Ditaksir Instruktur Snorkeling di Taman Laut Bunaken

Salah panggil terulang saat di Pulau Bunaken. Jika di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung saya dipanggil ‘Nona’ oleh seorang ibu, saat snorkeling di Taman Laut Bunaken, saya malah ditaksir salah seorang instrukturnya. Fvck!

Kegiatan kami di hari terakhir adalah snorkeling di Taman Laut Bunaken. Karena jumlah penerbangan dari Manado ke Jakarta dan pulau-pulau lainnya tidak banyak, kami tidak boleh kesiangan menyebrang ke Pulau Bunaken. Morning call di hari terakhir jadi lebih cepat dari dua hari sebelumnya.

Rona bahagia terpancar dari wajah semua peserta. Tampilan mereka juga jauh lebih santai. Setelah sarapan, satu per satu check out dari Swiss-Belhotel Maleosan Manado. Masuk bus dan siap dibawa ke Pulau Bunaken.

Dua orang peserta gathering dari Pekanbaru pilih penerbangan pertama ke Jakarta, pukul 11.00 siang. Mereka takut kemalaman sampai di kota asal. Sedangkan teman-teman dari Kalimantan, Yogyakarta, dan Surabaya, dapat penerbangan pukul 02.00 siang. Sehingga mereka tidak bisa ikut rombongan asal Jakarta cebar-cebur sambil memberi makan ikan.

Jembatan Ir. Soekarno yang sekilas mirip jembatan Suramadu. Konon pembangunannya butuh waktu lama.

Pulau Bunaken merupakan bagian dari kota Manado yang berada di Teluk Manado. Menjadi wajib dikunjungi karena di pulau seluas 8.08 kilometer persegi terdapat taman laut yang begitu indah. Lidya bilang ada 300 lebih spesies terumbu karang hidup di sana. Ikannya juga tak kalah banyak. Alga seperti Caulerpa dan Padina, serta rumput laut jenis Thalassaodendron ciliatum hidup berdampingan di Taman Laut Bunaken.

Taman laut pertama di Indonesia ini juga memiliki banyak titik penyelaman dengan kedalaman bervariasi. Pantas bila Taman Laut Bunaken disebut surga para penyelam.

Perjalanan dari Manado ke Pulau Bunaken hanya 45 menit menggunakan kapal motor dari Marina Nusantara Diving Centre (NDC) di Kecamatan Molas. Masing-masing kapal motor hanya boleh diisi 10 orang penumpang. Saya satu kapal dengan teman-teman jurnalis, blogger, dan Aan dari Indosat Ooredoo.

Saya pilih duduk di luar, di depan mulut kapal. Bersama seorang anak buah kapal yang bertugas melihat apa saja yang ada di depan. Pria tua itu akan memberitahu nakhoda jika ada sesuatu yang harus dihindari, seperti sampah.

Status ‘Taman Nasional’ bukan berarti bisa menyadarkan orang-orang untuk tidak berbuat seenaknya. Penambangan terumbu kerang dan penggunaan bom saat menangkap ikan memang sudah tidak ada lagi. Tapi kesadaran untuk tidak buang sampah sembarangan masih belum ada. Kalau turis asing saja bisa patuh, kenapa turis lokal tidak?

Kapal kami sering berbelok cukup jauh karena menghindari sampah. Takut sampah-sampah itu tersangkut di kipas kapal. Kalau sampai terjadi, butuh waktu untuk melepasnya. Tentu akan menghambat keinginan kami berlama-lama di laut.

Outer saya selaras dengan warna air laut (diambil oleh Roelly 87)

Tulisan ‘BUNAKEN’ sudah terlihat. Laju kapal motor mulai dipelankan. Tapi harus berhenti sebentar di palung Taman Laut Bunaken, sebelum kapal disandarkan di dermaga. ABK menyuruh kami ke tengah kapal, ada sesuatu yang ingin ditunjukkan, katanya.

Dua kaca yang digunakan untuk melihat ikan apa saja yang ada di sana mereka turunkan. Kalau beruntung, bisa melihat ikan Napoleon, ikan langka yang dipercaya masyarakat setempat mendatangkan hoki. Eh, bukan Napoleon malah gerombolan ikan bandeng yang muncul. Mungkin saja ikan bandeng itu meledek kami, cuma telinga kami tidak diberi kemampuan mendengar omongan mereka.

Turun dari kapal kami dibawa ke salah satu resort untuk istirahat sebentar dan menaruh barang-barang bawaan. Air sirup rasa jeruk dan pisang goreng sambal roa sudah tersaji di atas meja tamu untuk segera kami santap. Snorkeling tidak boleh dalam keadaan perut kosong. Juga badan tidak boleh terlalu lelah. Kalau hati kosong? Alhamdulillah tidak. Kalau kosong, buruan isi.

Pemandangan dari tempat kami santai-santai

Resort yang dipilih Indosat Ooredoo sangat nyaman. Tiupan angin sepoi-sepoi, bantal empuk, ditambah kekenyangan pisang goreng sambal roa membuat empat orang peserta tertidur pulas. Kami juga sempat bermain games, sambil menunggu orang yang menyewakan alat dan pakaian snokerling menyiapkan semua keperluan kami.

“Aditya Eka Prawira,” kata nona yang menyewakan alat dan pakaian snorkeling itu.

“Iya, saya!,”

“Ini pakaiannya. Ini kakinya. Dan ini kacamatanya,” kata si nona.

Kok yang ini, bukan yang itu? Ini bukannya buat perempuan?,” kata saya, mengembalikan pakaian itu.

“Kakak ini ‘kan perempuan,” kata si nona polos.

“BUKAN! SAYA COWOK, TAU!,” kata saya protes dan manyun.

Ini perlengkapan snorkeling saya

Selain masker, snorkel, dan fin, saya juga diberi pakaian seperti orang mau diving. Celana menyatu dengan baju yang super ketat parah. Memakainya saja butuh perjuangan. Lekukan tubuh saya terlihat, jadi mirip pelatih Zumba di pusat kebugaran. Mana tonjolan tetek terlihat pula. Namun, mau bagaimana lagi? Itu bagian dari prosedur yang harus kita terima, supaya aman dan nyaman selama berada di air.

Kalau lengan baju dan celananya panjang plus ada tutunya, itu berarti pakaian snorkeling wanita. Sedangkan pria, baju dan celananya pendek. Nah, yang saya terima pertama kali adalah yang ada tutunya. Memangnya saya mau balet, AH?

Isi perut dulu biar nggak masuk angin

Satu kapal motor sudah menunggu di dermaga. Kami yang sudah rapi segera menuju kapal, sambil membawa tiga alat utama dan penting untuk snorkeling itu. Perhatikan alat-alat yang kita bawa, jangan sampai tertukar. Kalau ukurannya sama tidak jadi masalah. Kalau beda bikin kita jadi tidak nyaman selama menikmati keindahan Taman Laut Bunaken.

Perasaan saya campur aduk. Sebentar lagi bakal snorkeling di tempat seindah ini. Bunaken, yang konon butuh uang yang tidak sedikit untuk bisa snorkeling atau diving di sana. Karena dibayarin Indosat Ooredoo, saya urung bertanya ke bagian loket mengenai biaya keseluruhan.

Empat bulan lalu saya hampir ke Manado dan Bunaken. Rencana gagal lantaran Bunaken sedang tidak bersahabat. Snorkeling sambil memberi makan ikan-ikan di salah satu surga menyelam di dunia itu tinggal mimpi. Uang yang baru terkumpul belum ada setengahnya untuk membeli tiket PP Jakarta-Manado-Jakarta terpakai begitu saja. Namun, siapa sangka, kalau rezeki itu masih milik saya? Ajakan datang dua hari sebelum hari keberangkatan.

Entah berapa banyak pesawat yang melintas di atas kepala saat piknik bareng Kopdar Jakarta di Taman Wisata Alam Mangrove Kapuk.

“Aku sudah lama tidak naik pesawat,” kata saya.

“Sama… Aku juga,” kata kak Dimas.

“Apalagi aku. Lama banget,” kata kak Rhesya menimpali omongan saya dan kak Dimas.

“Semoga dalam waktu dekat kita bisa naik pesawat lagi,” kata saya yang di-aminin kak Dimas dan kak Rhesya.

Tidak lama ajakan itu muncul di grup WhatsApp. Tanpa ba-bi-bu-be-bo, ajakan kak Zizy saya sanggupin. Senin saya langsung urus surat cuti. Kebetulan juga jatah cuti saya masih banyak.

Yang terlihat dari dermaga Pulau Bunaken. Tak jauh dari gunung itu tempat kami snorkeling

Perlahan kapal motor menjauhi dermaga. Spot snorkeling yang dipilih berada di selatan Pulau Bunaken. Semua terlihat sudah tidak sabar untuk segera turun ke laut. Sebelum turun, kami terlebih dulu diberitahu bagaimana memakai semua alat-alat itu dan cara bernapas yang benar selama snorkeling.

Butuh usaha untuk bisa jalan menggunakan fin. Supaya enak, jalannya harus mundur. Jadi mirip undur-undur.

Kami dibagi menjadi empat kelompok sesuai jumlah instrukturnya supaya mudah diawasi. Takut ada yang kebablasan sampai ke palung yang kedalamannya bisa untuk diving. Namun, pembagian itu sia-sia. Semuanya mencar-mencar begitu sudah di air.

Saya pilih menjauh dari rombongan dan mencari keseruan sendiri. Lebih bebas. Toh, ada juga yang mengawasi dari atas kapal. Konon, ikan-ikan di sana akan bermunculan kalau diberi remahan biskuit. Ihi, itu benar, ikan pun berdatangan ke tempat saya. Ikan-ikannya lucu-lucu semua.

Saya tidak sempat mencari tahu kondisi terakhir Taman Laut Bunaken di internet. Saya baru tahu kalau ternyata ada sejumlah titik yang isi dalamnya sudah tidak bagus lagi. Ada juga spot yang memang bagus banget.

Jadi, saya tidak bisa bilang apakah tempat saya snorkeling kemarin itu di titik yang memang bagus atau justru jelek? Saya lihat terumbu karangnya masih bagus-bagus dan besar-besar. Begitu juga ikan-ikannya, jumlahnya banyak, beragam, lucu-lucu pula. Kalau boleh saya bawa pulang, sudah saya tangkapi satu-satu.

Ikan-ikan di Taman Laut Bunaken. Lucu-lucu banget. Itu tangan instrukturnya

Tanpa sadar tubuh telah bergerak ke satu titik, tempat sebagian dari rombongan diajarkan cara bertahan, bergerak, dan bernapas di air.

“Yang cewek-cewek kayak kakak itu saja. Jangan panik kalau kaki keram. Cari terumbu karang, berdiri, diam sebentar,” kata dia menunjuk ke arah saya.

Saya yang baru mau menggerakan tangan dan kaki menuju tempat lain langsung berdiri,”Saya ini cowoklah, Nyong,”

Kaki sempat keram setelah foto under water. Saya langsung mencari terumbuh karang untuk berpijak. Pas saya lagi berdiri, instruktur itu melintas di depan saya. Dia sempat bertanya apakah saya baik-baik saja? Keramnya parah atau tidak? Perlu dibopong ke kapal tidak? Saya jawab tidak perlu. Nanti juga baik lagi. Tidak lama saya sudah berenang lagi.

“Yang benar saja?,” kata dia tidak percaya.

“Yaialah..”

“Nggak percaya aku. Jadi, nggak boleh naksir kakak?,” kata dia lagi.

Suka-suka Nyong sajalah. Yang penting jangan tinggalkan aku di sini,” kata saya menjawab pertanyaannya.

Tampak raut wajah tidak percaya mendengar jawaban itu. Saya lalu pergi meninggalkannya.

Mukanya tegang amat, Mas?
Lihat deh ada sampah di antara batu-batu itu. Baru sadar setelah melihat fotonya
Jadi pengen snorkeling lagi. Ajak aku ke Bunaken lagi, dong. Atau tempat lain.

Saya buru-buru naik ke kapal karena tangan dan kaki sudah tidak sanggup digerakkan. Perut juga terasa sangat lapar. Tidak lama kami diberitahu kalau tanda-tanda air akan pasang sudah terlihat. Semua yang masih di air, diminta menepi dan segera naik. Satu orang instruktur mendadak harus turun lagi ke laut, menyelamatkan satu orang peserta yang hampir ke palung.

Rupanya, instruktur itu masih penasaran, apakah saya ini pere atau cowok. Begitu kapal berlabuh di dermaga, sempat-sempatnya dia bertanya ke teman-temannya.

“Coba kalian tebak, cewek apa cowok kakak ini?,” . Mendengar pertanyaan itu, rombongan serentak menjawab,”Cowok itu.”

“Salah taksir berarti aku?,”

Dalam hati saya berkata,”Mampuslah kau. Degel kali. Sudah kubilang aku ini cowok, kau tak percaya.”

Kami sudah mandi. Sudah rapi seperti semula. Semua makanan yang tersaji, siap saya habiskan. Belum lama kami mengobrol, mengenal satu sama lain, mendengar cerita masing-masing, Lidya meminta kami semua beres-beres. Lima menit lagi kembali ke Manado, melanjutkan perjalanan ke Bandar Udara Sam Ratulangi untuk pulang ke Jakarta.

Belum siap menyudahi keseruan selama tiga hari di Manado. Belum siap juga untuk bekerja esok hari. Benar-benar belum bisa move on. Indosat Ooredoo membuat saya sulit move on. Saya benar-benar merasakan #FreedomCombo selama di sana.

Sekarang, saya mau belajar diving. Kalau diajak ke peresmian pembangunan BTS di Raja Ampat, saya tidak lagi snorkeling tapi diving.

Jadi, gaes, ke mana lagi kita?

 

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

3 comments

  1. Asik banget sampe Bunaken!!

    Jgn lupa aja saya kakaakkk kalau ke Raja Ampat 😀

  2. Aaahhh… ga ada sebutkan namaku…. tegaaa…. -___-

  3. Pantai dan pantai temapt destinasi wisata yang jadi primadona saat ini kapan yah bisa kesana

Tinggalkan Balasan