soal per-visa-an yang kak Ema bilang ditolak-tolak melulu. Saya cari alamat pengurus visa tersebut, saya datangi alamat yang tertera di situ (di kawasan Kalibata), pas saya datang ternyata rumah penduduk.

Saya cari nomor orang yang mengurus visa kami, dapat, saya hubungin dia, nggak tahunya rumah orang tersebut di Bintaro. Kan bangke. Sudah jauh-jauh ke Kalibata, di tahun itu belum ada ojek daring, keluar duit buat ongkos taksi, nggak tahunya dekat dari rumah saya.

Orang tersebut berbaik hati untuk menemui saya setelah saya ceritakan semuanya. Dia juga pengin curhat soal kelakuan si kak Ema ini. Ternyata, visa umrah rombongan kami sudah kelar sejak lama. Saya lihat sendiri cap visa dari kedutaan besar Arab Saudinya.

Berdasarkan cerita orang tersebut, kak Ema ini selalu mangkir setiap ditagih uang pengurusan visa. Jadilah passport dan visa ditahan sampai semuanya lunas

Kebetulan saat itu saya butuh passportnya. Saya harus liputan di Mount Elizabeth selama beberapa hari. Dengan terpaksa, saya mengeluarkan uang Rp 2 jutaan untuk menembusnya.

Sudahlah uang untuk biaya umrah belum dikembalikan, ini kudu mengeluarkan uang untuk mengambil passport yang tertahan itu.

Rombongan kami sepakat untuk tidak memenjarakan kak Ema. Kami hanya takut kalau dia dijebloskan ke penjara, dia menganggap lunas semuanya. Saya pribadi ogah jika itu sampai terjadi. Belasan juta itu tidak sedikit, vroh!

Setelah mengakui perbuatannya, kak Ema berjanji mengembalikan semua uang kami meski tidak 100 persen. Nyesek karena sudah rugi banyak. Namun, ini lebih baik daripada tidak dikembalikan sama sekali.

Mama sedari awal sudah mengingatkan supaya saya tidak memberitakan kasus ini. Mama tahu saya gondok tapi bukan begitu cara balas dendamnya. Habis bagaimana dong, duit nggak kembali semua, malah kudu mengeluarkan duit lagi.

Kalau kalian ragu, silakan cek di Google dengan kata kunci First Journey Travel Penipu. Akan keluar beberapa keluhan dan curhatan yang sama. Sumpah, masih sesek meski pada Februari 2015 saya tetap menjalankan umrah menggunakan travel umrah langganan papa.

Saran untuk Memilih Travel Umrah

Kalau saya boleh kasih saran, mending cari travel umrah atau haji yang pasti-pasti saja. Jangan langsung tergiur dengan tawaran biaya murah. Memang tidak semua travel agen yang sama sejahat itu.

Kejadian ini membuat saya jadi berpikir. Mungkin ini teguran karena giliran pergi ke tempat yang suci, ke tempat yang dimuliakan oleh Allah SWT, malah mencarinya yang murah.

Beberapa bulan kemudian saya jadi berangkat umrah. Menggunakan travel Gema Safa Marwah. Saya merekomendasikan travel umrah satu ini.

Harga yang mereka tawarkan memang tidak di bawah Rp20 juta, tapi tidak juga lebih dari Rp27 juta. Harga itu sebanding dengan pelayanan yang mereka berikan. Semua terkoordinasi dengan baik.

Pelajaran juga buat teman-teman yang mau umrah. Sebelum mendaftar, cari tahu dulu keberadaan travel itu di Kementerian Agama. Apakah terdaftar atau tidak.

Kalau terdaftar rada lumayan bikin lega. Kalau mereka sampai melakukan tindak penipuan, bisa diadukan ke Kemenag dan bisa dibantu sampai jalur hukum, kalau tidak salah.

First Journey itu nggak terdaftar ternyata. Jadinya, kudu tarik napas dalam-dalam, kemudian keluarkan sambil bilang “ikhlassss…”

Untuk pengguna travel umrah First Travel yang kini tengah memperjuangkan haknya, tetap semangat, dan desak terus mereka untuk mengembalikan yang menjadi hak Anda. Insha Allah bisa diselesaikan dengan baik.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

1 comment

  1. Kok ya bikin gemes ya Kak yang kasus agen perjalanan nipu-nipu begini… ya kadang sebenernya mereka nggak nipu juga sih, tapi nggak becus ngurusnya karena salah manajemen. Duh. Bikin trust issues :))))

Tinggalkan Balasan